
kelahiran putra pertama Leo dan Anggun menjadi berita utama di keluarga Moza. Satu persatu keluar datang dan menengok Putra mereka, yang diberi nama Lucas itu.
" Yaah, keduluan dengan Mbak Sa.."
Sasa hanya menyengir sambil menggendong baby Lucas.
" Ganteng Bangeet... Mirip sama Anggun. " Seu Kesya.
" Alhamdulillah mirip Anggun, coba mirip Leo.." Arka tersenyum miring.
" Yah Om, aku kan ganteng juga.. "
" Iyaa ganteng, tapi di lihat dari nol kilometernya pulau Sabang."
" Iih, si om sadis banget dah. Aku doain, anak-anak om selanjutnya mirip aku.. Aamiinn..." Ujar Leo sambil menengadahkan tangannya ke atas.
" Amit..amit jabang bayi.. " Ujar Arka sambil bergidik geli.
Seluruh keluarga tertawa melihat kedua pria yang berbeda usia tak terlalu jauh itu.
" Tampan banget yaa Mas.." Ujar Sasa sambil menimang Lucas.
" Iyaa, ntar kita usaha buat yang lebih tampan dari ini yaa.." Bara memeluk Sasa yang tengah mengendong Lucas. Tanpa mempedulikan pandangan dari yang lainnya.
Saking ikut bahagianya, Sasa tidak sadar jika Bara memeluknya di hadapan seluruh keluarga.
Seluruh keluarga yang melihat itu ikut senang, tapi juga sedih. Terutama Mami Shella, yang sudah menitikan air matanya.
Kesya mengeluarkan ponselnya, dan mengambil foto Bara dan Sasa yang asik memandang Lucas.
.
.
Kepulangan Lucas dan Anggun ke rumah Om Bram pun menjadi satu kebahagiaan untuk Sasa. Karena Sasa bisa ikut merawat Lucas. Dan itu adalah satu ancaman bagi Anggun, karena menurut cerita Vina, Tante Mega, dan Tante Rosa, Jika anak mereka sudah di sentuh oleh Sasa, maka anak-anak mereka langsung lengket, bahkan mengalahkan lengketnya dengan ibu kandung nya.
" Mbak, Lucas anteng banget yaa.." Sasa tengah memandikan Lucas.
" Heum, tapi kalo sama aku kayaknya gak seanteng itu deh..
Tuh kan bener, Anggun mulai gelisah, karena Lucas lebih nyaman di gendong dengan Sasa ketimbang Anggun.
" Sa, maaf ya sebelumnya. Tapi... eem.. apa kamu gak kepingin coba periksa?"
Sasa yang tengah mengeringkan tubuh Lucas, menoleh kearah Anggun.
" Maaf Sa, bukan maksud aku.."
Sasa diam, tangannya melanjutkan mengeringkan tubuh Lucas, kemudian memakaikan popok dan menaburi minyak telon di tubuhnya.
" Gak papa mbak, eem.. sebenarnya aku juga mau tanya hal itu dengan mbak.. tapi kalo bisa, Mbak jangan bilang-bilang sama Mas Bara dan Mami yaa.. aku hanya gak ingin mereka kecewa saat mendengar berita yang kurang baik." Ujar Sasa sambil memijit pelan tubuh Lucas.
" Kamu yakin untuk tidak memberi tahu Mas Bara dan Tante Shella?"
" Iya Mbak.."
" Hmm, ya udah kalo gitu, kapan kamu mau periksa?, ntar aku kasih nomor teman aku. Tenang aja, cewek juga kok."
" Eem, gimana kalo besok Mbak?. "
" Besok?"
" Hmm, "
" Ntar aku kabari kamu yaa.."
" Makasih ya Mbak.."
" Sama-sama"
Sesuai janji Anggun. Anggun tidak memberi tahu kepada siapapun tentang Sasa yang ingin memeriksakan dirinya ke dokter. Anggun juga sudah menghubungi Dokter Meta, yang juga bertugas di rumah sakit M Healthy. Anggun sudah mengatakan kronologi secara garis besar kondisi Sasa. Dan Anggun meminta untuk tidak terlalu menekan Sasa dengan perkataan yang menakutkan, karena Sasa memiliki riwayat trauma Healing.
__ADS_1
" Mas, nanti aku pergi jenguk teman aku di rumah sakit ya.."
Jantung Sasa sudah berdebar kencang, karena berbohong kepada suaminya.
" Siapa yang sakit?"
" Itu, teman aku yang dulu pernah kerja di Green Cafe."
" Ooh, kenapa?"
" Kecelakaan. nanti aku jenguk dia yaa.."
" Mau aku antar?"
" Eem, aku pergi sendiri aja deh.."
" Ya udah, jangan lupa surat-suratnya yaa, takutnya ada raziah. Masa istri polisi melanggar peraturan lalulintas, malu dong suaminya ntar."
" Iyaa Mas.."
" Ntar bawa mobil nya pelan-pelan aja yaa.."
" Iya Mas ku, beruang madu ku.."
Sekarang Sasa sudah bisa mengendarai mobil. Bara yang mengajari Sasa, Alasannya biar enak pergi kemana-mana bareng Mami Shella, dan Sasa juga gak kepanasan.
Setelah membereskan pekerjaan rumah, Sasa bersiap pergi ke rumah sakit, mumpung Mami Shella sedang ikut acara di kantor Daddy Roy.
Sasa yang memang sudah di daftarkan namanya oleh Anggun, tidak perlu mengantri lagi dan langusng menemui Dokter Meta.
" Selamat siang Mbak Sasa." Sapa Dokter Meta ramah.
" Siang Dok."
" Baiklah, kita mulai yaa.."
Doker Meta menyuruh Sasa berbaring di brankar, dan menyuruh Sasa mengangkat bajunya.
" Tenang aja, gak sakit kok. Kita mau USG kondisi rahimnya."
" Hmm, bukan masalah besar kok. Hanya posisi rahimnya saja Yang sedikit miring."
Dokter Meta menampilkan senyumnya. Senyum yang menenangkan. Setelah selesai memeriksa kondisi rahim Sasa, dokter Meta mempersilahkan Sasa duduk.
" Jadi, maksudnya gimana ya dok?"
" Jadi begini. Posisi rahim Mbak Sasa ini sedikit miring menekuk kek bagian perut, jadi ini lah mengapa rahim sulit di buahi. Tapi Mbak Sasa jangan khawatir, ini bukan masalah yang terlalu serius. Masih ada jalan untuk membuahi rahim."
Dokter Meta menjeda ucapannya, memperhatikan wajah Sasa yang terlihat semakin tegang. Dokter Meta berdiri dan duduk si sebelah Sasa, dan memegang tangannya.
"Mbak Sasa yang penting jangan stres, dan jangan terlalu banyak fikiran, apa lagi kerja berat. Saran dari saya, sebaiknya setelah berhubungan, Mbak Sasa jangan bangun dulu, biarkan dalam posisi tidur beberapa menit, ataupun Mbak Sasa bisa mengganjal pinggul Mbak Sasa dengan bantal saat berhubungan. Bisa juga dengan cara menaikkan kaki keatas setelah berhubungan. Minta bantuan suaminya. Itu cara yang alami yang dapat membantu. Dalam medis, kami hanya membantu dengan memberi obat kesuburan. atau bisa juga dengan cara operasi."
" Gak mau dok, saya gak mau operasi.." Ujar Sasa dengan suara yang menahan tangis.
" Kalo Mbak Sasa gak mau jalan operasi, Mbak Sasa bisa coba cara yang saya sebutkan tadi."
.
.
Sasa mengingat-ingat apa yang di katakan dokter Meta. Cara alami yang membantunya untuk menghantar ****** ke rahim. Tapi, bagaimana jika cara itu juga tidak berhasil?, apa yang harus Sasa lakukan?.
Sasa yang sedang menunggu obatnya selesai pun tidak menyadari kehadira. Bara di sebelahnya. Hingga tangan besar dan hangat itu menggenggam tangan mungil Sasa yang terasa dingin.
Sasa terkesiap dan siap ingin memberi pelajaran kepada sipemilik tangan yang menggenggam tangannya, namun Sasa baru menyadari siapa pemilik tangan itu ketika melihat wajah Bara yang tersenyum lembut kepada Sasa.
" M-mass.." Ujar Sasa dengan suara bergetar.
Bara membawa tangan Sasa ke bibirnya, mengecup tangan mungil itu.
" Jangan pernah menanggung semuanya sendiri mungil, Aku akan selalu bersama kamu " Ujar Bara menatap ke dalam manik mata Sasa.
__ADS_1
" Mas tau? kalau aku__?" air mata Sasa terjatuh saat melihat anggukan dari Bara.
" Mbak Anggun yang bilang?"
" Bukan, tapi akucuriga sama kamu. Jadi Mas ikutin kamu. Dan Aku juga minta bantuan Leo untuk bertemu dengan Dokter Meta. Dokter Meta sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Jadi, dalam Maslaah ini, kamu butuh aku untuk menghadapi semuanya. Jangan pernah merasa sendiri mungil. Ingat, aku selalu bersama kamu, apapun yang terjadi."
" Mas.. Hikss.."
Bara langsung merengkuh tubuh Sasa, dan menbiarkan jaketnya basah dengan air mata dan ingus Sasa.
" Atas nama Marisa.." Panggil apoteker.
" Iyaa.." Sasa merelaikan pelukannya, dan menghapus air matanya. Sasa bersiap berdiri, namun Bara menahan pergerakannya.
" Biar aku aja yang ambil." Bara tersenyum lembut.
" Ayoo..."
" Mobil Mas?"
" Di rumah, setelah absen, aku balik pulang dan menunggu kamu pergi." Bara tidak mengatakan jika dirinya sudah memasang pelacak di ponsel Sasa. Itu karena Bara takut kehilangan Sasa lagi. Jadi, kemana pun Sasa pergi, Bara tau dan selalu memantau pergerakannya.
Bara dan Sasa menuju sebuah resto.
" Mas gak balik kerja?"
" Izin setengah hari. Yukk.." Bara membukakan seatbel Sasa dan berkesempatan mengecup bibir Sasa.
" Dasar mesum.."
" Haruuss.. biar semakin semangat bikin Dedek bayi nya."
Sasa sudah tersipu malu dengan wajah nya yang memerah.
Mereka pun makan di resto yang menjadi langganan mereka. Karena bahan yang digunakan bahan-bahan berkualitas, dan harganya juga miring.
Sepulang dari makan siang, Bara mampir ke pasar untuk membeli ikan gabus.
" Buat apa Mas?" Tanya Sasa yang keheranan melihat Bara membeli banyak ikan.
" Biar kualitasnya semakin bagus." Bisik Bara.
" Kualitas apa?" Tanya Sasa yang heran dengan ucapan ambigu Bara.
Bara mengarahkan matanya ke Tiger. Sasa mengernyit bingung, masih tidak mengerti dengan maksud perkataan Bara.
" Maksudnya apaa sih Mas.?"
" Iihh mungil, gemesin banget sih.." Bara mencubit hidung Sasa.
" Sakit Mas.. Aku serius loh tanyanya."
" Biar ****** aku kualitasnya semakin bagus mungil" Bisik Bara.
" Iih, kamu ini.. ngomongnya mesum banget sih.."
" Yaah, aku bener loh ngomongnya. Dah di bilangin mesum. Mungil...mungil.."
Bara meraih tangan Sasa, dan menggandengnya. Bara tidak peduli dengan seragamnya yang akan bau amis, toh nanti sepulang di rumah dia bisa mandi.
Sesampainya di rumah.
" Mungil, satu ronde yukk.. Sebelum aku berangkat ke kantor. Mumpung sepi.. Gak ada Mami.."
" Iihh, dasar mesum.."
Namun, Sasa tidak menolak ajakan Bara yang akan membawanya ke surga dunia itu dan ladang pahalanya surga akhirat.
IG. Rira Syaqila.
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )