
Sasa benar-benar kesal, Bara benar-benar menyebalkan. Bagaimana tidak, setelah memaksanya untuk ikut dengan dirinya dengan mengancam, ternyata dia mengajak Sasa makan di restoran mewah.
" Lo apa-apaan sih, Lo mau buat malu gue?" Kesal Sasa.
Bara menaikkan alisnya sebelah.
" Lo lihat deh penampilan gue, gak banget buat makan di sini. Udah ah, gue mau balik aja"
Bara menahan lengan Sasa saat Sasa sudah melangkahkan kakinya keluar dari restoran mewah.
" Tunggu, aku gak maksud mau buat kamu malu. Ya aku fikir semua perempuan akan senang jika makan di__"
" Gue gak. Jadi kalo Lo mau makan, ya makan sendiri aja. Gue mau balik ke toko"
Sasa terus melangkahkan kakinya keluar restoran itu, namun Bara tiba-tiba saja menariknya dan membawanya bersembunyi.
" Apaan sih Lo"
" Ssstttt" Bara menutup bibir Sasa dengan jari telunjuknya untuk tidak berisik.
Sasa mengikuti ke mana arah mata Bara memandang. Terlihat ada rasa kecewa di sana.
" Lo gak mau nyamperin?"
Bara memandang Sasa, " Buat apa? " jawabnya datar.
" Hmm, minta penjelasanlah sama dia."
" Gak perlu, kamu tadi bilang gak mau makan di sini kan? mau makan di mana?"
" Terserah, pinggir jalan juga boleh"
" Nasi Padang? "
" Boleh, gue apa aja boleh. "
Bara menggandeng tangan Sasa, dan memberhentikan bajai yang kebetulan lewat di daerah situ.
Sasa tersenyum tipis mendapati saat ini dia menaiki bajai dengan seorang, eemm, yaa coklat pait. Sasa gak mual?, Tentu saja dia merasa mual, namun karena Bara menggunakan Jaket, jadi tidak terlalu terlihat. Tapi bagian depannya sangat jelas terlihat, karena Bara tidak mengancing bagian depannya.
Mereka berhenti di sebuah rumah makan Padang sederhana. Terlihat ramai dan bersih.
" Lo sering kesini?" tanya Sasa.
" Beberapa kali, di sini gulai kikil nya enak"
Sasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah mendapatkan meja yang pas dan nyaman, mereka pun menunggu hidangan datang.
" Kamu kenapa sih, dari tadi di ajakin ngomong gak liat ke aku"
" Ekheem, seragam Lo"
Bara memandang ke arah bajunya, kemudian Bara mengancing hingga ke atas resleting jaketnya.
" Udah, sekarang kamu bisa kan liat ke arah aku"
Sasa memutar bola matanya jengah, kemudian dia melihat ke arah Bara.
" Gimana? Masih mual?"
" Begini lebih baik"
Makanan telah tersaji, mereka pun menikmati makanan yang tersedia. Sebenarnya mulut Sasa udah gatal ingin bertanya, kenapa Bara terlihat santai melihat tunangannya bergelayut manja dengan seorang pria, tapi itu bukan urusannya, Sasa tidak ingin ikut campur.
" Aku udah lama tau jika Lia berselingkuh"
__ADS_1
Sasa yang tadinya ingin menyuapkan makanan kedalam mulutnya pun, gerakannya menjadi terhenti di udara. Tetapi cepat Sasa untuk merubah keterkejutannya.
" Kalo udah tau, kenapa gak kamu putusin?" Ujar Sasa dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Dia cinta pertama aku, dan aku tidak bisa melupakan perasaan aku ke dia. Aku pernah coba untuk menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi percuma, rasa cinta aku tetap besar untuk nya"
" Perempuan yang beruntung, dan pria yang bodoh"
" Kamu bilang aku bodoh?"
"Hmm, Lo itu bodoh karena terlalu besar mencintai orang yang gak pernah menghargai kesetiaan. "
" Tapi sekarang aku tidak sebodoh dulu. Karena jantung aku berdetak lebih cepat untuk wanita lain. Perasaan yang dulu pernah aku rasakan ke Lia saat pertama kali aku jatuh cinta, namun detak jantung ini berdebar 3 kali lebih cepat dari saat itu."
" Oh yaa? Bagus lah, berarti julukan pria bodoh akan berakhir" Sasa terus saja menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
" Kamu gak penasaran siapa wanita itu?"
" Gue gak kepo, dan gue juga gak mau tau siapa wanita itu"
" Oh ya "
" Hmmm"
' Wanita itu kamu mungil, cuma aku masih butuh waktu untuk meyakinkan perasaan aku ke kamu. Sampai waktu yang tepat, aku akan menyatakan perasaan aku ke kamu.' Batin Bara.
" Terima kasih atas traktirannya. Lain kali Lo gak usah repot- repot buat ngajak gue makan siang bareng"
"Terserah aku dong,"
" Hah, susah memang bicara dengan orang egois" Gumam Sasa yang masih di dengar Bara.
Sasa turun dari taksi, dan tanpa menoleh ke belakang, Sasa langsung masuk kedalam toko. Di dalam toko sudah ada Fadil dan Puput yang menatap Sasa dengan curiga. Pasalnya Bela dan Lena sudah mengatakan jika Sasa pergi bersama Bara.
" Ke mana Lo sama Bara?"
Saat ini mereka sudah berada di ruangan istirahat karyawan.
" Makan siang" Jawab Sasa jujur.
" Bukannya Lo pobia seragam polisi?"
" Dia pake jaket, jadi gak terlalu kentara. Kecuali sepatu dan celananya" Gumam Sasa di akhir kalimatnya.
" Sa, kamu tau kan kalo Mas Bara punya tunangan?" Ujar Puput.
" Hmmm, gue bukan pelakor. Jadi tenang aja, gue gak ganggu hubungan Bara dengan tunangannya. Kalo kalian mau introgasi, mending kalian tanya-tanya aja ke Bara, dan sekalian, bilangin sama dia jangan dekati aku terus. Trus bilang juga sama dia, gak usah pake datangin ap__" Sasa langsung menutup mulutnya , hampir saja dia keceplosan.
" Ap apa?" Tanya Puput.
Sasa sudah menautkan jari-jarinya, tanda dia gugup.
" Sayang, boleh tinggalin kami berdua? Ada yang ingin aku bicarakan." ujar Fadil.
Puput menatap Fadil, kemudian menatap Sasa. "Okey, jangan lama ya" ujar Puput sambil mencuil hidung Fadil.
Sasa sudah menatap ke langit-langit untuk menghindar tatapan intimidasi dari Fadil.
" Jadi, pemilik sepatu yang berada di apartemen tadi malam milik Bara?" to the poin Fadil.
Sasa hampir keselek ludah nya sendiri.
" Hah?? Buk-bukann"
" Liat gue kalo ngomong"
__ADS_1
Sasa berdecak, percuma dia bohong, karena dia tipe orang yang tidak bisa berbohong. " Iya" jAwab Sasa sambil menundukkan wajahnya.
" Tapi sumpah, gue sama dia gak ngapa-ngapain kok. Serius" Ujar Sasa sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari manisnya.
" Gue sih sebenarnya gak masalah kalo Lo dengan Bara, tapi gue cuma gak mau lo di tuding sebagai pelakor."
" Gue gak ada hubungan apa- apa sama dia, serius, sumpah deh gue"
" Lo mungkin gak, tapi Bara iya. Gue harap perasaan dia bukan hanya sekedar singgahan"
" Maksud Lo? Bara suka sama gue? Ha..ha..ha.." Tawa Sasa pecah.
" Lo lebih pantas bersama Bara dari pada Lia"
Sasa langsung terdiam mendengar ucapan Fadil.
" Mak-maksud Lo?"
" Lia sebenarnya memiliki kekasih selain Bara. "
Sasa melototkan matanya. " Lo tau?"
Fadil mengerutkan keningnya. " Lo?"
" Hah, tadi itu Bara ngajakin gue makan di restoran mewah. Gila aja dia ajak gue dengan pakaian gini, ntar di kira pengemis gue. Trus saat kita mau balik, gak sengaja aja gitu liat Lia bermesraan dengan seorang pria. Kayak nya sih pria kaya"
Fadil mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan foto seorang pria tampan kepada Sasa.
" Iya bener, Btw Lo kok bisa tau?"
" Hmm, awal ketemu Lia, gue terkejut kalo Lia itu tunangan Bara, setau gue dia itu pacarnya pria ini. "
" Hmm, gitu ya. kasian banget sih tu gundoruwo" Gumam Sasa yang masih di dengar Fadil.
" Lo bilang apa?"
" Hah? gak kok, gak bilang apa-apa" Sasa meraih air mineral di hadapannya.
" Gue percaya, kalo Lo perempuan yang pantas dan bisa bikin Bara bahagia"
Byuuuurrr...
Tepat sasaran di wajah Fadil
"Gila Lo, ogah gue sama dia. " Ujar Sasa kesal dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Ceklek..
" Eehh"
Sasa langsung menampung tubuh Puput yang hampir terjatuh karena menguping.
Puput tertawa dengan garing. " He..he..he.., maaf, jiwa kepo nya bangkit" Ujar Puput tanpa bersalah.
Fadil hanya geleng-geleng kepala.
Puput menatap Fadil, mulut nya udah gatal ingin bertanya.
" Kalo mau ngomong, ya ngomong aja" Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju Kantor.
" Serius Mbak Lia selingkuh?" Tanya Puput tak sabar.
*** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...
Salam SaBar ( Sasa Bara )
__ADS_1