
Tiga ... dua .. satu ..
Fatih dan Raysa pun melempar buket bunganya, namun siapa yang menyangka jika buket bunga tersebut di raih oleh seorang pria pendiam dan tampan.
Tissa sampai tersedak melihat siapa yang mendapatkan buket bunga tersebut. Mc pun mulai bertanya kepada si penerima buket bunga, untuk siapakah bunga tersebut?
Pria itu adalah Farhan, ia menjawab untuk calon istri yang sangat di cintainya.
Tissa merasa hatinya yang masih terluka kembali teriris silet dan di beri perasan jeruk nipis. Sakit, hatinya sakit saat mendengar Farhan mengatakan jika ia akan memberikan buket bunga tersebut untuk calon istri yang sangat di cintainya.
Tissa tersenyum miris dan membalikkan tubuhnya, agar tak ada satu orang pun yang melihat jika ada satu tetes air mata yang mengalir di pipi nya.
Hening ....
Tissa tak mendengar satu suara apapun, hingga ia mendengar sebuah suara piano dan seseorang menyangsikan sebuah lagu. Tissa pun perlahan membalikkan tubuhnya, ia terkejut saat semua orang sudah memandnag kearahnya dengan tersenyum lembut.
Who says, who says you're not perfect?
Who says you're not worth it?
Who says you're the only one that's hurting?
Trust me, that's the price of beauty
Who says you're not pretty?
Who says you're not beautiful?
Who says?
Farhan sudah tiba tepat didepan Tissa, perlahan Farhan menekuk satu kakinya kebelakang dan berlutut di hadapan Tissa.
"Will you marry me?"
Tissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya kembali menetes.
"Say Yes ... yes ... yes ... yes ..." teriakan dari semua tamu undangan. terutama yang paling kencang adalah dari keluarga Moza, yaitu Fatih, Raysa, Lucas, Quin, Lana, Kayla, Zein, Anggel, Papi Gilang, Mami Mili, dan Mama nya.
Tissa masih diam membeku, ia pandangi sekali lagi Farhan yang berlutut di hadapannya. Tidak, bukan Tissa sengaja untuk diam, namun Tissa masih bingung dengan apa yang terjadi. Tissa ragu jika Farhan mengatakannya untuknya, untuk itu Tissa menoleh kebelakang dan batu menyadari tak ada siapapun di sekitar mereka.
"It's you."
"Farhan, aku--" Suara Tissa tercekat seolah ada sesuatu yang menahan di tenggorokannya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah.
"Tissa, Aku tau jika aku terlalu bodoh tak menyadari perasaan aku selama ini. Kepergian mu membuat aku menyadari jika aku sangat mencintai kamu."
"Tissa, berada di dekat mu membuat aku merasakan nyaman, nyaman yang berbeda dari sebelumnya yang pernah aku alami. Berada di dekat kamu, membuat aku menjadi diri aku sendiri tanpa harus menjadi seseorang yang harus terlihat sempurna. Kamu buat aku jatuh cinta dengan kesederhanaan mu, kamu buat aku jatuh cinta dengan semua canda tawa dan keceriaan mu, kamu buat aku jatuh cinta dan mengenal arti kata cinta yang sesungguhnya. Aku merasakan sakit di saat melihat kamu bersedih, aku merasa kehilangan di saat kamu pergi. Itu kan yang di namakan jatuh cinta? dan kamj berhasil membuat aku menjadi diri aku yang berbeda di saat aku kehilangan kamu. Kamu berhasil membuat akuvtak melakukan apapun kecuali hanga memikirkanmu. Hanya memikirkan mu, Sa. Aku mencintai kamu, dan aku akan terus mengatakan hal tersebut setiap harinya, setiap kamu membuka mata di pagi hari. Aku akan mengatakannya hingga kamu bosan, dan aku akan tetap mengatakan jika aku mencintai kamu."
Tissa terisak dalam tangisnya.
"Farhan, aku ... aku bukan wanita yang sempurna untuk mendampingi kamu. Aku ... Aku ... hiks ...."
__ADS_1
"Aku juga bukan pria sempurna yang seperti orang-orang lihat. Mungkin kamu memang tidak sempurna, namun Aku yang akan menjadi kesempurnaan hidup kamu. Aku tidak peduli apa aku harus memiliki keturunan atau tidak. Aku cuma mau kamu, karena kamu yang akan menjadikan hidup aku sempurna. Menikahlah dengan ku, Tissa."
Tissa hanya bisa menangis dan menatap cincin yang baru saja di keluarkan oleh Farhan dari saku jas nya. Cincin yang sangat indah.
"Mbak Tissa, jawab dong Mas Farhannya. Katakan Yes, i do." ujar MC yang membakaan acara hari itu.
"Tissa, ayo terimaa ..." teriak Fatih dari atas pelaminan.
Kembali terdengar suara paduan suara untuk Tissa menerima lamaran Farhan. Tissa memandang Farhan dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu terima lamaran aku?" tanya Farhan ulang untuk memastikan.
"Ya, aku juga mencintai kamu."
Farha menarik tangan Tissa dan menyematkan cincin di jari manisnya. Sungguh indah cincin itu terlihat melingkar di jari lentik Tissa. Farhan mengecup punggung tangannya sebelum berdiri.
"Ciieee ... yang baru jadian." seru seluruh keluarga Moza menggoda Farhan dan Tissa.
"Nyonya, kapan kami bisa kerumah untuk meminang Tissa?"
Mama Tissa pun menoleh ke sumber suara dan mendapati Papi Riko di sana sambil tersenyum lebar.
"Secepatnya, kami akan menerima kedatangan Tuan dengan pintu yang terbuka lebar."
*
Fatih dan Farhan telah berada di lantai dansa, disusul dengan pasangan lainnya.
"Males ah?"
"Yakin? gak marah kalo Nia dansa dengan pria lain?"
"Kenapa mesti marah? Nia juga punya kehidupan yang harus di nikmati nya.
"Hmm, baiklah. Aku rasa memang Nia lebih cocok dengan orang lain dari pada Kakak."
Lucas menoleh kearah Arash, Arash tersenyum dna menunjuk ke lantai dansa, di mana istri Lucas yang bernama Dania tengah berdansa dengan seorang pria tampan. Mereka terlihat sangat serasi.
Dania juga terlihat bahagia dengan swnyimnya yang merekah di bibir.
*
"Gak nyangka deh, kalo kak Farhan bisa seromantis itu." ujar Raysa yang tengah berdansa dengan Fatih.
"Hmm, itu tandanya Farhan benar-benar sudah jatuh cinta kepada Tissa."
"Abang benar. Aku gak bisa bayangin kalo aku jadi nikah sama Kak Farhan."
Fatih menghentikan pergerakan dansanya dan menatap Raysa tajam. Raysa menelan ludahnya saat menyadari jika dirinya telah salah berkata.
"Maaf, aku--hmmpp...."
__ADS_1
Fatih langsung membungkam bibir Raysa dengan ciumannya.
"Jangan pernah membayangkan kamu menikah dengan pria lain. Karena aku tak akan pernah memberikannya izin. Mulai sekarang, kamu hanya boleh memikirkan aku dan masa depan kita."
Raysa menganggukkan kepalanya dengan wajah yang bersemu merah. Fatih kembali membenamkan ciumannya di bibir Raysa, sehingga mereka pun mendapatkan sorakan dari pasangan lainnya.
*
Farhan merengkuh pinggang Tissa dengan erat, seolah takut jika Tissa akan meninggalkannya lagi.
"Boleh aku tau sejak kapan kamu mencintai aku?" tanya Tissa yang sudah penasaran dengan hal itu.
"Aku gak tau pastinya sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh. Tapi aku hanya bisa mengatakan jika kamu selalu mengganggu pikiranku. Kamu selalu hadir dalam mimpiku, bahkan juga dalam khayalanku."
"Apa saat kamu sering mencium keningku dulu, perasaan itu sudah muncul di dalam sini?" Tissa menunjuk kearah dada Farhan.
"Yaa, aku sudah mulai memikirkan kamu. Bahkan aku sering mimpi basah karena kamu."lirih Farhan di akhir kalimatnya.
"Hah? apa? mimpi apa?" tanya Tissa meyakinkan pendengarannya.
"Lupakan." Farhan beralih memeluk Tissa denagn erat sambil menggoyangkan tubub mereka ke kiri dan kekanan.
"Katakan, kamu mimpi apa?" desak Tissa.
"Lupakan Tissa, kamu membuat ku malu."
"Tapi aku benar-benar penasaran. Apa kamu mengatakan mimpi basah tadi?" bisik Tissa yang menjinjitkan kakinya untuk mendekatkan bibirnya di telinga Farhan.
"Kamu benar-benar membuat ku gila. Bahkan mendengar bisikan mu saja sudah berhasil membangunkannya." geram Farhan tertahan.
"Membangunkan apa?" Tissa langsung menutup mulutnya saat merasakan sesuatu yang mengeras menusuk perutnya.
"Farhan, kamu sungguh berbahaya."
"Maka dari itu persiapkan dirimu sayang. Orang tua ku sepertinya sedang merundingkan tanggal pernikahan kita."
Farhan menunjuk dengan dagunya kearah ornag tua mereka yang tengah berbincang dengan serius.
Tissa menoleh dan wajah nya langsung berubah merah.
"Ternyata diam-diam kamu sungguh membahayakan."
Farhan terkekeh dan kembali merengkuh tubuh Tissa. "Mungkin si pendiam ini mulai sekarang tak akan pernah bisa diam lagi jika berada di dekat kamu."
Tissa terkekeh dan merebahkan kepalanya di bahu Farhan. Tissa berharap jika semua ini bukanlah mimpi, dan jika ini benar mimpi, Tissa berharap tak akan pernah bangun dari mimpi indah ini.
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
__ADS_1
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA.