Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 77


__ADS_3

 “Makasih ya Pak.” Ucap Raysa seraya tersenyum.


“Sama-sama Nyonya Bos.”


“Jangan panggil saya gitu pak., panggil Ica aja.”


“Mana berani saya Nyonya Bos, secara kan Nyonya calon istri nya Bos.”


 Raysa hanya menghela napasnya pelan, kemudia ia pun turun setelah seorang satpam membukakan pintu mobil untuknya.


“Selamat datang Nyonya Bos.” Sapa satpam tersebut.


Raysa merasa pipi nya memanas saat satpam tersebut memanggilnya ‘Nyonya Bos’. Raysa pun tersenyum canggung kepada satpam tersebut. Di sana, sudah ada seorang pria yang pernah Raysa lihat sebelumnya. Ini untuk pertama kalinya Raysa datang ke kantor perusahaan kosmetik milik Mami Mili yang di kelola oleh Fatih.


Ah ya, itu adalah Romi, sekretarisnya Fatih.


“Selamat datang Nyonya Bos, Bos sudah menunggu kehadiran Nyonya.” Ujar Romi dengan senyum yang merekah


dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Raysa hanya menjawab ucapan Romi dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung. Raysa merasa sangat gugup, apalagi saat ini semua mata sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Raysa artikan. Romi pun membawa Raysa menaiki lift khusus petinggi diperusahaan tersebut. Raysa benar-benar gugup dan sangat berdebar.


Romi mengetuk pintu kayu yang terlihat kokoh dan elegant tersebut, hingga sebuah suara pun menyuruh


masuk. Romi membuka pintu kayu itu dan mempersilahkan calon istri dan Bos nya itu pun masuk. Romi menutup kembali pintu kayu tersebut dan membiarkan sepasang sejoli itu bersama.


Raysa tepaku di saat melihat Fatih begitu tampan dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya dan


juga baju kemeja hitam yang membalut tubuh tegapnya.


“Kok bengong, ayo masuk.” Sapa Fatih yang sudah berdiri dan menghampiri pujaan hati nya itu.


Dengan gugup Raysa pun berjalan mendekati Fatih yang sudah duluan berjalan menuju sofa tamunya.


“I-ini makan siang Abang.” Ucap Raysa seraya memberikan kotak bekal makana tersebut kepada Fatih.


 “Heemmm ... dari wanginya aja udah buat aku laper gini ...”


Raysa hanya tersenyum di saat Fatih memuji masakannya. Raysa membukakan bekal tersebut dan menuangkan


nasi ke atas piring yang memang sudah tersedia di sana. Sepertinya Fatih sudah menyiapkan segalanya.


 “Gimana menurut kamu kantor Mami?”


“Bagus banget, Bang.”


“Iya, kamu tau siapa yang merancang bangunan ini?” tanya Fatih kepada Raysa.


“Papi?”


“Gak sepenuhnya salah. Sebenarnya Papi hanya menyempurnakan bangunan ini. Dan kamu tau siapa yang


membuatnya?”


Raysa menggelengkan kepalanya.


“Aku yang buat. Ini bangunan pertama aku saat duduk di bangku kelas 5 SD.”


Raysa membolakan matanya tak percaya. “Abang serius?”


 “Hmm, saat itu aku iseng aja gitu untuk membuat rancangan bangunan. Aku tertarik dengan semua gambar yang Papi buat.”


“Sejak umur berapa Abang tertarik membuat sketsa?”

__ADS_1


“Sejak aku berumur 8 tahun. Rasa nya menarik aja gitu bisa membangun bangunan yang tinggi mencakar langit.”


“Dan mimpi Abang terwujud. Abang hebat. Nih, makan dulu.” Raysa memberikan sepiring nasi dan juga lauknya.


“Suapii..” Ujar Fatih manja.


“Manja banget sih ... Kalo ada yang masuk terus lihat gimana? Kan malu udah gede masih di suapi?”


“Tenang aja, pintunya udah aku kunci.”


Raysa melototkan matanya, kemudian ia menggeser tubuhnya sedikit jauh dari Fatih. Fatih pun terkekeh


melihat wajah merona dan juga kelakuan Raysa yang gugup dan sangat imut.


“Tenang aja, aku gak bakalan makan kamu kok.”


Raysa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan ambigu Fatih.


Fatih dan Raysa pun  menikmati makan siang mereka dengan senda gurau. Raysa terus saja bercerita tentang bagaimana dirinya begitu tersiksa di saat ia menyadari jika dirinya mencintai Fatih dan cemburu dengan Tissa. Fatih yang mendengarkannya pun seakan melayang ke udara.


*


 “Beneran nih kamu gak papa nungguin aku?” Tanya Fatih memastikan lagi kepada Layca nya, jika gadis pujaan hatinya itu bersedia menunggu pangerannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Gak papa, lagian aku kangen sama Abang.” Ujar Raysa dengan malu-malu.


“Ya udah, kamu bisa duduk di sini atau duduk di sana. Pokoknya kamu bisa ngapain aja deh, terserah


kamu ya. Anggap aja apartemen kamu.” Ujar Fatih sambil terkekeh.


“Iya Abang.”


Setelah membereskan kotak bekal makanannya, Raysa pun meraih ponselnya yang ada di dalam tas.  Raysa akan mengisi waktu luangnya dengan membaca Novel di sebuah aplikasi online yang berlambang ekor ikan, hasil karya


Sudah hampir satu jam Raysa menunggu Fatih, tak terasa lama karena novel yang di bacanya sangat menarik perhatiannya. Fatih menyempatkan untuk melirik kearah raysa yang sangat fokus menatap ponselnya sambil tersenyum mengulum bibirnya. Fatih menarik sudut bibirnya meliaht Raysa berada di dalam ruangannya.


Dulu, Fatih pernah berharap agar Raysa datang membawakan bekal makan siang dan juga menemaninya


bekerja. Lihatlah, semua harapannya saat ini terkabul. Fatih benar-benar bersyukur dengan apa yang ia dapatkan saat ini. Untuk menyempurnakan rasa syukurnya kepada Allah, Fatih sampai memberikan beasiswa untuk 20 anak yang yatim piatu yang ada di yayasan di bawah asuhan Bunda Sasa untuk menempuh pendidikan agama hingga ke jenjang tertinggi. Pastinya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Yaitu tidak boleh memiliki nilai rendah dari nilai yang sudah di tentukan oleh sekolah serta universitas yang akan mereka tempuh nantinya. Semua itu agar para siswa yang belajar serius dengan pelajaran yang ia tempuh.


Raysa merasa jika ada yang memperhatikannya, Raysa pun menoleh kearah Fatih. Lihatlah, mereka bahkan sudah memiliki chemistry masing-masing. Raysa tersenyum di saat mendapati Fatih mendapati dirinya dengan tersenyuum.


“Kok Abang lihatin aku? Emangnya Abang gak kerja?” Tanya Raysa dengan wajah yang merona.


“Sini deh, aku mau kasih lihat sesuatu dari sini.”


Raysa pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Fatih yang duduk  di kursi kebesarannya. Fatih berdiri dan


langsung meraih tangan Raysa serta membawanya ke dekat jendela yang ada di balik kursi kebesarannya itu.


“Lihat, gedung-gedung tinggi itu. Beberapa di antara nya adalah hasil dari karya tanganku.” Fatih memeluk Raysa dari belakang dan menopangkan dagunya di bahu Raysa. Raysa juga ikut memeluk tubuhnya dengan meletakkan tangannya di atas tangan Fatih.


“Benarkah?”


“Hmm, kamu lihat gedung XYZ itu?”


“Hmm, bangunan consultan yang terkenal itu kan?”


“Iya, itu adalah bangunan yang aku gambar saat aku duduk di bangku SMA dan masih status magang di kantor Papi.”


“Luar biasa banget, aku gak nyangka kalo Abang sehebat itu sedari bau kencur.” Ujar Raysa yang mana membuat Fatih terkekeh.


“Aku juga gak nyangka kalo gadis kencur ku yang selalu saja menolakku ini sekarang sudah menjadi tunangan  aku.”

__ADS_1


Fatih mengecup pipi Raysa, yang mana membuat Raysa semakin merona dan melambung tinggi akan cinta yang Fatih berikan.


“Kamu pensaran gak dengan sketsa rumah impian yang aku gambarkan untuk kita nanti.”


Raysa menolehkan kepalanya kearah Fatih. “Abang udah buat sketsa rumah untuk kita?”


“Hmm, bahkan jika kamu menyukainya, aku akan langsung membangunnya untuk kamu.”


“Benarkah?”


“Kamu mau lihat?”


Raysa menganggukkan kepalanya dengan antusias. Fatih pun melepaskan pelukannya dan menarik tangan


Raysa dengan lembut untuk mengikutinya menuju meja kerjanya. Fatih duduk di kursi kebesarannya dan menepuk pahanya untuk Raysa duduki.


“Gak ah, nanti kalo ada yang masuk trus lihat aku duduk di pangkuan Abang gimana? Kan aku nya malu.”


“Pintunya udah aku kunci. Sini duduk.” Fatih pun menarik pinggang Raysa dan mendudukkan Raysa di atas pangkuannya. Fatih mengurung Raysa di antara sisi lengannya saat tangannya sedang membuka sebuah file yang ada di laptopnya untuk menunjukkan hasil karyanya selama ini. Hasil karya nya jauh sebelum Raysa resmi menjadi tunangan Fatih.


Raysa menutup mulutnya di saat melihat sebuah gambar rumah yang sangat indah. Bahkan sketsa rumah tersebut sesuai dengan apa yang ia impikan dan pastinya lebih indah dari yang ia bayangkan.


 “Ini, sungguh indah.” Ujar Raysa dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Fatih menarik bahu Raysa agar tubuhnya menghadap kearah nya. Fatih menangkup wajah Raysa dengan dan mengecup keningnya dengan sayang.


“Tanpa kamu katakan pun, aku tau apa yang kamu inginkan. Tak ada yang mengenal kamu seperti keluarga kamu, lebih dari aku. Bahkan aku jauh setingkat mengenal dari Daddy kamu.”


 Air mata Raysa pun luruh, Fatih benar, ia selalu mengetahui apa yang Raysa inginkan tanpa ia berkata apapun. Fatih sudah sangat mengenalnya. Tapi Raysa? Cintanya untuk Fatih masih baru tumbuh dan bersemi. Banyak hal yang harus Raysa pelajari tentang Fatih. Raysa ingin dirinya juga dapat mengenal Fatih, seperti Fatih juga


mengenal dirinya.


Raysa memegang tangan Fatih yang menangkup wajahnya. Ia turunkan tangan Fatin dan di letakkannya di


pinggangnya. Gantian Raysa yang menangkup wajah Fatih.


“Aku mencintai kamu Bang, aku sangat mencintai kamu. Maaf, karena aku terlambat menyadari perasaan aku.” Lirih Raysa dan mencium bibir Fatih.


Hanya tiga detik, hanya tiga detik Raysa menempelkan bibirnya di bibir Fatih, namun itu mengantarkan sengatan listrik yang luar biasa bagi Fatih.


“Aku juga mencintai kamu, Sangat.”


Fatih menahan tengkuk Raysa dan kembali menempelkan bibirnya. Kali ini tak hanya menempel\, melainkan Fatih melum*atnya dan menghis*ap nya dengan lembut. Perlahan\,  Raysa membalas ciuman Fatih dengan mengikuti


gerakan bibir Fatih. Fatih menahan pinggang Raysa agar tak terjatuh dari pangkuannya, sedangkan Raysa sudah mengalungkan tengannya di leher Fatih. Entah berapa lama mereka saling berbagi saliva, hingga suara ponsel Fatih menghentikan kegiatan mereka.


Fatih mengusap sisa saliava bibir Raysa yang terlihat membengkak karena ulangnya. Raysa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fatih karena malu.


Fatih terkekeh dan mengusap kepala Raysa dengan sayang, sedangkan tangan satu lagi mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja.


“Mami ...” lirihnya yang mana membuat Raysa mendongakkan kepalanya dan langsung di serang kepanikan.


“Aduh, gimanan nih?” ujar Raysa yang sudah berdiri dari pangkuan Fatih dan berputar-putar seolah sedang tertangkap basah sedang mesum.


**


Hai .. hai ... Aku mau minta tolong dong.


Mampir ke Novel ku yang baru netas ya ..


Judulnya : Twins A and Miss Ceriwis.


Jangan lupa di Favoritkan dan like nya ya ...

__ADS_1


__ADS_2