
Setiap pagi Bara selalu menemani sang istri untuk berjalan pagi. Dan hari ini Bara sudah mengambil cutinya untuk menjadi suami siaga. Apalagi saat ini telah mendekati hari kelahiran bayi mereka.
" Pelan-pelan sayang." Dengan lembut Bara menuntun sang istri.
" Iya Mas."
Jantung Sasa selalu berdetak cepat saat mendapatkan perlakuan manis dari sang suami. Belum lagi godaan dari para tetangga yang selalu menyukai keharmonisan Bara dan Sasa.
" Mas, besok acara di rumah baru Kesya kan?'
" Iyaa mungil."
" Kita bawa apa yaa? eem, atau aku buatin tumpeng nasi kuning aja yaa?'
" Gak, Aku gak mau kamu kecapean sayang. Pokoknya kamu gak boleh ngapa-ngapain lagi."
Sasa memanyunkan bibirnya. Semenjak memasuki bulan ke 9 dalam kehamilannya, Bara mulai over protektif dan banyak melarang Sasa untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan untuk membereskan tempat tidur saja Bara tak mengizinkannya. Belum lagi Bara mendapatkan dukungan dari Mami Shella dan Daddy Roy. Mami bilang, saat hamil kedua anaknya, Mami Shella memang tak di izinkan lagi melakukan pekerjaan rumah oleh Daddy Roy dan juga kedua orang tua mereka. Maka dari itu, Mami Shella juga ingin melakukan hal yang sama kepada putri-putrinya, termasuk Kesya dan Sasa.
" Jangan manyun gitu mungil, ntar aku khilaf loh."
" Iih, dasar mesum. Aakkh..." Sasa meringis saat pergerakannya ingin memukul lengan Bara.
Bara dengan sigap memegang Sasa dan ikut mengelus perutnya.
" Duuh, so sweet banget sih. Bikin ngiri aja.." Sapa tetangga Bara yang sedang berlari pagi di seputaran komplek.
Bara dan Sasa hanya tersenyum menanggapi ucapan tetangganya tersebut.
" Kamu gak lagi mau melahirkan kan mungil?"
" Enggak Mas, sepertinya anak kamu ini gak mau kalo aku mukul kamu." Ujar Sasa sambil tersenyum lebar.
Sasa merasa sakit karena anaknya menendang perutnya, saat Sasa ingin memukul lengan Bara. Sasa tersenyum karena mengingat ucapan Mami Shella, yang mengatakan jika anaknya akan sangat dekat dan manja kepada Bara. Sasa harus bersabar dan tidak boleh cemburu, jika sang anak lebih mendominasi Bara.
Sasa rasanya tak sabar ingin cemburu kepada sang anak, dan ingin mengetahui seberapa adilnya Bara dalam memperlakukan mereka.
Sasa juga sering mendapat cerita dari Kesya dan Vina, jika sang anak laki-laki mereka lebih dominan kepada mereka, yang mana membuat sang ayah menjadi cemburu dan merasa kekurangan waktu. Padahal, tiap malam selalu di kasih jatah. Women on top lagi.
Acara syukuran di rumah Baru Kesya menjadi hal terheboh bagi Om Nazar, Tante Rosa, Mami Shella, dan juga Daddy Roy. Mereka membuat makanan makanan kesukaan Kesya dan cucu mereka, Qila dan Veer. Sasa yang baru saja pulang dari berjalan-jalan ingin membantu, namun dilarang oleh semua orang. Sasa hanya boleh membantu melihat saja, tidak boleh mengerjakan pekerjaan. Sasa pun kembali memanyunkan bibirnya.
Cup..
Sasa terkejut saat Bara mencium dan ******* bibirnya sesaat tepat di depan para orang tua. Sasa melototkan matanya dengan wajah yang memerah.
" Dasar mesum.." Pekik Sasa kesal dan memukul Bara.
" Salah sendiri manyunin bibir dari tadi, udah tau Aku gak tahan liatnya." Ujar Bara tanpa dosa.
__ADS_1
Mami Shella, Daddy Roy, Om Nazar, dan Tante Rosa hanya menggelengkan kepalanya. Tak heran dengan perlakuan Bara. Bahkan Bara pernah mengatakan dengan bangga kepada semuanya, jika dia baru saja menyelesaikan empat ronde bersama Sasa, hingga mendapatkan cubitan dari Sasa dan lemparan bantal dari Mami Shella karena ngomong vulgar di hadapan semua orang.
Acara syukuran di rumah baru Kesya pun tiba. Banyak teman-teman Kesya yang berasal dari radio yang juga ikut diundangnya, dan juga seluruh karyawan toko kue nya. Kesya juga sengaja menutup tokonya untuk hari ini.
Bara menuntun sang istri turun dari mobil, dan tetap setia berada di sisi Sasa saat mereka berjalan memasuki rumah Kesya.
" Rumahnya cantik ya Mas, halamannya juga besar banget."
" Kamu mau rumah kayak gini?"
Sasa menggeleng cepat. " Aku gak butuh rumah kayak gini, karena rumah aku itu adalah di mana tempat surga suamiku berada."
Mami Shella yang mendengar ucapan Sasa pun melebarkan senyumnya, hingga matanya berkaca-kaca.
" Emangnya kamu gak mau punya rumah sendiri?"
" Jujur, gak ada satu wanita pun di dunia ini tak ingin memiliki rumah sendiri. " Sasa menatap sang suaminya, " Tapi jika aku di suruh memilih, di belikan rumah oleh mu atau tetap tinggal bersama kedua orang tua mu, Aku akan memilih tetap tinggal bersama kedua orang tua mu, karena aku merasa memiliki orang tua ku kembali. Dan aku akan menyuruhmu untuk menyewakan rumah tersebut, kan lumayan uang sewanya bisa buat biaya kuliah anak kita."
Awalnya Bara, Mami Shella, dan Daddy Roy terkejut mendengar penuturan sasa, namun setelah Sasa melanjutkan ucapannya, mereka tersenyum dan terharu, hingga akhirnya mereka tertawa karena Sasa menyuruh Bara untuk menyewakan saja rumah mereka. Tapi apa yang di bilang Sasa benerkan? Gak ada salahnya membeli rumah, kalo gak bisa di tempati, ya bisa di sewakan, karena nilai rumah dan tanah tidak akan pernah jatuh.
Kesya melihat kedatangan kedua orang tuanya, beserta Bara dan Sasa. Kesya langsung menghampiri keluarganya itu.
" Papa, Mama, Mami, Daddy." Kesya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Tak lupa Kesya juga mencium punggung tangan Bara dan mencium pipinya, serta memeluk Sasa dengan sayang.
" Makasih aunty, rumahnya bagus banget."
" Alhamdulillah.. Oh ya, Kiki mana?"
" Kiki nanti nyusul, biasalah anak lajang, mana mau bareng Mama nya lagi. Oh ya, kami bawa makanan kesukaan kamu dan si kembar. "
" Alhamdulillah, makasih ya Ma, Yah, Dad, Mi."
" Sama-sama sayang."
Kemudian Kesya membantu Sasa untuk berjalan dan bergabung dengan yang lainnya. Ada Puput, Vina dan Anggun.
" Pelan-pelan Mbak jalannya." Kesya membantu Sasa yang tengah hamil tua, dan bisa di bilang sedang menunggu hari kelahirannya.
" Iya Key."
" Hai semuaa..." Ara yang baru sjaa tiba langsung menyapa dengan ceria. Hingga mendapatkan teguran dari Jodi, yang mana membuat Ara menyengir kuda.
Kehamilan Ara yang masih muda atau masih dalam trimester pertama, masih terlalu rentan, bahkan Ara pernah mengeluarkan flek saat ia tengah kelelahan, untuk itu Jodi sangat menjaga istri kecil nya itu. Bahkan seharusnya saat ini Ara sedang berada di Paris, mengadakan acara fashion show nya di sana. Namun Ara meminta Tante Dewi yang menggantikannya, karena Ara merasa tidak sanggup untuk perjalanan jauh. Jodi juga sudah membuka tempat kursus untuk latihan Bella diri. Dan semua pengawal keluarga Moza, pasti akan di seleksi oleh Jodi dan Duda.
Acara syukuran terasa hikmat dengan pembacaan doa dan ayat suci Alquran. Hingga sampai di detik kehebosan Bara dan Mami Shella, yang mana tiba-tiba saja Sasa meringis dan ternyata sudah pecah ketuban.
__ADS_1
" Akhhh, Mi, aku pipis celana kayak nya." Bisik Sasa karena malu dengan tamu lain yang sedang menikmati hidangan.
" Jangan becanda kamu Sa." Terlihat wajah khawatir sang Mami, yang mana sudah menebak jika itu bukanlah pipis, melainkan air ketuban.
" Iya Mi, Sa serius." Ujar Sasa dengan menahan rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba menegang.
" Akh..." pekiknya lagi.
" Sa, ini ketuban, bukan pipis.. Bara... Bara..." teriak Mami shella panik..
Bara yang baru saja menyuapkan satu sendok nasi pun langsung menghentikan pergerakannya dan berlari bagaikan aktif India yang ingin menyelamatkan kekasihnya.
" Mungiill.. Kamu mau melahirkan? Ayoo, kita kerumah sakit.. Atau kamu mau melhairkna di sini, anggun.. anggun.." Panggil Bara panik.
Anggun sudah langsung memeriksa keadaan Sasa, kemudian ia meraih ponselnya dan menelpon pihak rumah sakit.
" Kita bawa sekarang ya Mas."
Fadil sudah siap menjadi supir, sedangkan Arka dan kesua tak di izinkan ikut, karena mereka harus menjamu tamu mereka.
" Mas, pelan-pelan, sakit." Ujar Sasa saat merasa Bara sedikit menariknya.
" Iya sayang, maaf-maaf.." Bara sudah keringat dingin, bahkan keringat tersebut sudah mulai membasahi baju nya.
Bara masuk kedalam mobil bersama Sasa, duduk di bangku penumpang, yang di susul oleh Mami Shella yang juga ikut panik. Daddy Roy duduk di bangku penumpang bangian depan, dengan Fadil yang mengemudikan mobilnya.
Tadi nya Duda sudah menawarkan diri untuk menjadi supir, namun Fadil melarangnya, karena dia ingin membantu Sasa. Baginya, Sasa sudah seperti adiknya, keluarganya.
" Pelan Woy, istri gue sakit ini.." Bara menegur Fadil yang membawa mobil dengan sangat cepat, bahkan Mami Shella sedari tadi terus mengucap-ngucap dan berselawat.
Fadil menurunkan kecepatan mobilnya, namun tetap saja ia salah.
" Cepat dikit Napa? lama banget siih.. Istri gue kesakitan ini.." Kesal Bara.
Fadil hanya memutar bola matanya, ia tahu posisi seperti ini memang akan sangat menyebalkan. Dan Bara, benar-benar menyebalkan..
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....