Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 47


__ADS_3

Mumpung Senin, jangan lupa kasih vote nya yaa..


****


Papi Gilang dan Mama Mili mengulum senyumnya saat melihat wajah kusut Fatih. Fatih masih saja cemberut dengan kejadian tadi pagi yang ketahuan mencuci seprai nya.


"Abaaangg..." Seru Steva dan memeluknya.


"Tumben hari Minggu udah rapi?" tanya Fatih dengan kening berkerut.


"Abang temani aku ke mall ya ..."


"Ngapain?"


"Iih, Abang, kan udah lama gak jalan-jalan sama Steva." Ujar Steva dengan manja.


"Iya, Steva mau ke mana?"


" Ke Mall, kan udah Steva bilang tadi."


"Iya ... Iya... Ke mall."


"Stev, kalo ada kakak kawan kamu yang perempuan, kenalin sama Abang kamu. mana tau jodoh." Goda Mami Mili sambil mengulum senyumnya.


"Iya Stev, kasian Abang kamu jomblo. Jomblo karatan." Tambah Papi Gilang, kemudian Terkikik bersama Mami Mili.


"Senang banget ngeledekin anak nya." Rajuk Fatih.


"Loh, siapa yang ngeledekin? Papi sama Mami kan cuma membuka jalan, supaya kamu gak jadi jomblo karatan dan gak sering main solo." Ujar Papi Gilang sambil Terkikik dan tersenyum.


"Iya, kalo ada teman duet kan enak." Tambah Mami Mili sambil tersenyum geli.


"Teman duet? emang nya Abang mau karaoke?" Tanya Steva polos.


Fatih hanya melirik kearah kedua orang tuanya yang saat ini mengulum senyumnya dan berpura-pura sibuk dengan sarapannya.


"Iya, kalau ada temen karaoke kan enak." Ujar Fatih mencoba membuat alur yang positif di pagi hari.


"Ooh, gampang itu. Nanti Steva ajak temen dan suruh bawa kakaknya. Mana tau bisa kecantol sama Abang." Ujar Steva dengan semangat.


Fatih hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia melirik kearah Papi Gilang dan Mami Mili yang masih tersenyum dalam kunyahan mereka.


"Sofi gak ikut?" Tanya Fatih saat melihat Sofi masih mengenakan pakaian santainya.


"Malas ah, Sofi mau di rumah aja. Rebahan cantik."


"Mana ada rebahan cantik sampai manggil pegawai salon untuk datang kerumah." Celetuk Steva.


"Mumpung ada Bang Fatih. Jadi bisa Abang yang bayarin. kapan lagi coba."


Fatih membelalakkan matanya, yang benar saja adiknya ini. Apa saat ini ia sedang di peras oleh adik nya sendiri. Huff, untung aja duit masuk dari sana sini banyak. Jadi tak Masalah bagi Fatih.

__ADS_1


Bagaimana tidak, sekalinya melakukan perawatan di rumah dengan menyuruh pegawai salon datang, biaya yang di keluarkan lebih banyak. Dan bahkan bukan hanya Sofi saja yang melajukan perawatan, tapi Mami dan Papi nya juga ikut melakukan perawatan.


"Kamu gak nyuruh satu orang buat datang kan Sof?" Ujar Mami Mili.


'Kan bener.' Batin Fatih.


"Ya gak lah Mi, mereka udah tau kebiasaan keluarga kita." Ujar Sofi sambil mengoles selai nenas di atas roti nya.


"Iyaa, Karena Mami juga mau melakukan perawatan. Kapan lagi kan di bayarin Abang. Mumpung di sini."


Fatih memutar bola matanya malas, perkataan Mami Mili seolah-olah Fatih tak pernah atau jarang mentraktir ibu nya itu. Tapi gak sepenuhnya salah juga, apa yang di katakan Mami Mili benar juga sih. Sejak dirinya menjalankan perusahaan yang di Bandung, Fatih sudah jarang mengajak adik-adiknya shoping dan juga Mami Mili.


"Oh ya, Mbak Ica tadi pagi telpon aku, katanya Mbak Raysa ada titip oleh-oleh ya untuk kami?" Tanya Sofi.


"Astaghfirullah, Abang lupa. Masih di dalam mobil Tissa." Ujar nya sambil menepuk jidatnya.


"Tissa?" seru Steva dan Sofi berbarengan.


"Teman Abang. Anaknya Tante Mira." Ujar Fatih sambil berdiri dan menuju kamarnya.


"Tante Mira yang sering ke sini ya Mi? bukannya anak Tante Mira yang cewek masih sekolah?" Tanya Sofi penasaran.


"Iya, Tante Mira memiliki anak lain dari suaminya. Namanya Kak Tissa."


"Kok Abang bisa kenal sama kak Tissa?"


"Ya bisa dong, Mami pernah Adain pertemuan perjodohan sama Kak Tissa. Tapi yaah, begitulah, Abang kamu sudah terlalu cinta sama Mbak Ica, jadi gak tertarik deh dengan Kak Tissa. Lagian Kak Tissa kayaknya juga belum ada kefikiran untuk menikah deh."


"Terus?"


"Kok kami gak tau?" Ujar Steva dan Sofi berbarengan.


Mami Mili hanya mengangkat kedua bahunya. Steva dan Sofi pun saling menatap dan bertanya melalui mata mereka.


"Udah, jangan fikir macam-macam. Cepat sarapan.


*


Fatih meraih ponselnya yang sedang mengisi daya baterai nya. Fatih mengaktifkan ponselnya yang saat di charge dalam keadaan mati total.


Cling ...


Satu pesan masuk dan menampilkan nama Raysa di sana. Senyum Fatih langsung mengembang di kala melihat jika Raysa mau menghubungi dirinya duluan, walaupun Fatih yakin jika Raysa pasti mengatakan pada dirinya bahwa tak salahnya sebagai adik bertanya tentang keadaan sang Abang.


Biarlah, yang penting Raysa mau bertanya duluan tentang keadaan dirinya. Padahal selama ini Fatih selalu memberikan kabar tanpa Raysa tanya atau Raysa mau tau tentang kabar dirinya.


Layca❤️ : Sibuk ya? kok gak kasih kabar? gimana kakak ipar? apa cantik? siapa namanya?"


Layca❤️ : Kamu belum kasih oleh-oleh yang aku titip untuk si kembar?


Fatih tersenyum memandang pesan yang di kirim oleh Layca nya. Jantung nya berdetak dengan cepat. Cinta nya untuk Layca masih tetap bersemi di dalam sana.

__ADS_1


Fatih terkejut saat sedang asyik memandang tulisan-tulisan yang dikirim oleh Layca untuknya, dan tiba-tiba saja nama Tissa muncul di sana. Dengan kesal Fatih menggeser tombol tersebut.


"Halo ..."


"Fat, di dalam mobil ku ada paperbag berisi beberapa baju dan juga boneka. Punya kamu kan?"


"Iya, punya gue. Nanti gue ambil."


"Oke, gue cuma mau mastiin aja kalo ini beneran punya Lo. Gue biarin di mobil aja ya. kalo di bawa turun ntar dikira punya mereka lagi." sungut Tissa.


"Iyaa, terserah sama Lo aja."


"Ya udah kalo gitu, Bye."


Tissa menutup panggilannya secara sepihak, membuat Fafih berdecak kesal. Fatih kembali fokus kepada layar ponselnya yang masih menampilkan pesan-pesan Layca nya kepada dirinya.


Fatih tersenyum dan juga terkejut di saat bersamaan, karena melihat sebuah pesan kembali masuk dengan emoticon cemberut dan marah, namun Fatih yang membayangkan wajah Raysa membuat Fatih tersenyum senang.


Layca❤️ : Kok di read doang sih? nyebelin😒 😤😡


Fatih langsung saja mendial nomor Layca nya, hingga terdengar nada dering, kemudian suara ucapan salam dari Raysa.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, maaf. Habis baterai tadi."


"terus kenapa udah di baca gak di balas?"


"Ooh, tadi pas aku baca, Tissa telpon, jadi aku angkat panggilan dari nya."


Tanpa Fatih ketahui, jika di seberang sana Raysa benar-benar cemberut dan memanyunkan bibirnya. Raysa merasa jika dirinya bukan lagi prioritas utama pada diri Fatih. Raysa mulai berfikiran jika bisa saja Fatih dan Tissa memilki perasaan yang terbalaskan. Bukankah dalam hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan bisa saja menimbulkan perasaan cinta? Karena seringnya waktu kebesamaan mereka dan juga mengenal lebih baik satu sama lainnya.


Tak mendengar suara layca nya, Fatih pun menatap ponselnya yang tadi nya berada di telinga, kemudian saat yakin jika ponselnya masih terhubung dengan panggilan Raysa, Fatih pun mencoba menegur Raysa kembali.


"Halo, Layca, kamu masih di sana kan?"


"Ya, aku di sini." lirih Raysa, yang mana terdengar seperti sebuah suara kekecewaan di telinga Fatih.


Fatih, sadarlah. Tak mungkin Raysa cemburu dengan mu dan Tissa, walaupun kamu berharap seperti itu. Bukankah Raysa sudah mengatakan dengan jelas bahwa dirinya hanya mencintai Farhan?


Hah, sebaiknya Fatih benar-benar membuat janji dengan dokter psikolog.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2