
Sudah 5 hari Fatih pergi ke Surabaya. Dan selama 5 hari juga Raysa tak memasak. Entahlah, Raysa merasa malas untuk memasak. Karena merasa Tak ada yang akan memakan masakannya.
Fatih tak di sini, begitu pun dengan Farhan. Jadi, pagi ini Raysa membeli lontong di dekat kantornya.
Raysa melihat-lihat kendaraan yang berlalu lalang. Namun matanya menyerngit saat melihat seseorang yang mungkin dia rindui. Bahkan orang tersebut menggunakan mobil yang sama. Sayangnya Raysa tak sempat melihat plat polisinya.
"Fatih bukan ya?" Raysa mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada Fatih.
Memang, selama ini mereka masih saling mengirim pesan dan membalas pesan. Namun pesan Fatih tak seperti biasa nya, yang akan dengan ceret mengirim pesan dengan panjang. Kalo ini Fatih hanya bertanya dengan pertanyaan pendek dan menjawab dengan pendek.
Terdengar nada sambung, kemudian tak berapa lama nada itu di gantikan dengan suara bariton yang beberapa hari ini Raysa rindukan.
Rindu? tidak, Raysa tak merindukannya. Hanya saja??? Emmm?? ah sudah lah ..
"Assalamualaikum, ya ca?"
"Kamu di mana?"
"Aku? Aku lagi kerja."
"Masih di Surabaya?"
"Ya, ada apa?"
"*Tidak, ya sudah kalo begitu. Kamu udah sarapan?"
"Sudah, Ca, aku matiin dulu ya telponnya, Aku harus pergi*."
"Ah, ya.. Maaf menggangu."
"Gak apa, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Raysa menghela napasnya, ia merasa ada yang kosong di dalam hati nya.
"Mbak, ini lontongnya!"
Suara ibu-ibu penjual lontong membuyarkan lamunan Raysa.
"Ah ya, maaf .. Berapa?"
"15 ribu aja."
Raysa membayar dengan uang Pas.
"Makasih Mbak."
"Sama-sama buk."
Raysa menenteng plastik yang berisikan lontong itu masuk kedalam ruangan nya. Raysa menikmati lontong tersebut dengan perasaan yang?? entah lah, Raysa sendiri tak bisa mengatakannya.
Di tempat lain, Fatih menatap ke luar jendela. Sebenarnya sudah dua hari lalu Fatih berada di Bandung. Namun, ia masih terlalu malas untuk kembali ke apartemen. Jadilah Fatih menginap di hotel.
"Sudah sampai Bos." Ujar Romi membuyarkan lamunan Fatih.
Fatih melihat sekitarnya, benar saja jika dirinya sudah sampai di kantor sang Mami. Hari ini Fatih ada rapat penting, jadi dia harus hadir sebagai pengganti sang Mami.
__ADS_1
"Pagi Bos Fatih." Sapa Satpamnyang baru saja membuka kan pintu untuk Fatih.
"Pagi .."
Fatih berjalan dengan gagah dan di dampingi oleh Romi.
"Pagi Bos Fatih." Sapa resepsionis.
"Pagi."
"Pagi Bos Fatih." Ujar seorang pria yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Fatih di dekat meja resepsionis.
"Pagi, Gimana laporannya?"
Fatih menerima berkas yang di berikan oleh Sekretaris nya yang ada di perusahaan Mami Mili.
"Semua produk kosmetik yang akan di luncurkan sudah di uji coba Bos."
Fatih mendengar penjelasan sekretarisnya yang bernama Azam tersebut sambil melihat laporan yang ada di tangannya dengan sekilas.
Tanpa sadar, Azam terus berbicara hingga mereka tiba di ruangan Fatih.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Fatih kepada Azam.
"Sudah Bos."
"Kamu?" Tanya Fatih kepada Romi.
"Belum Bos." Romi menunjukkan sederet gigi nya.
"Siap Bos." Azam menundukan sedikit tubuh memberi hormat dan keluar dari ruangan Fatih.
Romi merasa tak enak karena sudah merepotkan Azam, sekretaris yang belum sempat lagi berkenalan dengannya.
Tak berapa lama Azam datang bersama OB dan membawa dua piring nasi gurih dengan lauk ayam dan dua gelas air putih beserta kopi.
"Zam, saya ganti sama coklat panas ya. Maaf, lupa bilang tadi.
"Iya Pak, kalau???" Azam melihat kearah Romi yang masih berdiri di sebelahnya.
"Ah, Pe-perkenalkan nama saya Romi. Saya sekretaris Bos Fatih di Art.build." Romi mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Azam.
"Saya Azam. Jadi, minumnya mau di ganti?"
"Ah, tidak. Saya suka kopi kok. Terima kasih."
Fatih tak memperdulikan kedua sekretarisnya. Dia harus mempelajari laporan yang di berikan oleh Azam tadi kepadanya.
Setelah Azam pamit keluar untuk membuat coklat panas untuk sang Bos, Fatih pun menyuruh Romi untuk menghabiskan sarapan nya dengan cepat.
Romi duduk di sofa dan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Sedangkan Fatih masih tetap berada di meja kebesarannya.
"Huuff ..." Fatih menghela napasnya lelah. Andai saja Mami Mili tak keguguran waktu itu, mungkin saat ini dirinya sudah memiliki adik seorang laki-laki. Dan Fatih tak akan serepot ini.
Banyaknya perusahaan Moza membuat Fatih Sampai kebagian untuk mengurusnya. Padahal perusahaan sang Papi saja sudah membuatnya pusing, gimana dua coba.
Tapi tak hanya dirinya yang mengurus dua pekerjaan sekaligus. Arash yang berprofesi sebagai perwira polisi terkadang juga ikut membantu Veer di perusahaan. Begitupun dengan Abash, kembarannya Arash. Walaupun ia memiliki perusahaan sendiri dalam bidang IT, namun tak jarang Abash juga sering membantu perusahaan Moza di padatnya aktivitas nya sehari-hati.
__ADS_1
Ini adalah titah kakek Farel, di mana setiap keturunannya harus ikut campur tangan di perusahaan Moza. Kecuali untuk perempuan, mereka tak akan dipaksa untuk bergabung dengan perusahaan Moza. Namun, jika mereka menginginkan untuk bergabung, maka di persilahkan dengan segala hormat.
Azzam kembali masuk dengan membawa secangkir coklat panas untuk Fatih.
"Terima kasih." Ujar Fatih dan meraih gelas coklat tersebut.
Fatih menyesap nya secara perlahan. Rasa coklat yang manis dan sedikit pait membuat Fatih lebih menikmati nya dengan merilekskan fikirannya.
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, Waktunya rapat akan segera di mulai. Fatih bersiap dan bergegas menuju ruang rapat dengan di ikuti oleh dua sekretaris nya.
Romi hanya diam saja karena memang dia tak memilki pekerjaan di perusahaan milik Mami Mili. Atau memang belum di berikan pekerjaan oleh Fatih.
Rapat berjalan dengan lancar. Kosmetik ayang akan segera di luncurkan tak memiliki Luhan apapun dari 10 wanita yang sudah mereka uji coba. Dan pasti nya sudah membayar mahal.
Jam sudah sudah menunjukkan pukul 11 lewat 39 menit. Sebentar lagi waktu nya istirahat. Fatih mengajak Azam dan Romi untuk duduk di cafe. Menghilangkan penat sejenak sambil membahas pekerjaan yang akan di berikan kepada Romi.
"Jadi Rom, mulai sekarang kamu juga akan membantu Azam di saat kita sedang mengurus perusahaan Mami. Dan pada saat kamu berada diperusahaan saya, kamu akan membantu Rara."
"Mak-maksud Bos? Saya tetap menjadi sekretaris Bos?" Tanya Romi dengan terkejut.
"Kenapa? kamu gak suka?"
"Suka Bos. Suka banget .. " Romi tak berhenti tersenyum.
Fatih dan Azam hanya geleng-gekeng kepala. Belum tahu saja Romi jika dirinya sebentar lagi akan tersiksa.
Pelayan datang dan memberikan buku menu kepada Fatih dan Azam.
"Pesan apa pun yang kalian inginkan." Ujar Fatih kepada keduanya.
Fatih memilih memesan spageti dengan topping jamur dan juga sosis. Dan minum nya jus buah Naga.
Fatih masih fokus dengan laporan yang ada di tangannya. Hingga pesanan makanan mereka pun tiba. Fatih merasa sangat lapar dan menghabiskan sepiring spageti dengan cepat.
Romi yang melihat Fatih menghabiskan makanannya dengan cepat pun, ia berusaha untuk mempercepat makannya.
"Santai aja, gak ada yang ngejar juga. Di sini kita cukup santai-santai aja, sebelum kerjaan berat menghampiri." Ujar Fatih kepada Romi.
Romi menganggukkan kepalanya, ia melirik kearah Azam yang terlihat sudah terbiasa dengan sifat Bos nya itu.
Fatih masih fokus dengan laporan Yang ada di tangannya, hingga seorang wanita cantik berpakaian seragam polisi menghampiri meja nya.
"Kapan kamu balik ke sini?"
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1