Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 12


__ADS_3

Fatih mengembangkan senyumnya di kala melihat mobil yang sangat di kenalinya. Fatih langsung berdiri di teras lobi untuk menyambut calon mertua dan pujaan hatinya. (Ngarep)


"Langsung ke baseman boleh juga parkir mobilnya." Ujar Fatih kepada Farhan, dan di angguki oleh Farhan.


Fatih berjalan kaki menuju baseman. Farhan sudah memarkirkan mobilnya, Daddy Bara, Bunda Sasa, dan Raysa pun keluar dari mobil.


Daddy Bara mengeluarkan semua barang bawaannya, termasuk koper dan kotak perlengkapan milik Raysa.


"Biar Farhan aja yang bawa kotaknya, Om." Tawar Farhan.


"Gak usah, kamu udah lelah membawa mobil. Biar si Fatih aja yang bawa kotaknya."


Farhan hanya mengangguk setuju, hingga akhirnya Farhan memilih membawa koper milik Raysa.


"Segini aja barangnya?" Tanya Fatih yang sudah berada di dekat Daddy Bara.


"Jadi kamu mau Raysa bawa semua barangnya ke sini?"


"Ya gak gitu juga sih Dad."


"Fatih, gak salam dulu?" tegur Bunda Sasa.


Fatih menepuk jidatnya, kemudian ia mengambil tangan Bunda Sasa dan menciumnya, begitu pun dengan Daddy Bara.


Raysa hanya memperhatikan Fatih, biasanya ia akan menjadi pusat pertama di hidup Fatih, tapi kali ini gak. Mungkin benar jika Fatih sudah ada yang lain.


"Layca ...."


Raysa tersentak dari lamunannya di kala merasakan tubuhnya sudah ada yang merengkuh.


"Apaan sih? Berat tau ..." Kesalnya dan memukul punggung Fatih.


Fatih merelaikan pelukannya dan tersenyum manis. Di cubitnya pipi Raysa yang terlihat tirus .


"Kamu kurus banget sih ... Kurang gizi ya?" Goda Fatih dengan masih mencubit pipi Raysa.


"Sakit Fatih ..." Kesal Raysa dan melepaskan tangan Fatih dari pipinya.


"Rindu banget tau gak ..." Fatih menangkup pipi Raysa hingga bibir Raysa mengerucut.


"Ihh ... Nyebelin banget sih ..." Ujarnya dengan suara yang terjepit.


Fatih terkekeh melihat wajah Raysa yang menggemaskan dan di rinduinya. Fatih melepaskan tangannya dari pipi Raysa, dan menoleh kearah Farhan.


"Hai bro." Fatih bersalaman ala pria kepada Farhan, dan si sambut hangat oleh Farhan.


"Apa kabar?" Tanya Farhan.


"Seperti yang Lo lihat, selalu baik, Lo sendiri gimana?"


"See, aku baik."


Fatih meninju pelan bahu Farhan dan kemudian mereka tertawa.


"Semua udah disiapin kan?" Tanya Bunda Sasa.


"Udah Bun, Fatih juga udah belanja banyak." Fatih memamerkan gigi putih nya.


"Kamu gak kerja?" Tanya Daddy Bara.


"Bos ..." Ujar Fatih sambil menepuk dada nya.


"Dasar sombong bin songong." Gerutu Raysa.


"Iih, makin gemesin deh gitu." Fatih mencubit kembali pipi Raysa.


"Iih ... Sakit tau ..."Kesal Raysa dan mencubit pinggang Fatih.


"Aww, KDRT ini Ca namanya."


"Iiih, sekali aja gak nyebelin bisa gak sih?"


"Gak bisa ..." Fatih menyengir.


"Fatih, Bunda lelah."


Fatih kembali menepuk jidatnya, "Maaf Bunda. He ... he ... he ..."


Fatih mengangkat kotak mie instan yang isinya adalah barang - barang milik Raysa, beserta koper milik Daddy Bara.


"Jadi ini apartemen Daddy dulu?" Tanya Raysa.


Mereka berada di dalam lift.


"Iya."

__ADS_1


"Daddy beli?"


"Dulu sih Daddy sewa, tapi sekarang udah di beli sama Fatih."


Raysa menoleh kepada Fatih, kemudian ia mencebikkan bibirnya.


"Kamu tinggal di mana Fat?" Tanya Farhan yang sedari tadi penasaran di mana Fatih tinggal.


"Di sebelah Layca."


"What?" Raysa terpekik kaget.


"Kenapa?" Tanya Fatih dengan polos.


"Kenapa kamu tinggal di sebelah aku?" terdengar nada tak suka dari Raysa.


"Dari pada aku buang-buanv uang untuk sewa atau membeli nya lagi, mending aku gunakan apartemen Lana."


"Hah?"


"Oh, jadi juga Lana beli apartemen nya?" Tanya Daddy Bara memotong pembicaraan Raysa.


"Iya Dad, suka dia sama pemandangan di sini. Tapi, tetap apartemen Daddy yang view nya paling bagus."


"Beruntung kamu, pemiliknya menjual nya."


"Iya, Harga pun lumayan miring."


"Kenapa bisa dijual?" Tanya Bunda Sasa."


"Kebanyakan utang." Jawab Fatih.


Ting ...


Lift yang di naiki oleh mereka pun berhenti di lantai 7. Raysa, Bunda Sasa, dan Daddy Bara keluar duluan, karena Fatih dan Farhan berada di belakang mereka dengan barang bawaan.


"Password apa nih?" Tanya Daddy Bara saat sudah sampai di depan depan pintu apartemen.


"Tanggal lahir layca."


Daddy Bara pun memasukkan passwordnya. Raysa terkagum melihat dekorasi apartemen yang pernah di tempati oleh Daddy nya. Bunda Sasa tiba-tiba terlihat masam.


"Bunda kenapa?" Tanya Fatih, "Kok kesel gitu?"


"Pemandangan di sini lebih bagus Bun." Fatih meletakkan barang bawaannya.


Daddy Bara menoleh kearah sang istri.


"Bun, bagus gak?" Raysa mengantarkan pendapat Bunda nya terhadap dapur Yanga dan di apartemen.


"Biasa aja." Jawab Bunda Sasa jutek.


"Kok biasa Bun? Ini terbaru loh." Ujar Fatih tak terima karena di komentar biasa aja. Pasalnya Fatih lah yang mendesain dapur tersebut.


"Ya mau gimana lagi? Menurut Bunda biasa aja. ruang TV nya juga biasa aja, apa lagi sofa nya. Biasa aja, gak ada yang menarik, membosankan. Entah kalo seseorang merasa kembali dalam kenangan." Kesal Bunda Sasa.


Dari awal melihat kejutekan Bunda Sasa, Daddy Bara sudah mengerti jika Istri mungilnya itu sedang cemburu. Jarang-jarang mungilnya itu cemburuan.


Ingin rasanya Daddy Bara mengatakan jika Lia tak pernah mendatangi apartemen nya. Namun, melihat kecemburuan sang istri, membuat Daddy Bara mengurungkan niatnya.


"Dulu Daddy suka banget nyantai di teras itu." Ujar Daddy Bara saat melihat Bunda Sasa menikmati pemandangan dari balkon, pemandangan yang katanya biasa aja, namun dalam hati kagum dengan keindahannya.


Bunda Sasa langsung masuk kedalam apartemen dan memilih duduk di sofa.


"Daddy kalo dengan juga suka nonton bola sambil tiduran di sofa."


"Duh ngantuk banget tiba-tiba Bunda, Bunda istirahat dulu ya ..." Bunda Sasa beralih ke kamar tamu.


Daddy ingin menggoda Bunda Sasa lagi, namun di urungkannya karena takut mendapatkan amukan dari sang empu.


Raysa, Fatih, dan Farhan pun menatap heran kearah Bunda. Tak bisanya Bunda Sasa jutek seperti itu.


"Bunda kenapa Dad?" Tanya Raysa yang sudah duduk di sebelah Daddy Bara.


"Cemburu kayak nya." Daddy Bara terkekeh.


"Cemburu? Cemburu kenapa?" Tiba-tiba saja ingatan Raysa kembali kepada mantan Daddy Bara yang cantik, dan menangis meminta untuk di jadikan istri kedua. Namun Daddy Bara menolaknya mentah-mentah, bahkan mengusir mantannya yang bernama Lia itu dari rumah.


"Kamu, kenapa kasih aku apartemen Daddy sih? Bener kata Bunda, seharusnya aku tinggal di apartemen Kak Zein." Kesal Raysa kepada Fatih.


Fatih menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa dia yang di salahi? Bukannya Daddy Bara yang meminta untuk Raysa tinggal di apartemen Daddy nya dulu?


"Ica kok marahi Fatih?" Tanya Daddy Bara.


"Ya semua salah Fatih, kalo tidak mana mungkin Bunda merajuk."

__ADS_1


"Daddy yang minta untuk kamu tinggal di apartemen ini."


"Ooh, Daddy sengaja ya mau nostalgia dengan mantan Daddy yang cantik itu?"


Mata Raysa sudah berkaca-kaca.


"Sayang, dengerin Daddy. Sekalipun gak pernah mantan Daddy itu masuk kedalam apartemen ini. Jangankan masuk, duduk untuk minum pun tidak pernah."


Raysa menatap mata Daddy Bara, "Beneran?"


"Iya, Daddy bersumpah. Lagian, dapur, sofa, dan sepertinya kamar kamu juga sudah di rombak semuanya oleh Fatih. Karena sofa Daddy dulu gak seperti ini."


Raysa menatap kearah Fatih yang tersenyum manis kepadanya. Raysa kembali mengamati ruangan keseluruhan apartemen nya. Benar saja, semuanya seperti yang ia sukai, dari warna dan bentuk interior nya. Tapi, untuk mengatakan maaf kepada Fatih, sepertinya Raysa enggan. Biarin aja lah, males juga minta maaf dengan Fatih.


"Daddy nyusul Bunda ya, kasian dia merajuk ya lama. Entar Daddy gak dapat jatah lagi."


Raysa memutar bola matanya malas.


"Fatih, makan malam gimana? akan kan?"


"Aman Daddy, kita makan diluar. Atau Daddy mau Fatih yang masak?"


"Jangan, keracunan entar Daddy dan sekeluarga."


"Ya kalo untuk Daddy dan keluarga, gak mungkin lah Fatih racunin, kecuali Farhan. Biar gak ada lagi saingan."


Daddy Bara hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Fatih sudah mendapatkan bogem mentah di perut dari Raysa.


"Canda Ca Canda ..." Fatih menoleh kearah Farhan, kemudian ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ya sehingga berbentuk huruf V. "Phis men phis." Ujar Fatih sambil tertawa renyah.


"Kamu kalo lelah, istirahat aja, Ca." Ujar Farhan.


"Kakak gimana?"


"Ya ke apartemen aku lah." Ujar Fatih.


"Entar kamu racuni." Kesal Raysa.


"Canda Ca, gitu aja pun ngambek."


"Ya udah, kakak kalo si Fatih ini macam-macam, hajar aja si Fatih, dia mah mana bisa ngalahin kakak."


"Iya ..." Farhan tersenyum lembut.


Raysa masuk kedalam kamarnya, Fatih pun mengajak Farhan ke apartemen nya.


"Gimana hubungan Lo sama Layca?" Tanya Fatih dengan menahan rasa sakit di dada nya.


"Masih seperti biasa."


"Lo gak ada niat lamar dia?"


"Niat ada, tapi aku perlu waktu yang tepat."


Fatih diam, ia tak ingin melanjutkan rasa sakit di hati nya. Fatih membuka pintu apartemen, dan mempersilahkan Farhan masuk.


"Lo bisa istirahat di kamar itu. Kalo haus, amb minum sendiri aja ya ..."


"Eem, gue bisa pinjam baju Lo gak? Tadi nya gue udah kirim pesan ke asisten gue, tapi dia lagi ada pertemuan. Jadi agak terlambat ke sini."


"Gak masalah Lo pakai baju orang lain?" Tanya Fatih. Setau Fatih, Farhan ini orang yang sangat pembersih dan pemilih, sama seperti sahabatnya Lucas, yang enggan memakai pakaian orang lain.


"Yang penting bersih dan udah di cuci."


Fatih pun mengambil baju kaos dan celana training miliknya.


"Perlu semp*ak gak? baru nih masih."


"Boleh deh, gerah juga kalo habis mandi gak di ganti semua."


Fatih pun memberikan pakaian lengkap beserta handuk kepada Farhan. Sebenci-bencii nya Fatih kepada Farhan, namun ia tetap menghargai Farhan sebagai kawan. Begitupun sebaliknya.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....

__ADS_1


__ADS_2