Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYS VS MR. F - 87


__ADS_3

 “Waah, tersanjung Gue sama kalian berdua.”


“Ini bentuk sogokan supaya Lo pulang sebelum Gue dan Layca  nikah.”


“Iya ... iyaa ... kan udah Gue bilang, kalo Gue bakal kembali sebulan sebelum Lo sama Raysa nikah. Gue juga mau dapat baju untuk menjadi bridesmaid Lo sama Raysa.”


“Pasti kak Tissa dapat kok, tenang aja.”


“Calon binik Lo baik bener, gak kayak Lo yang perhitungan.”


“Bodo’ amat. Cepat naik.” Titah Fatih yang memang masih duduk di dalam mobil.


“Koper Gue berat, angkatin nape?”


 “Iya ... Iya ....” Fatih keluar dari mobil dan membantu Tissa memasukkan koper super besarnya kedalam bagasi mobil.


“Huff, rasanya melelahkan sekali.” Ujar Tissa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.


 “Belum pergi kok udah lelah si Kak?”


“Hmm, lelah geret kopernya.” Ujar Tissa sambil menyengir.


“Kan ada rodanya.”


 “Tetap aja berat, Sa.”


“Iya sih, koper kakak besar banget.”


“Hmm, Di sana aku akan lama, mungkin sekitar 2 bulan. Dan, tidak ada waktu untuk ku berbelanja.”


“Sesibuk itu kah pelukis kak?”


“Hmm, Bisa di katakan seimbang dengan Fatih yang sebagai arsitek, dari pada Fatih yang seorang CEO.”


“Ah, aku mengerti sekarang. Kakak pasti tidak tidur demi memnyiapkan satu lukisan.”

__ADS_1


“Ya, bisa di katakan seperti itu.”


Fatih masuk kedalam mobil hingga pecakapan Raysa dan Tissa pun terhenti.


 “Kau tak ingin menghubungi seseorang?” tawar Fatih.


“Tidak, sebaiknya kita pergi sekarang.”


Fatih pun menuruti permintaan Tissa dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di kota lain, Farhan yang sedari tadi menatap kepada layar hitamnya tak bisa fokus karena memikirkan ucapan Tissa kepadanya saat Farhan mendatangi Tissa beberapa hari itu. Farhan ingin mengatakan jika dirinya mulai memiliki rasa dengan Tissa. Farhan telah memikirkan perasaaanya dan Farhan jug atelah menjumpai


Raysa dan Fatih.


Saat itu, Farhan meminta izin untuk menggenggam tangan Raysa, Fatih memberikan izin karena Farhan berkata hanya ingin memastikan perasaannya kepada Raysa, demi untuk meyakinkan perasaanya kepada wanita lain. Raysa berharap wanita itu adalah Tissa, namun Raysa ragu karena Raysa pernah melihat Farhan bersama dengan


seorang wanita cantik,  mereka bergandengan tangan masuk kedalam sebuah hotel mewah. Sedangkan Fati, sudah mengetahui siapa wanita yang Farhan maksudkan.


“Apa yang Lo rasakan?” Tanya Fatih yang jug agak rela sih jika tangan tunagannya di pegang dengan mesra oleh pria lain.


“Aku gak merasakan apapun. Perasaan berdebar seperti yang pernah aku rasakan dulu ke Ica gak ada lagi. Bahkan, sat aku menutup mata, bayangan gadis itu muncul.”


 “Kalo begitu, pergi dan katakan padanya jika Lo mencintai dia.”


Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan perasaan yang berbunga-bunga, namun Farhan harus menghentikan mobilnya di saat melihat sebuah kecelakaan di depan matanya. Farhan menghentikan mobilnya dan mmembantu korban kecelakaan tabrak lari tersebut.


 Di rumah sakit, Farhan tak sengaja melihat Tissa yang baru saja keluar dari ruangan Obgyn. Siapapun pasti tau jika yag memeriksa ke dokter kandungan adalah perempuan hamil ataupun yang memiliki masalah dengan rahimnya.


Farhan juga melihat jika wajah Tissa sembab, seperti baru saja menangis. Farhan pun langsung melangkahkan kakinya menuju wanita yang baru saja ia cintai itu.


“Tissa?” Panggil nya.


 Tissa menoleh dan terkejut mendapati Farhan berada di dekatnya.


“Farhan? Apa yang kamu lakukan di sini?” Tissa dengan cepat menyembunyikan hasil labnya, agar Farhan tak bertanya. Namun sayangnya Farhan sudah melihatnya.

__ADS_1


 “Apa itu? Kenapa kamu keluar dari sana?” Tunjuk farhan kearah ruang Obgyn.


 “A-aku hanya bertemu dengan teman ku.”


“Benarkah?” Farhan maju selangkah dan itu membuat Tissa waspada.


“Ya, itu benar. FARHAN.” Pekik Tissa saat Farhan merebut hasil lab yang ada di tangannya dengan gerakan cepat.


“Apa ini?” Tanay Farhan sambil menunjuk kearah kertas yang ada di tangannya.


“Itu tidak penting,” Tissa berusaha merebut kembali kertas itu. Farhan mengelak dan membuka kertas tersebut.


“Farhan jangan lancang.” Tissa berhasil merebut kertas dari hasil lab nya, namun ia terlambat, karena Farhan telah membacanya.


Farhan menatap nanar ke arah Tissa, ia merasa tak tahu apa yang harus ia lakukan pada wanita yang telah berhasil mencuri hatinya ini. Farhan bingung, harus menghiburnya? Atau menyatakan cintanya agar membuat Tissa senang?


Tanpa fikir panjang, Farhan meraih tangan Tissa dan menariknya untuk masuk kedalam mobilnya.


“Farhan lepas.” Tissa mencoba memberontak, namun Farhan seolah tuli dan terus menarik tangan Tissa.


 Farhan menyuruh Tissa masuk kedalam mobilnya, merasa sudah menajdi perhatian orang, Tissa pun kahirnya menurut agar tak menjadikannya bahan tontonan gratis.


“Katakan, katakan kalo hasil lab itu bukan milik mu.” Ujar Farhan dengan suara yang bergetar dan seakan tak menerima jika itu benar.


Tissa tersenyum samar, ia sudah menyadari hal ini akan terjadi. Mana mungkin ada pria yang mau menikahinya dengan kekurangan yang sangat besar. Ya, Tissa di vonis tak bisa memiliki seorang anak karena maag kronisnya mengganggu kesuburan rahimnya.


“Aku bukan perempuan sempurna seperti yang terlihat. Aku gak bisa hidup bersama siapapun, karena aku tak akan pernah bisa memberikan orang tersebut keturunan. Aku ini perempuan cacat, ini mungkin hukuman yang harus aku terima karena pernah berfikir buruk tentang Mama. Dan saat ini aku mendapatkan hukuman ku.”


 Ya, Tissa memiliki masalah dengan rahimnya. Saat itu Tissa sempat di rawat di rumah sakit selama seminggu. Dan itu hanya Fatih dan Raysa yang tahu. Bahkan asisten Tissa pun tidak mengetahuinya. Tissa hanya mengabarkan jika dirinya sedang berada di luar negri. Tissa sengaja memberikan alasan itu karena takut jika ada yang mencari diriya. Dan seperti yang Tissa duga, beberapa orang mencari dirinya, termasuk Farhan. Tissa mengubungi Fatih di saat dirinya benar-benar tak sanggup lagi menahan sakit perutnya. Fatih pun datang bersama dengan Raysa


dan membawanya ke rumah sakit. Tissa meminta kepada Fatih dan Raysa untuk tak mengatakan kepada siapapun jika dirinya sakit. Dan saat itu dokter menyarankan untuk memerika seluruh orga tubuh bagian perut Tissa.


“Setiap penyakit ada obatnya, aku yakin penyakit kamu pasti ada jalan keluarnya.”


“Aku lelah terus-terusan harus meminum obat. Selama ini aku harus mengkonsumsi obat agar maag ku tidak kambuh. Lagipula, kemungkinan itu sangat kecil. Siapa yang akan menikahi wanita yang kemungkinannya sangat kecil untuk memberikan keturunan.”

__ADS_1


“Aku, aku bersedia menikahi kamu.” Jawab Farhan cepat.


** Dapat salam dari TISSA dan FARHAN ..


__ADS_2