Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 30


__ADS_3

Keranjang belanjaan pun sudah penuh dengan. sebagai macam sayur dan buahan.


"Kayaknya harus ambil satu keranjang lagi deh ..." Ujar Raysa yang melihat keranjang dorong nya sudah penuh.


"Iya, aku titip kesana dulu ya, nanti tinggal bayar aja." Fatih berjalan kearah kasir yang mana memang di peruntukkan bagi pelanggan yang masih ingin berkeliling namun antriannya panjang.


Setelah meletakkan keranjang belanjaannya, Fatih pun mengambil nomor antriannya, dan kembali mengambil keranjang dorong Yang kosong dan berjalan menuju kearah Raysa.


"Beli apa ya?" Gumam Raysa yang tanpa sadar Fatih mendengarnya.


"Pembalut kamu masih ada?" Fatih yang tiba-tiba datang dan menanyakan hal yang sangat sensitif pun membuat Raysa terkejut.


"Apaan sih, ngagetin aja."


"Kamu kebanyakan melamun hari ini. aku datang aja gak sadar."


"Masa sih? kayaknya aku gak melamun deh."


"Ini pembalut kamu kan? masih pakai yang ini?" Fatih memegang satu pembalut berwarna oranye tersebut.


Raysa melototkan matanya dan berjalan cepat kearah Fatih.


"Apaan sih, bikin malu aja."


"loh, kok malu? dulu kamu suruh aku beli pembalut untuk kamu, aku gak malu."


Raysa rasanya ingin membungkam mulut Fatih dengan sendal nya. Benar-benar nyebelin. ih orang. Raysa meletakkan pembalut tersebut kedalam keranjang.


"Kamu masih pakai ini?" Fati kembali mengambil satu buah pembalut tipis yang biasa digunakan untuk sehari-hari.


Kembali, Raysa melototkan matanya kepada Fatih. Raysa merambas pembalut tipis Yang ada di tangan Fatih dan memasukkannya kedalam keranjang.


"Kenapa ambil yang mint? kenapa gak yang rose aja? kalo mint kan entar pedas gak itu kamu?"


"Fatiiih ..." Geram Raysa dan menutup mulut Fatih dengan tangannya.


Wajah Raysa sudah memerah karena malu. Pengunjung lain sudah tersenyum melihat kearah Raysa dan Fatih. hingga salah satu pengunjung lain mengatakan sesuatu kepada Raysa yang mana semakin membuat wajah Raysa memerah dan malu.


"Suami nya perhatian banget ya, senang deh punya suami kaya gitu. Beruntung banget mbak nya."


Raysa hanya menyengir dan mendorong tubuh Fatih menjauh dari rak bagian pembalut perempuan.


Raysa melihat ada sebuah rak di mana isinya adalah ****** pria dewasa. Raysa ingin membalas Fatih. Ia ingin membuat Fatih malu, lihat saja.


"Fatih, sini deh."


Fatih yang sedang melihat sabun mandi pun menghampiri Raysa.


"kenapa?"


"****** kamu udah pada koyak-koyak kan ya, karetnyan juga udah pada kendor-kendor, beli baru aja ya .. biar enak di di pandang saat jemur nya." Ujar Raysa dengan suara yang sedikit di besarkan.


Fatih sudah melihat sekiling dengan wajah yang sedikit memerah. pengunjung lain sudah mulai berbisik tentang mereka, bahkan ada yang terang-terangan menertawakan mereka.


Fatih melihat Raysa yang tengah mengulum senyumnya. Fatih yakin, jika Raysa sengaja ingin membalasnya.


'Baiklah, mari kita mulai.' Ujar Fatih dalam hati nya sambil menyeringai.


"Iya sayang, habisnya kamu buka nya gak sabaran sih. Jadi pada koyak-koyak deh semp*k aku. Maka nya yang, kalo pingin itu yang sabaran, jangan main koyak-koyak, pasti aku kasih kok." Ujar Fatih sambil tersenyum licik.


Raysa sudah melototkan matanya tak percaya dengan ucapan Fatih yang vulgar. Lihat saja, rencana dirinya yang ingin membuat Fatih malu, malah dirinya yang malu saat ini. Semua mata sudah tertuju kepada Raysa, dan berbisik secara terang-terangan. Bahkan Raysa sampai mendengar bahwa Raysa adalah cewek yang hot di ranjang.


Fatih melihat kearah yang Raysa yang memegang sebuah kotak yang berisi semp*k pria dewasa. Fatih pun semakin menyeringai.


"Kamu tau aja sayang ukuran aku. padahal kita baru aja menikah."


Raysa melihat kearah tangannya, dan ia betapa geli dengan apa yang di pegang nya barusan. Raysa langsung melempar kotak tersebut kedalam keranjang dan berjalan cepat sambil menutupi wajah nya karena malu.


Fatih terkekeh melihat tingkah Raysa yang sangat lucu dan imut. Fatih pun berjalan mengikuti Raysa yang sudah keluar dari area perbelanjaan.


"Ca, tungguin dong. Aku bayar ini dulu."


"Cepetaan .." Ujar Raysa dengan melototkan matanya.

__ADS_1


Jika saja tidak berada di tempat umum, pasti Fatih sudah tertawa terbahak-bahak di sini. Raysa nya sungguh sangat menggemaskan sekali.


Setelah membayar semua belanjaannya, Fatih mengikuti langkah Raysa yang terlihat sangat kesal dengannya.


"Lain kali aku gak mau belanja sama kamu." Ujar Raysa jutek.


"Makan eskrim yuk ..." Bujuk Fatih.


"Gak mau .."


"Mau nya?"


"Macaroni."


"Yuukk, ekstra Mozarella?"


Rays menganggukkan kepalanya.


"Mau makan di tempatnya atau mau aku yang masak?"


"Kamu yang masak." Ujar Raysa dengan sedikit jutek.


"Okeey, "


Untungnya tadi Fatih dan Raysa sempat mengambil macaroni dan juga saos spageti nya. Jadi Fatih tak perlu lagi repot untuk mencari bahan-bahan tersebut dan mengantri saat membayar.


"Jadi makan siang kita macaroni?" Tanya Fatih saat sudah berada dalam mobilnya.


Raysa menganggukan kepalanya. Jika sudah berbelanja seperti ini, biasanya Raysa lebih suka membeli makanan jadi, karena sudah letih dengan berkiling.


Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membelah jalanan yang penuh dengan kendaraan bermotor dua dan empat itu.


Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya Fatih memarkirkan mobilnya di baseman apartemen mereka. Fatih membawa semua kantong belanjaan, sedangkan Raysa hanyanmenbawa yang ringan saja. Tak lupa pula Fatih tersenyum kepada satpam yang berjaga.


Raysa memasukkan password nya dan membuka pintu. Fatih meletakkan belanjaan di atas meja makan. kemudian ia beralih ke kulkas dan mencari air mineral yang dingin. Udara terasa sangat panas dinluar, sehingga membuat Fatih kehauan.


Raysa mulai menyusun sayur-sayuran yang di belinya tadi kedalam kulkas.


"Buahnya di cuci dulu, Ca." Fatih mengingatkan sambil memberikan sebuah keranjang untuk mempermudah mencucinya.


Fatih meraih nya dan mencuci buah-buah tersebut dengan air mengalir. Kemudian dibiarkan di dalam keranjang agar air nya terjatuh semua dari lubang-lubang yang terdapat pada keranjang buah tersebut.


"Anggurnya manis." Ujar Raysa sambil memakan satu buah anggur.


"cuci dulu Ca."


"Iya ... iya .. cicip satu aja pun."


Fatih mengambil anggur yang berada di dalam plastik, kemudian ia mencuci anggur tersebut saat setelah ia menunaikan kedalam keranjang buah yang lainnya dan membiarkan air menetes dari lubang - lubang kecil Yang ada pada keranjang tersebut.


Setelah semuanya beres, Raysa membawa pastikan yang berisikan peralatan pribadi ke depan tv.


"Nih, semp*k kamu." Raysa meletakkan belanjaan Fatih di atas meja.


"Makasih .. "


"Lain kali jangan gitu, malu tau .." kesal Raysa.


"jangan gitu gimana?"


"Ya jangan buat aku malu."


"Kan kamu sendiri yang mancing."


Raysa mencebikkan bibirnya. Sepertinya Raysa akan cepat mendapatkan gelar almarhumah jika terus-terusan berada di dekat Fatih.


"Aku lapar." Ujar Raysa.


"Okey, aku masak sekarang ya .. "


Fatih bangkit dan mulai berjalan kedapur. Raysa juga ikut bangkit, namun ia berjalan menuju kamar nya. Raysa akan menyimpan perlengkapan pribadi nya dulu, dan berharap saat setelah ia selesai menyimpannya, Fatih juga sudah selesai memasak macaroni saos spageti untuk nya.


*

__ADS_1


Senyum Raysa mengembang saat melihat macaroni nya sudah siap tersedia dia tas meja, lengkap dengan jus jeruknya. Namun Raysa harus menghela nafas saat melihat dapurnya benar-benar berantakan.


"Nanti aku bantu cuci deh." Ujar Fatih merasa bersalah.


"Gak papa, biar aku bersihi nanti."


Raysa dan Fatih pun menikmati makan siang mereka dengan macaroni saos spageti. Mozarella yang melimpah di atasnya membuat Raysa semakin semangat untuk memakannya. Fatih selalu tau apa yang Raysa suka.


"Oh ya, Quin kirim salam." Ujar Fatih di sela kunyahan nya.


"Walaikumsalam. Apa kabar kak Quin?"


"Baik, kemarin aku jalan-jalan dengan dia. Dia bilang kalo Lana kembali melamar nya."


"Lagi?"


"Hmm .."


"Lalu?"


"Di tolak."


Raysa menganggukkan kepalanya. Namun ia baru menyadari satu hal. Selama ini Fatih hanya menyatakan cintanya, namun Fatih tak pernah mengajak ya berpacaran. Fatih juga tak pernah melamarnya seperti yang di lakukan oleh Lana kepada Quin. Apa benar Fatih menyukainya? jika iya, bukankah seharusnya Fatih juga akan melamar Raysa? ya walaupun pada kenyataannya Raysa akan menolak nya.


"Kak Farhan juga bilang ingin melamar aku saat dia kembali."


Gerakan tangan Fatih melayang di udara. Fatih menggagalkan niatnya untuk memasukkan sesendok macaroni nya kedalam mulut.


"Kapan?"


" Beberapa hari lalu, saat di telepon."


"Kamu menerima nya?" Tanya Fatih yang terdengar jauh suaranya, namun masih terdengar oleh Raysa.


"Kak Farhan hanya mengatakan ingin melamar ku. Jadi aku belum menjawabnya."


Raysa menyadari perubahan ekspresi wajah Fatih.


"Fatih, ada yang mau aku bilang sama kamu." Raysa meletakkan sendok nya dan menatapiria kepada Fatih.


"Aku hanya menganggap hubungan kita ini sebagai kakak adik. Aku harap kamu gak salah paham dengan semua perhatian yang aku kasih ke kamu. Kamu sudah seperti Abang bagi aku. Abang yang selalu melindungi ku dan menjaga mu."


Raysa menatap selama memata Fatih. Ia tahu, jika Fatih saat ini terluka, namun yang Fatih tak tahu adalah, jika ada sesuatu di hati Raysa yang juga ikut sakit saat mengatakan ini.


"Jadi aku mohon jangan salah paham. Aku ingin kita tetap seperti ini, seperti seorang kakak dan adik nya. kamu bisa kan?" Tanya Raysa yang masih menatap kedalam mata Fatih.


Fatih teibat berfikir, hingga akhirnya ia menghela napasnya berat. Ia membalas tatapan mata Raysa dan tersenyum.


"Tentu ... Tapi jangan larang aku untuk mencintai kamu. Aku akan tetap mencintai kamu, sampai ada seorang pria yang merubah statusmu menjadi seorang istri."


Setelah mengatakan itu, Fatih berdiri.


"Kamu bisa kan bersihin semua nya sendiri?"


Raysa menganggukkan kepalanya. Fatih tersenyum kecut, kemudian ia berjalan menjauh meninggalkan Raysa yang masih terduduk di meja makan.


Cekleek ...


Terdengar suara terbuka dan tertutup. Raysa menggenggam sendok yang di pegang nya sedari tadi hingga buku-buku jari nya memutih. Air matanya jatuh bersamaan dengan suara pintu yang tertutup. Raysa tak pernah tau, jika rasanya akan sesakit ini.


"Kamu bisa, Ca. kamu pasti bisa."


Raysa menarik napasnya, dan membuang nya secara perlahan. Berulang kali Raysa lakukan itu untuk menghalau rasa sesak di dada nya.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2