Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 81


__ADS_3

Berita pertunangan Kayla dan Zein membuat Raysa tak menyangka jika ternyata mereka benar-benar memiliki hubungan. Raysa fikir apa yang di katakan oleh Quin adalah sebuah guyonan. Raysa adalah saksi hidup bagaimana mereka besar bersama. Zein selalu menyayangi Anggel, Kayla, dan dirinya bagaikan adiknya sendiri. Zein melindungi mereka bertiga bagaikan seoarang kakak yang selalu menjadi pahlwan bagi adik-adiknya.


“Aku benar-benar gak percaya, bang.” Ujar Raysa yang menatap wajah Fatih di layar ponsel keluaran terbarunya yang ada lambang apel tergigit oleh pangeran. Hadiah dari pemberian sang Mami mertua.


Lihatlah, belum apa-apa saja Raysa sudah mendapatkan hadiah berupa barang mewah dari sang Mami mertua. Bagaimana jika Raysa sudah menjadi menantunya? Apalagi Raysa akan melahirkan keturunan dari Papi Gilang.


 “Iya, mungkin jika kamu juga ada di sini, kamu akan tertawa di saat mereka ingin membatalkan pertunangannya, namun saat mengetahui siapa yang menjadi tunangannya, mereka langsung terdiam dan mematung. Lucu banget deh pokoknya.”


“Kaya kita ya Bang, gak nyangka aja gitu bisa tunangan.”


 “Iya ...”


“Oh ya, abang kapan kembali ke sini?”


“Insya Allah lusa udah balik ke sana, kenapa? Rindu ya?”


Raysa menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang. Ah, indahnya jatuh cinta.


 *


Tissa berjalan keluar dar koridor rumah sakit, tanpa sengaja ia menabrak seseorang saat dirinya sedang memerika pesan yang masuk di dalam ponselnya.


 “Maaf”, ujar Tissa tanpa menoleh kepada orang yang tanpa ia tabrak itu.


Lagi pula, hanya lengannya saja yang Tissa tabrak, sebenarnya bisa di katakan bukan menabrak, lebih tepatnya menyenggol orang tersebut.


“Hei, hanya maaf?”


Tissa menghentikan langkahnya, ia menoleh ksumber suara yang sangat familiar.


 “Farhan? Maaf, aku terlalu fokus pada ponselku.”


 “Kebiasaan buruk yang harus di hilangkan. Bermain ponsel di saat berjalan.”


 Ya, kamu benar.” Tissa menyengir, entah kenapa saat kejadian dirinya sakit perut dan harus buang air besar di setiap tempat yang bisa ia singgahi pun, Tissa merasa malu dan tak berani menghubungi Farhan. Bahkan Tissa menolak ajakan Farhan untuk sekedar makan siang atau pun makan malam.


 “Kamu sudah makan?”


“Su-sudah.” Bohong, tentu saja Tissa berbohong.


“Loh, masih di sini?”


 Tissa dan Farhan pun menoleh ke arah sumber suara, di mana telah berdiri seorang dokter berumur mungkin sebaya dengan Papi nya Farhan.


“Dokter.”


“Ingat Tissa, kamu gak boleh telat makan dan jauhi makanan pedas untuk beberapa waktu ini.”


“Baik dok,”


“Kalo gitu saya permisi dulu.”


Tissa dan Farhan pun memberikan senyuman kepada dokter tersebut.


“Kamu sakit?” Tanya Farhan setelah dokter lai-laki tersebut menjauhi mereka.


“Maag ku kumat.”


Farhan menoleh ke arah pergelangan tangannya yang mana terbelit sebuah jam mahal, yang menambah tampilan Farhan semakin keren dan elegant.


“Sudah jam setengah dua bels, aku yakin kamu belum makan. Ayo ..”


 “Eh ...” Tissa terkesiap di saat Farhan meraih tangannya dan menggenggamnya.


“Farhan, aku bawa mobil.” Ujar Tissa saat mereka sudah berada di dekat mobil Farhan.


Farhan memindai parkiran dan menemukan mobil Tissa terparkir tak jauh dari sana. Farhan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Tissa hanya memperhatikan apa yang Farhan lakukan.


“Jemput mobil saya di rumah sakit harapan sehat.” Setelah mengatakan itu, Farhan kembali menyimpan ponselnya.


“Ayo ...” Farhan menarik kembali tangan Tissa dengan lembut menuju mobil Tissa.


Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah restoran mewah yang sudah Tissa tebak harga seporsi makanan di sini bisa mencapai jajannya dua hari. Itu pun kali Tissa kalo gak boros alias kere. He .. he..he..


“Farhan, kenapa kita makan di sini. Jujur saja, aku gak akan mampu membalas kamu. Asal kamu tau, aku harus bekerja keras demi mentraktir kamu lain kali untuk makan di restoran mewah seperti ini.” Ujar Tissa dengan mimik wajah yang sangat lucu menurut Farhan.


Farhan pun tertawa mendengar ucapan Tissa yang sangat lucu.


“Kok ketawa sih?”


 “Sa, aku gak minta kamu balas aku untuk mentraktir aku di sini. Tapi, jika kamu memang ingin membalas dan mentraktir aku, aku bisa kok makan di mana aja.”


“Yakin? Gimana kalo nasi padang?”


“Gak masalah, aku suka.”


“Warteg?”


“Its oke, perut aku gak akan masalah menerima makanan apapun.”


“Kamu serius? Emag kamu pernah makan di warteg? Biasanya kan orang kaya kayak kamu gak pernah makan di warteg.”


 “Aku pernah,”

__ADS_1


“Benarkah?”


Otak cantik Tissa pun langsung berfikir, “Ah, mungkin pernah makan bareng Raysa atau Fatih kali ya? secara mereka kan selalu dekat.” Batin Tissa.


 “Aku makan bersama karyawan ku.” Ujar Farhan seolah mengetahui apa yang Tissa fikirkan. Tissa pun menoleh kearah Farhan.


“Aku serius, aku makan di warteg bersama supir ku, kadang bersama satpam ku.”


Tissa membuka mulutnya tak percaya. “Benarkah?”


 “Hmm, mengenal Bunda Sasa mengajarkan aku untuk bisa berteman dengan siapapu, selagi mereka tak berbuat buruk kepada ku.”


“Ahh, begitu ...” Tissa mengangguk-anggukan kepalanya.


 ‘Wajar aja sih, Bunda Sasa itu orangnya ramah banget dan merakyat. Gak hanya Bunda Sasa, tapi keluarga Moza juga semuanya seperti itu. Mereka gak malu-malu makan di pinggir jalan bersama dengan para pengemis dan anak-anak jalanan.’ Batin Tissa yang memang nge-fans kepada keluarga Moza tersebut.


 Ngarep jadi mantu, eh yang mau di jadiin suami umur-nya pada di bawah Tissa semua. Mana mau Tissa, setidaknya sebaya lah dengan dirinya. Tapi, kalo emmanggak ada yang ke cantol ya kamu gimana lagi. Fatih yang termasuk keluarga Moza pun, Tissa tak tertarik. Eh tertariknya malah dengan CEO yang terdengar dingin dan


pendiam. Huff, nasib-nasib.


“Gini deh, gimana kalo besok aku jemput kamu, terus kita makan di warteg langganan aku?” Ujar Farhan yang melihat Tissa terdiam melamun seolah memikirkan sesuatu.


Tissa membelalakkan matanya tak pecaya dengan apa yang ia dengar. Farhan memiliki warteg langganan? Itu artinya ia serius dengan apa yang ia katakan. Baiklah, kita lihat saja besok, apa benar Farhan memang memiliki warteg langganan, jika ia, pasti ibu si penjual bakal menyapanya dengan ramah.


 “Baiklah, aku penasaran dengan warteg langganan kamu.”


Pelayan mengantarkan pesanan makanan Tissa dan Farhan. Mereka pun menikmati makan tersebut dengan di selingi obrolan kecil.


“Makasih ya atas traktiran makan siangnya.” Ujar Tissa yang mana sedang mengantarkan Farhan ke kantornya.


“Baiklah, sampai jumpa besok. Makasih sudah mengantarkan aku.”


“Sama-sama.”


“Ingat, obatnya jangan lupa di minum ya, “


“Iya, pak dokter.”


“Dokter komputer sakit maksud kamu?”


Tissa terkekeh dan menganggukkan kepalanya.


*


Pagi ini di hebohkan dengan berita tentang Quin dan Abi yang melakukan hal tidak patut di contoh. Dimana belum lama ini Quin menjadi pusat perhatian masyarakat karena kebaikannya, kecantikannya, dan juga bagaimana dermawannya Quin selama ini. Quin yang di kenal suka menolong orang yang ada di sekitarnya yang


membutuhkan dan juga  suka menjadi realwan di panti asuhan serta panti jompo yang di abwah asuhan Bunda Sasa. Dimana keluarga Moza menjadi donatur tetapnya.


 “Iya, kayaknya ada yang mau main-main deh sama Quin.”


“Siapa ya? perasaan Mbak Quin gak punya musuh ya?”


“Quin memang gak punya musuh, tapi banyak juga orang yang yang gak suka dengan Quin karena iri.”


 “Hmm, hatinya penuh bisikan set*n itu.”


“Iya,”


“Trus, apa yang akan Papa Arka lakukan?”


“Apa lagi? Selain melakukan konferensi pers dan juga menampilkan video akad nikah Quin dan Abi.”


“Hmm, seharunya mereka jangan nikah diam-diam ya. Kita juga ikut andil di dalamnya.”


“Iya,” Fatih terkekeh mengingat di saaat mereka di hukum oleh Papa Arka.


“Oh ya, aku ntar malam ada pesta. Kamu mau ikut gak?”


“Gak ah, malu.”


“Kenapa?”


“Abang tau sendiri kan kalo aku gak pernah pergi ke pesat, lagian aku gak punya gaun untuk ke pesta.”


 “Layca ... Layca ... kayak mau nikah sama siapa aja kamu. Lagian kalo udah nikah sama aku, kamu bakal sering pergi ke pesta areng aku. Masa iya aku punyaistri tapi kepestanya sendirian.”


“Tapi kan gak ada yang aku kenal di sana, Bang.”


“Ada aku, kamu tenang aja ya.”


Setelah menyelesaikan sarapanya, Tissa memebrikan kunci mobil yang Mama Kesya hadiah untuknya kepda Fatih. Jika ada Fatih di Bandung, maka Tissa akan menggunkaan mobil tersebut dan membiarkan Fatih yang membawa nya. Tissa belum siap mendengar nyinyiran teman-teman kantornya jika ia membawa mobil mewah tersebut.


 Setelah mengantarkan Raysa ke kantor polisi di mana tempat dirinya mengabdi, Fatih pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor miliknya.


“Sa, tunangan lo rupanya keturunan keluarga Moza ya?” Pekik Nanda yang baru mengetahui kabar menghebohkan tersebut.


“Eh, eng ...”


“Dan kam keponakannya Kesya Az-Zahra yang cantiknya kebangetan dan juga memiliki toko kue di mana-mana itu?”


Raysa hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


“Wah, kebangetan lo. Gak bilang-bilang kalo lo punya hubungan dengan Moza.”

__ADS_1


“Kenapa emangnya?”


 “Aduh, gue jadi minder temenan sama lo kalo gini, Pantes aja teman-teman lain pada ngomongin aku di belakang. Katanya aku sengaja deketin kamu karena kamu itu punya hubungan saudara dari salah satu keluarga Moza.”


Raysa terkekeh. “Biasa aja kali. Lagian lo temenan sama gue bukan karena latar belakang gue kan?”


“ya gak lah, gue tu temenan sama lo, karena ya lo tu asiknya di orangnya. Bisa di ajak kere bareng-bareng.”


Raysa hanya menggelengkan kepalanya, memang benar, saat tanggal tua ataupun di akhir bulan, mereka memang selalu mencari makanan murah agar menghemat uang saku mereka. Nanda ini bukan dari kalangan orang kaya, bahkan ia bisa menjadi polisi karena pernah dengan sigap menggantikan pembawa bendera saat upacara tujuh


belas agustus. Tanpa latihan, nanda mampu melakukannya dengan baik seolah Nanda telah terlatih untuk itu. Jadi bupati  kota saat itu menjamin nanda untuk membiayai kuliah Nanda hingga selesai, namun Nanda memilih untuk menjadi perwira polisi, dan Nanda impian Nanda pun tercapai. Nanda juga merangkap sebagai tulang punggung keluarga nya. Dimana sang ibu hanya bekerja sebagai tukang cuci, dan ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan harian.


“Oh ya, hubungan lo sama pacar lo gimana? Beneran gak bisa di perbaiki lagi?” tanya Raysa yang memang mengetahui jika sahabat seperjuangannya ini baru saja di putuskan oleh sang pacar karena perbedaan sosial mereka.


 “Hah, mau gimana lagi, namanya juga belum jodoh.”


 *


Fatih sudah mengirimkan pesan kepada Raysa bahwa dirinya sudah berada di depan kantornya.


“Lo yakin gak mau bareng kita?” tanya Raysa yang mana sedari tadi menawarkan untuk mengantarkan Nanda sampai kost nya, yang mana tak jauh dari kantor mereka. Nanda biasanya membawa motor, tapi berhubung motornya harus menginap di bengkel, jadi Nandaberangkat dengan berjalan kaki.


“Enggak deh, gak enak gue sama lakik lo.”


 “Gue udah tanya kok ke dia, katanya gak papa. Ayook lah..”


“Gak ah, malu gue. Takut ganggu.”


Raysa berdecak kesal. “Kalo gak gue gak mau temenan sama lo lagi.”


“Ih, ngancam dia.”


“Makanya, ayook.”


Nanda pun menghela napasnya pelan, hingga akhirnya mengikuti kekeraskepalaan Raysa untuk mengantarkannya pulang.


“Hai, aku Fatih, tunangan Layca dan sebentar lagi akan menjadi suami Layca.” Ujar Fatih sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Nanda.


 “Nanda, temannya Raysa.”


“Oh ya, kamu ada acara gak?” tanya Fatih to the point.


“Eng-enggak, kenapa?”


Raysa sebenarnya juga penasaran kenapa Fatih menanyakan hal itu kepada Nanda.


“Teman aku ada yang lagi cari pasangan ke pesta, kamu mau ikut gak? Sekalian biar Layca ada temennya juga di sana.”


“Aduh, gimana ya? saya gak pernah pergi ke pesta.”


“Gak papa, Cuma pesta biasa aja kok. Mau gak, mau ya ...” Bujuk Fatih.


Nanda menoleh kearah Raysa yang duduk di sebelah Fatih, yang mana Raysa juga sedang menoleh kearahnya.


“Siapa Teman abang?”


“Momol.”


Raysa menganggukkan kepalanya, Raysa sudah mengenal Momol, dan menurut cerita dari Fatih, momol ini anaknya baik dan solatnya juga msih ada, walaupun subuh sering lewat, jadi Raysa tak ragu untuk mengajak Nanda menjadi pasangan Momol.


Berkat bujukan Raysa, akhirnya nanda pun menyetujui.


“Kita ke butik dulu ya, aku udah suruh Momol nyusul ke sana.”


Sesampainya di butik, Nanda berkenalan dengan pria bernama Momol. Orangnya kocak dan juga asyik, Nanda pun merasa tak seberapa canggung.


 “Wow, cantik bangeet kamu Nanda?” puji Momol saat melihat Nanda menggunakan gaun yang ia pilihkan tadi.


“Terima kasih”


 “Fat, habis dari sini gue bakal bawa bapak RT, RW, Kepala Desa, tetangga, dan keluarga gue ke rumah Nanda.”


 “Ngapain?”


“Lamar dia lah. Sebelum di lamar orang. Dari pada gue kecolongan teman gue lagi.”


Fatih terkekeh di saat mengingat dirinya memperkenalkan Raysa sebagai adik sepupunya, namun sekarang Raysa malah menjadi tunangannya. Momol merajuk sampai guling-guling kasur karena kesal dengan Fatih. Momol terlanjur jatuh cinta kepada wanita berambut pendek. Dan nanda, sungguh cantik dengan penampilan rambut pendeknya.


 “Polwan-polwan sekarang suka bikin khilaf ya.” ujarnya kepada Nanda.


“Hah?”


**


Hai .. hai ... Aku mau minta tolong dong.


Mampir ke Novel ku yang baru netas ya ..


Judulnya : Twins A and Miss Ceriwis.


Jangan lupa di Favoritkan dan like nya ya ...


Salam dari Abang Fatih dan Layca ...

__ADS_1


__ADS_2