Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 3


__ADS_3

\=\= Malaikat tak bersayap \=\=


Matahari kian menurun, langit pun mulai gelap, bersama hujan yang semakin lebat. Fatih berlari menginjak tanah yang basah dan becek, tanpa memperdulikan pakaiannya yang mahal.


" Layca..." Teriaknya setelah berada di dekat Raysa..


Fatih langsung memeluk tubuh Raysa, memangku kepalanya yang berdarah.


" Laycaaa...." Teriaknya lagi, berusaha membangunkan gadis yang di cintai ya sedari kecil. Namun mata Raysa sudah tertutup rapat dengan darah yang terus mengalir dari keningnya.


Tanpa menunggu waktu lagi, Fatih langsung membopong tubuh Raysa, dan Farhan yang baru saja sampai ke dekat Fatih dan Raysa pun, langsung membuka jaketnya dan menyelimuti Raysa.


Farhan berlari di belakang Fatih, berjaga agar Fatih dan Raysa tak terjatuh tergelincir karena tanah yang basah.


Setelah berada di Villa, Farhan langsung berteriak untuk mengambil kunci mobil kepada penjaga Villa. Pak tua yang selalu menjaga Villa pun tergopoh-gopoh berlari kedalam, dan mengambil kunci mobil.


Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, dengan Fatih yang memangku Raysa di bangku penumpang.


"Ca, kamu gadis kuat. Kamu harus kuat." Monolog Fatih yang terus memeluk Raysa dengan air matanya yang terjatuh.


Farhan memandang mereka berdua dari balik kaca spion tengah.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter mengatakan jika Raysa banyak mengeluarkan darah, dan membutuhkan donor darah secepatnya.


Farhan yang memang memiliki golongan darah yang sama dengan Raysa pun menawarkan diri, hingga dokter memeriksa kondisi tubuh Farhan.


Farhan keluar dari ruangan dokter dengan wajah kecewa dan merasa bersalah.


" Ada apa?" Tanya Fatih tak sabar.


" Dua hari lalu gue baru konsumsi obat tidur. Jadi dokter melarang gue buat mendonorkan darah." Farhan meremas rambutnya.


Fatih menggeram dan meninju tembok. Namun, sayup-sayuo Fatih mendengar jika ada pasien yang membutuhkan golongan darah B. Ia bersedia mengganti darahnya demi mendapatkan golongan darah B, yang saat ini juga sedang kosong stok di rumah sakit.


" Apa golongan darah Bapak?" Tanya Fatih saat sudah berada di depan orang tua pasien tersebut.


" O, golongan darah saya O."


Fatih tersenyum, ia merasa Tuhan masih berpihak kepadanya.


" Golongan darah saya B, Saya bersedia mendonorkan berapapun kantung darah saya, asal bapak rela mendonorkan berapapun kantong darah bapak untuk teman saya."


" Saya bersedia."


Dokter langsung memeriksa kesehatan Fatih dan Bapak tersebut. Bagaikan menemukan titik terang di dalam kegelapan, Keduanya di nyatakan sehat dan bisa melakukan pendonoran darah.


Fatih mendonorkan 5 kantung darah, sedangkan Raysa hanya butuh 2 kantung darah.


" Terima kasih, terima kasih banyak anak muda." Ujar Bapak tersebut sambil menggenggam tangan Fatih.


" Sama-sama"


Wajah Fatih sudah pucat, tubuhnya sudah terlihat lemas. Farhan langsung membeli dari kacang hijau untuk mengembalikan kondisi Fatih.


" Istirahat lah." Ujar Farhan kepada Fatih.


" Gue mau liat Raysa." lirihnya.

__ADS_1


Farhan tak membantah, ia membantu Fatih untuk menemui Raysa yang masih belum sadarkan diri. Tadi, saat Fatih sedang mendonorkan darahnya, Farhan sudah menghubungi Bunda Sasa dan Daddy Bara, memberikan kabar jika Raysa terjatuh dan berada di rumah sakit. Bunda Sasa dan Daddy Bara langsung berangkat saat itu juga.


*


Gerakan tangan Raysa terlihat oleh Daddy Bara. Bunda Sasa langsung menggenggam tangan putri kesayangannya itu.


" Sayang, Bunda di sini."


" Bun-da." Lirihnya.


Raysa perlahan membuka matanya, di lihatnya satu-satu orang yang ada di ruangan tersebut. Ada Fatih dan Farhan juga di sana. Raysa mengalihkan perhatiannya kepada tiang infus. Terdapat kantong darah di sana, sepertinya Raysa mendapatkan donor darah.


" Jam be-rapa se-karang Bun-da" lirih nya.


" Sudah jam 9 pagi sayang."


Raysa tau, jika dirinya sudah tertidur sangat lama. Dan bisa di pastikan bukan darah Daddy Bara yang mengalir saat ini. Hanya ada satu orang yang golongan darahnya sama dengan dirinya selain Daddy bara, yaitu Farhan.


Yaa.. Farhan.. pasti Farhan..


Raysa alihkan pandangannya kepada Farhan.


" Terima kasih." Lirih nya.


Farhan membeku, tak hanya Farhan, semua orang di situ ikut terdiam mendengar ucapan terima kasih Raysa kepada Farhan.


Bunda Sasa mengalihkan perhatiannya kepada Fatih. Pria yang sedang beranjak dewasa itu hanya tersenyum, dan menghembuskan napasnya dengan normal. Ada guratan rasa lega di wajahnya.


Yaahh, yang Fatih fikirkan adalah kesehatan Raysa, bukan siapa yang akan mendapatkan ucapan terima kasih dari Raysa. Bagi Fatih, itu bukan hal yang penting.


*


" Hah? oh.. gak papa. Kamu mau lagi apel ya?"


" Gak, aku dah kenyang."


Raysa melihat ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Farhan, namun Raysa tak berani untuk menanyakannya.


" Gimana sayang? Udah enakan?" Bunda Sasa baru saja masuk kedalam ruangan Raysa.


" Lumayan Bunda, udah ga terlalu pusing lagi."


Raysa menatap kearah pintu, tak ada Daddy Bara dan Fatih di belakang Bunda.


" Kamu cari Fatih? atau Daddy?"


" dua-dua nya. Kemana mereka? kenapa gak kembali bersama Bunda?"


" Mereka masih ngopi. Biasalah, Daddy kamu kalo udah jumpa Fatih pasti ngobrol nya lama.


Tanpa Raysa ketahui, jika saat ini Fatih juga sedang dirawat. Setelah mendonorkan darahnya, Fatih bersikeras untuk menjaga Raysa, tanpa memperdulikan kesehatan tubuhnya. Fatih tak tidur semalaman, ia terus setia berada di sisi Raysa. hingga saat Raysa terbangun.


Saat Fatih mengajak Bunda Sasa dan Daddy Bara untuk sarapan, di saat itu lah Fatih kehilangan kesadarannya, tepat saat mereka berada di kantin. Daddy Bara membopong tubuh Fatih untuk di bawa ke IGD. Setelah sadar, Fatih meminta kepada Bunda Sasa dan Daddy Bara untuk tidak mengatakan tentang keadaannya kepada Raysa.. Fatih memohon, hingga Daddy Bara pun menganggukkan kepalanya.


Dan, semua pengorbanan Fatih untuk Raysa, hanya menjadi sebuah rahasia. Karena Fatih tak ingin Raysa merasa berhutang Budi kepada nya karena telah menyelamatkan diri Raysa.


Daddy Bara kembali tanpa Fatih di belakangnya.

__ADS_1


" Fatih mana?" Tanya nya kepada sang Daddy.


" Fatih? oh, Papi Gilang nyuruh dia buat lihat proyek yang ada di Bandung."


" Kenapa gak pamit sama aku?" kesal Raysa.


Entah kenapa, Raysa merasa kesal karena Fatih tak pamit kepada dirinya. Raysa kesal, karena Fatih tak kembali melihat keadaannya. Padahal Raysa mendengar semua tangisan Fatih saat dirinya tak sadarkan diri. Menyuruh dirinya bertahan, dan tidak meninggalkan Fatih.


" Kamu rindu Fatih?" Goda Bunda Sasa.


" Gak juga. Hanya saja, aneh aja gitu Fatih pergi tanpa bilang-bilang."


" Mungkin Fatih buru-buru. Kamu tau sendiri kan kerjaan Papi Gilang gimana."


Raysa hanya menghela napasnya, ia merasa ada yang aneh dengan Fatih.


*


" Gimana Fatih?" Tanya Bunda Sasa kepada Mami Mili.


" Udah mendingan, demam nya juga udah turun."


" Syukurlah.."


Bunda Sasa menatap wajah Fatih yang tertidur pulas.


" Raysa belum tau kan kalo Fatih di rawat?" Mami Mili hanya memastikan saja.


" Belum, lagian Fatih gak ngizinin buat ngasih tau Raysa."


" Mbak tau sendiri Fatih gimana kan?"


Bunda Sasa menganggukkan kepalanya. Ingatan bunda Sasa kembali saat Raysa dan Fatih kecil. Di mana Kue Raysa terjatuh, dan ia menuduh Fatih yang menjatuhkannya, padahal Fatih tak menjatuhkannya, Fatih hanya memungutnya dan berencana menggantikan kue milik nya untuk Raysa. Dan Fatih tak berusaha untuk menjelaskannya kepada Raysa, ia memilih diam dan membiarkan Raysa menyalahinya, dari pada Raysa harus marah kepada Kayla atau Zein yang sebenarnya pelaku utama yang menjatuhi cake milik Raysa.


" Fatih bagaikan malaikat pelindung bagi Raysa. Malaikat yang tak terlihat." Monolog Bunda Sasa sambil menatap wajah tenang Fatih.


" Aku berharap mereka berjodoh Mbak, tapi tetap aja kan, kita gak bisa memaksakan perasaan seseorang, lagi pula sedari kecil juga Raysa dan Farhan sudah memiliki ikatan tersendiri."


Bunda Sasa hanya mengelus bahu Mami Mili, dan menenangkan perasaan nya.


*


Hari ini Raysa sudah bisa keluar dari rumah sakit, namun Fatih belum juga memunculkan batang hidungnya.


" Ica nyari siapa?"


Raysa yang ketahuan celingak- celinguk pun akhirnya menggeleng.


Di sana, di balik tembok, Fatih bersembunyi dan mengantarkan Raysa dari jauh. Ia ingin sekali rasanya berdebat dengan Raysa karna hanya dengan cara itu, Raysa bisa berbicara dan mengungkapkan kekesalannya, dan Fatih akan selalu siap menjadi tempat kekesalan Raysa.


" Kamu gak mau nyamperin Raysa?"


Fatih menoleh kepada sang Mami yang entah kapan berada di sebelahnya.


" Dengan baju rumah sakit? dan tiang infus? gak Mi, Fatih gak mau di kasihani oleh Raysa."


Mami Mili pun mengelus kepala Fatih. Di dalam hati berdoa, Agae sang putra mendapatkan kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2