
Perkelahian yang sengit membuat mereka harus mengeluarkan tenaga lebih.
Krek kreek ...
Terdengar suara pistol yang sedang di kokang dan di susul dengan suara tembakan yang di tembakkan keatas sehingga membuat sebuah lampu pecah.
Semua orang berhenti mendadak dan menatap Riki yang sudah memegang pistol sambil menodongkannya kearah Fatih.
"Fatih.." Gumam Mama Kesya dan Bunda Sasa.
" Bawa mereka." titah Daddy Bara kepada beberapa pengawal yang ada disana.
"Kau membuat ku kesal, sayang." Ujar Riki menatap Desi sambil menjambak rambut Fatih.
"Akkh..." Fatih meringis saat rambutnya di Jambak. Seperti nya ia benar-benar harus memendekkan rambutnya jika begini.
Riki menodongkan pistolnya ke arah kepala Fatih.
"Dengar, aku benci penghianat. Dan kau cantik, kau sudah mengkhianati ku. Sebagai ganti nya, kalian harus melihatnya kehilangan nyawa."
"Fatih.." Lirih Raysa.
"Jangan lakukan itu." Ujar Raysa dengan jantung yang berdegup kencang dan maju tiga langkah menahan gerakan Riki yang siap melepaskan peluru di kepala Fatih.
"Raysa.." lirih Daddy Bara.
Untungnya Bunda Sasa sudah di bawa mundur oleh pengawal, karena tak ingin melihat Riki Yang sedang menodongkan pistolnya ke arah Fatih.
Riki menatap Raysa dengan lapar. Raysa semakin cantik dan seksi dengan wajahnya yang berkeringat. Membuat fantasi liar Riki pun bermain.
"Waah, lihat lah.. Aku tak menyangka ternyata kau juga sangat cantik dan pemberani. Benar-benar menantang, aku suka."
"Anj**Ng" maki Daddy Bara saat mendengar ucapan menjijikkan dari Riki.
Riki melihat kearah Daddy Bara yang mengumpat keras. Riki seolah semakin tertantang akan hal itu.
"Baiklah sayang, mendekatlah atau aku akan menembakkan kepala si gondrong ini." Ujar Riki sambil semakin menekan mulut pistol ke kepala Fatih.
"Jangan, jangan lakukan itu." Teriak Raysa dengan mata berkaca-kaca.
Riki seolah menangkap sinyal yang membuatnya semakin bersemangat untuk menyentuh wanita cantik yang berani itu.
"Mendekatlah, dan buka perlahan baju mu sambil berjalan, sayang." Ujar Riki dengan menggoda.
Raysa terlihat ragu. Ia menatap Fatih yang tengah menggelengkan kepalanya. Namun Raysa kembali berteriak saat Riki menembakkan pistol nya ke dinding seolah-olah menembak Fatih.
"Baiklah ...baiklah.." teriak Raysa agar Fatih tak tertembak.
Mata Raysa sudah berkaca-kaca, dengan tangan gemetar Raysa mulai membuka satu persatu kancingnya.
"Layca jangan lakukan itu." Teriak Fatih.
Raysa seakan tuli, ia semakin membuka kancing baju nya yang ketiga, dan mulai menampakkan gundukan dada nya yang putih.
Riki semakin terangsang dengan pergerakan Raysa yang lambat dan gemetar. Serta wajah Raysa yang penuh dengan keringat.
"Layca, hentikan." Teriak Fatih dengan wajah yang memerah dan air mata yang mulai menggenangi mata nya.
Fatih tak peduli lagi dengan nyawa nya, dalam fikiran Fatih saat ini adalah layca nya. Yang terpenting Raysa tak akan pernah di nodai oleh si brengsek Riki. Fatih tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Fatih berfikir keras dan mengerahkan tenaganya untuk melepaskan dirinya dari jeratan Riki.
Bug...
Satu pukulan mendarat ke wajah Riki. Sehingga membuat bibir Riki berdarah dan mengumpat keras kepada Fatih. Pistol yang ada di tangan Riki juga ikut terlepas.
Riki membalas pukulan Fatih sehingga membuat bibir Fatih juga berdarah. Sehingga mereka berkelahi seolah mengadu kekuatan. Fatih yang tangannya terluka tak mampu memberikan pukulan yang kuat sehingga Fatih banyak terkena pukulan dari Riki. Fatih menendang Riki sehingga dirinya tersungkur. Namun sialnya Riki tersungkur di dekat pistol, sehingga ia dengan cepat menyambar pistol tersebut dan menodongkannya kearah Fatih, kali ini Riki langsung menarik pelatuknya.
Dor ...
Dor ...
FATIIIHH ...
Teriak semua orang dan langsung lemas saat lengan Fatih mengeluarkan darah.
Raysa berlari kencang dan langsung memeluk tubuh Fatih.
"Hei, tenang lah.. Aku tak apa."
"Hikss, dasar bodoh." Ujar Rasya semakin mempererat pelukannya.
Jo mendekat dan menendang pistol yang berada di dekat tangan Riki. Riki sudah tergeletak di lantai dengan mulut yang mengeluarkan darah. Jo menembaknya tepat di jantung Riki. Namun sayang, tembakan Jo yang pertama mengenai lengan Fatih.
Riki menatap Raysa dengan sambil tersenyum menjijikan, hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Lo gak papa kan? " Tanya Jo.
"Tembakan mu hampir meleset, kawan."
Jo menatap Fatih dengan menyesal, dan tersungging senyum di wajahnya.
Raysa merelaikan pelukannya dan melihat lengan Fatih, namun Raysa terkejut saat Fatih kembali memeluknya.
"Kancing baju mu, aku gak ingin mereka melihat nya."
Raysa tersenyum dalam tangisnya. Masih di dalam kungkungan Fatih, Raysa mengancing kembali baju nya.
"Fatih .." Panggil Papi Gilang.
Raysa mundur tiga langkah dan memberi ruang kepada Papi Gilang.
"Syukur lah." Papi Gilang memeluk anak laki-laki satu-satu nya itu.
Lucas memeriksa keadaan Riki, benar saja, Riki tak lagi bernyawa saat ini. Seluruh anak buah Riki langsung di amankan oleh pihak yang berwajib.
Seluruh keluarga bernafas lega di saat Fatih dan Raysa baik-baik saja.
*
Quin berlari saat mendengar Fatih terluka karena terkena tembakan.
"Hikss, Fatih jelek." Quin memeluk Fatih dan menangis.
"He... he... he.. aku belum mati, jangan di tangisi gitu dong." Canda nya.
"Iih, nyebelin banget sih.." Quin memukul dada Fatih, sehingga membuatnya meringis.
"Aaw..."
__ADS_1
"Hah? maaf ... maaf..." ujar Quin dengan berlinang air mata.
"Aku bercanda kok. Yang sakit lengan aku, bukan dada aku."
Quin mencebikkan bibirnya sambil menatap Fatih kesal. Quin mundur saat Bunda Sasa datang dan langsung memeluk Fatih.
"Sayang, anak Bunda. Hikss.."
Bunda Sasa menangis sambil memeluk tubuh kekar Fatih. Mata Fatih ikut berembun mendengar tangisan Bunda Sasa.
"Bunda, Fatih Gak papa Kok, Bunda jangan khawatir ya .." Ujar Fatih mencoba menenangkan Bunda Sasa.
Siapapun tahu, jika Bunda Sasa masih trauma dengan suara tembakan. Bagaimana tidak, Kematian sang ayah di depan mata Bunda Sasa karena sebuah tembakan.
Bunda Sasa semakin terisak, hingga Fatih merasakan tubuh Bunda Sasa melemas seiring dengan tangisnya yang perlahan berhenti.
"Bun-bunda.." Panggil Fatih yang sudah menahan Bunda Sasa dengan sebelah tangannya.
Daddy Bara dengan cepat menghampiri Bunda Sasa dan menggendong ala bridal style. Bunda Sasa sudah tak sadarkan diri, Daddy Bara pun membawa Bunda Sasa berbaring di ranjang yang ada di samping Fatih. Lucas langsung memeriksa keadaan Bunda Sasa.
"Siapkan infus." Ujar Lucas.
"Mas..." Mama Kesya memegang lengan Daddy Bara.
"Salah Mas, key. Salah Mas. Mas gak akan maafin diri Mas jika terjadi apapun kepada, Mungil." Daddy Bara sudah memeluk Mama Kesya.
"Kita berdoa ya Mas, semoga Mbak Sasa gak kenapa-napa."
"Iya key."
Papa Arka pun mengelus punggung Mama Kesya. Raysa sudah masuk kedalam pelukan Daddy Bara. Abi memeluk Quin dan menenangkannya.
Semoga tak terjadi apa-apa dengan Bunda Sasa.
*
"Mungil ..." Daddy Bara menggenggam tangan Bunda Sasa yang terasa bergerak.
"Mas," Bunda Sasa melihat jika tangannya sudah terpasang inpus dan berbaring di ranjang pasien.
"Aku kenapa, Mas?"
"Tensi kamu rendah, sayang." Daddy Bara membelai rambut Bunda Sasa.
"Fatih Gimana Mas?" Tanya Bunda Sasa Panik.
"Tenang sayang, Fatih baik-baik aja."
Raysa membuka gorden pemisah antara pasien. Terlihat Fatih sedang duduk bersila di atas brankar sambil melambaikan tangannya kepada Bunda Sasa.
Bunda Sasa menitikan air matanya dan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, kamu baik-baik aja, sayang."
"Pasti cepat baik dong Mbak, dari tadi Layca nya gak berpindah loh." Ujar Mami Mili menghampiri brankar Bunda Sasa.
Bunda Sasa menatap wajah sang putri yang sudah bersemu merah.
"I-ica cuma merasa bersalah dengan Fatih. Maka nya Ica jagain Fatih." Ujar Raysa dengan bergetar dan menunduk tak berani menatap semua ornag yang sedang memperhatikannya, termasuk Farhan.
"Hah, masih belum mau ngakui cinta juga." Gumam Fatih.
Raysa melirik kearah Fatih, kemudian mencebikkan bibirnya.
"Key."
"Mbak gimana keadaannya? baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah key, udah lebih enakan. Apalagi lihat Fatih sehat seperti itu."
Mama Kesya pun tersenyum. Daddy Bara sudah memperingati semua orang untuk tidak mengatakan kepada Bunda Sasa, jika Lengan Fatih terkena peluru yang meleset. Itu juga anjuran dari Opa Bram, yang mengatakan takut jika Bunda Sasa kembali mengalami trauma nya yang lama tak pernah muncul.
"Bundaaa ...." Teriak Quin dan memeluk Bunda Sasa.
"Quin, Bunda masih sakit loh." Mama Kesya memperingati Quin yang memeluk Bunda Sasa dengan erat, sampai Bunda Sasa meringis.
"Hikss.. Maaf... Bunda gak papa kan?"
"Bunda gak papa sayang."
"Alhamdulillah, "
"Hai Bunda sayang." Lucas datang dengan baju dokter nya, dan memeriksa keadaan Bunda Sasa.
"Permisi ya buk, saya periksa dulu tensi nya." Ujar seorang perawat yang datang dengan Lucas.
"Tensi nya 90/60 dok." Ujar Suster kepada Lucas.
Lucas menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih. Suster pun undur diri setelah berpamitan kepada semua orang.
"Udah mendekati normal Dad, tapi tetap Bunda harus banyak istirahat dan makan buah-buahan serta sayuran yang sehat."
"Buah?? Taraaaa ... lihat Mami bawa apa." Ujar Mami Ara dan mendekati semuanya dengan keceriaan.
"Makan buah kan? nih, Ara udah bawain Mbak Sa buah apel, jeruk, mangga. Ini mangga nya maaniissss banget Mbak. Mbak mau buah apa? biar Ara kupasin deh."
Kedatangan Mami Ara membuat suasana menjadi ramai. Tak akan ada yang menyangka jika Jordan dan Jonathan yang pendiam adalah anak dari Mami Ara. Bagaimana tidak, kedua anak nya memiliki sifat sang Papa.
"Mangga alpukat ya? Mbak mau dong." Ujar Bunda Sasa.
"Siap Mbak, Ara kupasin ya.."
Mami Ara pun mencuci buah Mangga tersebut sebelum mengupasnya.
"Sayang.." Oma Shella yang baru saja datang langsung memeluk Bunda Sasa dan menangis.
Ya, selama keadaan belum aman, tak ada keluarga yang boleh menjenguk Nafi dan Anggel. Bahkan keluarga yang sudah berada di dalam rumah sakit, tak di izinkan keluar. Karena tak ingin terjadi apa-apa kepada anggota keluarga. Seperti apa yang terjadi kepada Anggel.
"Mami, Sa gak papa kok."
"Hiks .." Oma Shella merelai pelukannya, dan memandang Daddy Bara dengan kesal.
Plaak ..
Oma Shea memukul lengan Daddy Bara bertubi-tubi.
"Udah Mami bilangan, Jangan bawa menantu kesayangan Mami. Kamu ini, lihat, kamu jadi bahayain dia." Kesal Mami Shella.
"Ampun Mi, Ampun.." Daddy Bara menerima pukulan Oma Shella, namun juga meminta ampunan kepada Oma Shella.
__ADS_1
"Mi, udah Mi." Mama Kesya menenangkan Oma Shella.
Oma shella pun memandang Mama Kesya, dan memeriksa tubuhnya.
"Kamu gak papa kan? Kamu gak terluka kan? Mami dengar si Jamal ikan asin itu mau nyelakai kalian juga bersama ibu nya?"
"Semua udah selesai Mi, bahkan Paula sudah kembali di tahan di penjara. Tapi ..." Mami Kesya menjeda ucapannya, rasanya berat sekali memberikan kabar tentang Jamal. Namun, bagaimana pun seluruh keluarga harus tau bagaimana keadaan Jamal saat ini yang telah menyelamatkan Mama Kesya.
"Taraa, mangga nya udah Ara kupasin. Udah, yang lain jangan tegang wajahnya. Ayoo, senyum.. Semua udah berakhir kan. Semoga gak ada lagi kejadian seperti ini kedepan nya, Amin.."
"Amiiinn..." Jawab semua orang.
"Nih Mbak, mau aku suapin atau Mas Bara yang suapain?"
"Mbak bisa makan sendiri."
"Aku suapin ya mungil." Ujar Daddy Bara sambil mengambil alih piring yang ada di tangan Mami Ara.
"Ya udah, sebaiknya kita keluar ya. Biar Bunda bisa istirahat." Ujar Lucas mengajak semuanya untuk membiarkan Bunda Sasa beristirahat.
"Iya .."
"Layca, aku mau juga." Tunjuk Fatih kearah mangga yang belum di kupas.
Raysa mencebikkan bibirnya, namun ia tetap menuruti apa yang Fatih inginkan.
"Lo, tu tangan jangan banyak gerak, barunjuga di jahit udah harus dijahit lagi." Tegur Lucas.
Ya, tangan Fatih yang terkena pisau, kembali terluka karena terkena peluru yang melesat mengenai lengannya lagi.
Raysa memberikan sepiring mangga yang sudah di kipasnya.
"Suapin. Aaaa ...."
Raysa memutar bola matanya, namun tangannya tetap menyuapi Fatih dengan potongan-potongan mangga tersebut.
Farhan melihat semuanya dari jauh. Sedari tadi Raysa tak menyadari keberadaan Farhan. Bahkan selama Raysa berada di rumah sakit, Raysa sekalipun tak menyapa calon tunangannya itu. Padahal beberapa hari lagi mereka akan resmi bertunangan.
*
Raysa baru saja membersihkan dirinya di ruangan Anggel, di mana di sana juga terdapat Desi yang sedang mengistirahatkan tubuhnya. Jangan di tanya lagi, bagaimana Desi mendapatkan hukuman dari sang ayah dan Abang tercintanya.
Pintu kayu itu di ketuk oleh seseorang, Raysa pun membuka pintu tersebut. Mata Raysa membesar saat melihat Farhan berdiri menjulang di hadapannya.
"K-kak Farhan?"
Dan di sinilah mereka, di atap gedung tertinggi rumah sakit. Raysa meremas tangannya kuat saat melihat tatapan tak ramah dari Farhan.
"Ica, jawab jujur pertanyaan kakak."
"I-iya,"
"Apa kamu mencintai Fatih?"
Raysa kembali membolakan matanya. Kemudian ia dengan cepat merubah ekspresi nya.
"I-ica gak cinta dengan Fatih." Jawab Raysa dengan menundukkan kepalanya dan *******-***** jari jemarinya.
Farhan tau, Raysa berbohong saat ini, sepetinya Raysa benar-benar harus di kasih pelajaran.
Farhan menarik lengan Raysa dengan sesikit kasar dan memberikan tatapan tajam kepada Raysa.
"Dengar, ca. Aku bertanya sekali lagi kepada kamu, Apa kamu mencintai Fatih?"
Bibir Raysa bergetar, kemudian ia menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak."
Namun, mata Raysa mengatakan jika ia mencintai Fatih. Raysa tak berani jujur karena ia merasa bersalah dengan Farhan, karena tak menyadari keberadaa Farhan dua hari ini.
Farhan semakin mempererat cengkraman nya di lengan raysaz membuat Raysa sedikit meringis.
"Kamu yang mengatakan jika kamu tak mencintai Fatih. Maka dari itu, mulai saat ini aku tak akan melepaskan kamu lagi. Sampai kapan pun kamu hanya milik aku. Dan jika sekali saja kamu berani berpaling dari aku," Fatih tersenyum miring. Senyuman yang sangat menakutkan bagi Raysa dan pertama kalinya Raysa melihat senyuman itu.
"Aku bisa menghancurkan karir Fatih. Kanubtau Ca, aku gak pernah main-main dengan perkataan ku."
Farhan melepaskan cengkaram tangannya, membuat Raysa mengelua lengannya yang terasa berdenyut.
"Ah, satu lagi rahasia yang aku dan Fatih simpan selama ini." Farhan memasukkan tangannya kedalam kantong.
"Yang mendonorkan darah untuk kamu bukan aku, tapi Fatih. Fatih menukar darahnya dengan orang lain yang memiliki golongan darah yang sama dengan kamu. Kamu tau, karena itu Fatih harus dirawat di rumah sakit karena harus mendonorkan darahnya lebih dari 8 kantong, hanya demi mendapati dua kantong darah untuk kamu."
Raysa membuka mulutnya dengan mata yang terbelalak. Ia menatap Farhan tak percaya.
"Kamu bisa tanyakan hal itu kepada Bunda, atau Daddy kamu. Dan ingat, walaupun aku telah memberitahu kamu rahasia ini, jangan fikir jika aku akan melepaskan mu. Kamu tak mencintai Fatih, dan artinya cinta kamu hanya milik aku."
Setelah mengatakan itu, Farhan berbalik dan meninggalkan Raysa yang menangis dan terduduk di sana. Farhan kembali melihat kearah Raysa.
"Kita lihat Ca, sampai mana kamu sanggup bertahan."
*
Raysa menatap wajah Fatih yang tertidur nyenyak. Terlihat sekali jika Fatih sangat lelah.
"Sayang," Daddy Bara menghampiri Raysa.
"Daddy, bisakah Ica bicara berdua dengan Daddy?"
*
Raysa kembali di kejutkan dengan apa yang diucapkan dengan Daddy Bara. Raysa kembali menangis tersedu-sedu.
"Daddy, hikss .. jika Ica tau selama ini Fatih yang menyelamatkan Ica waktu itu. Hiks .. Ica gak akan menahan perasaan Ica. Ica cinta Fatih Dad, hikss ..."
"Sayang, Jika kamu mencintai Fatih setelah kamu mengetahui hal ini, maka kamu salah nak. Fatih tak butuh rasa cinta kamu setelah kamu mengetahui apa yang telah Fatih lakukan untuk kamu. Fatih ingin kamu mencintai dia dengan tulus."
"Hikss, Ica selama ini menahan perasaan Ica, karena Ica fikir Farhan yang mendonorkan darahnya. Ica merasa berhutang nyawa dengan Farhan. Maka dari itu, Ica diam dan gak berani mengungkapkan perasaan Ica kepada Fatih, Dad. Hikss.. Ica harus apa sekarang?"
"Bicarakan dengan Farhan, sebelum kamu benar-benar menjadi tunangannya."
Raysa menggelenggkan kepalanya. Tidak mungkin ia meminta Farhan membatalkan pertunangannya, karena itu akan menghancurkan masa depan Fatih.
Farhan mengepalkan tangannya saat mencuri dengar obrolan Daddy Bara dan Raysa. Ia merasa hatinya benar-benar hancur, karena selama ini Raysa tak benar-benar mencintainya. Raysa hanya merasa berhutang nyawa dengan dirinya.
Farhan tersenyum miring saat mengingat betapa besarnya cinta yang ia berikan untuk Raysa.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....