
"Hai semua" Sapa Kesya.
" Mbak Kesya!!!" Pekik Lena dan Sasa berbarengan. Kemudian di susul oleh Bela dan Ica.
Sasa dan Lena langsung berlari memeluk Kesya.
" Uppsss pelan-pelan" Ujar Kesya sambil tertawa.
" Ya ampun mbak, kangen banget tau" Ujar Lena.
"Wah, 2 bulan gak ketemu Mbak Kesya, makin cantik aja" Tambah Sasa
" Iih, kamu Sa. apanya yang cantik, gosong iya kulitnya."
Mereka pun tertawa. Tak berapa lama Fadil dan Puput pun masuk kedalam toko. Mata Kesya langsung tertuju kearah tangan mereka yang saling bergandengan.
" Duh, penganten baru. Oleh-oleh buat gue udah jadi belum?" Ujar Puput langsung menggoda Kesya.
" Doa kan saja ya."
setelah lepas kangen dan berpelukan dengan Sasa, Lena, Bela, dan Ica. Puput dan Kesya pun duduk di salah satu bangku cafe, Fadil sedang menerima panggilan telepon. Hingga tak berapa lama Ando datang bersama Tante Ana. Dan terlihat mereka mengobrol dengan akrab.
Tak berapa lama Kesya permisi meninggalkan Tante Ana, Ando, dan Puput. Kesya menghampiri Sasa, dan masuk ke ruangannya.
" Jadi gimana penjualan kita? "
Kesya mendengarkan dengan serius penjelasan dari Sasa. Dalam hati Kesya bangga, Sasa ternyata bisa di andalkan. Kesya memperhatikan wajah Sasa, terlihat sangat polos tanpa make up, tapi kenapa sangat nikmat untuk dinoandang. Kesya yang perempuan saja gak bosan-bosannya memandang wajah Sasa, apa lagi mendengar suara Sasa saat menjelaskan. Adem aja gitu suaranya. Mungkin kalo jadi penyiar, Kesya bisa kalah ni dari Sasa. Kesya tersenyum dengan pemikirannya.
Kesya dan Sasa keluar dari ruangan kerja Kesya yang berada di lantai 2. Kesya langsung memasang wajah cemberut saat mendapati wajah Bara yang tersenyum sumringah. Sedangkan Sasa seperti biasa, memandang wajah Datar dan tidak melirik ke arah Bara sama sekali. Padahal Sasa tau, jika Bara juga melihat ke arahnya.
" Gak usah senyum-senyum" ketus Kesya.
" Iih, adek Mas masih ngambek aja. Nih, Mas ada sesuatu untuk kamu"
Kesya dengan wajah cemberut mengikuti Bara duduk di cafe. Kesya mengedarkan pandangannya, sudah tidak ada lagi Puput, Ando dan Tante Ana. Lalu Fadil ke mana?
" Sa, tolong bantuin gue" Teriak Fadil yang kesusahan membuka pintu karena membawa 1 karung tepung.
Kesya yang mendengar teriakan Fadil langsung saja mengarahkan pandangannya ke arah Fadi yang tengah membawa satu karung tepung.
Dengan gerak cepat Sasa membantu Fadil. "Ada lagi?" Tanya Sasa.
"Banyak tu di mobil" tunjuk Fadil kearah luar.
Sasa keluar dan membantu mengangkat barang belanjaan yang dikirimkan oleh toko langganan Kesya.
Kesya terkejut saat melihat Bara yang tiba-tiba saja berdiri, dan mengambil alih semua barang yang berada di tangan Sasa. Kesya mengerutkan keningnya.
" Kamu itu udah mungil, Jangan bawa yang berat-berat, nanti makin mungil" Ujar Bara dan meraih barang belanjaan yang ada di tangan Sasa.
Kesya melihat kearah Bara yang memandang Sasa dengan berbeda. Tapi tidak dengan Sasa, yang terlihat ada rasa tidak suka dan tidak nyaman berada di dekat Bara.
Sasa menghela napas kasar, malas berdebat dengan manusia batu seperti Bara api sialan itu. Sasa kembali keluar dan mengambil sisa belanjaan.
" Bandel banget sih dibilangin, Sini" Bara merampas barang yang ada di tangan Sasa lagi.
__ADS_1
" Aduh, udah deh. Gak usah sok baik sama gue. Gue udah biasa bawa barang berat. Jadi Lo gak usah sok kasihan" Kesal Sasa. dan berjalan sambil menubruk lengan Bara.
" Aww"
Sasa berbalik saat mendengar rintihan Bara dan meraih tangan Bara. " Masih sakit?" Ujar Sasa yang tersirat rasa khawatir sambil memegang lengan Bara yang terluka beberapa hari lalu.
Bara tersenyum jahil, dan itu tertangkap oleh Sasa. Sasa memukul lengan Bara dan pergi meninggalkannya.
Bukkk..
"Aw, itu beneran sakit."
" Makanya gak usah usil"
Semua tingkah mereka tidak luput dari pandangan Kesya. Kesya berfikir apa yang terjadi dengan Bara. Pasalnya Bara termasuk susah akamrab dengan wanita. Baik sih iya, tapi tidak seakrab ini, seakrab Diri Bara dengan Sasa.
" Ada apa Mas Bara dengan Sasa?" Tanya Kesya entah kepada siapa, yang jelas saat ini ada Fadil yang baru duduk di dekatnya.
" Ntah, kayaknya Bara suka deh sama Sasa." Timpa Fadil.
Kesya melihat kearah Fadil. " Mas Bara itu orangnya setia, gak mungkin Mas Bara dengan mudah bisa berpaling" Kesya kembali melihat kearah Bara yang terlihat masih mengganggu Sasa.
Sebenarnya hati Kesya membenarkan perkataan Fadil, namun otaknya berkata jika Bara adalah orang yang setia. Kesya tau seberapa besar perjuangan Bara menaklukkan hati Lia, tunangan Bara. Dan tidak mungkin semudah itu Bara bisa berpindah kelain hati.
Lamunan Kesya buyar karena mendapatkan ciuman di keningnya dari Arka. Kesya sampai tidak sadar akan kehadiran suaminya.
" Mas"
" Ngelamunin apa?"
" Ar, kapan sampai"
" Saat Mas gombalin karyawan terbaik di sini"
Tawa Bara seketika pecah. " Bisa aja Lo Ar"
Tak berapa lama Lia datang dengan masih menggunakan seragamnya. Lia sempat tersenyum kepada Sasa, dan Sasa pun membalasnya. Tak berapa lama Sasa berjalan cepat kearah belakang. Kepala nya tiba-tiba saja sangat pusing.
" Kesya"
" Mbak Lia"
Mereka pun bercipika cipiki. Kemudian Kesya mengenalkan Arka kepada Lia. Karena saat pernikahan Kesya dan Arka, Lia tidak bisa hadir.
" Kenalin Mbak, ini suami aku"
" Hai, aku Lia, tunangannya Bara"
" Arka"
Arka mengerutkan keningnya, sepertinya dia tidak asing dengan wajah Lia. Tapi di mana? Ah mungkin pernah liat di salah satu album foto milik Kesya dan Bara.
Obrolan pun terjadi, Arka mengirim pesan kepada Fadil, karena wajah Lia menganggu fikirannya. Fadil membalas pesan Arka, dan betapa terkejutnya Arka saat membaca pesan Fadil. Untungnya Arka langsung dapat menguasai ekspresinya. Entah kenapa, Arka merasa seperti Lia memanfaatkan Bara.
Arka dan Kesya pamit undur diri, karena mereka harus pergi ke tempat Gilang. Mereka sudah ada janji di sana.
__ADS_1
" Sa, saya pamit dulu ya. Oh ya, jangan lupa oleh-oleh nya di bagi"
" Siap Bos ku yang cantik" Ujar Sasa dengan senyum yang sangat manis. Dan itu terekam di memori Bara.
" Gue kaya obat nyamuk disini. Gue pamit juga ya" Ujar Fadil, karena melihat Lia yang terlihat bermanja-manja denagn Bara. Bahkan Lia tak segan-segan menggenggam tangan Bara. Fadil melihat gelagat Bara yang terlihat tidak nyaman, dan sekali-kali ke arah Sasa.
'Naksir beneran nih orang dengan Sasa' Batin Fadil dan berdoa semoga kebusukan Lia cepat ketahuan.
" Sa, gue balik ya." Pamit Fadil.
" Hmm, hati-hati ya. Oh ya, lain kali kalo ke mari bawa batagor yang di simpang kantor Lo Napa?"
" Okey, kalo gue gak lupa"
" Gue doain Lo selalu ingat" Ujar Sasa dan tertawa bersama Fadil.
Bara mengepalkan tangannya yang bebas dari rangkulan Lia. Mungkin Buku-buku jari Bara sudah terlihat memutih karena melihat Sasa tersenyum dengan pria lain. Walaupun itu Fadil, tapi dia tidak suka. Sangat tidak.
Drrrtt... Drrtt...
Ponsel Lia bergetar, Lia langsung melepas tangannya dari lengan Bara. Bara sempat melirik kearah ponsel Lia, namun Lia seoerti menutupinya.
" Hmm... Halo"
"......."
" Hmmm"
"......"
"Hmmmm"
"........"
" Siap, Laksanakan"
Lia memutuskan panggilannya.
" Siapa?" Tanya Bara.
" Oh, Biasa, kerjaan." Jeda Lia dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. " Sayang, kayaknya aku gak bisa makan siang sama kamu. Maaf ya, ada kerjaan yang harus aku kerjakan. Oh ya, kalo tidak besok, lusa aku udah kembali ke Bandung"
" Hmm, oke. Gak masalah" Dalam hati Bara bersorak senang. Dia seperti terbebas dari ulat berbisa. Tapi entah kenapa dia bingung bagaimana cara mereka untuk berpisah. Bara belum mendapatkan caranya.
" Antar aku sampai ke mobil ya" Ujar Lia manja.
Bara mengikuti kemauan Lia, Lia menyuruhnya masuk dan duduk di bangku penumpang. Kata Lia ada hal yang ingin di bicarakan dengannya secara pribadi.
Bara membelalakan matanya saat mengetahui Sasa melihat apa yang terjadi antara dirinya dan Lia.
'Sial, semoga saja mungil tidak salah paham' Batin Bara.
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)