
Sasa merasa iba melihat Bara harus membersihkan seluruh kamar mandi yang ada di kantor tersebut.
" Kasian banget si Lo Bar, Kayak nya semenjak Lo sama Lia gak apes gini deh hidup Lo. Bahkan Lo sering dapat penghargaan." Ujar Teman Bara yang sedang melihat Bara membersihkan kamar Mandi.
" Namanya juga pejuang cinta. Kalo mulus-mulus aja, mana seru. Harus ada perjuangannya."
" Iyaa deh, semoga Lo langgeng aja sama calon binik Lo. Gue doain bahagia dunia akhirat."
" Thanks Bro."
" Eh, Btw, suara calon binik Lo bagus yaa.. Emak gue Sampek jatuh hati dengar nya. Katanya cocok jadi penyanyi."
" Ha...ha.. makasih bro pujiannya."
" Oke lah, gue balik yaa.."
Pria itu pun meninggalkan Bara, tapi saat berada di depan pintu kamar mandi, dia melihat Sasa yang berdiri di sana dengan tatapan kosong.
" Mbak, " Pria yang bernama Rizal itu melambaikan tangannya di depan wajah Sasa.
" Eh.."
" Jangan berdiri, duduk aja Mbak di situ. Nanti pegel kakinya kalo berdiri lama"
" Iyaa, makasih.."
" Sama-sama Mbak" Pria itu pergi meninggalkan Sasa.
' Apa gue memang pembawa sial ya?' Batin Sasa sambil menatap kosong kearah pintu kamar mandi.
" Ck..CK..CK.. Gak nyangka aku, ternyata nyali kamu besar juga yaa"
Sasa langsung menoleh kearah sumber suara yang sangat di kenalinya. Dia Lia, mantan tunangan Bara. Sasa hanya menghela napas dan tidak ingin memperdulikan Lia.
" Lihat, gara-gara bela Lo, Bara jadi di hukum. Aku kasihan aja sama Bara, dia itu Perwira yang selalu mendapatkan penghargaan atas pekerjaannya dan tidak pernah melakukan kesalahan, tapi sekarang apa? Semenjak dia kenal Lo, hidupnya berantakan, bahkan dia sering mendapatkan hukuman. Jika begini bisa saja Bara kehilangan kenaikan pangkatnya jika terus-terusan membuat kesalahan." Lia mendekat ke arah Sasa, dan menundukkan sedikit kepalanya agar bisa berbisik ketelingan Sasa.
" Lo tau, Cita-cita Bara adalah menjadi Perwira polisi yang jujur, dan ingin mengharumkan seragamnya. Tapi apa yang Lo lakukan? Lo buat Bara mendapatkan hukuman dan me coreng nama baiknya. Kalo Lo sayang dan cinta sama Bara, seharusnya Lo tinggalin Bara, dan jangan membuat bara selalu sial berada di dekat Lo."
Lia menegakkan lagi tubuhnya, dan mengedipkan matanya sebelah sebelum melenggang pergi menjauhi Sasa. Sasa menghela napas kasar. Sasa kembali menatap pintu kamar mandi itu sejenak, dan kemudian dia beranjak ke kursi yang berada tak jauh dari sana.
Sendiri, dengan fikirannya. Sasa harus mengambil sebuah keputusan.
" Maaf ya lama" Bara datang dengan baju yang basah. Entah lah, apa itu basah karena keringat atau Bara memandikan dirinya di sana.
Sasa mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Kita pulang sekarang?"
Sasa menganggukkan kepalanya, Bara menggenggam tangan Sasa dan menuju ruangan komandannya untuk memberikan laporan.
" Bara.."
Bara mengehentikan langkah ya saat mendengar namanya di panggil. Bara menoleh kearah calon istri Joko tersebut.
" Mbak, adik aku mau ngobrol sama Mbak. Boleh?"
__ADS_1
Sasa menganggukkan kepalanya. Terlihat gadis berusia 14 tahun yang duduk di atas kursi roda itu sangat bahagia saat melihat Sasa melambai kearah nya.
Sasa mengobrol melalui panggilan video Dengan gadis bernama Vera itu.
" Kakak tenang aja, sebentaragi semua akan terbongkar, dan orang yang menjahati kakak akan tertangkap. Kakak yang sabar yaa.."
" Makasih sayang"
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sasa mengakhiri panggilan video tersebut.
" Adiknya manis ya Mbak, kalo boleh tau kaki ya kenapa?"
" Ooh, dari kecil memang memiliki kelainan sehingga dia tidak bisa berjalan. Tapi dia memiliki kelebiha lain, dia gadis indigo. Dia yang mengatakan kepada saya untuk tidak membenci kamu, karena dia yakin kamu tidka bersalah. Jika Vera sudah mengatakan itu, aku pasti yakin jika apa yang dikatakannya benar. karena selama ini Vera gak belum pernah salah dalam memprediksi."
Sasa tersenyum, " Makasih ya Mbak, udah gak membenci saya. Tolong sampaikan juga salam saya untuk Vera. "
" Pasti"
Sasa dan Bara pun melanjutkan kembali langkah mereka.
" Kamu kenapa sayang? Kok diem aja? hemm?"
Bara menoleh sekilas kearah Sasa. Karena Bara lagi mengemudikan mobilnya.
"Gak pa-pa. Mas, aku tiba-tiba kepingin masakan kamu"
" Oh yaa, mau di masakin apa?"
" Apa aja, yang penting kamu yang masak."
" Baiklah, stok makanan masih ada kan di kulkas?"
" Okey, kalo begitu kita menuju apartemen kamu yaa.."
Sasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
' Semoga keputusan aku benar Mas'
Sebelum memasak, Bara membersihkan dirinya dulu di apartemen Sasa. Bara memang sudah menyiapkan beberapa bajunya di apartemen Sasa.
Dengan lincah tangan Bara merajang bawang , Sasa hanya duduk dan memperhatikannya saja. Bara mulai memasak capcai dan cumi asam manis.
" Wanginya enak banget Mas. Perut aku udah keroncongan." Sasa memelum Bara dari belakang.
" Tumben banget kamu manja gini?"
" Hanya ingin saja. Kamu keberatan?"
" Tidak, biasanya jika siwanita nya sedang masak, masak si pria yang memeluknya dari belakang. Ini kok kebalikannya ya?"
" Kalo gitu, anggap saja kamu perempuan dan aku laki-laki"
" Mana bisa begitu, Kamu gak gak bisa hamilin aku.. Aww.." Bara meringis saat kulit perutnya di cubit oleh Sasa.
Di balik punggung Bara, Sasa tengah menahan air matanya agar tidak jatuh. Hidungnya menghirup aroma tubuh Bara sedalam-dalamnya.
__ADS_1
Bara selesai memasak, dan menu makanan sudah tersedia di atas meja.
" Enak banget Mas. Aku bakal rindu masakan kamu"
" Kalo rindu, aku akan memasaknya lagi untuk kamu"
Sasa seakan tersadar dengan ucapannya. Lalu dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Kamu benar Mas "
'Maaf Mas, aku rasa Lia benar, jika aku hanya pembawa sial untuk kamu. Aku rasa ini masakan kamu yang terakhir yang akan aku makan. Maafin aku Mas. Maafin aku.. Aku hanya tidak ingin menghancurkan karir kamu yang sudah susah payah kamu bangun. Maaf Mas, maaf.' batin Sasa.
Sasa mencuci piring bekas maka mereka.
" Mas" Pekik Sasa saat merasakan Bara memeluk nya dari belakang.
" Kenapa hmmm?"
" Aku lagi cuci piring loh Mas. Susah geraknya ini"
" Oh ya? Aku tadi lagi masak juga susah gerak nya." Bara mengecup pucuk kepala Sasa.
Sasa menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat. Sasa membalikkan tubuhnya, dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah tampan Bara.
" Kenapa?" Tanya Bara.
" Tidak ada." Sasa memeluk tubuh Bara, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara.
" Hah, Mas gak sabar bawa kamu pulang ke rumah."
" Mas, jalan-jalan ketaman yuukk"
" Tumben? di luar mendung loh"
"Mendung kan belum berarti hujan Mas."
" Iyaa deh iyaa. Yuukkk"
Sasa menggenggam erat tangan Bara di sepanjang taman yang mereka lewati. Jika di hari siang begini, dan cuaca mendung. Maka taman ini akan sepi. Karena taman ini biasanya ramai jika hari Minggu dan sore saja.
Air hujan yang tiba-tiba turun membasahi tubuhnya buah mereka berdua. Bara mengajak Sasa berlari untuk berteduh. Namun Sasa menahan tangan Bara sehingga langkah Bara pun terhenti.
" Mungil, jangan main hujan nanti sakit."
Sasa mendekat kearah Bara dan menarik jaket yang di gunakan Bara. Sasa menempelkan bibirnya di bibir Bara. Bara terkejut dengan perlakuan Sasa. Sasa melepaskan ciumannya.
" Aku mencintai mu Mas. Kamu yang pertama, dan selamanya akan hanya ada kamu"
Tanpa menunggu ucapan Sasa lagi, Bara menempelkan bibir nya ke bibir Sasa. Di lumatnya bibir Sasa Atas dan bawah. Sasa pun membalas ciuman Bara. Mereka berciuman di bawahnya deras hujan, tanpa memikirkan air hujan yang ikut masuk kedalam mulut mereka. Tidak peduli hujan yang membasahi tubuh mereka, Seakan tidak ada lagi hari esok. Mereka berciuman dengan penuh cinta, Sasa mengalungkan tangannya di leher Bara, dan Bara merapatkan tubuh mereka dengan memeluk pinggang Sasa erat.
Hah, untung lagi sepi...
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)