
"Kamu kembali hari ini?" Raysa menatap kesal kepada Fatih.
"Hmm ... Ada yang harus aku kerjakan di sana."
"Baiklah, semoga sukses."
Raysa bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah tangga, menaiki tangga itu dengan berlari. Fatih menghela napasnya, ia hanya bisa menatap punggung Raysa yang semakin menjauh.
"Ica mana?" Tanya Bunda Sasa.
" Ngambek Bun, udah naik ke kamarnya."
Bunda Sasa menghela napasnya. "Emang nya kemarin gak bilang sama dia? kalo kamu balik hari ini?"
"Seharusnya itu bukan jadi masalah kan Bun? Lagi pula selama ini Raysa tak pernah melihat kearah Fatih."
Bunda Sasa mengelus bahu Fatih, "Tak melihat bukan berarti tak spesial. Bunda yakin, Kalo kamu adalah sahabat terbaik baik Ica."
Fatih tersenyum miring, Sahabat? Apa selama ini dirinya hanya menjadi seorang sahabat bagi Quin? Bolehkah Fatih berharap lebih dari sahabat?
Mungkin Mami Mili benar, perasaan ini hanya rasa keingin pemilikan. Tapi selama ini Fatih tulus mencintai Raysa.
"Fatih ..."
"Ya Bun."
"Jangan lupa selipkan namanya di dalam doa, jika kamu benar-benar mencintainya. Jika kalian berjodoh, bagaimana pun Ica atau kamu menjauh, maka Allah akan tetap menarik kalian dalam satu ikatan, Ikatan pernikahan."
Senyum Fatih pun mengembang. Bunda Sasa benar, tidak ada hal yang tidak mungkin, Semua sudah di takdirkan, setiap usaha harus di barengin dengan Doa. Yaa, sepertinya Fatih harus sering menyelipkan nama Raysa di setiap sujud nya. Jika Raysa memang jodohnya, maka satukanlah mereka.
"Makasih Bun, semoga apapun yang terjadi, semuanya adalah yang terbaik."
"Iya, yang penting jaga hati kamu baik-baik."
"Iya Bun, makasih yaa ..."
Fatih memeluk Bunda Sasa. Bunda Sasa pun menepuk-nepuk punggung Fatih. Setelah merasa mendapatkan ketenangan yang cukup, Fatih merelaikan pelukannya.
"Salam buat Daddy, Oma dan Opa."
"Iya, Kamu baik-baik ya di sana."
Di dalam kamar, Raysa tengah menangis entah karena apa. Ia benci dengan Fatih, tanpa alasan yang jelas. Ingatan saat ia melihat Fatih dengan seorang wanita cantik pun kembali terbayang. Raysa semakin kesal jadinya.
"Kata nya cinta sama aku, hiks ... tapi kamu malah meluk perempuan lain di belakang aku. Mana cantik lagi ... Hikss ..."
Pintu kamar di ketuk oleh Bunda Saasa, Raysa dengan cepat menghapus air mata.
"Bunda ganggu?" Tanya Bunda Sasa saat Raysa membukakan pintu.
"Enggak kok ... Masuk Bunda."
Raysa memeluk lengan Bunda Sasa. Ia mengajak Bunda Sasa untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Ica habis nangis?"
"Hah? Enggak kok ..." Raysa menolehkan wajahnya kearah lain.
Bunda Sasa menarik dagu Raysa pelan, agar wajahnya kembali menghadap ke arah Bunda Sasa.
__ADS_1
"Lihat Bunda."
Perlahan manik mata Raysa naik dan menatap mata Bunda Sasa.
"Ica sayang Fatih?"
Raysa terdiam, ia juga tak tau arti dari rasa 'Sayang' yang di maksud oleh Bunda Sasa. Bunda Sasa membelai rambut panjang Raysa.
"Fatih berangkat jam 4 sore." Bunda Sasa melirik kearah jam tangannya. "kalo Ica mau antar Fatih, Masih ada 3 jam lagi untuk kamu mengantarkan Fatih."
"Ica gak niat buat antar Fatih kok."
"Bunda hanya bilang aja, mana tau kamu berubah fikiran." Bunda Sasa mengelus rambut Raysa, kemudian di daratkannya sebuah kecupan sebelum meninggalkan kamar Raysa.
Raysa meraih ponselnya dan memilih untuk menonton drakor dari pada memikirkan Fatih.
*
" Sudah semua sayang?" Mami Mili memasuki kamar Fatih.
"Sudah Ma, lagian Abang gak bawa banyak barang."
Mami Mili duduk di samping Fatih yang sedang memasukkan beberapa baju kedalam ranselnya.
"Abang udah ketemu sama Ica?"
"Udah, tapi Layca malah ngambek."
Mami Mili mengerutkan keningnya. "Kok ngambek?"
"Gak tau Mi, Abang juga heran kenapa dia ngambek. Dari awal Abang datang, Layca udah masam wajahnya."
"Iya Mi."
Ponsel Fatih berbunyi dan menampilkan notif pesan dari Tissa.
"Gak di baca? mana tau Ica yang kirim pesan." Kata Mami Mili saat melihat Fatih mengabaikan pesan yang masuk.
"Gak penting Mi, lagian bukan dari Layca."
*
Raysa melirik kearah jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 2 lewat 45 menit. Berarti masih ada waktu untuk Raysa menuju bandara sekitar 1 jam jika menggunakan motor.
"Aku gak punya perasaan apapun dengan Fatih, jadi gak masalah dong Fatih menjalin hubungan dengan siapapun." Monolognya.
Raysa berdiri dan meraih tas mini serta kunci motornya.
"Bunda, Ica pergi ya ..."
"Kemana sayang?"
"Ketemu teman sebentar!" bohongnya.
Raysa terpaksa berbohong, karena tak ingin di tertawai oleh Ibra, jika dirinya menyusul Fatih ke bandara.
Raysa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai ke Bandara. Sesampainya di bandara, Raysa memarkirkan motornya, dan harus berlari dari tempat parkir menuju ke pintu bandara keberangkatan.
Raysa menghentikan langkahnya di saat melihat seorang perempuan tengah mencium punggung tangan Mami Mili dan Papi Gilang. Perempuan yang sama yang pernah Raysa lihat di mall. Tepatnya restoran yang ada di dalam mall.
__ADS_1
Air mata Raysa jatuh tanpa ia sadari, Saat Mami Mili memeluk perempuan itu dan mencium keningnya. Bahkan Fatih mengambil alih koper yang di pegangi oleh perempuan itu.
Langkah Raysa yang maju, berakhir mundur dan semakin menjauh dari Fatih beserta keluarganya. Hati Raysa seakan sakit melihat pemandangan di hadapannya.
Ya, Raysa merasa jika Fatih berbohong. Fatih bohong tentang perasaannya. Pantas saja Fatih tak mengabarinya akan kepulangannya kembali ke Malaysia. Ternyata ada seorang perempuan yang berangkat bersamanya.
Raysa menghapus air matanya dengan kasar. Ia kembali berlari menuju parkiran motornya dengan air mata yang berlinang.
"Dasar pembohong, hikss ..."
*
Tissa memperhatikan Fatih yang kembali menoleh ke sekitarnya.
"Ada yang kamu tunggu?" Tanyanya.
"Tidak, aku merasa seakan dia ada di sini." Ucapnya sambil mencari keberadaan orang yang sangat di nantinya.
"Mungkin hanya perasaan Abang aja." Ujar Mami Mili.
Fatih tersenyum tipis, "Mungkin. Kalo gitu, Abang pamit ya, Mi, Pi." Fatih mencium punggung tangan Mami Mili dan memeluknya, begitupun dengan Papi Gilang.
Fatih sedari tadi memperhatikan ponselnya, ia berharap Raysa nya membalas pesan-pesannya seperti biasa.
"Kenapa kamu gak coba hubungi aja?"
Fatih menoleh ke samping. "Maksud kamu?"
"Dari tadi aku lihat kamu seolah mengharapkan seseorang datang mengantarkan kami, kemudian kamu memperhatikan ponsel kamu."
Tissa tersenyum. "Dari pada di tahan, mending di lepaskan aja. Hubungi dia."
Fatih mengangguk, kemudian ia mencoba menghubungi Raysa, terdengar nada sambung, tapi tak di angkat oleh Raysa.
"Gak di angkat."
"Coba lagi ... Semangat."
Fatih pun mencoba menghubungi Raysa, dan hasilnya juga sama. Rays tak menjawab panggilan dari dirinya.
"Mungkin dia masih tidur." Gumamnya dan tersenyum miris.
Tissa hanya memandang wajah Fatih yang tak bergairah. Ya, Tissa yang ternyata juga mengambil kuliah di Malaysia, memiliki keberangkatan yang sama dengan Fatih. Maka dari itu, Tissa dan Fatih bisa berangkat berbarengan.
Di tempat lain, Raysa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, kemudian ia hentikan motor tersebut di gerai bakso. Raysa memesan satu mangkok bakso, dan menuangkan banyak cabai ke dalamnya.
"Aku benci kamu, Fatih manusia alien." Geramnya sambil menatap semua pesan-pesan Fatih yang di kirimnya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....