
Vina yang sudah mengetahui kehamilannya masih saja sibuk mengurus pernikahan Leo dan Bara yang di selenggarakan seminggu setelah hari Raya, dan beda waktu pernikahan mereka hanya dua hari.
" Udah Mbak, duduk aja.." Titah Sasa.
" Ya ampun, aku gak pa-pa kakak ipar.. Lagian, kamu harus dekat-dekat dengan aku. Biar cepat nular.."
" Nular apa mbak?"
" Nular ini..." Vina mengelus perut nya, kemudian mengelus perut Sasa. " Biar cepat nular hamilnya."
" Emangnya bisa gitu Mbak?"
" Kata orang tua dulu sih gitu.. Kalo sering dekat-dekat dengan orang hamil, bisa cepat hamil juga."
" Amiin.. Semoga ya mbak.." Sasa ikut mengelus perutnya yang rata. Dalam hati Sasa berharap, agar benih yang di tanam oleh Bara segera tumbuh. Sasa tidak sabar menantikan hal itu.
Hari di mana semakin dekat dengan pernikahan Sasa dengan Bara lagi, maka orang-orang semakin ramai berdatangan. Ada yang datang untuk memberikan hadiah secara langsung, dan ada juga yang memberikan beras, telur, kentang, dan tepung. Ini memang sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Mami Shella dan Daddy Roy. Jika ada sanak saudara yang akan menikah, maka mereka akan datang dan memberikan bantuan dengan bahan pokok.
" Manis banget istri Bara. Kecil-kecil tapi gesit gitu."
" Iyaa, ramah juga orangnya. Saya kira tadi itu bukan istri Bara, bahkan saya kira masih sekolah lagi.."
" Iyaa, tampilannya juga sangat sederhana, dan kita yang memandang teduh dan adem gitu lihatnha."
Segala pujian terus terlontar untuk Sasa. Tidak dari keluarga, dari tetangga, bahkan dari anak-anak pun juga ikut mengatakan bahwa Sasa sangat cantik dan mirip boneka.
" Capek?" Tanya Bara saat melihat Sasa memukul bahunya pelan.
" Hmm, agak pegel aja Mas. Ramai banget saudara Mas yang datang. Terus tetangga juga pada berdatangan. Mana pake bawa bawaan lagi."
" Emang udah kebiasaan di keluarga aku begitu mungil. Sini, Aku pijitin." Bara memijit bahu Sasa.
" Mas, geli.. Ini mah bukannya mijit. Mashh"
Tangan Bara terus saja bergerilya menggelitik leher Sasa, bahkan tangan Baransudah masuk menyusup ke payud*** Sasa, melalui bagian lubang leher baju Sasa.
" Enak banget sayang, kenyal.. " Bisik Bara dengan sensual..
" Ahh.. Mashh, hmpp.... "
Bara mencium bibir Sasa yang terbuka. Bara menyelusupkan lidahnya dan mengabsen semua Yang ada di dalam mulut Sasa.
" Akhh.."
Sasa terkesiap saat Bara memindahkan dirinya keatas pangkuan Bara. Tangan Bara sudah masuk kedalam baju Sasa, dan meremas gunung kenyal di sana. kurang puas dengan pergerakan yang terbatas, Bara menaikkan baju kaos yang kenakan Sasa, dan melepaskannya serta melemparkannya ke sembarang arah.
" Aah.."
Sasa terus mendesah karena Bara menciumi dadanya, dan Bara juga membuka paksa Bra Sasa untuk menampilkan si kecil yang sudah mengeras diujung gunung kenyal milik Sasa. Pertempuran pun dimulai, saat Bara mulai melucuti pakaiannya.
Sasa menatap dirinya di cermin. " Kenapa sayang?"
" Tumben bersih tubuh aku, biasanya juga ada tandanya." Sasa mencari-cari tanda keberadaan cap cinta dari Bara.
" Aku sengaja gak buat, lagian beberapa hari lagi kita akan kembali menikah. Aku gak ingin membuat kamu Malu dengan hasil karya bibir ku." Bara mengecup leher Sasa.
" Masshh, udah.. "
" Sekali lagi.. lalu kita mandi."
" Beneran sekali lagi?"
" Hmm.." Bara masih saja menciumi leher Sasa, dan perlahan turun ke punggung Sasa.
Pertempuran yang dijanjikan Bara hanya sekali, menjadi berkali-kali. Hingga akhirnya mereka membersihkan diri mereka bersama.
" Aku lelah banget Mas, aku tidur duluan yaa.."
" Iyaa sayang, cium dulu.."
Sasa mengecup bibir Bara, dan kemudian naik keatas tempat tidur. Bara melihat kearah sang istri yang langsung terlelap saat kepalanya mendarat di atas bantal. Bara membuka laptopnya, dan melihag laporan dari usaha kecil-kecilannya. Bara belum memberi tahu tentang usaha ini kepada Sasa, Bara akan memberi tahu Sasa, saat pernikahan mereka yang kedua telah selesai.
Kesya tengah sibuk mempersiapkan bahan untuk membuat cake kesukaan Bara.
" Aku bantu ya Mbak."
__ADS_1
" Aduuh kakak ipar, pergi sana.. Luluran, mandi kembang, atau apa kek.. Jangan di dapur lagi.."
" Gaak Ah, enakan di dapur.. "
" Udaah, sana pergi ke spa bareng Mas Bara."
" Gak ah, gak pernah ke sana. Gak mau.."
" Ide bagus itu Key, Udah kamu pergi ke spa aja sana. Kebetulan Anggun juga lagi
perawatan di sana." Ujar Mami Shella.
Mami shella memanggil Bara, dan menyuruh mengantarkan istrinya ke spa di mana Anggun sedang melakukan perawatan. Bara dengan senang hati membawa istrinya yang mungil itu ke spa.
" Enak banget yaa yang gak ada pingitan" Gerutu Leo saat melihat Bara menggenggam tangan sang istri.
" Udah sah " Bara mengecup punggung tangan sang istri di depan Leo. Leo memutar bola matanya.
" Dasar bucin."
" Kayak Lo gak aja."
" Gue cinta, tapi gak sampai posesif kayak kalian pada." Leo menunjuk kearah Vano, Arka, Jodi, dan Bara.
" Bilang aja Lo cemburu.."
" Biasa aja tuh.." Ujar Leo dengan kesal.
Leo memang cemburu, karena dirinya di pingig dan tidak boleh pergi kemana pun. Bahkan ponsel pin Leo tidak di izinkan untuk pegang.
" Gue mau ke spa, ada Anggun juga di sana."
" Salam ya Mas, bilangin tolong ke dia. Jika calon suaminya ini sangat merindukannya."
" Kalo ingat yaa.. " Bara melambai kearah Leo, dimana Leo mendengkus kesal karena Bara lagi-lagi membuatnya cemburu.
Bara membawa Sasa ke spa, di mana anggun sedang menjalani perawatan di sana. Sebelumnya Vina sudah menghubungi Anggun, dan mengatakan jika Sasa juga akan melakukan perawatan yang sama.
Sasa dan Bara langsung di sambut hangat oleh petugas Spa. Bara dia arankan untuk menunggu di ruang tunggu, selagi Sasa melakukan perawatan kecantikan.
" Mbak" Tegur Sasa kepada Anggun.
" Kamu mau perawatan apa nih?"
" Gak tau Mbak, aku juga baru kali ini ke sini."
" Ya udah, perawatan yang sama kayak aku yaa.."
" Terserah Mbak Anggun aja."
Anggun memberitahu kepada petugas Spa, perawatan apa yang akan akan dijalani oleh Sasa.
" Kamu mau wangi apa nih lulurnya?"
"Apa aja Mbak, aku gak ngerti."
" Coklat aja yaa."
" Boleh Mbak."
Setelah memberitahu kepada Petugas Spa, Sasa di suruh untuk mengganti bajunya dengan handuk kimono.
" Semua mbak di buka." Tegur petugas Spa saat melihat Sasa masih menggunakan Bra dan ****** ********.
" Tapi saya malu dan risih.."
" Gak pa-pa Mbak, spa ini khusus perempuan, jadi tidak akan da pria yang masuk."
Sasa kembali masuk kedalam ruang ganti, dan membuka pakaian dalamnya.
Sasa merasa tubuhnya sangat rileks saat mendapati pijatan lembut di punggungnya.
" Lembut banget sih Mbak kulitnya. Biasanya perawatan di mana?" Tanya petugas Spa.
" Gak pernah perawatan, ini baru pertama kalinya."
__ADS_1
" Masa sih Mbak? Halus banget loh kulitnya. Bersih lagi. Beruntung banget yaa calon suaminya Mbak."
Sasa hanya tersenyum, begitu pun dengan Anggun. Mereka tidak tahu saja jika Sasa sudah menikah.
Perawatan yang Sasa lakukan bukan perawatan sembarangan. Dari pijat, luluran, spa, mandi susu, creambath, pedicure, facial dan masih banyak lagi. Sasa saja sampai melongo saat mendengar berapa biaya yang harus di keluarkan Bara untuk sekali perawatan. Horang kaya memang luar biasa.
" Mas, mahal banget sih. Tau gitu aku luluran aja deh. Gak usah sampai segitu banyaknya."
" Gak pa-pa mungilku sayang, sekali-kali kan. Nanti kamu juga bisa kembali lulusan pakai air tajin." Goda Bara.
" Iih Mas, ngejeek yaa.."
" kalo ngejek itu, gini sayang." Bara menjulurkan lidahnya.
" Iih, nyebelin deh. Oh yaa, Mas aku lapar nih.."
" Ya udah, kita cari makan ya.."
" Mbak Anggun, kami mau cari makan, mbak mau ikut?" Tawar Sasa.
" Gak Sa, jemputan aku bentar lagi sampai kok. Kamu istirahatnya jangan kemaleman yaa.. Biar fresh matanya nanti."
" Iya Mbak, makasih banyak yaa.. Kalo begitu kami duluan yaa.."
" Iyaaa, hati-hati yaa Sa, Mas Bara."
" Iya Mbak.."
" Mas, emang beda ya kalo perawatan mahal. Wanginya aja masih nempel gini. " Sasa mengendus-ngendus kulitnya.
"Rambut aku aja lembut banget loh. Wangi lagi.."
" Iyaa sayang, nanti kalo kamu mau perawatan lagi, bilang aja. Mas masih sanggup kok bayarnya."
" Gak ah, sayang duitnya. Enakkan duitnya untuk berbagi dengan yang memerlukan."
" Tapi sekali-kali manjain tubuh kan gak ada salahnya mungil."
" Iyaa sih, tapi kalo dikeramas aku mau. Enak aja gitu kepala aku di pijit-pijit, rambut aku juga rasanya lembut dan wangi."
" Di creambath itu namanga mungil."
" krem apa?"
" Creambath."
" Oohh, itu laahh pokoknya. Oh yaa, makan di mana kita Mas.?"
" Kamu mau nya makan di mana?"
" Terserah kamu aja deh, aku ikut."
" Restoran.?"
" Nanti mahal?"
" Aku kerja untuk kita nikmati hidup mungil."
" Ya udah, terserah kamu aja deh..Lagian sekali-kali kan."
" Gitu dong.. " Bara mengambil tangan Sasa dan mengecupnya. " Wangi banget, gak yakin aku ntar malam bakal tahan untuk gak sentuh kamu."
" Iih kamu ini Mas, dasar mesum. Beruang madu ku yang mesum.." Sasa menggelitik dagu Bara.
" Tapi kamu suka kan."
" Heum.. Banget.."
" Udah gak malu lagi?"
" Dikit.." Sasa memamerkan gigi nya yang rapi.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )