
Malam ini Bara dan Sasa kan menghabiskan malamnya di hotel M Moza, dengan kamar yang super mewah dan megah Siapa lagi yang pesan, kalo bukan Arka.
" Mau aku bantu?"
Bara melihat Sasa yang kesusahan membuka resleting gaunnya.
" Iyaa Mas, hati-hati ya.. aku takut rusak. Ntar gantinya pasti mahal." Bara terkekeh mendengar gerutuan Sasa.
" Pelan-pelan Mas. Jangan kamu rusak lagi, Seperti kebaya nikah aku." Sasa kesal, karena Bara malah memain-mainkan resleting gaun Sasa.
" Maas.."
" Iyaa mungil, gak sabaran banget sih?" Bara mengecup punggung Sasa, dan memasukkan tangannya dari balik punggung Sasa, dan meremas aset kembar Sasa.
" Eughh.. Massh... Ini bajunya belum lepas.. Aahh, nanti rusak Mash.."
Seakan tuli, Bara terus saja meremas milik Sasa, dan membuat gairah Sasa menaik. Perlahan, Bara menurunkan lengan baju Sasa yang masih bertengger di bahunya, hingga menampilkan dada polos Sasa.
" Massh.. Eempp..."
Bara mencium bibir Sasa, seolah itu adalah permen terlezat di dunia. Bara melepaskan ciumannya, dan membuka jas yang dipakainya, serta melempar kesembarang arah.
" Mass.. Kita mandi dulu yaa..Badan aku rasanya lengket." Sasa memeluk tubuhnya untuk menutupi aset kembarnya.
Sasa berlari ke kamar mandi sebelum Bara menangkapnya, namun usahanya sia-sia, Langkah kaki Bara yang besar dapat menahan Sasa.
" Mandi bareng mungil.."
" Hmm?" Sasa terpekik saat Bara menggendongnya bagaikan anak koala. Sasa pun reflesk melingkarkan kakinya di pinggang Bara, dan mengalungi leher bara dengan tanagnnya. Otomatis Dada telanjang Sasa terpampang jelas di wajah Bara.
" Kamu menggoda aku mungil?"
" Tidaak.."
" Lalu ini.."
" Aakh.." Sasa mendesah saat Bara mengulum pu**Ng kembarnya.
" Aku menyukainya."
Bara terus mengulum gunung kembar sasaz seolah itu adalah minuman terlezat di dunia. Sasa meremas rambut Bara, dan menekan kepala Bara untuk memperdalam kulumannya.
Di dalam kamar mandi, sudah tersedia air jacuzzi yang sudah ditaburi kelopak Mawar, airnya juga sudah di beri aroma relaksasi.
" Sepertinya Arka menyiapkan ini semua."
Sasa yang masih ngos-ngosan menatap kearah tunjuk Bara.
" Kamu siap?"
" Untuk?"
" Bermain di air.."
" Mas aku Ahhkk.." Bara kembali mengulum gunung kembarnya.
Perlahan Bara masuk kedalam jacuzzi, dengan Sasa dalam gendongannya.
Bara menatap wajah Sasa, menangkupnya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Sasa, hingga bibir mereka menempel sempurna dan salin meng****m.
Bara terus memberi rangsangan kepada Sasa, sehingga Sasa berkali-kali memekik merasakan sesuatu yang ingin mendesak keluar. Setelah merasa puas dengan bermain di bagian atas tubuh Sasa dan memberikan banyak jejak di sana, Bara membuka celananya, dan juga milik Sasa. Dengan posisi Sasa masih berada di pangkuannya, bara memulai penyatuan mereka.
__ADS_1
" akh.."
Hanya ada suara desahan yang saling bersahutan, dan gemericik air yang keluar dari hasil gerakan tubuh Sasa dan Bara. Hingga akhirnya Bara dan Sasa mencapai puncak nya bersama dengan erangan keras dan panjang dari Bara.
Sasa terkulai lemas di dada Bara, Sasa memejamkan matanya, hari sangat lelah sekali. Semalaman Sasa berdiri karena tamu yang tidak hentinya bersalaman dan mengucapkan selamat kepada mereka. Di tambah Bara yang duluan membuatnya lelah dengan permainan mulutnya. Sasa benar-benar butuh istirahat.
" Mungil, kamu tidur?"
" Hmm, aku lelah sekali Mas.."
" Mau satu ronde lagi?"
" Ampun Mas, aku benar-benar lelah." Suara Sasa sudah terdengar seperti bisikan.
" Baiklah, tapi besok, kamu harus menerima hukuman kamu."
" Hmm, apapun itu.. Sekarang, biarin aku tidur yaa.."
" Bersihin diri dulu mungil.."
" Mas aja, aku tidur.."
" Mungil..."
Tak ada sahutan dari Sasa, sehingga Bara memainkan jarinya di bawah Sana.
" Akkh, Mass... aku lelah.." Sasa memandang wajah Bara kesal.
" Aku tau, bersihi diri dulu. " Bara mengangkat tubuh Sasa, dan membawanya ke bawah shower. Bara membersihkan dirinya dan diri Sasa.
Sasa langsung naik keatas tempat tidur dengan menggunakan bathroom dan rambut yang masih terguling handuk.
" Keringi dulu rambunya mungil.."
Bara menggelengkan kepalanya, istri ya kelelahan gara-gara dirinya. Salah sendiri, siapa suruh menyalakan api di atas Bara.
Bara mengambil hairdryer dan mengeringkan rambut Sasa. Sasa yang sudah tereoa tidak terganggu dengan aktifitas Bara yabg tengah mengeringkan rambutnya.
" Makasih Mas.." Ujar Sasa dalam keadaan tidur saat merasakan rambutnya sudah kering.
" Sama-sama mungil." Bara mengecup kening Sasa, dan ikut naik keatas tempat tidur.
Malam ini, Bara membiarkan Sasa tidur tanpa dipeluk olehnya, karena Bara melihat Sasa sudah dalam posisi pw nya..
Bara mengerjap saat merasakan sentuhan di wajahnya. Pertama kali yang Bara lihat adalah wajah Sasa yang terlihat segar.
" Lelah banget yaa, sampai susah di bangunin."
Sasa menampunh dagunya di atas tangannya yang berada di dada Bara.
" Udah seger aja, gak ngajak-ngajak"
" Udah dari tadi aku bangunin Mas, bahkan aku udah solat subuh, mas aja yang gak bangun-bangun. Lelah banget yaa, padahal cuma satu ronde, masa sampai gak bangun siih.." Sasa terkekeh melihat Bara melototkan matanya.
" Kamu nantang aku mungil.."
" Siapa bilang? Buktinya semalam kamu aaammpp.." Sasa terkesiap saat Bara memindahkan posisi mereka.
" Semalam aku apa?"
" Enggak, kamu solat dulungih, udah jam 6, udah siang banget kamu bangunnya." Sasa mendapatkan alibi yang kuat untuk bebas dari Kungkungan Bara.
__ADS_1
" Awas kamu mungil yaa, lihat saja, aku akan tunjukkan kehebatan kamu."
" Iyaa, kamu hebat Mas. Udah sana, solat dulu."
Bara bangkit dan membersihkan dirinya. Sasa sudah memesan sarapan saat Bara tertidur tadi. Dan saat ini Sasa tengah menyiapkan sarapan yang baru saja di antar oleh pelayan.
Cliiinng...
Satu pesan masuk, Sasa menatap ponselnya. Tertera nama Vina di sana.
" Mbak, jangan lupa ya pakai baju yang aku kirim ya. Pokoknya hari ini jangan keluar kamar, kalo bisa seharian terus bikin anaknya, biar top care. Semangat Mbak ku.."
Cling...
Satu pesan masuk lagi, dan tertera nama Kesya.
" Mbak, vitamin yang aku kasih jangan lupa di minum yaa, biar gak gampang lelah, dan semakin bergairah.. Semangat Mbak.. Semoga cepat hamil.."
Sasa tersenyum membaca pesan dari adik iparnya itu. Semenjak ketahuan dengan Kesya setelah akad nikah, Kesya dan Vina terus saja menggodanya. Dan menjuluki jika sang Abang adalah mesin tempur yang tak kenal lelah dan tak mengenal waktu.
" Siapa mungil?"
Sasa terkesiap saat merasakan tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bara. Bara memeluk Sasa dari belakang.
" Oh, Mbak Kesya dan Mbak Vina."
" Pagi banget kirimin pesan, kenapa?"
" Itu, eemm.. ngirimin makanan dan vitamin." Sasa menunjuk kearah meja yang sudah tersedia makanan untuk mereka sarapan. Untung saja Sasa sudah menyimpan paparbag pemberian Vina, yang Sasa sendiri belum melihat baju apa yang Vina berikan.
"Mas udah selesai solatnya?"
" Belum mungil, baru bentang sajadah, udah kentut. Trus liat kamu senyum-senyum sendiri di hape, buat Mas penasaran."
" Penasaran kenapa?"
" Ya mana tau kamu chat sama si Riko itu."
" Apaan sih, aku sama dia cuma temen, dan gak pernah chat-chat segala."
" Pernahnya apa?"
" telfonan."
Udah lah, Sasa memang menyulut api yang baru saja padam.
" Awas aja kalo kamu berani telponan Sasa dia lagi,"
" Kenapa?"
" Aku cemburu mungil, aku gak mau kamu temenan dengan dia lagi."
" Baiklah, sesuai oerminta beruang maduku ini. Sekarang, pergi ambil wudhu dan solat ya.."
" Cium"
Sasa mengecup bibir Bara singkat, dan mendorong tubuh Bara untuk kembali kekamar mandi.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )