
"Maaf, terlambat."
Fatih datang dan langsung mencium punggung tangan Bunda sasa dan Daddy Bara sebelum di tegur oleh sang Bunda. Fatih juga tak lupa bersalaman ala pria kepada Farhan. Kemudian ia beralih kepada Raysa dan mengacak rambutnya.
"Nyebelin ... Udah datang terlambat, main kusutin rambut orang lagi."
"Ya karena kamu orang, kalo monyet mah takut di gigit."
Raysa langsung melayangkan cubitannya ke perut Fatih. Sehingga membuat Fatih meringis kesakitan dan mengusap perutnya.
"Aaw ... Sakit Layca." Ujar Fatih yang terdengar manja.
"Siapa suruh ngeselin." Kesal Raysa.
Bunda Sasa dan Daddy Bara yang melihat perdebatan Raysa dan Fatih hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah biasa mereka melihat pemandangan Tom and Jerry tersebut.
Sedangkan Farhan, walaupun ia ikut tersenyum, namun dalam hati kecilnya ada rasa iri dan cemburu melihat kedekatan Fatih dan Raysa. Di mana Raysa seolah selalu menjadi dirinya sendiri. Mungkinkah Raysa sebenarnya memiliki perasaan kepada Fatih? Farhan langsung menggelengkan kepalanya, ia tahu jika yang ada di hati Raysa hanya dirinya, begitupun sebaliknya.
Perdebatan Raysa dan Fatih berakhir saat pelayan datang dan mengantarkan pesanan mereka. Raysa melirik kearah arah daging ayam Yang ada di piring Fatih. Daging yang bagian dadanya, namun banyak tulang-tulangnya.
"Mau tukaran?" Tawar Fatih yang mengerti dengan tatapan mata Raysa.
Lihat, Raysa mengangguk dengan antusias dan menyodorkan piringnya kepada Fatih. Fatih mengambil ayam bagian paha milik Raysa, dan menggantinya dengan ayam milik nya.
Farhan hanya memperhatikan Fatih dan Raysa. Dalam hati berkata, ternyata Fatih lebih banyak mengerti tentang Raysa darinpada dirinya. Bahkan hanya dari tatapan mata saja, Fatih mengerti apa yang Raysa inginkan.
"Fatih, kamu punya ide gimana sih sampai mengirimkan bunga matahari ke ruangan Raysa. Udah seperti kebun bunga itu ruangan Raysa, karena ulah kamu." Ujar Bunda Sasa yang mana membuat Fatih terkekeh karena mengingat ulahnya.
Bahkan pengantar bunga sampai di marahi oleh polisi yang sedang berjaga di sana, karena telah memenuhi ruangan Raysa dengan buket-buket bunga yang dikirimkan Fatih. Bahkan sampai ke luar ruangan Raysa.
"Biar seru Bun ..."
"Seru apanya? bikin nyemak iya ..." Gerutu Raysa.
"Tapi suka kan?" Fatih menaik turunkan alisnya.
Raysa hanya mencebikkan bibirnya, namun ia tak membantah apa yang Fatih katakan Sebenarnya Raysa memang sangat menyukainya, bahkan Raysa pernah memimpikannya, berharap seseorang yang ia cintai memberikan kejutan yang unik kepadanya. Di mana seluruh ruangan ya di penuhi oleh bunga-bunga yang indah.
Lihat, sepertinya Farhan kembali kalah dalam mengenal lebih dalam lagi tentang Raysa. Padahal selama ini Farhan berfikir jika dirinya lah yang paling mengerti tentang Raysa.
Farhan mungkin mengerti tentang Raysa, tentang kenyamanan wanita itu, namun Farhan tak mengerti tentang hal-hal kecil tentang Raysa. Seperti keinginan Raysa yang hanya lewat tatapan mata, kenyamanan Raysa dengan situasi sekitarnya, dan menjadikan Raysa dirinya sendiri. Bukan wanita yang berusaha menjadi seperti yang dirinya inginkan.
Sepertinya Farhan sudah membuat Raysa menjadi seperti wanita yang di inginkan nya, bukan menjadi diri Raysa sendiri. Farhan harus merubah semua itu. Farhan harus membuat Raysa nyaman dengan dirinya sendiri tanpa mengikuti keinginannya. Ya, Farhan harus membuat Raysa nyaman dengan dirinya yang supel dan ceria. Bukan berarti Raysa tak ceria dengan dirinya, namun keceriaan Raysa bersama Fatih seakan berasa dari jati diri Raysa sendiri.
Daddy Bara memimpin membaca doa, agar mereka dapat memulai makan siang mereka, dan megisi perut dengan makanan yang sudah mengunggah selera. Mengirimkan sinyal ke perut, sehingga membuat cacing-cacing di dalam perut duduk manis dengan tersenyum lebar.
*
Fatih sedang fokus dengan sketsanya di saat Daddy Bara membuat panggilan.
"Assalamualaikum, Dad."
" ..... "
Fatih menyimpan kembali ponselnya Setelah Daddy Bara memutuskan panggilannya, Fatih langsung bergegas berdiri dan meraih kunci mobilnya.
"Maaf Pak, Tuan Daniel merubah jadwalnya sore ini." Sekretaris Fatih menjegat langkah Fatih saat baru saja keluar dari ruangannya.
Fatih menggaruk alisnya, karena dalam bersamaan Fatih harus menjemput Raysa. Daddy Bara tak bisa menjemput karena ban mobilnya terkena paku, dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Karena Daddy Bara sekalian memeriksakan keempat Ban mobilnya yang memang sudah minta di ganti.
"Kamu siapkan berkasnya, nanti saya menyusul. Kirimkan alamatnya." Titah Fatih dan berjalan meninggalkan sekretarisnya.
*
Fatih melirik kearah jam tangannya, namun Raysa juga belum keluar. Ponsel Fatih berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Fatih meraih ponselnya dan melihat siapa pengirim pesan. Ternyata Rara, sekretarisnya, yang mengirimkan alamat cafe di mana mereka akan bertemu dengan klien mereka.
Pintu kaca di ketuk, membuat Fatih menoleh dan tersenyum lebar. Raysa sudah berada di luar mobilnya. Fatih membuka pintu dari dalam, dan menyuruh Raysa masuk.
"huuff ..." Raysa menghembuskan napasnya lelah.
"Gimana hari pertama?" Tanya Fatih memulai obrolan mereka sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Gitu deh, ada satu cewek caper banget. Risih banget rasanya."
Fatih menganggukkan kepalanya. "Oh ya, temenin gue meeting sebentar ya ..."
"Hah? ya ampun, kalo mau meeting mending tadi suruh Kak Farhan aja deh yang jemput." Raysa melipat kedua tangannya di atas dada dan mencebikkan bibirnya sambil menatap ke arah luar.
__ADS_1
"Jangan ngambek dong. Cuma bentaran doang ..."
"Kau gak bawa jaket Fatih." Kesal Raysa.
"Iya, nanti pakai jaket aku aja."
"Ck, tau gitu nungguin Daddy aja di kantor. Atau suruh kak Farhan jemput."
Fatih hanya bisa tersenyum di balik rasa sakit yang ia rasakan. Apakah Raysa nya tau jika Fatih sebelumnya sudah menghubungi Farhan? Dan Fatih hanya mendapatkan balasan pesan dari Farhan yang mengatakan jika ia sedang bertemu klien.
Fatih memarkirkan mobilnya, kemudian ia meraih jaketnya yang ada di jok belakang. Raysa yang sedang membuka seatbelnya terkejut dengan pergerakan Fatih yang mencondongkan dirinya ke belakang. Sehingga wajah Fatih sangat dekat dengan wajah Raysa, mungkin hanya berjarak 5cm.
Raysa menatap wajah Fatih yang bersih dan mulus tanpa berkedip. Tanpa sadar Raysa menahan napasnya.
"Pakailah ..." Fatih memberikan jaketnya kepada Raysa, sehingga membuyarkan lamunan Raysa.
"Hah? Ah ya ..."
Raysa meraih jaket Fatih dan mengenakannya. Raysa merasakan jika jantungnya berdegup dengan cepat. Raysa tak tahu kenapa jantungnya bisa sampai berdetak cepat seperti itu.
"Ayo,"
Fatih kembali menyadarkan Raysa dari lamunannya. Raysa menatap Fatih yang sudah membuka pintu untuk nya. Kapan Fatih turun? Kenapa ia tak menyadarinya?
Raysa dan Fatih berjalan beriringan. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Bahkan ada yang terang-terangan berbisik-bisik. Para perempuan Muda menatap Fatih dengan lapar.
Yaa, sekarang memang musimnya pria gondrong yang menawan. Wajar saja jika Fatih menjadi santapan tatapan lapar para gadis.
"Selamat datang. Untuk berapa orang?" Sapa pelayan wanita dan menatap Fatih dengan memuja.
"Dua orang."
"Out door atau in door?"
Fatih menoleh kepada Raysa.
"Dalam aja, males kena asap rokok."
Fatih mengangguk dan mengatakan untuk berada di dalam.
"Mari silahkan." Pelayan tersebut menunjukkan jalan menuju meja yang akan di tempati oleh Fatih dan Raysa.
"Duduklah, dan pesan makanan."
Raysa mengangguk dan melihat menu makanan. Fatih meraih ponselnya, dan benar saja, sudah 3 panggilan tak terjawab dari Rara. Fatih langsung menghubungi Rara kembali.
"Halo Ra."
" ......"
"Iya, saya sudah di sini."
"......"
"Baik, saya ke sana sekarang." Fatih memutuskan panggilan telponnya. Dan kembali fokus kepada Raysa.
"Ca, aku temui klien dulu ya, Kamu di sini aja, jangan ke mana-mana."
"Hmm .." Raysa hanya menjawabnya dengan gumaman.
Fatih pun berdiri dan berjalan dengan langkah besar menuju ruangan VIP, Di mana kliennya berada.
"Sorry, I'm Late." Fatih mengulurkan tangan kepada kliennya itu.
"Its okey..." Klien Fatih yang berasal dari Singapura pun membalas uluran tangan Fatih.
Fatih mempersilahkan Kliennya yang bernama Mr. Cheng untuk kembali duduk. Fatih menawarkan untuk memesan makanan, agar perbincangan mereka terasa lebih santai.
Tak terasa sudah satu jam Fatih bersama Mr. Cheng membahas proyek yang akan Fatih tangani. Mr. Cheng pun sangat puas dengan persentasi yang di berikan oleh Fatih, padahal Mr. Cheng yakin, jika Fatih belum memiliki bahan untuk di persentasikannya. Namun Fatih yang pintar menggunakan otaknya untuk berfikir dan mampu menangani klien dadakan seperti Mr.Cheng.
Fatih dan Mr. Cheng kembali berjabat tangan setelah kesepakatan mereka di setujui oleh kedua belah pihak. Fatih mengantarkan Mr. Cheng hingga sampai ke mobilnya.
Di sudut ruangan, tepatnya di meja yang Raysa tempati. Raysa menatap kearah Fatih, dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Apa yang kamu fikirkan Ca?' Batinnya dan kembali menghela napas.
"Tuan mau langsung pulang?" Tanya Rara.
__ADS_1
"Tidak, kamu pulang saja duluan. Saya sedang bersama seseorang kesini."
"Aah ..." Rara mengangguk paham. Rara menundukkan kepalanya sedikit dan berpamitan. Rara butuh istirahat setelah pekerjaan yang melelahkan seharian ini.
Fatih pun berjalan kembali masuk kedalam cafe, menghampiri sang pujaan hati.
"Maaf ya, lama."
Fatih mendaratkan bokongnya ke kursi sambil memanggil pelayan. Lihatlah, beberapa pelayan sangat bersemangat untuk menghampiri Fatih. Raysa heran, apa sih yang di lihat dari Fatih?
"Mau pesan apa Mas?" Ujar seorang pelayan wanita sambil menatap lapar kepada Fatih sambil menyodorkan buku menu.
"Kentang goreng sama jus Naga, gak pake lama." Fatih mengembalikan buku menu kepada pelayan.
"Baik, di tunggu ya Mas."
Fatih mengangguk dan kembali menoleh ke ponselnya. Raysa memperhatikan Fatih dengan seksama. Melihat apa yang di lihat oleh orang lain. Kenapa para wanita-wanita itu seolah terlalu terpesona oleh wajah Fatih. Fatih masih fokus dengan benda pipihnyaa saat Raysa terus menatapnya.
"Huuff, akhirnya selesai juga." Fatih meletakkan ponselnya dan membalas tatapan mata Raysa.
"Kenapa? apa ada sesuatu di wajah aku?" Fatih meraba wajahnya.
"Hah? oh ... Gak kok." Raysa mengaduk spageti nya.
"Bosan ya? karena nungguinnya lama?"
"Gak juga, untung zaman udah canggih, jadi gak terlalu bosan."
Fatih mengurut lehernya yang terasa keram, dan semua gerak gerik Fatih tak luput dari pandangan Raysa.
"Berapa malam gak tidur?"
"Dua Minggu, dan itu cuma 3 jam seharinya dapat istirahat. Demi sebongkah berlian, biar bisa buat lamar kamu."
Raysa memutar bola matanya malas. Fatih hanya tersenyum manis menatap wajah Raysa yang jutek.
"Kamu gak lelah?" tanya Raysa lirih.
"Karena?"
"Terus-terusan berharap dengan aku? padahal sudah sangat jelas jika aku gak cinta sama kamu. Dan kamu tau sendiri kan, jika aku sedari dulu hanya mencintai Kak Farhan."
Fatih tersenyum dengan teduh. "Kita gak pernah tau, apa yang akan terjadi kedepannya. Allah maha membolak-balikkan hati seseorang, dan aku berharap, jika hati kamu bisa berdetak untukku."
Hening, tak ada sahutan sedikitpun dari Raysa. Raysa melihat jika Fatih benar-benar tulus mencintainya. Raysa juga tidak tau, apa yang Fatih lihat dari dirinya. Padahal Raysa sedari dulu selalu saja membuat Fatih kesal, bahkan pernah cedera. Namun Fatih tetap terus baik kepada dirinya.
"Fatih, Aku___"
"Aku gak butuh jawaban kamu. Aku juga gak mau memaksa kamu untuk menjawabnya ataupun memikirkannya. Biarkan waktu yang membuat kamu merasakannya, dan berlari kedalam pelukanku."
Raysa menarik napasnya dengan dalam, kemudian ia hembuskan secara perlahan namun terdengar helaannya.
Pesanan Fatih pun datang, Fatih mengambil satu potong kentang dan mencocolkannya kedalam sambal.
"Kamu mau?"
Raysa mengangguk dan mengambil sepotong kentang dan ikut mencocolnya kedalam saus. Mereka pun menikmati kentang goreng yang Fatih pesan tadi.
"Spagetinya gak di makan lagi?"
"Kenyang!!!"
"Sini ..."
Raysa pun mendorong piribgnya kearah Fatih. Sehingga Fatih memakan spageti yang tersisa dari Raysa. Raysa akhirnya memakan kentang goreng yang di pesan oleh Fatih tadi. Mereka pun menikmati hidangan yang tersisa.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....