Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 69 " Mami Shella"


__ADS_3

Bara dengan telaten menyuapkan Sasa.


" Udah kenyang Mas" Sasa menolak suapan ke 6.


" Baru dikit loh, lagi ya.." Bujuk Bara.


Sasa menggeleng. Bara pun hanya bisa pasrah, setidaknya Sasa sudah mau makan walaupun hanya beberapa suap.


" Mas balik aja ke kota. Mas kan harus kerja."


" Mas cuti " Bara bohong, dia sengaja mengatakan cuti agar tidak menambah fikiran Sasa saat ini.


" Mas gak bohong kan?"


" Tanya Daddy kalo gak percaya"


Jika Bara mengatakan seperti itu. Maka Sasa mau tak mau harus percaya.


" Sa " Daddy Roy menengok Sasa yang berada di kamarnya.


" Daddy " Sasa ingin turun dari tempat tidur, tapi Daddy menahannya.


Tak berapa lama Leo, Papi Farel, dan Vano pun ikut masuk. Ada bukde juga di dalam kamar.


" Kami harus kembali malam ini. Sasa Jangan sedih lagi ya. Sasa kan punya Daddy, Mami, dan kami semua keluarga Sasa. Jadi Sasa jangan merasa sendiri yaa. Daddy gak mau lihat anak Daddy sedih" Daddy Roy mneghapus air mata di sudut mata Sasa yang mengalir.


Daddy Roy memeluk Sasa, memberikan pelukan kehangatan seorang Ayah. Daddy Roy mengecup kening Sasa dengan sayang.


" Kamu nanti pulang sama Bara ya. Bara akan menemani kamu di sini. Mami tungguin kamu di rumah."


Sasa menganggukkan kepalanya. Papi Farel pun ikut memeluk Sasa. Papi Farel merasa kasihan dna juga salut keoada Sasa yang selama ini hidup dengan ketegaran, walaupun harus mendapatkan gunjingan dari orang sekitar.


" Jangan lama-lama sedihnya, nanti matanya hitam loh kayak panda. Jelek" Sasa tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


" SASAAA" Leo merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Sasa.


Bukan Sasa, tapi Bara. Leo memeluk Bara. Dengan cepat Leo melepaskan pelukannya.


" Dasar posesif"


Leo menepikan tubuh Bara yang menghalangi pandangannya kepada Sasa.


" Gak di kasih peluk sama Bara api. cepat sembuh yaa." Leo mengedipkan matanya sebelah. Sasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Kami balik yaa, kami tunggu kedatangannya di Jakarta. Jangan sedih lagi. Jangan lupa makan" Ujar Vano.


" Makasih Daddy, Kakek, Leo, dan Kak Vano. Makasih buat semua nya."


" Sama- sama."


" Kalo begitu, kami izin pamit undur diri yaa. Assalamualaikum"


" Walaikumsalam.


Daddy Roy, Papi Farel, Leo, dan Vano pun berpamitan kepada Bukde, pakde, dan warga yang masih melayat.


" Kami duluan Ya Dud" Ujar Daddy Roy.


" Iya Om. Hati-hati di jalan Chairman." Ujar Duda kepada Papi Farel.

__ADS_1


" Hati-hati Bro bawa mobilnya" Ujar Duda kepada sopir pribadi Papi Farel.


" Siipp."


Sudah 5 hari Bara dan Sasa berada di kampung.


" Mungil, kita balik yuuk.."


" Mas aja, Sa masih mau di sini"


Tak berapa lama ponsel Bara bergetar dan menampilkan nama Mami Shella dalam panggilan video call.


" Sa, kamu sehat kan?"


" Alhamdulillah Mi"


" Kamu pulang kan? Mami rindu."


" Sasa juga"


Hari terus berlalu. Sudah genap sepuluh hari Sasa di kampung, tapi masih belum ada keinginan kembali.


" Mungil"


" Aku masih mau di sini Mas. "


Bara tidak tau harus memaksa atau membiarkan Sasa. Bara juga harus kembali bekerja. Masa skorsingnya sudah mau berakhir.


" Ya udah, aku balik ke Jakarta yaa. Nanti aku aku jemput kamu lagi"


" Sa mungkin gak akan kembali ke Jakarta Mas. Tempat Sa di sini."


" Mas, mungkin kita memang gak berjodoh."


" Mungil" Bara menggeram sambil meremas rambutnya.


" Dengar, aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali sama kamu."


" Mas, tolong ngertiin aku. Aku mohon. Mas cari wanita lain saja yang lebih baik, dan... dan... hikss..."


Bara menarik tubuh Sasa kedalam pelukannya. Bara tau kemana tujuan percakapan ini.


" Mungil, aku tidak pernah perduli, mau kamu masih suci atau tidak, aku tidak peduli. Yang aku mau hanya kamu. Cuma kamu. Kamu yang menjadi pendamping hidup aku. Kamu yang menjadi istri aku. Kamu yang menjadi ibu dari anak-anak aku. Cuma kamu mungil ,hanya kamu. Dan aku bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun, kecuali sama kamu."


Sasa membalas pelukan Bara. Sasa semakin menangis dalam pelukan Bara. Ah, ternyata beruang madunya ini sangat mencintainya. Betapa beruntungnya dirinya mendapatkan Bara. Tapi..


" Jangan pernah berfikir kalo kamu tidak pantas untuk aku. Bukan kamu atau orang lain yang menilainya, tapi aku. Aku yang merasakan kamu pantas atau tidak. Dan bagiku, kamu adlaah orang yanb paling pantas menjadi pendamping ku mungil. Aku mohon, jangan pernah tinggalin aku."


" Hiikkss.. tidak akan pernah.."


Bara terpaksa harus kembali ke Jakarta tanpa Sasa. Bara akan memberikan waktu lagi untuk Sasa berada di kampung.


Sudha hampir sebulan Sasa belum juga kembali, hingga Mami Shella masuk rumah sakit karena memikirkan Sasa. Sasa yang mendengar kabar jika Mami Shella masuk rumah sakit pun langsung bergegas kembali ke Jakarta.


" Mami..hikkss" Sasa memeluk Mani Shella yanga terbaring lemah.


" Sudah sangat lama Mami tidak pernah sakit, terakhir kali Mami sakit saat memikirkan Kesya yang di bully. Dan kali ini, Mami sakit karena memikirkan Mbak Sa. Mbak Sa tau, Mami Shella sangat menyayangi Mbak Sa." Ujar Vina.


" Maafin Sasa Mbak.. Maafin Sasa. hikss ..."

__ADS_1


" Udah, jangan minta maaf. Yang penting kamu kembali, itu sudah cukup buat Mami kembali sehat." Ujar Vina dengan tersenyum.


Sasa memeluk tubuh Mami Shella, saat mami Shella merentangkan tangannya. Mami Shella menatap kearah Vina, dan Vina mengedipkan matanya sebelah.


Ah, sepertinya keluarga Bara memiliki bakat akting.


Hubungan Bara dan Sasa perlahan kembali seperti semula. Sasa sudah mulai melupakan kesedihannya.


" Sa, ini bagus deh untuk seragam kamu sama Bara."


Mami Shella dan Sasa tengah mencari bahan kain untuk di jadikan baju seragam saat pesta pernikahan mereka nanti.


" Iya Mi, cantik. Bahannya juga lembut."


" Jeng Shella?"


Mami Shella dan Sasa menoleh kearah sumber suara.


" Jeng Tina"


" Lagi belanja?"


" Iya, lagi cari kain untuk seragam di pernikahan Bara."


" Ooh, ini yaa yang wanita di berita itu?"


Sasa yang mendengar nada ucapan teman Mami Shella merasa tersudutkan. Kenapa? Apa ada yang salah? Bukannya semuanya sudah terselesaikan, dan nama Sasa juga sudah bersih.


" Maaf, kami sedang sibuk" Mami Shella menarik tangan Sasa dan pergi meninggalkan toko itu.


Hah, sayang sekali, padahal sudah dapat bahan dan warna yang cocok, eh malah ada pengganggu.


" Masih bagusan Lia kali Shel kemana-mana. Masa sih Anak lajangnya yang semata wayang mau dikasih bekas pakai. Gak banget deh."


Mami Shella ingin berbalik, tetapi Sasa menahannya. " Kita pergi aja ya Mi. biar gak jadi tontonan orang"


Mami Shella melihat kesekelilingnya. Hah, benar sekali, beberapa pasang mata sudah menatap mereka penuh rasa keingintahuan. Dasar Kepo.


Tina tersenyum mengejek.


" Makasih Tante." Ujar seorang wanita yang datang saat kepergian Mami Shella dan Sasa.


" Sama-sama sayang."


" Tante memang selalu bisa untuk di andalkan"


" Tentu, bahkan Tante akan melakukan lebih dari ini"


" Aku akan menunggu kabarnya Tante."


Mereka tertawa bagaikan iblis yang tak punya hati. Eh, iblis ada hati gak yaa? Ah, gak tau laah.. gitu lah pokoknya.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..

__ADS_1


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2