Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 16 " Motor matic"


__ADS_3

Hari ini kepulangan Kesya dari honeymoon nya. Bara sudah sangat bersemangat memberikan kejutan untuk adik bungsunya itu. Bara tersenyum mengingat akan kekesalan kesya kepada dirinya.


" Kamu nanti ikut rumah Tuan Farel?" Tanya Mami Shella.


" Iya Mi, tapi Bara selesain kerjaan dulu. Barusan baru di berikan kabar oleh Andi, ada kasus yang harus di selesaikan dengan segera"


" Baik lah, tapi jangan lupa datang yaa, jika tidak kesya pasti akan marah"


" Iya Mi, ya sudah, kalo gitu Bara ke kantor dulu ya.. Assalamualaikum" Bara pun mengecup pipi Mami Shella.


" Walaikumsalam, hati-hati di jalan ya "


Mami Shella pun menyiapkan bekal kesukaan Kesya untuk di bawa ke rumah Kediaman Moza.


Hari ini benar-benar hari tersibuk bagi Bara. Panggilan dan pesan dari Lia saja belum ada satu pun yang terbalas. Tapi fikirannya masih terpatri pada si mungilnya. Lagi ngapain dia?.


Bara meraih ponselnya, namun saat dia ingin menghubungi mungil, panggilan dari Daddy Roy pun tertera di ponsel nya. Bara pun menggeser tombol hijau.


" Assalamualaikum Dad"


" Bar, Vina. Vina melahirkan. Saat ini kami sedang menuju kerumah sakit M health"


" Iya Dad, Bara ke sana sekarang"


Bara meraih kunci mobilnya. Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun naas, ban mobilnya tiba-tiba kempes karena tertusuk paku. Bara mengerang kesal dan keluar dari mobilnya, melihat kondisi Ban mobilnya. Dan menendang ban kempes itu dengan geram.


Bara meraih ponselnya. Sial, baterai di ponselnya habis. Bara kembali mengerang kesal. Bagaimana tidak, di saat genting seperti ini ada saja cobaannya. Bara mengedarkan pandangannya, berharap ada taksi atau ojek di sekitar itu. Namun mata Bara memicing saat melihat seorang gadis mungil sedang memberikan satu plastik yang isinya terlihat seperti makanan kepada seorang pengemis tua. Bara mengenal gadis mungil itu.


" Sasa " Teriak Bara.


Gadis mungil yang memang ternyata adalah Sasa itu pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


" Iiih, kenapa juga mesti jumpa dia" Kesal Sasa.


Bara berlari menghampiri Sasa. Bara sempat melirik kearah pengemis tersebut, ternyata mungilnya itu baru saja memberikan sebungkus nasi. Dalam hati Bara semakin kagum kepada mungil nya ini.


" Mungil, kamu kenapa bisa di sini?"


Sasa mengerutkan keningnya. Mungil? Apa dia mengatakan dirinya mungil? Ini sungguh menyebalkan. Sasa tidak menghiraukan Bara, Sasa melangkah meninggalkan Bara menaiki motornya.


Motor?


Mungilnya bagaikan malaikat penyelamatnya.


" Mungil, tunggu" Bara menahan tangan mungil.


" Apaan sih, mungil-mungil"


" Nanti aja ya berdebat nya mungil, aku lagi buru-buru. Vina masuk rumah sakit, dia mau melahirkan"


" Mbak Vina masuk rumah sakit? " wajah Sasa langsung berubah khawatir.


" Iya mungil, jadi kamu tolong antar aku ya"


" Itu kan mobil Lo, kenapa gak naik mobil Lo aja sih" Sasa sudah menahan mualnya. Bara yang di hadapannya saat ini sedang menggunakan seragamnya, tanpa menggunakan jaket seperti biasa.


" Ban mobil aku kempes, kena paku. Kamu harapan aku mungil, tolong yaa. Antar aku."


Sasa menganggukkan kepalanya, kemudian dia turun dari motornya. Bara langsung saja naik ke atas motor dan menghidupkan mesinnya.


" Ayo mungil"


Sasa sudah memicit keningnya. " Gue balik ke tokonya jalan aja, dari pada gue muntah di jalan. Udah, Lo pergi aja terus sana. Hati- hati di jalan, jangan lupa bensinnya di isi" Sasa langsung meninggal Bara yang masih menatapnya.


Bara melihat kearah pakaiannya, kemudian dia tersenyum.

__ADS_1


" Mungil, ayo naik, aku antar kamu" Bara menyusul Sasa dengan motor.


" Gak usah, Lo pergi aja terus. Gue bisa balik ke toko sendiri, Deket doang kok. Udah sana" Sasa mengusir Bara.


" Kamu yakin?"


Sasa menganggukkan kepalanya cepat, dia sudah tidak tahan.


Uwweekk... uuwweekk...


Untungnya hanya angin yang keluar. Sasa menutup mulutnya, kemudian memicit keningnya.


" Okey, kamu hati-hati nyebrangnya. Aku pergi dulu. Assalamualaikum mungil"


Sasa menatap Bara kesal, karena terus saja memanggilnya mungil. " Walaikumsalam, jangan lupa isi bensinnya." Sasa melanjutkan perjalanannya.


Bara memarkirkan motor Sasa di parkiran, kemudian Bara berlari memasuki lobi rumah sakit.


" Sus, ruang bersalin di mana ya?" Suster tersebut menatap Bara penuh minat. Bagaimana tidak, Bara terlihat tampan dan berwibawa dengan seragam lengkapnya, apa lagi pangkat Bara yang sudah tinggi.


" Sus"


" Eh maaf, Lurus kemudian belok kiri. Di sana ruang bersalin"


" Terima kasih"


Bara langsung berlari kearah ruang bersalin.


" Sayang, tampan-tampan udah punya binik" Gumam Suster tersebut.


" Orang tampan cepat laris, makanya Lo harus cantik biar laris"


" Lo kira gue makanan di jual apa laris"


Gibah pun terjadi di antara suster-suster tersebut.


Mami Shella langsung memeluk Bara. " Vina, Bar, Vina"


" Iya Mi, Mami tenang ya, Vina pasti baik-baik aja. Dia anak yang kuat"


Bara merelai pelukannya karena Mami mendorong sedikit tubuh Bara dan berlari kearah pintu ruang bersalin saat mendengar teriakan Vina.


" Bar, kamu beli minum dulu gih, Biar Mami kamu minum"


" Iya Dad"


Bara melangkahkan kakinya ke arah kantin rumah sakit, setelah mendapatkan arahan dari Om Bram.


Bara membawa beberapa botol air mineral. Bara melihat Mami Shella sudah berada dalam pelukan kesya.


" Mas Bara?"


Bara menghampiri Mami Shella dan Kesya. Bara membuka tutup botol air mineral, dan memberikannya kepada Mami Shella.


" Mas Bara kapan datang? Key kangen" Kesya memeluk erat tubuh Bara.


" Mas juga kangen sama kamu cengeng" Ujar Bara sambil mencuil hidung Kesya.


Ah, jika saja Bara bukan Abang Kesya, mungkin Arka sudah memukulnya. Tak berapa lama Vano keluar dengan penampilan yang acak-acakan.


Mami Shella langsung mengucap syukur karena Vina dan Bayinya selamat. Semua orang ikut memeluk Vano. Bara ikut masuk keruangan bersalin, Vina saat ini sudah selesai di bersihkan, dan Bayi kecil berjenis laki-laki itu pun sudah di azani.


" Dek, selamat ya. Mas ikut senang" Bara mendaratkan kecupan di kening Vina.


" Makasih Mas "

__ADS_1


" Mas gak bisa lama, Mas harus kembali ke kantor"


" Iya Mas, hati-hati ya"


Bara melihat bayi kecil yang berada di gendongan Vano.


" Hai ganteng, maaf ya, Uncle gak bisa lama. Sehat selalu sayang" Bara mendaratkan ciumannya di kening Bayi laki-laki itu.


" Mas pamit ya" Pamit Bara kepada Vano.


" Iya Mas, hati-hati. Terima kasih sudah meluangkan waktunya."


" Adik Mas itu, tentu harus ada waktu untuk dia"


Bara keluar dari kamar bersalin, kemudian berpamitan kepada Mami Shella dan yang lainnya.


" Mas Bara mau ke mana? Kan baru Sampek, gak istirahat dulu?" Tanya Kesya.


" Mas lagi banyak kerjaan di kantor. Nanti Mas balik ke sini lagi"


" Kapan? Key kan masih kangen. Mas nanti saja kembalinya. Menginap saja di rumah Mami semalam"


" Jangankan semalam, sekarang Mas akan nginap setiap malam di rumah Mami"


" Iih Mas, Key serius tau"


" Mas juga serius, Mas sudah pindah tugas di sini"


" Apa? Kapan? sejak kapan? sudah berapa lama?" Cecar Kesya.


" Duh tanya nya satu-satu, Udah mau sebulan"


" Iiih, Mas Bara nyebelin, Pindah tugas ke sini gak ngabari Kesya. Key benci sama Mas Bara." Kesya pun berlalu dan memeluk Arka.


Bara menghela napasnya pelan, dia sudah duga Kesya akan merajuk, tetapi gak di rumah sakit juga kali?. Bara mendekati Kesya dan Arka.


" Dek, Maafin Mas ya, Mas cuma mau kasih kejutan sama kamu"


" Mas Bara nyebelin, Key gak mau ngomong dengan Mas Bara... Hikss"


" Hah, ya udah, Mas sekarang gak bisa bujuk kamu. Mas lagi ada kerjaan yang harus Mas kerjain. Mas janji, nanti malam Mas akan ke rumah kamu ya"


" Gak mau, Mas Bara jahat. hiikkss.."


Bara menghela napasnya kasar, tak berapa ponsel Bara berdering, ada nama Andi tertera di sana.


" Ya Ndi"


"......."


" Baik, saya segera ke sana"


Setelah mengucapkan itu, Bara memutuskan panggilannya.


" Key, Mas benar-benar harus kembali ke kantor. Kamu jangan nangis lagi ya"


Tidak ada sahutan dari Kesya. Bara mendekatkan dirinya dan mengecup kepala Kesya yang masih mengubur wajahnya di Dada Arka.


" Gue balik dulu ya, Lo tolong jagain Kesya"


" Siap Mas, sudah pasti. Hati-hati di jalan"


Bara pun berpamitan kembali dengan semuanya, dan kemudian Bara melangkah keluar menuju parkiran. Bara tersenyum kala mengingat saat ini dia mengendarai motor matic milik Sasa, mungilnya.


Hah, mungil nya. Rasa nya dia tidak sabar untuk bertemu mungilnya itu.

__ADS_1


**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya..


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2