Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab. 118 " HUT Bhayangkari "


__ADS_3

Bara dan Sasa benar-benar menikmati waktu mereka di Maldives. Hingga akhirnya mereka harus berpisah dengan pulau yang indah ini. Pulaunya surga dunia pengantin.


" Udah semua?"


" Ini lagi aku cek ulang Mas.." Sasa pun memeriksa barang bawaan mereka.


" Perginya cuma satu koper besar, pulangnya udah 2 koper.." Sasa terkekeh melihat barang bawaannya yang seakan beranak.


" Semoga dari sini, kita pergi berdua, pulangnya bertiga yaa.." Bara mengelus perut Sasa.


" Amiin.."


.


.


Kepulangan Bara dan Sasa menjadi berita terheboh bagi Vina, Vano, Tante Mega, dan Tante Rosa. Karena dengan kepulangan Sasa, anak-anak mereka tidak akan rewel lagi.


Daddy Roy hari ini tidak bisa menjemput Bara dan Sasa, karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tinggalkan. Jadilah Vano dan Om Nazar yang menjemput Sasa dan Bara. Sedangkan Mami Shella dan yang lainnya sudah menyiapkan acara sambutan untuk kepulangan Sasa dan Bara.


" Waaah, yang habis honeymon seger bener dah.." Goda Leo.


Sasa sudah tersipu malu, sedangkan Bara semakin merengkuh pinggang Sasa.


" Zein, Anggel, dan Kayla gimana kabarnya Dad?"


" Mereka sudah baikan, dan sedang menunggu kamu di rumah."


" Baikkan? Mereka sakit?"


" Iyaa, kemarin itu sempat sakit. Zein demamnya sampai 40°C. Untung gak sampai step. Rindu banget sama kamu.." Ujar Leo.


" Ya Allah Zein, hikks... Kok gak ada yang bilang kalo Zein sakit? Hiikkss.."


Daddy Roy melirik Leo yang keceplosan mengatakan tingginya suhu tubuh Zein saat demam. Bahkan saat Zein lepas menyusui, demamnya tidak setinggi itu.


" Udah sayang, jangan nangis. Zeinnya gak kok. Mami mungkin sengaja gak kabarin kita, takut kamu khawatir. "


Sasa sudah menghapus air matanya, namun hatinya merasa sedih karena telah membuat Zein, Anggel, dan Kayla sakit karena dirinya.


" Lamunin apa sih? Udah deh, jangan di fikirin, Yang ada ntar stres lagi.."


" Iyaa Mas.."


Sasa langsung turun dan berlari setelah Leo menghentikan mobilnya


Zein, Kayla, dan Anggel pun langsung merangkak dengam cepat kearah Sasa.


" Anak-anak Bunda... Hikkss.. Bunda rindu.."


Sasa mengecup keseluruhan wajah Zein, Anggel, dan Kayla. Mami Shella, Tante Rosa, Vina, dan Tante Mega yang melihat itu ikut meneteskan air matanya. Cinta Sasa kepada anak-anak mereka begitu besar dan tulus.


" Udah yaa kangen-kangennya, pasti capek dan Laper. Mami udah masakin nasi kuning untuk kamu. Ada ayam semur jugaa. Kamu suka kan?"


" Iyaa Mi..."


Sasa menggendong Kayla, namun Zein menangis karena cemburu. Sasa pun menggendong Zein, tapi Kayla dan Anggel malah menangis makin kencang. Hingga akhirnya Bara menggendong Zein dan Anggel, Sasa menggendong Kayla.


Vina, Tante Mega, dan Tante Rosa sampai menggeleng dan menipuk jidad mereka. Bahkan anak-anak mereka tidak mau di gendong oleh ibunya. Hanya mau dengan Bundanya, Sasa.


" Assalamualaikum..." Kesya dengan riangnya mengucapkan salam dan masuk dengan sedikit berlari sambil menggendong Qila.


" Walaikumsalam..."


" Mbaaakk Sasa.... aaa kangennya ." Kesya langsung memeluk Sasa dan menciumi wajah Sasa.


Qila yang berada di dalam gendongan Kesya pun langsung meraih leher Sasa dan meminta Sasa menggendongnya. Lihatlah, Qila dan Veer saja juga merindukan Sasa.


" Mi, semuanya.. Ini ada sedikit oleh-oleh... Semoga kalian suka yaa... " Sasa mengeluarkan satu koper yang isinya adalah pernak-pernik, baju, dan banyak lainnya.


" Sa, cantik banget cluth nya. Aku mau yaa.." Vina mengambil satu tas tangan itu, dan langsung memeluknya.


" Aku mau jugaa.." Rajuk Kesya..


" Araaaa maauuu..." Ara yang baru tiba, tanpa mengucapkan salam langsung berlari dan menghambur mendesak di antara Kesya dan Vina.


" Ya ampun Araa... Ucap salam dulu kek.." tegur Vina.


Ara hanya menyengir...


" Sama siapa kamu datang?"


" Sama kang ojek, habis nya kang Jodi ngawal sang ratu.." Ara mengedipkan matanya sebelah kearah Kesya.


" Kan emang kerjaan dia Ara.."


" Iyaa.. mbak.. iyaa.. aku kan becanda.."


.


.

__ADS_1


Sudah sebulan Sasa dan Bara pulang dari Maldives, tapi Sasa belum juga di karuniai momongan. Sasa menghela napasnya pelan.


" Mungil, jangan lupa yaa, besok ulang tahun Bhayangkara, jadi kamu harus ikut. Udah kosongin jadwalkan?" Bara yang sedang mengancing baju seragamnya menatap Sasa yang baru keluar dari kamar mandi.


" Kok murung?" Bara menghampiri sang istri.


" Gak kok, siapa yang murung?"


Bara tau, jika Sasa subuh tadi kedatangan tamu bulanannya. Bara sebenarnya juga sudah berharap lebih karena Sasa sudah terlambat seminggu, mereka memang sengaja tidak langsung memeriksa, takut kecewa, tapi kekecewaan itu terbukti dengan datangnya tamu bulanan Sasa.


Bara memeluk tubuh Sasa, " Mungkin Allah masih nyuruh kita pacaran mungil.. Di nikmati aja yaa.. "


" Iyaa Mas.." Sasa menghapus cepat air matanya yang hampir jatuh.


Sasa merelai pelukannya dan tersenyum kepada Bara, Sasa mengancingkan baju Bara yang belum terkancing sempurna.


.


.


Hari ulang tahun Bhayangkara yang jatuh pada 1 Juli pun diselenggarakan dengan upacara bendera, kemudian mendengar tausiah dan makan bersama.


Bara yang mengenakan seragam PDU 1 yang lengkap berserta atributnya pun terlihat semakin gagah. Begitupun dengan Sasa yang menggunakan Baju ibu bhayangkari yang khas dengan warna pink nya.



Semua mata tertuju kepada Sasa yang terlihat seperti anak SMA yang sedang ikut pawai. Karena wajah nya yang imut dan tubuhnya yang mungil, yang lebih mirip anak sekolahan dari pada umurnya yang sebenarnya.


" Ya ampun Sasa, kirain Bara tadi bawa anak pawai ke sini. Makin cantik dan awet muda aja yaa kamu. Bara juga, terlihat makin berisi dan semakin tampan." Puji istri Komanda.


" Di kasih makan enak terus Buk.."


" Jelas lah yaa.. Secara masakan Sasa ini memang Mantul. Mantap betul.. eh.. eh.., gimnaa bulan madu kemarin? Udah ada hasil belum?"


" Doakan saja yaa buk, semoga di segerakan. "


" Amin..amin..amin.. yang penting usaha aja terus. Ibu dulu 3 tahun baru di kasih kepercayaan. Jangan sedih yaa, kalian masih muda kok.."


" Iyaa buk.. Makasih."


Ada sedikit rasa tenang di hati Sasa. Ibu komandan yang seorang Bidan saja, baru memiliki anak saat umur perkawinannya menginjak 3 tahun, Sasa yang masih satu tahun harus lebih banyak berjuang.


" Sa, kamu udah coba kontrol k dokter belum? Sekarangkan banyak banget penyakit rahim yang buat susah punya anak. Coba aja periksa, dari pada terlambat tau jika kamu mandul " ini yang berbicara namanya Susi, ibu bhayangkari yang lain. Memang sih, setiap acara arisan ibu bhayangkari, Susi ini memang sedikit kurang suka dengan Sasa. Karena Sasa selalu mendapatkan pujian, yang dari masakannya, suaranya, kecantikannya, kulit mulusnya , pokoknya banyak lebihnya lah Sasa. Dan Susi ini tipe orang yang cemburuan dan suka dipuji.


" Iya kak, nanti coba Sasa periksa."


" Ya mana tau kan. Kalo di lihat dari gestur tubuh Bara, kayaknya sih Bara itu sehat, apa lagi Bara rajin oleh raga dan makanannya juga sehat-sehatkan? Mungkin yang salah dikamu. Kalo emang sudah periksa, dan kamu mandul, mending suruh Bara nikah aja lagi.. Dia kan anak laki-laki satunya di keluarga nya yaa. Pastilah orangtuanya mengharapkan untuk Bara mendapatkan keturunan."


" Sa, aku nyinggung kamu yaa? Maaf yaa, aku gak maksud gitu sih.. Tapi aku bilang sesuai apa yang kenyataannya aja. Mending kamu yang kasih izin buat Bara nikah, dari pada Bara nikah diam-diam di belakang kamu."


Sasa hanya menampilkan senyum tipis nya, lalu pandangannya beralih ke Bara yang tengah tertawa kepada teman seprofesinya.


Nita yang mendengar percakapan Susi dan Sasa pun merasa kesal. Susi ini kalo ngomong suka banget ngompor-ngompori.


" Sa, gak usah dengar apa yang Susi bilanh. Dia mah Sirik aja. "


" Siapa yang Sirik? Heh, aku bilang sesuai apa yang terjadi yaa. Apalagi Bara itu pria mapan dan tampan, pastilah banyak yang mau jadi istri keduanya."


"Lo, "


" Udah..udah.. malu di liatin orang" Sasa merelai Nita dan Susi.


"Uughhh... rasanya pingin gue remes tu mulut." Geram Nita.


" Ada apa ini?" Tanya ibu komandan.


" Gak ada apa-apa buk, biasalah cuma salah paham dikit."


" Bener?"


" Iyaaa buk.. "


" Saya gak mau ya acara bahagia ini rusak dengan tindakan konyol kamu Susi. Nita."


" Iya buk, Maaf.." Ujar Susi dan Nita berbarengan.


Sasa langsung membawa Nita menjauh dari Susi. Susi sudah tersenyum puas karena melihat wajah Sasa yang seakan termakan dengan omongannya.


" Mampus Lo sana Sa, berantam-berantam deh sama Bara. Dasar tukang cari muka. penjilat.." Gerutunya.


.


.


" Kamu kenapa sayang?" Saat ini Bara dan Sasa sedang berada di jalan pulang.


" Gak pa-pa" jawab Sasa dengan nada sedikit jutek.


" Gak papa kok jutek gitu sih.." Bara mencuil dagu Sasa.


" Udah deh, gak usah pegang-pegang dagu aku."

__ADS_1


Sasa menepis tangan Bara.


Bara mengernyitkan keningnya. " Kamu kenapa sayang? Mungil? Aku salah apa?"


Sasa masih menatap kearah luar jendela, Suara Susi terngiang-ngiang di telinganya, yang mengatakan jika Sasa mandul dan Bara akan kawin lagi secara diam-diam.


Bara yang melihat satu air mata Sasa jatuh pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Mungil, kamu kenapa?" Tanya Bara lembut.


" Aku tau, kamu bakal kawin lagi kan kalo aku mandul "


" Mungil, kamu ngomong apa sih?"


" Kamu kalo mau nikah, ceraiin aja aku dulu Mas, jangan nikah diam-diam di belakang aku."


" Mungil, kamu ngomong apa? Kenapa ngawur gini sih? Siapa yang nikah?"


" Kamu.. kamu Mas. Kamu butuh keturunan kan untuk meneruskan garis keturunan mu. Aku gak bisa kasih kamu keturunan Mas, jadi mending kamu ceraiin aku, karena aku gak akan sanggup lihat kamu dengan wanita lain. Aku gak mau mas.. hikkss.. aku gak mau.." Sasa sudah menangis histeris.


" Mungil, tenang.. Aku gak akan pernah nikah lagi. Sampai kapanpun aku akan bersama kamu mungil.."


" Bohong.. Hikss.. "


Bara meraih tubuh Sasa, walaupun Sasa memberontak, Bara tetap merengkuh tubuh Sasa dengan kuat.


" Mungil... Tenanglah .." Bara mengecup pucuk kepala Sasa.


" Lepas Maas.. Lepas... hiikkss..."


" Ya Allah mungil, siapa sih yang udah hasut fikiran kamu gini.." Gumam Bara.


Sebelumnya Mami Shella sudah memperingati Bara, untuk menjaga perasaan Sasa. Karena wanita yang sudah menikah, dan sangat mengharapkan dirinya segera hamil, adalah hal yang paling sensitif perasaannya melebihi ibu hamil.


Bara pernah bertanya dengan Leo, apa wajar jika hampir setahun berhubungan tidak juga membuahkan hasil?. Leo memang mengatakan sebagian orang memang memiliki kasus tersebut. Faktornya adalah letak rahim, pintu masuk menuju rahim yang terhalang, dan juga kesuburan rahimnya. Bara pernah ingin mengajak Sasa untuk check up, namun Mami Shella melarang, takut jika hasilnya membuat Sasa kecewa dan semakin stres. Jika ingin check up ke dokter, biarkan Sasa yang menginginkannya.


Bukan tanpa alasan Mami Shella berkata seperti itu, karena Mami Shella pernah menawarkan untuk memeriksa ke dokter kandungan, akan tetapi Sasa menolak karena takut dengan hasil yang membuatnya semakin kecewa. Mami Shella tidak ingin memaksa, takut jika Sasa merasa semakin tertekan.


.


.


Sasa seharian mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan Sasa tidak ikut makan malam, dan mengatakan jika masih kenyang dan tidak berselera makan.


" Mungill.." Bara menyentuh Bahu Sasa yang tengah berbaring memunggunginya.


" Aku mau sendiri Mas, Pliss.."


Bara menghela napasnya, setelah mendaratkan kecupan di kening Sasa, Bara pun membaringkan dirinya.


Sudah 3 hari Sasa mengurung diri di kamar, Mami Shella sudah merasa khawatir dengan kondisi Sasa. Pasalnya Sasa hanya makan roti saja.


" Sa, makan yukk.."


" Sa gak lapar Mi.."


Mami Shella membelai rambut Sasa, yang tengah memeriksa laporan keuangan di ekspedisi.


" Cerita deh sama Mami, kamu ada Masalah apa?"


Sasa menoleh kearah Mami Shella.


" Mi.. Hiks..." Sasa langsung memeluk pinggang Mami shella, dan menenggelamkan wajahnya di perut Mami Shella.


Mami Shella membiarkan Sasa menumpahkan air matanya. Membelai rambut halus itu dengan oenuh kasih sayang. Bara yang baru saja pulang di jam istirahat siangnya, memilih mendengarkan dari balik pintu.


Sasa menceritakan apa yang di rasakannya saat ini kepada Mami Shella. Sasa takut, jika dirinya beneran mandul, dan Bara akan menikah lagi dengan wanita lain. Sasa gak akan pernah sanggup, jika itu terjadi, Sasa gak akan pernah sanggup kehilangan Bara. Hanya Bara dan keluarganya lah harta paling berharga milik Sasa.


" Kamu mau gak, kalo pergi periksa? biar cepat menemukan solusinya jika ada masalah."


" Sa takut Mi, hiks.. Gimana kalo sa beneran mandul? Hikss.. "


" Mami yang akan temani kamu. Kamu tenang aja, Alat kesehatan di jaman sekarang itu udah canggih Sa, Inul Daratista aja bisa hamil. Kamu jangan patah semangat yaa.."


" Tapi, Mami jangan kasih tau ke Mas Bara yaa. Tolong rahasiakan ini. Sa belum siap jika hasilnya nanti mengecewakan Mi."


" Kamu yakin Bara gak boleh tau?" Mami Shella melirik kearah pintu yang di mana ada putranya di sana yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.


" Iyaa Mi. Sa gak mau Mas Bara tau. Sa takut Mas Bara kecewa sama Sa. Ya mi, tolong rahasiain ini dari Mas Bara. Pliss Mi.."


" Ya udah.. Kapan kamu mau check up? Biar Mami temenin?"


Sasa menghela napasnya, Sasa sendiri bingung, kapan dirinya akan memeriksakan kesehatan rahimnya.


____


Jangan hujat author yaa, tenang aja, Sasa bakal hamil kok.. cuma butuh sabar aja... 🤭🤭🤭


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2