Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 125


__ADS_3

"Aww, pelan-pelan, Bang." ringis Raysa saat Fatih mengurut dadanya.


"Iya, ini juga udah pelan-oelan."


"Aww, sakit ..." ringis Raysa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Fatih mengankat tangannya dari dada Raysa. "Ya udah, kompres aja ya, aku juga gak tega lihat kamu kesakitan gini." Iba Fatih


"Iya, kompres aja," jawab Raysa dengan pasrah.


Fatih mengambil handuk kecil dan merendamnya ke air hangat. Kemudian di letakkan di atas dada Raysa.


"Segini amat ternyata perjuangan seorang ibu. Dari perjuangannya saat hamil, trus melahirkan, sekarang perjuangan demi ASI yang melimpah," ujar Fatih dengan menghela napasnya pelan.


"Makanya, Abang harus baik-baik sama istri, trus, jangan durhaka sama Mami," ujar Raysa sambil mengulum senyumnya.


"Siapa yang gak baik sama istri? Abang baik banget tau. Suami siaga dari sebelum kamu hamil. Trus, kalau sama Mami, Abang juga gak durhaka. Abang cuma ngebandel aja dikit," ujar Fatih sambil tertawa.


"Iih, sama aja itu. Abang sering buat Mami marah-marah."


"Itu kan dulu. Namanya juga jiwa muda masih meronta-ronta, tapi sekarang kan gak lagi. Abang anak laki-laki yang paling balik di keluarga," ucap Fatih dengan bangga.


"Ya iya lah, secara Abang satu-satunya anak laki-laki Mami."


Malam ini, mereka habiskan waktu bersama dengan mengobrol ringan, sambil mengingat bagaimana nakalnya Fatih kecil dulu.


"Kamu juga nakal, manjat pohon jambu, eh gak bisa turun. Padahal bunda udah larang buat jangan manjat, kamunya degil, gak denger. Pas turun, malah gak bisa turun," ledek Fatih mengingatkan masa kecil mereka.


"Dan Abang jadi pahlawan aku. Kalau di ingat-ingat. Abang sering banget ya jadi pahlawan aku. Abang selalu ada untuk aku."


"Iya, tapi kamu aja yang gak peka waktu itu. Terlalu fokus dengan Farhan," ujar Fatih dengan wajah di buat-buat ngambek.


"Iih, udah deh, gak usah bahas yang itu. Lagian Abang juga yang sering buat aku kesal. Selalu aja ngerecoin aku."


"Itu karena aku mencari perhatian kamu." Fatih mencuil hidung Raysa.


Raysa menangkup wajah Fatih dengan kedua tangannya. "Sekarang, perhatian aku, bahkan cinta aku, semuanya untuk Abang." Raysa mendekatkan wajahnya dan ******* bibir Fatih dengan lembut.


Fatih langsung menahan kepala Raysa dan memperdalam ciumannya. Tangannya bergerak untuk menyentuh sesuatu yang sudah menjadi favoritnya.


"Aww..." ringis Raysa saat gundukan kembarnya di remas lembut oleh Fatih sehingga ciuman yang memabukkan itu pun terlepas.


Lembut sih emang, tapi saat ini gundukan itu sedang keras, terbentuk sedikit aja perihnya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya air mata yang mampu menjelaskannya.

__ADS_1


"Maaf.. maaf ..." sesal Fatih dan mengecup kedua tangan Raysa.


*


"Aww, sakit... pelan-pelan, Buk." jerit Raysa dari dalam kamar.


Fatih sudah geram sendiri dan mondar mandir di depan pintu kamar.


"Duduk kenapa, Fatih? Pusing Opa lihat kamu mondar mandir gitu," ujar Opa Roy sambil membenarkan korannya.


"Gimana mau tenang, Opa? Raysa di dalam sepertinya sedang di aniaya," ujar Fatih dengan frustasi.


"Namanya juga sedang di urut. Lagi pula, di dalam kamar kan ada Bunda dan Mami. Tenang ajalah. Duduk sini, ngopi dulu," ujar Opa Roy sambil menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


Fatih menghela napasnya pelan, pria itu mendudukkan dirinya di kursi dengan perasaan harap-harap cemas.


Saat Bunda Sasa dan Oma Shella dulu, pertama kali melahirkan anak mereka. bunda Sasa dan Oma Shella tak sulit untuk mendapatkan ASI. ASI mereka keluar dengan lancar, kalau pun nyendar, cukup di kompres air hangat, kemudian di urut pelan aja, pasti langsung lancar kembali. Jadi, Bunda Sasa dan Oma Shella tak merasakan bagaimana sakitnya jika ASI mampet.


Pintu kamar terbuka, Fatih langsung berdiri saat melihat Mami Mili keluar bersama Ibuk-ibuk yang mengurut Raysa tadi.


"Ini suaminya nak Raysa?" tanya ibu urut tersebut.


"Iya," jawab Fatih dengan nada yang terdengar sedikit kesal.


"Ge-gerakan memutar? Gimana caranya?" tanya Fatih gugup.


"Di tunjukin aja, Buk, caranya. Biar gak bingung." ujar mami Mili.


"Ya udah kalau gitu, Ayo, biar Ibuk tunjukin."


Mami Mili dan ibuk urut pun kembali masuk ke dalam kamar Raysa, Fatih mengekor dari belakang.


Terlihat oleh Fatih, di mana Raysa masih membalut tubuhnya dengan menggunakan kain sarung.


"Kenapa?" tanya Bunda Sasa saat melihat Mami Mili dan Ibuk urut kembali masuk ke dalam kamar.


"Ini, mau ngajarin Fatih cara mengurut dada Ica," ujar Mami Mili.


"Maaf ya, Nak Raysa." ujar Buk urut sambil melepaskan kaitan kain sarung di dada Raysa.


Fatih menelan ludahnya, saat melihat dada itu terlihat membengkak lebih besar dari sebelumnya.


"Caranya begini, di olesi dulu dengan minyak, kemudian di urut pelan dengan gerakan melingkar seperti ini,"

__ADS_1


Fatih hanya mengangguk dengan menahan sesuatu yang bergerak di bawahnya. Dada Raysa terlihat sangat seksi dan besar. Fokus Fatih pun tiba-tiba saja terbagi.


"Itu di dengerin dan di lihat caranya, pikirannya jangan melayang ke mana-mana!" tegur Mami Mili yang mana membuat wajah Fatih memerah.


*


Raysa tersenyum puas, saat ASI hasil dari pomp-nya mencapai 50ml. Kemarin-kemarin, hanya mencari 5ml atau 10ml, membuat Raysa sedih.


"Pelan-pelan, nanti juga bakal bertambah banyak kok. Yang penting, ASI booster-nya jangan berhenti di minum," ujar Bunda Sasa.


"Iya, Bun."


"Pagi, Mamud!" sapa Kayla yang baru saja masuk ke dalam kamar Raysa.


Raysa tersenyum, akhirnya julukan Mamud itu dapat ia rasakan. Mamud itu adalah singkatan dari Mama Muda.


"Devan mana?" tanya Bunda Sasa.


"Devan sama Papinya, berjemur." Kayla duduk di sebuah baby Rayyan yang memang sedang membuka matanya.


Rayyan dan Reyhan tengah di jemur di dekat jendela kamar yang terbuka dan masuk cahaya matahari.


"Fatih mana? tumben pagi-pagi gak nampak batang hidungnya?" tanya Kayla.


"Abang Fatih lagi antar Mami dan Papi, mereka akan berangkat ke Jepang pagi ini, ada urusan yang gak bisa di wakilkan."


"Pasti Papi Gilang kesal banget, karena ganggu waktu liburnya," ujar Kayla sambil terkekeh.


"Banget, Papi sampai marah-marah gitu. Kesal dia. Hari ini kan waktunya menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya," tambah Raysa.


"Iya, hari ini Daddy kalian gak punya saingan," ujar Bunda Sasa yang ikut nimbrung dengan percakapan kedua putrinya itu.


"siapa yang gak punya saingan?" ujar Daddy Bara sambil masuk ke dalam kamar sang putri.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin


Jangan lupa like and komen.


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA


salam rindu Tissa dan Farhan

__ADS_1


__ADS_2