
Sudah seminggu berlalu. Raysa juga sudah sembuh total, Daddy Bara dan Bunda Sasa pun sudah kembali ke Jakarta. Raysa kembali memasak sarapan untuk dirinya dan Fatih. Walaupun hubungan mereka masih terasa canggung dan dingin.
Raysa juga sudah memilki mobil sendiri, hasil dari tabungannya yang tersimpan. Bukan mobil mewah sih, cuma mobil kecil yang umum di pakai orang banyak aja. Mobil minibus yang hanya dapat menampung 4 atau 5 orang saja.
Siang ini Raysa bersama teman-temannya akan makan siang di cafe milik Rian. Salah satu temannya ada yang berulang tahun dan mentraktir mereka semua di sana.
"Raysa kan?" Rian mencoba memyalabrausa yang bersama teman-temannya.
Awalnya Rian ragu karena Raysa terlihat berbeda dengan seragam polisinya. Rian tak menyangka jika sepupu dari temannya itu aadalah seorang polwan cantik. Ingin jadikan pacar, tapi saingannya Farhan si IT muda yang terkenal. Huff, kalah telak lah.
"Iya ...."
"Waah, ternyata kamu sangat cantik ya pakai seragam polwan. Aku sampai gak kenalin kalo gak baca nama kamu."
Raysa hanya tersenyum tipis.
"Mau makan bareng teman-temannya?"
"Iya, aku kesana dulu ya." Pamit Raysa.
"Oh, iya silahkan."
Raysa bergabung bersama teman-temannya. Acar makan siangnya pun berjalan dengan baik, hingga Raysa bertemu dengan Tissa.
"Raysa, bisa kita bicara berdua?" Tanya Tissa.
Raysa menganggukkan kepalanya. Di sinilah mereka, di sebuah meja yang mana di atasnya terdapat beberapa peralatan lukis milik Tissa.
"Kamu lusa bisa datangkan ke pameran lukisan aku?"
"Insya Allah ya kak,"
Ponsel Tissa berdering, sehingga Tissa pun pamit kepada Raysa untuk mengangkatnya.
Raysa melihat beberapa lukisan yang ada di atas meja. Raysa menajamkan penghilatannnya saat melihat sebuah lukisan seorang pria yang di gambar dari punggungnya. Ada tulisannya di sudut kiri bawah.
'Mr. F, aku mencintai mu. Aku harap, aku dan kamu bisa saling mencintai.'
Mr. F ?
Fikiran Raysa langsung menuju kepada Fatih. Siapa lagi yang dekat dengan Tissa jika bukan Fatih? Ingatan Raysa kembali saat sebelum dirinya mengalami kecelakaan.
Fatih yang berbohong kepada dirinya, yang mengatakan jika ia berada di kantor, akan tetapi Fatih di galeri milik Tissa. Mungkin mereka memang memiliki hubungan khusus. Jika tidak, bagaimana mungkin Fatih menyerah sebelum dirinya menikah dengan seseorang. Bukankah itu janji Fatih? mencintai dirinya hingga ada seorang pria yang di cintai oleh Raysa, dan mampu membuat Raysa bahagia.
"Maaf ya nunggu lama." Tissa kembali dan duduk di hadapan Raysa.
"Gak papa Kak."
"Oh ya, kamu udah makan?"
"Udah kak,"
"Aku pesanin minum mau?"
"Emm, gak usah kak. Lagian aku mau balik ke kantor."
"Oh iya, Maaf ya ... Eng, gini. Kamu marah sama aku ya?"
Raysa menaikkan alis nya sebelah. "Marah? kenapa?"
__ADS_1
"Gak tau juga sih kenapa, Tapi aku ngerasa kamu kayak gak suka sama aku."
Raysa terkekeh. "Perasaan kakak aja mungkin. Aku gak marah sama kakak."
Mata Raysa tanpa sengaja melihat kearah pergelangan tangan Tissa. Dimana Tissa menggunakan Jam tangan couple nya dengan Fatih. Tissa mengingat jika Fatih juga menggunakan jam tangan yang sama. Hati Raysa seakan tertusuk dengan pemikiran yang membuat nya semakin merasa sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku senang kalo kamu ternyata gak marah sama aku. Maaf ya, aku udah salah paham."
Raysa hanya tersenyum, namun senyum itu tak sampai ke matanya.
Setelah mengutarakan apa yang ingin Tissa katakan, Akhinya Raysa pun pamit karena harus kembali ke kantornya.
"Jangan lupa datang ya."
"Iya Kak, makasih ya."
"Pokoknya mulia sekarang kita harus semakin dekat. Okey ...."
"Sipp kak."
Raysa pun benar-benar pergi meninggalkan Tissa.
"Hmm, cewek yang manis. Beruntung Fatih jika bersamanya. Lihat saja Raysa, Aku pasti akan membuat kamu menyadari perasaan kamu kepada Fatih." Tissa memandang punggung Raysa hingga menghilang.
*
Pameran lukisan Tissa pun akhirnya tiba. Fatih sudah stanby membantu Tissa dari dua hari lalu.
Fatih berdiri menatap semua lukisan yang ada di dinding. Dengan menggunakan baju sweater dengan dipadukan jas warna coklat kehijauan, dan rambut yang di ikat. Membuat penampilan Fatih terlihat sangat tampan dan menarik.
"Gak nyangka gue, lukisan-lukisan Lo bagus-bagus juga ternyata." Fatih memuji lukisan-lukisan Tissa, saat wanita itu berjalan mendekatinya.
"Hu'um, kayak yang Lo bilang dulu. Gak ada usaha yang tidak akan membuahkan hasil. Maka dari itu, kalo berusaha itu jangan setengah-setengah. Ya kan?"
Arti sayang yang sebenarnya untuk sang Abang kepada Adiknya. Tanpa mereka sadari, jika ada dua pasang mata yang melihatnya.
*
Raysa merasakan ngilu di hati nya melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Farhan yang berada di sampingnya pun ikut menghentikan langkahnya saat Raysa menghentikan langkahnya.
Farhan mengikuti kemana arah pandangan Raysa. Farhan juga menyaksikan bagaimana Fatih tertawa lepas bersama Tissa.
Jika kalian menebak kalo Farhan sengaja mengajak Raysa ke pameran lukisan Tissa, Kalian salah. Raysa dan Farhan tak sengaja bertemu di parkiran. Farhan juga heran kenapa Tissa bisa berada di sana, dan Farhan sangat terkejut di saat Raysa mengatakan jika Raysa mengenal Tissa.
"Kamu mau pulang?" Tanya Farhan saat melihat mata Raysa berkaca-kaca.
"Hah? oh gak." Raysa mengalihkan pandanganya ke tempat lain.
"Lu-lukisannya bagus ya."
Farhan mengikuti arah pandang Raysa. Farhan tersenyum miring, Raysa nya telah mencintai orang lain.
Sedangkan di sudut lain, Tissa tersenyum mereka saat melihat pria Yang sedari tadi di tunggunya.
"Nape Lo?"
"Hah? oh, Mr. F gue udah di sini."
"Oh yaa? mana?"
__ADS_1
"Ayo, gue kenalin."
Posisi Raysa yang membelakangi Fatih dan Tissa pun, membuat Tissa dan Fatih tak mengetahui jika wanita yang tengah berbicara dengan Farhan adalah Raysa.
Fatih tak terlalu fokus dengan pria yang ingin di kenalkan oleh Tissa, melainkan Fatih lebih fokus kepada Wanita yang sedang berdiri membelakanginya. Postur tubuh itu sangat di kenali oleh Fatih.
"Farhan, kamu udah datang?"
Suara Tissa menyadarkan Fatih, Farhan, dan Raysa.
"Farhan?" lirih Fatih kemudian menoleh kepada Tissa.
Tissa yang melihat Farhan datang bersama Raysa pun ikut terkejut. Apa Farhan yang menjadi Mr. F itu adalah Farhan yang sama?
"Kalian?" Suara Tissa seolah kembali tertelan. Tissa memandang kearah Fatih. terlihat Fatih menghela napasnya dan mengelus punggung Tissa untuk menyuruhnya sabar.
"Farhan ini calon suami nya Raysa." Ujar Fatih membuat Raysa menatapnya dengan perasaan tak suka.
"Aah," Tissa mencoba untuk tertawa, namun tawa nya sangat terdengar garing di telinga Fatih.
"Kalian janjia?" Tanya Fatih memecahkan suasana.
"Kami bertemu di parkiran." Jawab Farhan.
Tissa sudah merasa mood nya langsung berubah. Tissa seolah tak memiliki semangat lagi. Fatih yang mengerti akan posisi sahabatnya itu pun berusaha untuk menghibur nya. Fatih tau, jika pria yang di juluki Mr. F oleh Tissa adalah Farhan. Terlihat dari wajah Tissa yang berubah sendu.
"Karena kita udah saling kenal, bagaimana kalo kita berkeliling melihat-lihat lukisannya?" usul Fatih yang di angguki oleh Farhan.
Fatih merangkul tubuh Tissa dan membawanya berkeliling menemani Farhan dan Raysa. Raysa menatap tangan Fatih yang menyentuh punggung Tissa. Ada rasa tak suka di benaknya. Seketika Raysa sangat membenci Tissa
"Ayoo ...."
Raysa terkejut saat Farhan menggenggam tangannya. Rasa kesalnya kepada Fatih membuat Raysa membiarkan Farhan menggenggam tangannya.
"Buk, ada wartawan yang ingin menemui Ibuk." Ujar Seorang pegawai Tissa.
Tissa memandang Fatih, seolah memohon dari matanya untuk Fatih menemaninya. Fatih mengangguk pelan menyetujui permintaan Tissa.
"Eem, Raysa, Farhan, kami permisi sebentar ya ... Silahkan melihat-lihat lukisannya."
"Silahkan." Jawab Farhan.
Raysa menatap benci kepada Tissa, karena Tissa menautkan tangannya di lengan Fatih.
"Jadi Nona Tissa, Mr. F yang di maksud itu apakah Tuan Fatih?" Tanya seorang wartawan.
Bukan tanpa alasan wartawan bertanya seperti itu, karena salah satu lukisan milik Tissa adalah sebuah siluet seorang pria yang bertuliskan Mr. F.
Tissa melirik kearah Fatih, Fatih pun menganggukan kepalanya untuk mengatakan 'Iya' kepada wartawan.
"Eemm, i-itu ... Iyaa ...." Jawabnya sambil meremas lengan Fatih.
Tanpa mereka ketahui, jika saat ini Raysa menatap benci kepada Tissa dan Fatih. Bahkan Raysa sudah mengepalkan tangannya hingga buku-buku jari nya memutih.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....