
Bara tidak memperdulikan ceriwisnya Sasa beserta kekesalannya. Bara terus saja mengemudikan mobilnya.
" Lo turunin gue deh sekarang, jadi waktu Lo buat ngomong sama Lia bisa lebih leluasa" Ujar Sasa yang mencoba untuk menahan kembali emosi dan kekesalannya. Namun Bara sepertinya masih saja kekeuh dengan membawanya bertemu dengan Lia.
Sasa menghela napasnya kasar, kemudian dia memiliki ide untuk memanggil Bara seperti apa yang Kesya lakukan.
" Masss"
Ciiittt.....
Bara langsung menekan rem nya secara mendadak. Untung saja di belakang mereka tidak ada kendaraan lain.
" Kamu bilang apa barusan?" Tanya Bara tak percaya.
Sasa mencondongkan tubuh nya ke arah Bara, dengan senyuman yang sangat manis, sehingga Bara terpana. Wajah Sasa semakin mendekat, hingga Bara memejamkan matanya.
Kleekk..
Bara mengerjapkan matanya seakan tersadar apa yang Sasa lakukan. Dengan cepat Sasa turun dari mobilnya setelah mengelabui Bara untuk membuka kunci pintu nya..
" Kamu" Geram Bara.
Bara ikut turun dan mengejar Sasa.
" Mungil" Teriak Bara.
Sasa hanya melambaikan tangannya saat sudah berada di trotoar yang ada di seberang Bara. Dan menjulurkan lidahnya saat Bara kembali memanggil namanya. Bara hanya mendengus kesal, namun tak urung Bara tersenyum saat mengingat tingkah Sasa seakan menggodanya tadi.
Bara kembali masuk kedalam mobilnya.
Cling..
Satu pesan masuk, dan Bara melihat nama si pengirim. Bara tersenyum saat membaca ID nama si pengirim pesan, dengan cepat Bara membuka pesannya.
Mungil : Gue gak mau jadi obat nyamuk.
Bara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya Bara harus bertemu dengan Lia seorang diri. Soal mungil? Itu urusan Nanti, setelah masalahnya yang satu ini clear.
Sasa membuat panggilan kepada Fadil.
" Jemput gue, sekalian bawain barang gue. Gue di pinggir jalan Xx"
"....."
" Gue Kabur. Udah cepetan jemput"
Sasa memutuskan panggilannya. Sasa yakin, saat ini pasti Fadil sedang mengutuknya. Emangnya Sasa peduli.
Di sebuah restoran mewah, Lia sudah menunggu kedatangan Bara di ruangan VIP.
" Jadi, Mami kamu itu yang menyuruh untuk kita putus?" Lia tertawa.
" Lia, dengan atau tanpa Mami yang menyuruh pun, aku memang ingin putus dengan mu"
__ADS_1
" Benar kah? Apa kamu bisa jauh dariku? Bukannya kamu sudah mencoba untuk menjalin hubungan dengan wanita lain tapi kamu tetap tidak bisa melupakan ku, Bara!!"
" Kita tidak pernah menebak, kapan perasaan itu memudar dan menghilang. Aku sudah lama ingin memutuskan kamu"
" Benarkah? Apa kamu yakin?"
" Tentu. Jadi, mari kita akhiri hubungan ini"
" Baiklah, tapi kamu jangan pernah menyesal dan meminta kembali kepada ku."
" Tidak akan"
" Dan, Bagaimana dengan janji mu kepada Eyang?"
Bara mengingat kembali percakapannya dengan Lia. Rasanya saat ini Bara ingin sekali mengutuk dirinya sendiri. Karena cintanya yang terlalu bodoh, hingga dia harus menanggung dilema yang di hadapinya.
Bara melajukan mobilnya menuju toko kue, Dia mencari mungilnya, namun ternyata Sasa tidak berada di toko kue. Sedari tadi Bara sudah mencoba menghubungi ponselnya, namun selalu di luar jangkauan. Bara menuju apartemen Sasa, namun sia-sia, mungilnya itu tidak berada di sana. Di mana mungilnya?.
Bara kembali ke lobi apartemen, namun saat Bara ingin melangkahkan kakinya menuju basemen, Bara melihat Sasa keluar dari sebuah mobil. Bara tau siapa pemilik mobil itu. Bara sungguh geram kepada sosok mungil yang tengah tertawa dengan si pengendara mobil, lihat Saja, dia akan memberikan pelajaran kepada mereka berdua.
Bara bersembunyi, agar Sasa tidak mengetahui keberadaannya. Saat Sasa memasuki lift, dengan cepat Bara juga ikut masuk kedalam lift, membuat Sasa terkejut dan memundurkan langkahnya karena Bara sudah mengurung dirinya dengan tubuhnya.
" Apa yang Lo lakuin" Sasa mencoba mendorong tubuh Bara. Namun tenaganya tidak sebanding dengan Bara. Tubuh Bara hanya mundur sesaat, namun kembali maju dan mengikis jarak di antara mereka.
Sasa kesal, dan akhirnya mencubit pinggang Bara.
" Aaww...iyaa, aku menjauh. Lepasiinn" Rintih Bara.
Bara memundurkan tubuhnya, memberi ruang di antara mereka. Sasa melepaskan cubitannya.
Pintu lift terbuka, Sasa segera keluar dan menuju apartemen nya. Bara mengikuti Sasa dari belakang. Hingga mereka masuk kedalam apartemen Sasa.
" Apaan sih Lo" Kesal Sasa karena Bara terus saja mengekori nya.
" Kangen" Ujar Bara manja.
Sasa rasanya ingin muntah, dan dia sudah memperagakan gerakan seolah sedang muntah.
" Aku serius"
" Bodo' "
Sasa masuk kedalam kamarnya, dan Bara juga sudah berada di belakangnya.
" Apaan sih, sana, gue mau ganti baju"
Bamm...
Sasa sengaja menutup pintu dengan kuat dan menguncinya. Berjaga-jaga, takut jika si Bara api itu nekad masuk kedalam kamarnya. Sasa sudah selesai dengan kegiatan mandinya, dan sudah terlihat segar. Sasa keluar dari kamarnya, dan mendapati Bara sedang bereksperimen di dapurnya.
" Lo kira ini rumah Lo? Seenak jidat Lo aja ngotori dapur gue" Ujar Sasa dan membuka kulkas, mengambil jus siap jadi, dan menuangkannya di gelas.
" Aku lapar mungil"
__ADS_1
" Bukannya Lo dari restoran ya, Masa sih gak makan?"
" Aku gak selera, tapi setelah melihat kamu, rasa napsu makan ku pun kembali" Ujar Bara, 'Dan rasa napsu ku untuk memiliki mu semakin bertambah' Tambah Bara dalam hati.
Iya kali Bara ngomong gitu di depan Sasa, bisa bonyok di tempat dia.
" Lo kira gue temulawak apa"
Sasa memperhatikan Bara memasak, ternayay dia lihai juga dalam menggunakan pisau dapur. Bahkan dirinya saja tidak sehebat itu dalam merajang. Bara tersenyum kala mendapati Sasa memperhatikannya tanpa berkedip.
" Lo kayaknya jago masak? Kenapa gak jadi koki aja?"
Bara terkekeh. "Aku cuma masak untuk keluarga dan orang yang ku sayang. Karena mereka yang memakan masakan ku adalah orang-orang spesial dan beruntung" Ujar Bara bangga.
" Idihh, Pede banget sih, belum tentu juga masakan Lo enak."
" Aku jamin, kamu akan ketagihan dengan masakanku" Bara terus aja berbicara, namun tangannya juga bekerja. " Kamu gak ada cabe rawit?"
" Belum gajian, jadi belum sempat belanja."
Bara melanjutkan pekerjaannya, dengan Sasa yang masih setia memandang nya dengan takjub, namun ketika Bara melihat kearahnya, Sasa langsung menatap kearah lain, dan memberikan ungkapan Yanga menurut Bara lucu. Seperti saat ini, Sasa mengatakan jika dia sangat khawatir dengan spatula yang sedang di pegang oleh Bara. Takut akan spatula itu gosong. Aneh kan?.
Masakan Bara selesai, Bara memasak tumis kangkung dan telor dadar. Sederhana, tapi rasanya sungguh luar biasa. Sasa yang tadinya sudah kenyang, kembali di landa rasa lapar. mereka pun menikmati makan bersama tanpa berbicara. Hanya terdengar dentingan sendok dan gumaman kata lumayan dari bibir Sasa, namun ekspresinya mengatakan lain.
Sasa sungguh merasa kenyang. Saat ini mereka sedang menonton film di saluran berbayar.
" Gimana hubungan Lo sama Lia?" Akhirnya Sasa bertanya, karena rasa penasaran nya yang tiba-tiba saja datang.
" Ya begitulah?"
" Kalian masih jadian?" Tanya Sasa yang terdengar sedikit kepo, atau cemburu?
" Tidak, kami putus baik-baik" Bara harus kembali mengancam Lia karena ingin menyebarkan video saat Mami Shella menyiramnya. Lia berencana akan membuat Mami Shella malu, sepeti yang di rasakannya saat berada di dalam restoran itu.
Namun Bara yang juga memiliki kunci As Lia, mengancam kembali Lia untuk menghapus video tersebut, jika tidak ingin karirnya sebagai polwan berhenti sampai di sini. Lia harus menelan kembali ucapan dan harapannya untuk membalas Mami Shella.
" OOO, bagus lah."
" Apa nya yang bagus? " Goda Bara dengan senyum jahilnya.
" Ya Bagus, setidaknya Lo gak jadi pria bodoh yang mau saja di selingkuhi"
" Bagaimana jika aku masih menjadi pria bodoh? dan mengejar cinta seorang gadis mungil yang selalu saja menolak ku?" Ujar Bara yang sudah mendekat dan duduk di sebelah Sasa
Sasa terkejut saat mendapati Bara yang sudah berada di sebelahnya, mata mereka bertemu. Terlihat sangat jelas di mata Sasa, Bara menatapnya penuh kerinduan. Tangan Bara perlahan terangkat dan menyentuh wajah Sasa.
" Aku benar-benar jatuh cinta dengan kamu, Marisa" Ujar Bara sambil menatap manik mata Sasa.
Sasa tertegun mendengar pernyataan cinta Bara, namun dia tidak ingin cepat mengambil keputusan. Saa perlu waktu, apa lagi Bara baru saja putus dengan tunangannya. Dan tidak ada yang bisa menjamin, jika Bara tidak akan kembali kepada Lia. Setidaknya Sasa harus meyakinkan perasaan Bara benar-benar tulus, atau hanya sekedar kagum.
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)