
Kesya mengadakan acara pesta masak-masak bersama di rumah nya. Raysa yang mendengar kabar jika mereka akan ke rumah Mama Kesya pun sangat antusias. Dari subub Raysa sudah heboh untuk di antarkan ke rumah Mama Kesya.
" Bunda, jangan lupa baju lenang Ica. Telus, bebek Ica juga jangan lupa." Rengek gadis mungil tersebut.
" Iya sayang, sebentar yaa.. Bunda siapain sarapan dulu."
" Iih.. Bunda, siapain sekalang, nanti Bunda lupa.." Raysa mengerucutkan bibirnya.
" Ica sayang, ingat apa kata Bunda? Kita jadi anak baik harus bisa Sa..."
" Sabar Bunda.." Ujar Raysa dengan lirih.
" Anak pintar. Sekarang, Ica bantuin Bunda liatin adek Rayyan Ya.."
" Iya Bunda, tapi Bunda janji yaa.. jangan lupa bawa baju lenang cama bebek aku."
" Iya sayang.."
Raysa pun beralih kearah Rayyan yang masih terlelap di tempat tidur di depan tv. Sedangkan Bara dan Ibra sedang berjalan pagi di depan.
" Raysa tidur?" Ujar Mami Shella.
Sasa pun menoleh, dan benar saja mendapati Raysa yang sudah terlelap di samping Rayyan. Rasanya baru saja Raysa merengek kepadanya, meminta di bawakan perlengkapan renang.
" Biar aja Mi, mungkin masih ngantuk Ica nya."
" Iyaa, Mami juga salut banget sama Ica. Dari umur 4 tahun udah rajin solat subuh nya, walaupun terkadang sering tertidur saat lagi solat."
" Iyaa Mi."
.
.
waktu yang di tunggu-tunggu oleh Raysa pun tiba, akhirnya mereka meluncur kerumah Mana Kesya.
" Kak Quiin..." Teriak Raysa yang berlari masuk kedalam rumah.
Brukk...
" Ha...ha..ha.."
Terdengar suara tawa dari seorang bocah laki-laki. Raysa terjatuh karena terkejut melihatnya.
Ya, dia adalah Fatih. Anaknya Gilang dan Mili. Namun, bukan Fatih yang membuat Raysa terjatuh, melainkan Raysa terjatuh karena menginjak mainan yang berserakan di dalam rumah.
" Iiiihh.... nyebelin..." Raysa yang kesal pun berdiri dan langsung mengejar Fatih.
Fatih berlari mengitari sofa Yang ada di sana.
" Patih jeleekk.." Teriak Raysa dan terus mengejar Fatih.
Bara menangkap tubuh Raysa, dan memeluknya.
" Udah yaa, ntar kecapean gak bisa berenang lagi.."
" Patih nyebelin Daddy.."
" Bukan calah patih, Daddy. Layca jatuh cendili.."
" Iyaa, tapi tetap aja Fatih gak boleh ngerasain Raysa. Seharusnya Fatih bantuin Raysa berdiri."
" Iya papi."
Fatih berjalan kearah Daddy Bara, dan meraih tangan Raysa.
" Layca, maapin aku yaa.."
" Iya." Jawab Raysa malas.
Fatih menarik tangan Raysa untuk bermain. Mau tak mau Raysa pun menurut. Akhirnya mereka bermain bersama Quin, Veer, dan Anggel yang sudah duluan berada di taman.
.
.
__ADS_1
Sasa terlihat sangat antusia untuk memasak makanan untuk seluruh keluarga bersantai, terutama untuk anak-anak mereka, karena semua anak-anak sangat menggemari masakan Sasa.
Begitupun dengan Kesya yang membuat cake untuk cemilan semuanya, terutama cemilan yang akan di sukai oleh anak-anak.
" Bunda, Patih bawa pulang layca boyeh?" Ujar Fatih kepada Sasa.
" Kenapa mau bawa pulang Raysa?" Tanya Mili
" Kalo udah becal, patih mau nikah cama Laysa."
Sontak semua orang membulatkan matanya, dari mana Fatih bisa tau tentang masalah pernikahan.
" Dari mana Fatih tau tentang nikah?" Tanya Mili lembut.
" Teman patih punya pacar, katanya kalo udah becal mau nikah cama pacalnya. Layca kan pacar Patih, jadi Patih mau nikah cama layca kalo udah besar."
Mili mengerjapkan kedua matanya cepat, tak tahu harus menjawab apa dengan ucapan Fatih.
" Fatih sayang, sekarang kan Fatih masih kecil, masih sekolah. Jadii, gak boleh bilang pacar-pacaran, dosa. Marah Allah, ntar malaikat gak mau dekat-dekat sama Fatih. Jadi, tugas Fatih itu belajar yang rajin, biar pintar dan jadi orang sukses." Ujar Sasa memberikan penjelasan.
" Kalo Patih udah becal dan udah sukses, Patih boleh nikah sama Laysa?"
" Eemm... Iya sayang. Tapi Fatih harus janji, untuk belajar yang rajin, dan jadi pria yang kuat."
" Seperti Veer dan Lana? Kalo begitu mulai cekalang Patih mau latihan bela diri."
Fatih berlari kearah sang Papi.
" Papi, becok temani Patih latihan bela diri yaa.. Patih mau jagain layca.."
" Ica gak cuka sama Patih... Huaa...." Raysa pun menangis menjerit dan berlari ke arah pelukan Bara.
Sasa menghela napasnya, karena sang putri memang terlihat tidak nyaman dengan Fatih yang selalu saja menempel kepada nya.
.
.
Sasa berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang masuk, Sudah seminggu ini ia merasa tak enak badan.
" Gak papa Mas, lagian waktu hamil Sebelumnya kan juga aku mual-mual kayak gini."
" Tapi kamu pucat banget sayang."
Setelah umur Raysa menginjak 8 tahun, Sasa kembali hamil anak ke empat mereka. Namun, kehamilan kali ini Sasa terlihat tak berdaya, bahkan makan sesuap nasi pun sudah membuat Sasa kembali muntah.
" Aku gak papa Mas."
Bara menghela napasnya, merasa tak tega dengan keadaan istri nya, Bara akhirnya menghubungi Anggun untuk memeriksa keadaan Sasa.
" Sasa masih belum mau makan?" Tanya Mami Shella yang juga khawatir melihat kondisi Sasa.
" Iya Mi, Sasa udah pucat banget wajahnya. Tapi, Bara udah hubungi Anggun kok untuk periksa keadaan Sasa."
" Gak mau di bawa ke rumah sakit?"
" Gak mau Mi, sayang anak-anak kalo di tinggal."
Gantian Mami Shella yang menghela napasnya.
" Raysa bawa apa?" Tanya Mami Shella yang melihat Raysa membawakan secangkir air dengan irisan lemon di dalamnya.
" Ica bawa lemon tea untuk Bunda. Biar bunda gak sakit dan muntah-muntah lagi.".
Bara dan Mami Shella tersenyum. Di saat umur Raysa sudah menginjak 7 tahun, Raysa sudah meminta di ajarkan untuk menggoreng telur. Awalnya Mami Shella ragu, namun setelah melihat bagaimana cara Sasa mengajarkan Raysa, Mami Shella pun menjadi yakin, jika Raysa bisa seperti sang Bunda, di mana akan menciptakan makanan yang lezat seperti masakan Sasa dan Bara.
" Pintar banget sih anak Daddy, yukk Daddy temenin kekamar."
Bara pun membukakan pintu untuk Raysa masuk. Mami Shella yang ingin melihat pemandangan tersebut juga ikut masuk kedalam kamar. Mami Shella tersenyum, saat melihat betapa perhatian dan telatennya Raysa merawat sang Bunda.
.
.
" Oma, di dalam perut Bunda, ada adek bayi ya?"
__ADS_1
" Iya sayang,"
" Jadi, sebentar lagi Ica bakal punya adik lagi?"
" Iya sayang, Ica bakal punya adik lagi. Ica mau adik perempuan atau laki-laki?"
" Ica mau adik perempuan, Biar bisa ada kawan main boneka dan masak-masakan."
" Iyaa, Ica berdoa ya, semoga adik Ica perempuan."
" Iya Oma.."
.
.
Raysa mengerutkan bibirnya dengan tangan yang berlipat di dada, di saat orang-orang tersenyum dan tertawa bahagia karena kehadiran pendatang baru.
Febrian Prayoga Bahari.
" Ica kok merengut gitu? Gak pingin liat adik bayi nya?" Tanya Daddy Roy.
" Gak mau.. Ica gak mau adik laki-laki, Ica mau adik perempuan.. Huaa... Daddy, beli adk perempuan untuk Ica.. Huaa.."
Bara meringis mendengar permintaan sang putri.
" Iya sayang, nanti coba Daddy bicarakan dengan Bunda yaa.."
" Huaa... Ica mau adik perempuan, gak mau laki-laki... Huaa.."
Untungnya Mami Shella dan Daddy Roy dapat merayu Raysa dan menenangkan nya. Walaupun Raysa tak ingin melihat adik ya yang baru saja lahir.
" Sayang, apa setelah ini kita mencoba buat adik baru untuk Raysa?" Goda Bara saat hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Eh, bertiga deng dengan Febrian.
" Iihh, dasar kamu Mas. Perihnya aja belum hilang, udah mau buat adik aja."..
Bara meringis sekaligus terkekeh. Bara sebenarnya hanya menggoda sang istri. Bara harus cukup puas dengan anugrah yang di berikan. Anggun tadi bilang, jika Sasa tidak boleh hamil lagi, karena kondisi Sasa akan semakin memburuk. Tensi Sasa yang rendah saat kehamilan Febrian, membuat imun tubuh Sasa juga menurun. Bahkan Sasa di larang untuk bergadang dan tidak boleh terlalu capai.
Maka dari itu, Bara terpaksa memberikan susu formula untuk Febrian, agar Sasa tak repot bangun malam, mengingat kondisi tubuh Sasa yang melemah.
" Kamu yakin Mas, untuk nyaranin aku KB?, kan kita bisa melakukannya seperti biasa Mas.".
" Iya mungil, tapi aku takut kebablasan, dan tak ingin menyakiti kamu."
" Aku gak papa Mas, aku selalu iklas untuk mengandung buah cinta kamu."
" Tapi aku yang tak ingin kehilangan kamu, sayang. Aku gak siap kehilangan kamu, aku butuh kamu, dan juga anak-anak kita."
Bara menyatukan kening mereka. " Aku mencintai kamu mungil, sangat mencintai kamu."
Bara mengecup bibir Sasa yang selalu menjadi candu nya.
" Aku juga mencintai kamu, Mas." Balas Sasa di sela ciuman panas mereka.
End.
Hai..hai... kisah Bara dan Sasa berakhir di sini.
Bab Selanjutnya, Kisah Raysa dan Mr.F.
Siapakah Mr. F itu???
ikuti terus yaa kisahnya..
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....