
Sasa tengah sibuk membersihkan kamarnya. Mengecek barang-barang Yang ada di meja riasnya, dan melihat tanggal kadaluarsanya. Sasa mengernyitkan keningnya, saat melihat pembalut miliknya masih utuh.
" Kapan yaa terakhir dapat? Kok gak berkurang yaa? malah nambah?" Gumamnya.
Setiap bulan, Bara dan sasa selalu membeli perlengkapan kebutuhan mereka, termasuk pembalut. Dan sudah 2 bulan ini Sasa tidak menyadari jika dirinya tidak mendapatkan tamu bulanannya.
" Kenapa sayang?" Bara yang baru pulang kerja menghampiri.
" Mas.."
Sasa menutup hidungnya saat Bara mendekat, sebenarnya sudah beberapa hari ini Sasa merasa mual dekat dengan Bara. Namun Sasa menahannya, takut Bara tersinggung jika dirinya mengatakan bau.
" Kamu kenapa tutup hidung? Mas bau?" Bara mencium area ketiaknya, namun tidak merasakan bau yang berbeda. Seharian ini Bara hanya berada di dalam ruangannya.
" Mandi dulu gih, baru dekat2." Usir Sasa.
" Ya udah, aku mandi dulu yaa.."
Bara pun langsung memasuki kamar mandi. Sasa pun bernapas lega saat Bara tidak berada di dekatnya.
" Bisa bau gitu sih badannya. Biasanya juga wangi Bangeet.." Gerutu Sasa.
Sasa pun keluar kamar dan melihat Mami Shella yang tengah melipat baju yang baru saja di angkat dari jemuran.
" Mi, makan malam nanti masak ikan asin sambal ijo yaa.. tapi yang ikan asinnya di ulek gitu Mi, yang pake belimbing wuluh."
" Iyaa, enak juga tuh, nanti kamu ambil ya belimbing wuluhnya di rumah Tante Rosa.
" Iya Mi.."
" Tapi jangan ngendap di sana, biar cepat masaknya."
" Iyaa Mi, Iyaa.." Sasa terkekeh. Karena setiap pergi ke rumah Tante Rosa, Sasa pasti lama, karena bermain lagi dengan Kayla.
" Sayang.." Bara mengecup pucuk kepala Sasa setelah mencium pipi Mami shella, dan dudum di sebelah Sasa.
" Mas, kamu mandinya gak bersih ya.. Kok masih bau sih?" Sasa sudah tidak tahan, dan menutup hidungnya lagi.
" Bersih kok. Aku keramas lagi nih.. Nih, masih lembab" Bara menunjuk kearah rambutnya
" Mas, bau tau.. jauh-jauh deh.." Ujar Sasa yang sudah mendorong tubuh Kekar Bara.
" Masa sih. Mi, bau gak?" Bara mendekat kearah Mami Shella.
" Enggak kok, wangi.. seperti biasa."
" Ohh, Aku tau, kamu mau kerjai aku ya.." Bara pun menggelitik perut Sasa.
" Mas... ukhhh.. Aku serius.. Mas bau..uueekkk.." Sasa pun muntah karena Bara terus memeluknya sambil menggelitik perutnya. Hingga muntahan Sasa mengenai baju dan lengan Bara.
" Awas Mas.." Sasa berlari ke kamar mandi, dan kembali muntah.
" Sasa masuk angin ya Mi..?"
" Gak tau, kayaknya sih, karena dari kemarin dia gak makan nasi.. Tapi.."
" Tapi apa?"
" Bersihi di gih muntahan Sasa, bau tau.."
Bara pun menyengir dan segera membersihkan muntahan Sasa, dan kembali mandi.
" Maaf ya Mi.." Sasa kembali kedepan dengan membawa kain pel.
" Udah di bersihi Bara. Sini duduk.."
Sasa pun meletakkan kembali kain pel di dapur dan duduk dengan Mami Shea. Mami Shella menyiapkan air jahe untuk Sasa.
" Kok tiba-tiba muntah sih? Pasti masuk angin gara-gara gak makan beberapa hari ini kan?"
" Gak tau Mi, tapi beneran deh, Mas Bara tu bau banget.. Kayak gak mandi setahun."
Mami Shella mengernyitkan keningnya. " Sa, kamu terakhir dapat menstruasi kapan?"
Sasa mencoba mengingat-ingat, tapi dia juga tidak terlalu mengingatnya.
" Gak tau Mi, tapi pembalut yang Sasa beli, kayaknya gak berkurang deh."
" Hmm.. Gitu yaa.." Mami Shella sebenarnya ingin mengatakan jika kemungkinan Sasa hamil, tapi Mami Shella tidak ingin mengatakannya, takut jika Sasa berharap dan kembali kecewa. Jika benar Sasa hamil, ingatkan Mami Shella potong kambing ya..
__ADS_1
Sasa pun kembali membantu Mami Shella melipat kain, Sambil menonton film India yang beranak cucu dan pemainnya itu-itu aja di salah satu siaran televisi.
Bara keluar kamar dan duduk di sebelah sasa.
" Kamu gak papa mungil?"
" Ukhh.." Sasa kembali ingin muntah, aroma tubuh Bara terlalu menyengat dihidungnya.
" Mas, jauh-jauh deh." Sasa kembali menutup hidungnya.
" Aku udah mandi lagi loh mungil, udah gosok seluruh badan aku..."
" Tapi masih bauk tau..."
" Mungil, gak lucu deh candanya.."
"Bara, coba deh menjauh dari Sasa." Tegur Mami Shella.
Bara pun menggeser satu bangku dengan Sasa.
" Jauh lagi Mas, masih bauk tau ."
" Mungill, masa sih.."
"Bar, jauh lagi deh.." Tegur Mami Shella.
Bara pun menjauh, Hingga berjarak 3 meter dari Sasa.
" Masih bau sa?"
" Enggak lagi Mi."
Mami Shella tersenyum.
" Mulai sekarang, kamu jaga jarak dengan Sasa ya, kalo tidak mau buat Sasa menderita."
" Maksudnya Mi?"
" Hmm, ini hanya dugaan Mami saja, tapi kalian jangan terlalu berharap. Takutnya Mami salah, dan kalian malah kecewa."
Bara dan Sasa menunggu kelanjutan ucapan Mami Shella.
" Menurut Mami, Sasa lagi hamil."
" Mami serius? Mami gak bercanda?" Tanya Bara antusias.
" Jangan senang dulu, besok kita periksa yaa, Lagipula Anggun juga sudah mulai bekerja kan?"
" Mungill.." Bara ingin mendekat, namun Sasa menutup hidungnya hingga Bara kembali memundurkan langkahnya.
Sasa tidak ikut makan malam di meja makan, karena tidak tahan dengan aroma tubuh Bara. Jadinya Sasa makan malam dirumah Tante Rosa. Bersama Zein yang terus merengek dan menempel dengan Sasa.
.
.
" Mungil, Masa aku tidur sendiri sih.." Rajuk Bara yang memoho untuk tidur bersama Sasa, namun Mami Shella melarangnya.
" Bara, kami tega lihat Sasa muntah-muntah jika dekat dengan kamu?"
" Ya enggak sih Mi.. Tapi Bara mana bisa jauh dari Sasa. Bara persis anak kecil, merengek mengalami Zein.
" Tahan Bar tahan, Daddy dulu juga gitu saat kamu di dalam perut Mami. Ha..ha..ha.." Daddy Roy tertawa bahagia melihat anaknya menderita.
" Iih, Jadi Daddy balas dendam nih ceritanya." rengek Bara
" Semoga sampai tujuh bulan baru bisa tidur dengan Sasa. Ha..ha..ha.."
" Daddy.." Teriak Bara..
Mami Shella dan Sasa sudah geleng kepala. Bara menolak tidur di kamar Kesya ataupun Vina, ataupun kamar tamu. Bara Keukeh tetap tidur di ruang tv, karena kamar Bara yang dekat dengan ruang tv. Bara ingin selalu dekat bersama sang istri, berbeda dengan Sasa yang tidak ingin dekat dengan Bara.
Sasa sudha tertidur lelap bersama Zein dalam pelukannya. Bara masuk kedalam kamar dan mengendap-ngendap seperti maling. Bara tersenyum lega saat memandang wajah tenang Sasa.
" Selamat tidur mungil ku." Bara mengecup kening Sasa, kemudian beralih ke perut Sasa.
" Anak Daddy, semoga kalian sudah hadir ya di perut Bunda. " Bara mencium perut Sasa.
Sasa bergerak, membuat Bara awas dengan pergerakannya. Ternyata Sasa hanya menggaruk lehernya yang gatal. Bara pun tidur di dekat Sasa, sambil memeluk Sasa. Bara tertawa pelan saat Sasa membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Bara.
__ADS_1
" Gak sampai tujuh bulan Dad, hi..hi.." Dalam hati Bara tertawa.
Sasa mengerjap, saat merasakan bau yang menyengat hidungnya.
" Uuweekk.."
Bara terkesiap saat Sasa kembali mual.
" Maaf mungil.." Bara langsung berlari keluar kamar.
Sasa menarik napasnya, dan menghirup napas dengan lega. Tidur pun Sasa masih bisa mencium bau tak sedap dari aroma tubuh Sasa.
Bara menggaruk kepalanya, baru saja dirinya senang, karena hampir terlelap ke alam mimpi dengan memeluk Sasa. sepertinya Bara harus menderita seperti apa yang Daddy Roy rasakan.
.
.
Sasa menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di semprot parfum. Sasa pun mengantar Bara hingga mobil Bara hilang dari pandangannya, walaupun tersiksa, Sasa tidka ingin kehilangan Momen di saat Bara mengecup keningnya sebelum berangkat kerja.
Sasa bersiap karena akan pergi kerumah sakit bersama Mami Shella. Kali ini Daddy Roy yang mengantarkan dua wanita cantik beda usia tersebut. Karena Daddy Roy juga ingin mendengarkan hasilnya secara langsung. Sebenarnya Bara ingin ikut, namun karena mengingat Sasa yang tidak bisa berdekatan dengannya, Bara hanya akan menerima beritanya saja. Tapi, bukan Bara namanya jika hanya bisa menunggu. Bara sudah duluan ke rumah sakit setelah absen, dan menunggu di ruangan Leo. Leo sudah mengatakan kepada Anggun, untuk melakukan video call saat Sasa tiba, dan jangan sampai Sasa tahu.
" Tenang, semua baik-baik aja." Mami Shella menggenggam tangan Sasa yang terasa dingin.
Sasa berkali-kali mengatur napasnya, jantungnya berdegup kencang. Sasa ingin Bara berada di sampingnya, namun mengingat Aroma tubun Bara yang tidak sedap, Sasa harus menahan rasa rindunya kepada Bara.
Tidak perlu antri, Karena Anggun sudah menjadwalkan nama Sasa, saat Mami Shella mengatakan jika mereka akan memeriksa kondisi Sasa.
Dengan di temani Mami Shella masuk kedalam ruangan pemeriksaan, Sasa terus saja menggenggam tangan Mami Shella.
" Kamu harus berfikir positif ya sayang."
Sasa tersenyum kaku.
" Tenang yaa Mbak, insya Allah semua baik-baik aja." Ujar anggun yang menggenggam tangan Sasa.
Asisten Anggun membantu Sasa menaikkan bajunya, menuang gel di atas perut Sasa, dan kemudian Anggun mulai memainkan alatnya berselancar di atas perut Sasa.
" Alhamdulillah Mbak, Janinnya sudah terlihat. Selamat yaa Mbak.. Usia kandungan Mbak sudah memasuki 5 Minggu."
" Alhamdulillah, hikss.."
" Alhamdulillah... Sasa, kamu hamil sayang. Ya Allah terima kasih.."
Mami Shella memeluk tubub Sasa yang masih terbaring.
" Selamat Mas.. " Ujar Leo menyalami Bara.
Bara tidak menahan air matanya, dengan segera Bara berlari keruangan Anggun.
Braak...
" Mas.."
" Mungil.. " Bara memeluk Sasa yang masih duduk di atas brankar. Tangis kedua nya pun berderai.
Daddy Roy yang melihat Bara masuk kedalam ruangan Anggun, juga ikut Masuk, begitupun dengan Leo.
" Uuweekk.. Hikks.. Mas bauk.. hiks.. Uweekk.."
Bara merelai pelukannya. Tidak ada kata-kata, Bara langsung mencium Bibir Sasa dan Melu**tnya. Asisten Sasa sampai menutup wajahnya, sedang Mami Shella dan Daddy Roy hanya menggelengkan kepala dan membiarkan adegan itu berjalan.
Leo memeluk Anggun yang ikut meneteskan air mata, dan mengecup kepala Anggun.
" Aku mencintai mu, Mungilku, Marisaku, Bundanya anak-anakku." Ujar Bara setelah melepaskan pagutan Bibir mereka.
" Hikss, aku juga.. Tapi mas Bau, hikss.. aku mual..Huwwekk.." Sasa menutup mulut dan hidungnya.
" Udah, jauh-jauh dari menantu Mami.." Mami Shella menarik Bara menjauh dan mengusirnya.
Dengan berat hati Bara keluar, namun naas, kepala Bara terjeduy pintu yang terbuka, karena saat bersamaan Om Bram membuka pintu dengan tiba-tiba.
" Sasa, Alhamdulillah.." Ujar Om Bram tanpa memperdulikan Bara yang memegang keningnya yang sakit.
Percayalah, author meneteskan air mata saat mengungkapkan Sasa hamil.
Jangan lupa vote, rate ⭐ lima, dan dukungannya. Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen...
Jangan lupa ingatkan Mami Shella potong kambing ya...