Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 128


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Oma Shella membukakan pintu untuk sang cucu menantu.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Fatih baru sampai dari luar kota. Rasa rindu dengan baby twins dan juga sang istri pun, membuat Fatih langsung balik setelah urusannya selesai. Jangan di tanya, seberapa letih Fatih saat ini.


"Langsung ambil air wudhu dulu ya, di kamar mandi belakang aja."


"Iya, Oma." Fatih pun menuruti apa perkataan sang Oma. Pria itu langsung mengambil air wudhu untuk mensucikan dirinya.


Kata orang tua dulu, kalau seseorang baru pulang dari perjalanan jauh, harus mencuci kakinya sebelum masuk rumah. Makanya rumah-rumah di jaman dulu selalu terdapat guci air di teras rumahnya. Itu bertujuan untuk mencuci kaki dan muka sebelum masuk ke dalam rumah.


"Bunda sama Daddy udah tidur ya, Oma?" tanya Fatih saat setelah selesai mengambi lair wudhu.


"Di dalam kamar kamu. Seharian Reyhan rewel terus. Tadi Oma lihat udah tenang sih, di gendong sama Opanya,"


Inilah alasan kenapa Fatih langsung pulang setelah urusannya selesai. Baru saja Oma Shella mengatakan jika Reyhan sudah tenang, kembali terdengar suara tangis dari sang anak.


"Oma, Fatih ke kamar ya," pamit Fatih.


"Iya, Oma juga udah ngantuk ini."


Oma Shella dan Fatih pun berpisah dan masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Udah pulang?" tanya Daddy Bara saat Fatih baru saja masuk ke dalam rumah.


"Iya, sini Reyhan-nya Dad."


"Ganti baju dulu," titah Daddy Bara.


Fatih menurut, pria itu mengambil baju dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Fatih udah pulang?" tanya Bunda Sasa yang terbangun dari tidurnya.


"Iya, lagi ganti baju di kamar mandi."


Bunda Sasa memeriksa kondisi Rayyan yang masih terlelap di dalam pelukan sang Mami.


"Loh, Bunda kebangun gara-gara Fatih ya?" tanya Fatih saat pria itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Enggak kok."


Fatih mengambil alih Reyhan dari gendongan sang Opa. Baru lima detik Reyhan berada di dalam gendingan sang papi, tangis bayi itu pun perlahan langsung memelan. MUlutnya menyedot kuat susu yang ada di dalam dodot.


Fatih menoleh ke arah Raysa yang terlihat sangat kelelahan.

__ADS_1


"Ica gak tidur seharain kemarin, makanya lelap banget tidurnya." jelas Bunda Sasa.


"Iya, Bun. Matanya udah kelihatan banget kantongnya. Fatih jadi meras bersalah dengan Layca."


"Bukan salah kamu, Lagi pula, sudah tugas kamu mencari nafkah, dan tugas Ica merawat anak."


"Tapi, merawat anak bukan hanya tgas Layca, tapi juga tugas Fatih."


Bunda Sasa tersenyum mendengar ucapan sang menantu. Andai saja seluruh suami dan ayah seperti pria-pria yang ada di dalam keluarganya, mungkin banyak sang istri dan ibu yang tak mengalami stres dalam mengurus anak. Di mana seorang ibu selalu melampiaskan rasa lelah dan stresnya denagn cara marah kepada anak mereka yang hanya melakukan kesalahan kecil.


"Bunda sama Daddy istirahat aja, eryhan biar fatih yang jaga."


"Kamu yakin?" tanya Bunda Sasa.


"Iya, nanti kalau Fatih butuh bantuan, Fatih bakal bilang ke Bunda kok."


"Baiklah, Bunda sama Daddy kembali ke kamar ya. Jangan segan-segan buat bangunin Bunda kalau butuh bantuan."


"Iya, Bun."


Setelah peninggalan Daddy Bara dan Bunda Sasa. Fatih mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur.


Fatih masih menepuk-nepuk pelan bokong Reyhan, hingga bayi mungil itu pun tertidur dengan lelap.


Fatih membaringkan dirinya, meletakkan Reyhan di bawah lengannya. Bayi mungil itu masih terlelpa dengan nyenyak. Aroma tubuh sang Papi seolah bagaikan aroma penenang baginya.


*


"Anteng banget?" lirih Raysa saat melihat baby Reyhan terbangun dan tak menangis di bawah ketiak sang papi.


Terdengar suara pintu di ketuk. Raysa bangkit dan membukakan pintu.


"Fatih udah bangun?" tanya Bunda Sasa yang membawakan sarapan untuk sang putri. Tak lupa dengan jamu khas melahirkan.


"Masih tidur, masuk, Bun, lihat Reyhan, anteng banget dia. Gak rewel."


Bunda Sasa pun masuk ke dalam kamar. Senyum Bunda Sasa mengembang saat melihat Reyhan yang sangat tenang di bawah ketiak sang papi, padahal bayi itu sudah membuka matanya.


"Sepertinya Reyhan ini sama persis dengan kamu," ujar Bunda Sasa.


"Maksudnya, Bun?"


"Dulu, saat kamu kecil, kamu itu selalu rewel kalau Daddy dinas malam. Saat Daddy udah pulang, kamu langsung diem dan anteng gitu sama daddy. Padahal daddy lagi tidur, kamu ya anteng aja gitu. Persis seperti Reyhan saat ini."


Raysa tersenyum, ternyata ikatan dirinay dengan sang daddy sudah tercipta dari sedari kecil. Mungkin, Reyhan akan begitu juga dengan sang papi. Memiliki ikatan tersendiri.

__ADS_1


*


Tak terasa, sudah 40 hari berlalu. Raeyhan dan Rayyan pun sudah bisa di bawa keluar rumah. Fatih membuat acara syukuran untuk kedua putranya itu.


"Capek?" tanya fatih kepada sang istri.


"Tamunya rame juga ya, gak nyangka bakal seramai ini."


"Di syukuri aja." Fatih memijit bahu Raysa dengan pelan.


"Duh, romantis banget sih," ledek Lucas.


"Iri? Noh, binik lo, jangan di anggurin terus. Ntar di sambar orang baru tau rasa,' ujar Fatih.


Lucas memutar bola matanya malas. Seharian ini entah berapa kali dia di tegur untuk tak mencuekin sang istri. Tapi mau gimana lagi? Lucas sedang kesal dengan istrinya itu.


*


Tak terasa waktu terus berlalu dengancepat. Umur Reyhan dan Rayyan pun sudah masuk satu tahun. Saat ini Fatih, Raysa, dan seluruh keluarga sedang merayakan ulang tahun putra pertama dari Raysa dan Fatih.


"Udah gedek aja ya mereka, gak nyangka banget," ujar Bunda Sasa kepada ipar-iparnya itu.


"Iya, harus di jaga itu jaraknya, Ca. soalnya kamu kan melahirkan secara caesar." ujar Mama Kesya.


"Iya, Ma."


Raysa sebenarnya sudah merasakan pusing sedari tadi, namun, dia menahan rasa pusing tersebut.


"Ca, kamu sakit? Pucat banget?" tanya Mami Vina.


"Gak kok, mungkin cuma kecapean aja."


"Udah, istirahat aja sana di kamar. Ini biar jadi urusan kami."


Raysa pun mengangguk, saat ibu dua anak itu baru berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa pusing hingga Raysa kehilangan keseimbangannya dan tak sadarkan diri.


Jika Anggel tak cepat menyambut tubuh Raysa, mungkin saat ini ibu dari dua anak itu pun akan terjatuh ke lantai.


Fatih yang melihat Raysa tumbang pun, langusng berlari dan memberikan sang putra kepada Bunda.


Fatih menggendong Raysa dan membawanya masuk ke dalam kamar. Anggel mengekori Fatih dan langsung memeriksa keadaan Raysa.


"Hmm, baru juga di ingatin buat jaga jarak," ujar Anggel yang mana membuat Fatih mengerutkan keningnya.


...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......

__ADS_1


...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....


...Rira_Syaqila...


__ADS_2