
Sasa sedang menyiapkan baju Koko, kain sarung, peci, serta sajadah untuk Bara berangkat kemesjid untuk menunaikan sholat isya sekaligus sholat tarawih di malam ramadhan pertama.
"Makasih mungil."
" Sama-sama Mas."
Pergerakan Sasa terhenti saat Bara memeluknya dari belakang. Bara meletakkan dagunya di atas kepala Sasa.
" Aku senang banget, kamu sekarang udah jadi istri aku."
Sasa membalas memeluk tangan Barabyabg ada di perutnya.
" Aku juga senang Mas. Aku masih merasa jika semua ini hanya mimpi indah. Aakhh..."
Sasa mendesah saat tangan Bara meremas sedikit kuat aset kembarnya.
" Kamu masih merasa ini semua mimpi? hmm?"
" Aakkhh.. Dasar Mesum. Beruang mesum." Kesal Sasa yang mana Bara masih saja memainkan aset kembarnya. Bahkan Bara sudah menyusupkan tangannya di balik baju Sasa.
" Masshh... Akh.. Nanti kamu telat loh pergi sholatnya." Sasa berusaha menghentikan tangan Bara.
" Sekali aja mungil."
" Gak Mas, udah mau masuk waktu sholat isya ini loh.."
" Minum susu aja deh, biar kuat."
" Dasar Beruang mesum.. Akh.." Sasa terkesiap Sasa Bara sudah memutar tubuh nya dan langsung menyambar aset kembar Sasa dengan mulutnya.
Bara terlihat tampan memakai baju Koko beserta peci yang menghiasi kepalanya. Sasa sampai tidak berkedip melihat Bara setampan itu.
" Udah belum terkesimanya?"
Suara Bara mengembalikan kesadaran Sasa
" Eh, Iyaa udah.." Ujar Sasa dan mengalihkan perhatiannya.
Bara terkekeh, istri mungilnya ini sangat menggemaskan. Bara memeluk pinggang Sasa dan mendaratkan ciuman di keningnya.
" I love you mungil. Aku sangat mencintai kamu. "
" Aku juga Mas, aku juga sangat mencintai kamu."
Bara memiringkan kepalanya, dan hendak mencium bibir Sasa.
Tok..tok.. tok..
" Bara, Ayoo kita berangkat"
Suara Daddy Roy menggagalkan aksi Bara.
Bara mendengus kesal, Sasa sudah terkikik melihat wajah Bara yang cemberut.
" Hah, Yang mulia sudah memanggil. Aku pergi dulu ya mungil, Assalamualaikum." Bara kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri.
" Walaikumsalam."
Sasa melihat Mami Shella sedang menggosok pakaian.
" Sa bantu Mi."
" Eh Sasa. Gak usah, biar Mami aja." Mami Shella cepat-cepat menyimpan baju seragam Bara.
" Gak pa-pa, Sa bosen kalo gak kerja."
" Ya udah, kamu tolong lipatin baju-baju itu ya.."
Sasa pun mengerjakan apa yang Mami Shella suruh. Sasa mengernyitkan keningnya saat Mami Shella memasukkan baju berwarna coklat kedalam plastik. Sepertinya Sasa mengenali baju itu. Baju milik Bara, seragam Bara. Pantas saja sedari tadi Sasa tidak melihat Baju seragam Bara.
" Mi, mulai sekarang biar Sa aja yaa yang gosok Baju Mami, Daddy, dan Mas Bara."
Mami Shella menoleh kearah Sasa. " Gak usah, Mami jadikan kamu menantu bukan untuk jadi pembantu."
" Bukan gitu Mi, Sa cuma ingin membantu Mami."
Mami Shella tersenyum lembut. Kalo kamu ada waktu, silahkan kamu gosokin, tapi kalo gak ada waktu, jangan dipaksain ya.
" Iya Mi."
Bara dan Daddy Roy pun pulang. Dibelakang mereka ada Tante Rosa dan Om Nazar serta Kiki dan Kayla.
" Kayla ikut di bawa ke mesjid?" Tanya Mami Shella.
" Enggak kok, Mas Nazar ajakin ke sini."
" Hem, si nazar sih emang kebiasannya gitu. Kalo udah pulang sholat tarawih pertama, pasti nyari Sop tulang."
" Iya, tadi aku gak sempat beli tulang. "
" Ya udah , makan.. makan.."
" Sini Tante, Kayla nya sama Sa aja."
Sasa mengambil Kayla dari gendongan Tante Rosa.
__ADS_1
Bara membentang tempat tidur bayi di depan tv, agar Kayla bisa dibaringi di sana dan bermain bersama Sasa.
" Kamu gak mau sop tulang Mungil? Ini favorit aku loh." Ujar Bara sambil duduk di sebelah Sasa dengan membawa semangkok tulang bagian kaki, pisau, dan pipet.
" Gak Mas, aku udah kenyang"
Bara memasukkan Pipet tersebut kedalam tulang, mengaduknya sebentar dan menyedotnya.
Srruuuppp...
"Emm, enak banget mungil sumsumnya. Kamu mau?"
Sasa menelan ludahnya, kemudian dia mencoba menyedot sumsum yang sudah di tambah oleh kuah sop oleh Bara dan mengaduknya lagi.
" Enak Mas."
" Enak kan.."
" Heuem.. aku baru pertama loh makan tulang sumsum gini."
" Oh ya?"
" Maklum, dulu kan nenek gak ada duit untuk beli daging atau pun tulang. Paling kalo makan Sop daging gini, hasil dari pemberian orang. Dagingnya dikit, lebih banyak wortel dan kentang ya aja." Sasa tersenyum miris mengingat masa susahnya saat bersama nenek dulu.
" Seringnya nenek sih beli ceker ayam kalo mau buat sop. Lebih murah, kadang di kasih gratis oleh yang jual."
Bara menatap wajah sang istri dengan sendu. Berhubung ruang tv dan ruang makan menyatu, jadi Mami Shella, Daddy Roy, Tante Rosa, Om Nazar, dan Kiki dapat mendengar percakapan Bara dan Sasa, hingga mereka menghentikan makan mereka dan mendengar sepenggal cerita Sasa.
Sasa menyadari atmosfer yang berbeda di sekitarnya.
" Maaf, Sa gak bermaksud cerita sedih." Sasa merasa bersalah karena, apalagi saat melihat Mami Shella dan Tante Rosa menghapus air matanya.
Mami Shella berdiri dan mendekati Sasa. Memeluk menantunya itu dengan sayang.
" Kalo kamu mau apapun, tinggal bilang sama Mami yaa. Mami akan masakin apapun yang kamu mau."
" Makasih Mi."
Bara tersenyum melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Sasa mungkin beruntung mendapatkan Bara, akan tetapi Bara sebenarnya lebih beruntung mendapatkan Sasa. Karena Sasa, Bara menjadi dirinya sendiri.
Bara mendekap tubuh sang istri, Sasa sudha terlelap tidur. Sebenarnya Bara masih ingin mendaki gunung, namun bisa Bara pastikan jika Sasa pasti akan bangun pagi untuk membantu sang Mami untuk menyiapkan makan sahur.
Sasa merenggangkan tubuhnya saat mendengar alarm berbunyi. Sasa mematikan alarm tersebut agar tidak mengganggu tidur Bara. Di pandangannya wajah tampan Bara yang masih terlelap, Sasa bangkit dan mengecup bibir Bara singkat.
" Empp..." Sasa terkesiap saat Bara menahan tengkuknya.
" Mass.."
" Ternyata kamu masih suka curi ciuman aku ya.." Bara masih menutup matanya.
Bara membuka matanya perlahan. "Dasar pencuri ciuman. Kamu fikir aku gak tau kalo kamu pernah cium aku saat aku tertidur."
" Apaan sih ... Aku gak pernah gitu." Sasa membuang wajahnya kearah lain agar Bara tidak melihat wajahnya yang memerah.
" Perlu aku ingati? Saat kita kehujanan, kamu cium aku, terus saat kitammppp..." Sasa membungkam mulut Bara dengan tangannya.
" iya..iyaa.. puas kamu Mas."
Bara terkekeh dan melepaskan mulutnya dari bungkaman tangan Sasa.
" Aku senang kamu ngaku, kamu tau, aku sengaja tetap tidur biar kamu gak malu."
" Apaan sih, udah ah. Aku mau bantu Mami dulu."
Bara terkekeh saat melihat Sasa berlari memasuki toilet secara terburu-buru.
" Mi, "
" Eh, udah bangun sayang."
" Masak apa? Biar Sa bantu."
" Oh, cuma panasi rendang yang kemarin aja. Kamu tolong cuci bayam yaa, sudah Mami potong-potong kok."
" Iya Mi."
Masakan sudah siap, Mami Shella membangunkan Daddy Roy, sedangkan Sasa membangunkan Bara.
Sasa tersenyum saat melihat Bara sedang bertadarus di sofa.
" Mas.."
Bara menoleh, " udah siap masaknya?"
" Heuem. sahur dulu yuk.."
Bara mengakhiri tadarusnya. Bara mendekat kearah Sasa yang masih memandangnya dengan penuh damba.
" Udah?"
Sasa menganggukkan kepalanya. Sasa membalikkan tubuhnya, namun Bara menahan pinggang Sasa hingga tubuh Sasa menabrak dada bidang Bara.
" Mas.."
" Minum susu dulu boleh gak?" Bisik Bara di telinga Sasa.
__ADS_1
" Mas, Mami dan Daddy pasti sudah nungguin kita. " Sasa bergidik geli karena Bara mengendus lehernya.
" Baiklah, satu ciuman aja." Bara mencium bibir Sasa, mengisap dan ********** hingga Sasa memukul bahu Bara karena kehabisan napas.
Bara menghapus jejak Saliva di bibir Sasa. " I love you mungil."
Mami Shella, Daddy Roy, Bara, dan Sasa pun sahur bersama. Walaupun Mami dan Sasa lagi tidak puasa, tapi mereka juga ikut sahur bareng.
Sasa menyiapkan Baju seragam Bara dan meletakkannya di atas tempat tidur.
" Mungil?" Bara keluar dari kamar mandi dan menatap bingung kepada Sasa.
" Hemm?" Sasa sedang merapikan tempat tidur.
" Kamu siapin seragam aku?"
" Heum. Kenapa?"
" Kamu?"
Sasa tersenyum manis. " Aku udah gak trauma lagi kok dengan seragam kamu."
" Oh yaa? Kok bisa?"
" Bisa dong. Saat aku pergi, aku bawa seragam kamu yang pernah tertinggal di apartemen. Aku terapi dengan mengikuti petunjuk dokter saat itu. Awalnya aku emang sampai demam, tapi demi kamu, aku gak mau nyerah gitu aja."
Mata Bara sudah berkaca-kaca. Gak nyangka kalo Sasa sampai segitunya berusaha menghilangkan traumanya demi dirinya.
" Mungil." Bara memeluk tubuh Sasa, dan mengecup kepala Sasa berkali-kali.
" Aku mencintai mu Mas, sangat. Jadi, apapun akan aku lakukan. Maafin aku yaa Mas. Beruang Madu ku tercinta."
" Aku mencintai mu Mungil. Aku akan memaafkan mu, asal kamu tidak pernah lagi pergi dari aku."
" Aku gak akan pergi, kan aku udah jadi istri kamu Mas."
" Aku mencintai mu Mungil."
Rasanya Bara tidak pernah bosan mengungkap rasa cintanya kepada Sasa, mungilnya.
Bara sangat kesal, Atasannya menyuruh Bara untuk mengikuti seminar di Bogor selama 10 hari. Itu tandanya Bara tidak akan bisa bersama Sasa selama itu. Bara benar-benar frustasi, baru saja bersatu dengan sang istri tercinta, sudah harus di pisahkan karena tugas.. Haah.. Nasib..nasib..
" Jadi Mas berangkat hari ini juga?"
" Hmm, padahal kan aku masih kangen sama kamu mungil." Bara memeluk Sasa yang tengah merapikan baju Barabdi dalam koper.
" Ulu..ulu..ulu.. beruang madu ku. Manja banget sih.." Sasa menggelitik dagu Bara.
" Mungil, kamu ikut aja mau? nanti kita nginap di hotel aja."
" Enggak ah Mas. Kamu seharian ikut seminar, sedangkan aku ngeram di dalam hotel. Males ah.."
" Kalo ngeramnya sama aku di kamar gimana?" Bara menaik turunkan alisnya.
" Dasar Beruang mesum."
Sasa dan Mami Shella mengantar Bara ke bandara.
" Kamu jangan lupa sahur ya di sana. Buka puasanya juga jangan sembarangan. Jangan lupa minum air putih yang banyak" Nasehat Mami Shella.
" Iya Mi, Bara pergi yaa.." Bara mencium punggung tangan Mami Shella.
" Hati-hati yaa Mas. Jangan lupa kasih kabar."
" Tentu Mungil." Bara memeluk Sasa, dan mnecium pucuk kepalanya berkali-kali.
" Malu Mas. Ada Mami" Bisik Sasa di dalam pelukan Bara.
Bara terkekeh dan merelai pelukannya. Bara mencium kening, kedua pipi Sasa, hidung dan mengecup cepat bibir Sasa.
" Mas.. Batal nanti puasanya.." Sasa sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Gak batal Mungil, aku ciumnya gak pake napsu."
" Aku pergi yaa, Assalamualaikum."
Sasa mencium punggung tangan Bara. "Hati-hati Mas. Walaikumsalam"
Bara kembali mencium punggung tangan Mami Shella. " Dasar Bicun"
" Bucin Mi" Bara membenarkan ucapan Mami Shella.
" Suka-suka Mami lah.."
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam" Sasa dan Mami Shella mengucap salam bersamaan.
Mami Shella dan Sasa pun kembali ke rumah dengan menggunakan taksi. Karena Mami Shella tidak bisa membawa mobil, begitupun dengan Sasa. Biasalah, Daddy Roy selalu setia jadi supir Mami Shella.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Salam SaBar... (Sasa & Bara )