Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 17


__ADS_3

"Bunda balik hari ini?"


"Iya sayang, Nanti kamu kalo ada-apa bilang sama Fatih ya ..."


"Kak Farhan kan juga di sini."


"Fatih yang paling dekat sama kamu." Bunda Sasa menggenggam tangan Raysa, "Sayang, saran Bunda kamu jangan terlalu benci sama Fatih."


"Ica gak benci kok Bun, Ica cuma kesal aja sama dia."


"Kesal kenapa?"


"Fatih tu nyebelin, Bun."


"Dia nyebelin karena cari perhatian kamu." Bunda Sasa membelai rambu Raysa.


"Lana dan Fatih itu hampir sama. Mereka mencintai wanita yang sulit mereka raih. Tapi kamu lihat deh Quin, Bagaimana dia memperlakukan Lana, Quin tak pernah menganggap Lana sebagai pengganggunya. Bahkan Quin sudah menganggap Lana sebagai saudaranya."


"Jadi, menurut Bunda, Ica harus menganggap Fatih saudara gitu?"


"Eem, bisa di bilang seperti itu. Jadi kamu bisa berperilaku seperti kamu bersama Ibra. Kalian sering berantam tapi tetap berbaikan kan?"


Raysa menganggukkan kepalanya. Tapi, bisakah Raysa menganggap Fatih sebagai abangnya? Mungkin tidak ada salahnya untuk di coba.


*


"Titip Ica ya." Pinta Bunda Sasa kepada Fatih


"Iya Bun, selama Fatih di sini, Fatih akan menjaga Layca."


"Bunda percaya sama kamu."


"Kalo begitu Daddy dan Bunda berangkat ya ..."


"Iya Daddy."


"Titip Ica sekali lagi."


"Iya, Daddy percaya kan sama Fatih?"


"Insya Allah ..."


Raysa sebenarnya sedari tadi sudah ingin mengatakan jika dirinya tak perlu Fatih untuk menjaganya. Namun mengingat ucapan sang Bunda yang mengatakan untuk belajar menganggap Fatih sebagai seorang abang. Bukankah salah satu tugas seorang abang adalah menjaga adiknya? Ya, Raysa akan membiarkan Fatih menjaga dirinya, layaknya seorang Abang.


"Bunda pamit ya sayang." Bunda Sasa pun memeluk Raysa dan menciuminya.


"Iya Bun, kasih kabar ya kalo udah sampai."


"Iya sayang, Pasti."


"Daddy pulang ya ... Baik-baik di sini, jangan suka berantam dengan Fatih."


"Iya Dad. Daddy hati-hati nyetirnya yaa ... Kalo lelah istirahat aja dulu."


"Iya, lagian Daddy kan bisa gantian sama Bunda."


Setelah berpamitan, Daddy Bara dan Bunda Sasa pun meninggalkan baseman apartemen milik Raysa dan Fatih.


Raysa menoleh saat ponsel Fatih berdering.


"Ya, Tis." Fatih agak menjauh beberapa langkah dari Raysa, setelah memberikan kode kepada Raysa.


Raysa mencebikkan bibirnya, kemudian ia meninggalkan Fatih berngobrol ria di telpon bersama wanita yang bernama Tis Tis itu.


"Awaas ..."

__ADS_1


Tiiiitt ...


Brugh ...


"Aawwh ..." Fatih meringis karena lengannya terbentur dinding demi menyelamatkan Raysa.


Raysa yang masih berada dalam pelukan Fatih pun langsung melihat lengan Fatih yang terbentur.


Perlahan Raysa membuka kemeja Fatih yang memang tak di kancing. Mata Raysa membola saat melihat lengan Fatih memar.


"Kita kerumah sakit." Ajak Raysa.


"Aku gak papa,"


"Gak papa gimana? Memar gini." Raysa akhirnya memaksa Fatih untuk kerumah sakit.


Raysa meminta kunci mobil milik Fatih yang memang berada di dalam saku celananya. Fatih pun memberikannya, setidaknya Fatih bisa mendapatkan perhatian dari Raysa.


*


Raysa menatap perawat yang sedang meng-gips lengan Fatih yang ternyata retak akibat benturan di dinding yang kuat.


'Gak bisa nyantai aja yaa mandanginnya? ganteng banget apa dia? Kayak nya biasa-biasa aja.' Gerutu Raysa di dalam hati.


"Sudah, nanti jangan terlalu di gerakin ya Mas lengannya. Biar pemulihannya cepat."


"Iya sus, Makasih ya ..."


"Sama-sama."


Perawat itu pun pergi meninggalkan Fatih dan Raysa. Karena luka yang tak cukup parah, Fatih meminta pulang dan beristirahat di rumah. Padahal Fatih harus membuat sketsa yang tinggal sedikit lagi. Untungnya Tangan yang cidera adalah tangan kanan Fatih. Fatih ini Kidal, jadi jika membuat sketsa, Fatih lebih cekatan dengan menggunakan tangan Kiri nya. Walaupun Fatih bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis.


*


"Hmm, kenapa? kamu mau temani aku?" Tanya Fatih dengan menggoda.


Tak ada jawaban dari Raysa, Fatih pun hanya tersenyum dan memilih menutup matanya. Sepertinya obat yang di berikan oleh dokter tadi benar-benar membuatnya harus beristirahat.


Raysa menekan rem saat melihat lampu merah. Ia menoleh kesebelah kiri, di mana Fatih sudah tertidur lelap. Raysa terus memandangi wajah Fatih, entah kenapa melihat wajah Fatih tenang seperti ini membuat Raysa ingin terus memandanginya.


Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil menyadarkan Raysa. Ternyata lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Raysa pun menekan pedal gasnya.


Sesampainya di baseman, Raysa bingung mau membangunkan Fatih atau membiarkan ia tidur sebentar lagi. Hingga akhirnya Raysa memilih untuk membangunkan Fatih.


"Fat, bangun ... Dah sampai."


Raysa menggoyangkan bahu Fatih dengan pelan.


"Fat ..."


"Hmm?" Gumamnya.


"Udah sampai. Mending istirahat di apartemen aja deh. Biar badan nya lurus."


Fatih membuka matanya perlahan, kemudian ia menatap kearah Raysa dengan mata khas bangun tidurnya.


"Kamu gak niat gendong aku gitu? Kayak yang sering aku lakuin ke kamu?"


Raysa mencebikkan bibirnya. "Bisa encok aku kalo gendong kamu."


Fatih terkekeh. Kemudian ia membuka seatbel nya. Namun seatbel Fatih macet sehingga susah untuk di buka. Melihat Fatih yang kesusahan, akhirnya Raysa pun berniat membantunya.


"Sini ..."

__ADS_1


Raysa membuka seatbel milik Fatih, hingga wajahnya mencondong kearah Fatih, dan saat Raysa mendongak, mata Raysa bertemu dengan mata Fatih yang sedari tadi menatapnya terus.


satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


Empat detik ...


Sepuluh detik ...


Fatih menolehkan wajahnya ketempat lain, sambil berdehem pelan. Fatih harus menetralkan jantung dan fikirannya. Rasanya ingin sekali ia mengecup bibir Raysa yang terlihat menggoda, namun ia mengingat pesan Daddy Bara untuk tidak menyentuh putrinya, sebelum ijab Qabul terlaksana. Fatih pun ingin menjaga Raysa dari rasa napsunya.


Raysa memundurkan tubuhnya dan berdehem pelan. Raysa membuka pintu dan turun, begitupun dengan Fatih. Sebenarnya Raysa sedikit merasa kesal, namun Raysa sendiri bingung kenapa dia merasa kesal dengan Fatih yang malah berpaling. Bukankah seharusnya Fatih? Raysa menggelengkan kepalanya, mengusir fikiran kotor yang tiba-tiba saja menghampiri otaknya.


"Kenapa? Pusing?'" Tanya Fatih yang melihat Raysa menggelengkan kepalanya.


"Hah? enggak. Oh ya, kamu mau apa? ntar aku masakin."


"Apa aja, tapi sekarang aku ngantuk banget, mau tidur. kayaknya obatnya mengandung obat tidur."


"Iya, biar kamu nya istirahat."


Sesampainya di lantai 7, Fatih langsung menuju apartemen nya.


"Em, Fatih. Pas-pasword apartemen kamu apa?" Tanya Raysa gugup.


Ia takut Fatih akan salah paham. Padahal Raysa merasa perlu membalas kebaikan Fatih yang sudah menolongnya tadi. Karena dirinya lah Fatih cedera.


"Sama seperti password Aparatemen kamu."


Raysa mengangguk. Raysa juga ikut masuk kedalam apartemen Fatih, untuk memastikan Fatih beristirahat dengan baik.


"Kamu istirahat aja, aku gak papa kok."


"Udah, gak usah bawel deh."


Raysa membantu Fatih naik keatas tempat tidur. Kemudian Fatih terkekeh membuat Raysa menatap Fatih dengan tak suka.


"Kenapa?"


"Gak papa,"


"Pasti mikirin macem-macem "


"Gak macem-macem kok, cuma satu macem aja. Nikah sama kamu."


Tak ada respon dari Raysa. Setelah menyelimuti Fatih, Raysa pun keluar dari kamar tanpa satu kata pun. Fatih hanyan bisa tersenyum getir. Fatih pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Kepalanya sedikit pusing karena baru saja tidur sudah harus di paksa terbangun.


Raysa membuka kulkas Fatih. Hanya buah-buahan dan makanan beku di dalamnya. Sudah Raysa duga, jika Fatih tidak pernah mengisi kulkasnya dengan bahan pokok makanan. Sepertinya Raysa harus memasak di dapurnya sendiri, atau membawa beberapa bahan makanan ke dapur Fatih.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....

__ADS_1


__ADS_2