Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 78 " Rindu Sasa"


__ADS_3

" Assalamualaikum"


Mami Shella mantap Bara dengan kesal. "Walaikumsalam"


" Mi.." Bara tersenyum manis sambil mencium punggung tangan Mami Shella.


" Kamu ini, mau buat Mami malu?"


" Kenapa Mi?" Tanya Bara berpura-pura bodoh.


" Kamu kenapa berlaku tidak sopan denagn Silvia?"


" Gak sopan gimana Mi? Silvia ngadu apa ke Mami?"


" Tante Dina Marah ke Mami, katanya kamu bersikap tidak sopan terhadap Silvia, dan membuat Silvia kesal."


" Apa permisi ke toilet itu hal yang tidak sopan? Lagi pula dia mengizinkan "


" Maksud kamu?"


" Bara hanya permisi ke toilet, agak lama sih, karena Bara sakit perut. Eh, tiba-tiba aja dia kesal dan marah. Lalu tinggalin Bara deh" Bara mengangkat bahunya acuh. Bara terpaksa mengedit cerita yang terjadi, dan jangan sampai Maminya tau. Jika tidak bisa merah kuping Bara.


" Lagian Mi yaa, masa sih Mami mau kenalin aku sama cewek yang suka pake baju kurang bahan?. Belahan dadanya itu loh Mi, nyembul dan di pamerkan ke semua orang. Mana mau Bara punya istri kayak gitu, ogaah.. "


" Masa sih? Padahal setau Mami Silvia itu anaknya sopan."


" Sopan belum tentu dalam artian berpakaian sopan kan Mi."


Mami Shella menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang Bara ucapkan.


Bara dan Arka tengah sibuk membahas tentang usaha yang akan Bara rintis. Dengan bantuan Arka dan usaha Bara bilang maju sangat cepat. Sudah berjalan dua bulan, dan usaha yang di rintis oleh Bara langsung bisa merekrut karyawan hingga 10 orang.


" Mantap juga jiwa bisnis Mas" Puji Arka.


" Semua ini juga berkat kamu. Kalo bukan kamu yang bantu promo mana mungkin bisa secepat ini majunya."


" Tapi manajemen yang Mas bangun itu juga terbilang mantap. Udah kayak pebisnis handal cara pemikirannya."


" Bisa aja Mujinya. Lagi gak ada duit receh ni"


" Duit soekarno-hatta tersenyum juga boleh Mas"


Ha..ha..ha.. Mereka menertawakan kekonyolan yang mereka buat.

__ADS_1


Untuk melupakan bayangan Sasa, Bara menyibukkan dirinya di kantor, Olah TKP, dan Titipan kilat. Namun bayangan Sasa tetap aja selalu hadir di dalam benak Bara.


Hari ini Kesya tiba-tiba saja kepingin memakan Rujak sirsak yang pernah Sasa buat dulu.


"Gimana ya cara buatnya?" Kesya terlihat bingung di dapur bersama Ara.


" Mau buat apa?" Tanya Mami Shella yang baru saja selesai membersihkan dirinya.


" Oh, Key tiba-tiba pingin buat rujak sirsak Mi"


" Waduh, yang kayak Sasa buat dulu ya?"


Kesya menganggukkan kepalanya. " Mami tau caranya?"


" Gak tau sih, coba cari di gogleng."


Kesya memainkan jari lentiknya di atas layar milik benda pipih yang di pegangnya. Tak berapa lama terdengar suara Bara memberikan salam.


" Baru pulang?" Tanya Mami Shella.


" Iya Mi, banyak yang harus Bara pelajari di titipan kilat."


Mami Shella menatap sendu kepada sang putra. Kencan buta yang di rencanakannya waktu itu juga tidak berjalan lancar. Pengaruh Sasa terlalu kuat untuk Bara. Bara mensotir tubuhnya dengan bekerja, hingga melupakan kesehatannya. Lihat saja, wajahnya sudah terlihat sangat tirus, matanya cekung dan hitam, rahangnya juga sudah di penuhi buku. Rambut Bara juga sudah panjang dan terlihat tidak rapi. Sebenarnya Bara sudah pernah di tegur dengan rambutnya yang panjang, namun Bara hanya menyengir dan beralasan lupa.


Bara mengambil air putih, dan meminumnya. Bara memperhatikan Kesya dan Ara, yang tengah sibuk dengan bahan di hadapannya.


Kesya menatap sang Mami, ragu untuk menjawab pertanyaan Bara. Mami Shella menganggukkan kepalanya sekilas.


" Emm, Key kepingin rujak Sirsak." Jawab Kesya dengan suara yang pelan.


Bara menghentikan pergerakannya yang ingin kembali meminum air yang berada di tangannya. Sehingga membuat pergerakannya melayang di udara.


Hening sejenak. Mami Shella, Kesya, dan Ara memperhatikan wajah Bara yang terlihat sekali perubahannya menjadi sendu.


" Biar Mas yang buat. Mas mandi dulu"


Bara meletakkan gelasnya dan berjalan memasuki kamar. Mami Shella, Kesya, dan Ara yang tadi menahan napas karena reaksi Bara, perlahan menghembuskan napasnya.


" Hufff, Mi" Ujar Kesya memegang lengan sang Mami.


" Gak pa-pa, semua akan baik-baik saja"


15 menit Bara telah keluar dari kamarnya dan terlihat segar. Kesya langsung memperhatikan mata sang Abang. Tak terlihat jejak air mata di sana. Kesya harus bernapas lega atau semakin was-was? Entah lah. Kesya sendiri tidak tau.

__ADS_1


Bara mengeksekusi semua bahan, ingatannya saat bersama Sasa juga terulang kembali di memorinya. Bagaikan film yang diputar ulang. Tak ada ekspresi apa pun yang di tampilkan Bara, Bara hanya fokus ke bahan yang ada di hadapannya.


20 menit berlalu, rujak Sirsak pun telah siap di sajikan. Bara menghidangkannya di hadapan Kesya.


Kesya tersenyum manis, dan mengambil sendok. Dengan segera Kesya mencicipi rujak tersebut.


" Eeemmm, ini enak banget. Persis buatan Sasa" Kesya berujar bahagia sambil bertepuk tangan, dan kemudian melihat kearah Bara.


Kesya langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendapati Bara dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja.


" Mas " panggil Kesya lirih.


" Hiks.." Terdengar Isak tangis Bara, Mami Shella langsung saja memeluk sang putra.


Pecahlah tangis Bara di pelukan Mami Shella. Kesya berdiri dan menghampiri Mami Shella dan Bara. Kesya ikut memeluk keduanya.


" Bara kangen Sasa Mi" Ujar Bara di sela Isak tangisnya.


" Iya, Mami juga rindu Sasa. Kita sama-sama berdoa ya, semoga Sasa cepat di temukan dan kembali kekeluarga kita. hikss" Ujar Mami Shella yang juga sudah ikut menangis.


Tidak hanya Kesya dan Mami Shella, Ara juga ikut menangis. Kesedihan Bara seakan juga mereka rasakan. Bara yang ceria, jahil, dan selalu bersemangat dna tersenyum, seolah ikut menghilang dengan kepergian Sasa.


" Kenapa?" Tanya Arka yang baru saja tiba, dan melihat adegan melow di dapur kece Mami Shella.


" Kangen Mbak Sasa." Ujar Ara sambil terisak.


Arka menghela napasnya berat. Jika sudah begini pasti Bara akan seperti orang gila. Memeluk teoin serba guna yang bertuliskan nama Sasa, mengajaknya berbicara dan tertidur sambil memeluk bungkusan tepung tersebut.


Rujak sirsak adalah salah satu kenangan Bara dan Sasa. Di mana Sasa membeli buah tersebut dari seorang Nenek-nenek. Sasa memborong semua buah tersebut, dan membuat rujak sirsak untuk semua orang.


Sudah dua hari kejadian tentang Rujak Sirsak. Walaupun Bara terlihat seperti biasa, namun jika sudah malam Bara akan kembali mengajak tepung serba guna itu berbicara dan memeluknya sambil tidur. Mami Shella sampai merekam tingkah konyol Bara yanh merindukan Sasa itu. Mami Shella berjanji, jika berjumpa dengan Sasa, Mami Shella akan menunjukkan video itu dan menghukum Sasa dengan kuat karena telah meninggalkan Putra kesayangannya.


" Di mana kamu Sa? Mami akan hukum kamu jika bertemu, lihat aja. Mami akan ulek-ulek kamu dengan sambal bencong. Biar pedas. Biar tau rasa kamu. Uukkh... gemeesa banget sih dengan kamu Sa. Dasar mungil gemesih dan ngeselin" Geram Mami Shella dan memukul tepung serba guna yang bertuliskan nama Sasa yang sudah di tuang kedalam wadah.


" Rasain kamu, Mami kasih ayam bugil kamu. Rasaiin.. Mami Baluri kamu dengan Ayam. Rasain.. Rasain.. rasain..." Mami Shella meremas-remas ayam yang berada di dalam tepung.


" Hah, Anak sama Mami sama seteres nya ." Gumam Daddy Roy yang melihat tingkah Mami Shella persis dengan Bara yang mengajak ngobrol tepung serba guna.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2