Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 147 " Ibrahim Prayoga Bahari"


__ADS_3

Sasa dengan jantung berdegup kencang menunggu dengan gemetaran, berapa gariskah yang akan di munculkan oleh si tespect tersebut.


" Sayang.." panggil Bara dari luar kamar mandi.


Tak ada jawaban dari Sasa, Bara pun merasa khawatir dan membuka pintu kamar mandi tersebut. Ia melihat Sasa tengah menatap tespect yang ada di tangannya. mungkin hasilnya sudah keluar.


Bara berjalan mendekat dan memegang bahu Sasa. Sasa pun mendongakkan wajahnya, dan memberikan hasil tespect itu kepada Bara.


" Mas.. Hikks.. Aku... hiks.."


Sasa tersenyum dalam tangisnya, walaupun sebenarnya ada rasa sedih, sedih karena harus memberhentikan memberi ASI kepada Raysa.


Bara mengucap syukur di dalam hati, dan mengecup bibir Sasa.


" kamu gak papa kan?"


Sasa mengangguk. " Aku gak papa Mas.. Hiikss. aku bahagia, hikkss.. aku gak nyangka kalo Allah kasih kecpercayaan lagi kepada aku secepat ini.. hikkss.. aku sangat bersyukur Mas."


" Iya sayang, aku juga.."


Kabar kehamilan Sasa dengan cepat tersebar. Tak butuh waktu lama berita itu tersebar, apalagi Sasa memiliki mertua yang heboh, yang langsung membuat video call kepada Vina dan Kesya.


Vina dna Kesya sampai berloncat-loncatan mendengar kabar tersebut.


" Key, jangan loncat-loncat, ingat, kamu juga lagi hamil itu.."


Ya, Kesya tengah hamil anak ketiga mereka, dan usia kandungannya sudah memasuki 6 bulan. Lagi, Kesya mendapatkan bayi kembar di dalam perutnya.


Betapa bahagianya Kakek Farel saat mendengar akan mendapatkan cucu lagi, dan lagi-lagi kembar. Kesya dan Arka memang sepakat untuk tidak membatasi berapa anak yang di karuniai kepada mereka. Berapapun Allah berikan, Arka dan Kesya akan sangat senang menerimanya. Begitu pun dengan Bara dan Sasa, yang memang ingin memiliki anak banyak.


" Mungil, biar aku gendong Raysa nya." Bara langsung mengejar Sasa yang baru saja ingin memandikan Raysa.


" Aku gak papa Mas,"


" Aku hanya tak ingin kamu kelelahan "


" lebay iih.."


Sasa memperhatikan Bara yang tengah memandikan putri mereka.


" Raysa mau adik? " Tanya Bara tiba-tiba.


Seolah mengerti, Raysa pun menganggukkan kepalanya. Bara tersenyum senang sambil mengedipkan matanya kepada Sasa.


" Gak sia-sia masuk di dalam sayang." bisiknya.


" iiih, dasar kamu Mas, beruang madu yang mesum."


Delapan bulan kemudian...

__ADS_1


" Ica sayang, jangan lari-lari sayang"


Sasa yang tengah hamil besar pun kewalahan mengejar Raysa.


Raysa mengejar Bara yang baru saja pulang kerja dengan menggunakan motor sport nya.


Raysa berseru meminta naik keatas motor, dan di ajak keliling-keliling komplek. Sudah kebiasaan Bara membawa Raysa keliling komplek sepulang dirinya kerja.


" Bunda mau ikut?" Tawar Bara yang melihat Sasa berdiri di teras.


" Ntar makan bakso di taman deh.." rayu Bara.


Sasa menganggukkan kepalanya, dan ikut naik keatas motor. Bara melajukan motornya dengan pelan, setelah Sasa meletakkan tangannya di pinggang.


Sasa menegur setiap warga komplek yang berada di depan rumahnya, sudah kebiasaan Sasa menyapa tetangga. Sehingga para tetangga sangat menyukai Sasa. Pemikiran jelek mereka tentang Sasa pun berubah, mereka bahkan sangat membela Sasa dan memuji Sasa.


.


.


" Mas, kemarin Riko kirim pesan ke aku."


Bara yang ingin menyendokkan bakso kedlaam mulutnya pun, urung di lakukannya.


"Mau ngapain dia? bukannya udah nikah yaa, ngapain dia masih hubungi istri orang?" Gerutu Bara kesal.


" Tanyain kabar, sekalian ngundang kita ke acara ulang tahun anaknya."


" 4 tahun kalo gak salah aku. Kan duluan istri dia hamil nya baru aku."


" hmm, siapa nama anaknya?"


" Farhan kalo gak salah."


" OOO..."


Sebenarnya Bara malas bertanya, tapi ia tak ingin merasa ketahuan cemburuan dengan masa lalu mungilnya, padahal Bara tau jika mungilnya tak pernah mencintai siapapun kecuali dirinya. Namun rasa cemburu selalu saja menghantui Bara, padahal waktu sama Lia, Bara tak merasakan hal ini. mungkin ini lah yang namanya jodoh, kita tak pernah tau. terkadang, cinta belum tentu itu benar cinta, lebih ke rasa tertarik, kagum, dan ingin memiliki. bukan memiliki karena cinta, dan cinta, dapat di buktikan jika kita takut kehilangan dan cemburu. itu lah bumbu dari cinta.


.


.


Sasa meringis dan terbangun di tengah Malam. Bara yang merasa pergerakan pun labgsung dengan sigap terduduk dan melihat keadaan sang istri.


" Sakit Mas.. Akkh.." Sasa mulai mengatur napasnya. mungkin ini saatnya anak kedua mereka melihat dunia.


Bara dengan sigap menghubungi Daddy Roy, yang berada di sebelah kamar mereka. Daddy Roy terbangun dan membangunkan Mami Shella.


" Mas, kamu di rumah, jaga Raysa.. aku mau lihat cucuku." ujar Mami Shella.

__ADS_1


" Aku juga mau lihat cucuku, sayang."


Hingga akhirnya Daddy Roy menghubungi Nazar, dan meminta untuk melihat cucu mereka. Vina sedang tak ada di rumahnya, karena mereka menginap di rumah Kakek Farel.


Bara seakan kembali pada ingatannya saat Sasa melahirkan Raysa. Seolah ini adalah anak pertama mereka, Bara juga berteriak histeris saat Anggun kembali membuka jalan keluar bayi. Bara rasanya ingin pingsan, namun suara tangis sang bayi berjenis laki-laki membuat Bara mengucap syukur dan menangis terharu.


.


.


Ibrahim Prayoga Bahari.


Daddy Roy berebutan untuk menggendong Ibra, sehingga Raysa merasa tercueki.


" Hikks.." Isak tangis Raysa langsung ditangkap oleh indra pendengaran Bara dan Sasa. Bara langsung menggendong Raysa.


" Kenapa sayang?"


" Oma cama opa gak cayang ica.. hikks.. huaa..."


Pecah tangis Raysa, sehingga membuat Mami Shella dan Daddy Roy merasa bersalah.


Beberapa tahun kemudian.


"Ya Allah Quin.. Anak cewek kok hobinya manjat pohon sih.." Bara sudah memicit keningnya.


"Sayang, ingat. Kamu juga punya anak perempuan"


Bara menoleh kearah putri nya dan anak-anak Kesya yang lain, yang sedang memainkan mainanan yang sudah berserakan di lantai. Bahkan susu mereka pun juga sudah bertumpahan.


"Hah, Ayoo..Ayoo... Ikut Daddy, kita mandi di kolam karet.."


Bara menyiapkan kolam yang sudah di pompanya tadi, dan mengisi air serta bola-bola warna warni di dalamnya. Anak-anak langsung menyerbu kearah Bara. Ada yang berjalan dengan tertatih, ada yang merangkak, dan bahkan berlari dan memeluk kaki Bara yang jenjang. Sasa tersenyum melihat pemandangan indah itu. Rumah Mami Shella sudah bagaikan playgroup bagi anak-anak Kesya, Vina, dan Bara. Bahkan Anggelina juga akrab dengan Sasa dan Bara, Bahkan memanggil mereka dengan panggilan Bunda dan Daddy. Tidak hanya Anggelina, anak-anak dari Kesya dan Vina pun juga memanggil dengan sebutan yang sama.


"Maaf ya Mbak, Udah ngerepotin. Gimana kehamilan anak ketiganya Mbak?" Kesya mengelus perut Sasa yang masih rata.


" Alhamdulillah, tidak ada mual-mual seperti kehamilan sebelumnya".


Kesya dan Sasa pun berbincang seputaran kehamilan Sasa dan anak-anak mereka. Hingga Vina datang dan ikut bergabung bersama mereka.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2