Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR- F - 124


__ADS_3

Acara penyambutan Raysa dan baby twins pun di suguhkan dengan meriah.


Raysa akan pulang ke rumah Oma Shella, karena ada Bunda Sasa yang akan membantu Raysa nantinya mengurus Reyhan dan juga Rayyan.


Sudah bisa di tebak kan, bagaimana reaksi Daddy Bara dan Papi Gilang. tentu saja Papi Gilang langsung minta di siapkan satu kamar untuk dirinya dan istri, karena mereka juga kan tinggal di rumah Mami Shella.


Si kembar Steva dan Sofi pun akan menginap di rumah Oma Mega. Ini sudah di putuskan oleh Papi Gilang, tidak boleh di ganggu gugat.


"Gaya banget gendong dua-dua, sini gue satu," ujar Daddy Bara dan mengambil salah satu cucunya di dalam gendongan Papi Gilang.


"Duh, Reyhan cucu Opa, ganteng banget siih." ujar daddy Bara berbicara kepada sang cucu.


Papi Gilang pun menoleh kearah bayi yang berada di dalam gendongan Daddy Bara.


"Rayyan itu, Rayhan yang lagi bobok," ujar Papi Gilang yang mana membuat Daddy Bara mencibir.


"Fatih, ini siapa?" tanya Daddy Bara kepada sang menantu yang juga berada di ruangan tersebut.


Fatih melihat bayi yang di gendong oleh Daddy Bara.


"Oh, itu Rayyan, Dad."


Papi Gilang langsung tersenyum miring saat Daddy Bara melirik kearahnya. Daddy Bara pun mencibir dan dan meninggalkan ruangan tersebut sambil membawa Rayyan dalam gendongannya.


"Pokonya aku harus bisa bedain mana Rayyan dan yang mana Reyhan. Biar gak ketukar dan selalu di ledekin dengan si Gilang," geram Daddy Bara sambil mengomel sendiri.


"Kenapa, Mas?" tanya Bunda Sasa yang sudah berada di belakang sang suami.


"Itu loh, masa si Gilang selalu ledekin aku, karena gak bisa bedain mana Rayyan dan mana Reyhan," kesal Daddy Bara.


"Ohh, pelan-pelan kamu juga bakal bisa bedain, kok," ujar Bunda Sasa sambil membelai lengan sang suami.


"Emangnya kamu bisa tebak? Siapa yang ada di gendongan aku saat ini?" tanya Daddy Bara kepada sang istri.


Bunda Sasa menoleh kearah sang cucu yang sedang menyusu dengan mata yang sekali terbuka dan sekali tertutup. Menikmati rasa manis yang masuk kedalam mulutnya.


"Ini Rayyan," ujar Bunda Sasa sambil mengelap sudut bibir Rayyan yang ketumpahan susu.


Daddy Bara melototkan matanya saat jawaban Bunda Sasa benar.


"Kok kamu bisa tau ini Rayyan?"


"Cucu sendiri, masa gak tahu sih," ujar Bunda sasa sambil terkikik dan meninggalkan sang suami dengan rasa kesal.

__ADS_1


Baiklah, mungkin sang istri sudah terbiasa menggedong sang cucu, maka dari Mungilnya Daddy Bara bisa membedakan mana Rayyan dan mana Reyhan.


Daddy Bara melihat sang Daddy yang tengah duduk santai sambil menikmati teh rosella nya dan juga koran di tangan.


"Ngapain baca koran, Dad? Kan bisa baca berita melalui ponsel sekarang?" ujar Daddy Bara sambil duduk di samping sang Daddy.


Bukan sekali atau dua kali Daddy Bara menyuruh sang Daddy untuk berhenti membaca koran, alasannya sangat klise, yaitu demi pengurangan penghijauan di bumi.


"Koran ini harganya cuma tiga ribu, mungkin yang menjualnya hanya mendapatkan keuntungan 500 rupiah, jadi gak ada salahnya kan membantu walaupun hanay sedikit? Lagian mereka tidak meminta-minta. Mereka menghasilkan uang dengan jerih payah mereka sendiri," ujar Opa Roy sambil membalikkan lembaran koran selanjutnya.


Ya, Daddy Bara selalu mendapatkan jawaban yang hampir sama setiap harinya. Lagi pula, limbah koran masih bisa di gunakan, contohnya seperti membersihkan kaca jendela. Dengan menggunakan kertas koran, jendela terlihat lebih kinclong dari pada harus menggunakan lap khusus kaca sendiri. Percayalah.


"Daddy, bisa tebak gak? Siapa yang ada di gendongan Bara?" ujar Daddy Bara dengan menyeringai halus.


Opa roy menutup korannya dan membenarkan kacamatanya. Opa Roy menatap sang cicit yang ada di gendongan sang anak.


"OOh, ini sih Rayyan," ujar Opa Roy dan mencium kening sang cicit.


Daddy Bara melongo mendengr jawaban sang daddy. Apa hanya dirinya saja yang tidak bisa membedakan Rayyan dan Reyhan?


Tak berapa lama Opa Nazar pun masuk sambil mengantarkan bubur yang di masak oleh sangistri untuk Raysa.


"Om, tunggu," panggil Daddy Bara.


"Om, bisa nebak gak sih? Ini siapa?" tanya daddy Bara.


Opa Roy yang mendengar pertanyaan sang putra pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada dua pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Rayyan?" tebak Opa Nazar.


Daddy Bara lagi-lagi terkejut mendengar jawaban yang benar. Apa ini artinya hanya dirinya saja yang tak bisa membedakan mana rayyan dan mana Reyhan?


Daddy Bara terduduk lemas sambil menatap wajah sang cucu.


"Kenapa? Kamu gak bisa bedain mana Rayyan dan Reyhan?" tebah Opa Roy.


Perlahan, Daddy Bara menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Opa Roy. Seketika, ruangan tersebut langsung di meriahi dengan tawa yang pecah dari Opa Nazar dan juga Opa Roy, di tambah tangisan Rayyan yang terkejut mendengar suara yang menggelegar tersebut.


Plak ... plak ...


Pukulan pun mendarat di punggung Opa Nazar dan juga Opa Roy. Siapa lagi yang berani memukul mereka jika bukan sang istri.


"Udah tau ada cicitnya, di sana, ngapain ketaawa besar-besar sih?" geram Oma Shella.

__ADS_1


Daddy Bara sudah menimang sang cucu dan membawanya kabur dari para buyutnya tersebut. Sekalian, Dady Bara juga kabur dari amukan sang Mami.


*


"Kenapa?" tanya Fatih kepada sang istri yang terkekeh sendiri.


"Ini loh, tadi Bunda cerita, kalau Daddy gak bisa bedain yang mana Rayyan dan yang mana Reyhan," ujar raysa sambil masih terkekeh.


"Masa sih? Daddy belum bisa bedain juga?" tanya Fatih.


"Iya, tadi malahan Daddy minta Bunda untuk menukar posisi Reyhan dan Rayyan, kemudan Daddy menebaknya, laagi-lagi salah," ujar Raysa sambil terkikik.


"Ya ampun, padahal cukup lihat tahi lalat yang ada di telinga Rayyan aja," ujar Fatih sambil terkekeh.


Ya, Reyhan dan Rayyan memang terlihatr sangart mirip. Namun, tetap bisa dibedakan kok, yaitu dari tehi lalat yang ada di telinga kanan Rayyan. Tidak besar memang, tapi cukuplah untuk memberi tanda yang mana Rayyan dan Reyhan.


"Asinya gimana? Udah mulai lancar?" tanya Fatih.


"Belum, tadi sih udah di kompres dengan air hangat juga. Eemm," Raysa terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa?" tanya Fatih yang dapat menangkap raut wajah raysa yang terlihat meragu.


"I-itu, Bunda suruh Abang buat bantu urutin dada aku," cicit Raysa dengan amat pelan.


Fatih pun langsung tersenyum penuh arti. "Jangankan urut, minta cicipin aku mau," ujar Fatih sambil mendekat kearah Raysa.


"A-abang mau apa?" tanya Raysa sambil memegang bajunya.


"Mau urut dada kamu, sini," ujar Fatih sambil mengangkat tangannya dengan wajah mesumnya.


"Itu sih maunya Abang, dasar mesum," gerutu Raysa.


"Tapi kamu suka kan di mesumin aku?"


Raysa pun mencubit pinggang Fatih dengan gemas.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin


Jangan lupa like and komen.


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA

__ADS_1


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2