
“Saya terima nikah dan kawinnya Raysa Parayoga Bahari anak kandung bapak untuk saya dengan mahar tersebut di bayar tunai.”
“SAAAHHHHH ....”
“Alhamdulillah ...”
Raysa yang berada di dalam kamar pun menitikan air matanya saat mendengar ijab dan qabul yang terdengar lantang dan dalam satu tarikan napas tersebut.
“Udah sah Ca,” seru Quin dan Anggel berbarengan yang juga ikut meneteskan air matanya.
“Alhamdulillah, Mbak.”
Anggel dengan lembut menghapus air mata Raysa yang mengalir di pipinya. Setelah mendapatkan perintah untuk membawa Raysa keluar menemui suami nya. Quin dan Anggel pun membawa Raysa menuju mendakti sang suami untuk di duduk sandingkan bersama. Fatih menolehkan kepalanya di saat terdengar bisik-bisik dari orang
sekitarnya.
“Masya Allah Layca, Kamu cantik banget, sayang. Aku makin klepek-klepek sama Kamu,” ujar Fatih yang sduah berdiri dan siap menyambut sang istri, serta mengulurkan tangannya untuk di berikan kepada Raysa.
Seluruh tamu dan keluarga pun tertawa melihat Fatih yang gak sabaran untuk menyentuh tangan Raysa. Quin pun iseng dan menepis tangan Fatih. Benar-benar dah si Fatih, gak sabaran banget dah.
“Belum saatnya pegang-pegang, sabar.”
Fatih mengurut dadanya di saat melihat ibu dua anak itu menepis tangannya. Raysa hanya tersenyum manis dan malu-malu melihat Fatih menatapnya tanpa berkedip.
Raysa memang terlihat sangat cantik sekali dengan pakaian adat minang. Dengan hiasan kepalanya tak memakai sunting, melainkan memakai tikuluak talakuang, kain segi empat yang di sampirkan kekepala hingga menyerupai kerudung.
“Duduk Fatih.” Titah Anggel dengan melototkan matanya.
Fatih menjadi salah tingkah karena ketahuan memandangi Raysa tanpa berkedip. Fatih pun bingungharus berbuat apa, hingga akhirnya Quin kembali mengintruksi Fatih untul duduk.
Fatih pun kembali duduk dengan di iringi tawa dari para tamu undangan dan keluarga. Tak hanya Fatih, ternyata Daddy Bara, Papi Gilang, dan Mami Mili menatap Raysa penuh takjut.
“Gila, mantu Gue cantik banget. Bisa cantik gitu anak Lo Bar?” tanya Papi Gilang sambil menatap Raysa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Siapa dulu Daddy nya.”
Papi Gilang mencebikkan bibirnya, saat Daddy Bara membanggakan dirinya jika kecantikan Raysa menurun dari ketampanan nya. Ya ... ya ... ya ... suka-suka Daddy lah.
__ADS_1
Raysa duduk di sebelah Fatih, dengan sedikit melirik Fatih sambil tersenyum malu, ternyata Fatih masih menatapnya dengan tatapan memuja. Setelah selesai dengan urusan tanda tangan, penghulu pun menyuruh Raysa mencium tangan Fatih.
Fatih pun dengan tak sabaran mengulurkan tangannya, Raysa menyambut uluran tangan Fatih dengan mencium punggung tangan Fatih dengan khidmat. Tangan kiri Fatih menyentuh kepala Raysa. Setelah menicum punggung tangan, Fatih langsung mendaratkan kecupan dikening Raysa, tanpa menunggu aba-aba dari pak penghulu.
Yang mana mengundang tawa dan sorakan dari para tamu undangan dan keluarga.
Fatih mencium kening Raysa dengan khidmat hingga air matanya menetes mengalir di pipi Fatih. Semua orang yang bersorak tiba-tiba diam dan ikut terharu dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Fatih menangis hingga tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Raysa dan menciuminya. Raysa juga ikut menangis karena terbawa perasaan Fatih. Tak Raysa, seluruh keluarga yang mengetahui bagaimana perjuangan Fatih untuk mendapat Raysa. Perjuangan yang terlalu menyedihkan, namun terlalu indah untuk di lupakan. Perjuangan yang tak mengenal kata menyerah demi menyatakan cintanya. Perjuangan yang akhirnya memiliki ending yang membuat semua orang mengucap syukur dan turut bahagia.
Mami Mili berjalan mendekati Raysa dan Fatih. Mami Mili memeluk anak dan menantunya dan ikut menangis.
“Perjuangan Abang yang sebenarnya baru akan segerai dimulai, Abang harus semangat dan selalu bersyukur dengan apa yang udah Abang raih saat ini.”
“Iya, Mi.”
Quin memberikan tisu kepada Raysa dan Fatih. Untungnya make up Raysa tak mudah luntur.
Di sudut sana, Tissa ikut terharu dan mengusap air matanya yang juga mengalir membasahi pipi nya. Tissa tahu, bagaimana perjuangan Fatih untuk menaklukkan hati Raysa. Perjuangan yang begitu kuat untuk mencintai seorang wanita yang sedari kecil. Perjuangan yang sampai ingin melupakan dan berfikir jika perasaan yang ia rasakan hanyalah perasaan ingin memiliki saja. Perjuangan yang tak mengenal lelah dan rela merasakan sakit demi kebahagiaan orang yang ia cinta.
“Istri Fatih cantik banget ya,”
“Benarkah? Pantes aja Fatih terlihat begitu mencintainya.”
“Iya Ma, Tissa ikut bahagia lihat Fatih bahagia, karena Tissa juga ikut menjadi saksi cinta Fatih untuk Raysa.”
“Mama harap, kamu akan mendapatkan jodoh seperti Fatih.”
“Ma, Kita udah bahas ini berkali-kali. Tissa gak ingin menikah karena hanya tak ingin terlihat menyedihkan. Tissa tak ingin menikah karena semua orang yang dekat dengan Tissa sudah pada menikah. Tissa tak ingin menikah, hanya karena untuk menyakiti perasaan Tissa sendiri nantinya. Tissa gak mau, Ma. Tissa nyaman dan akan baik-baik saja dengan kesendirian Tissa. Mama harus percaya dengan Tissa.”
“Hmm, Mama percaya kok sama Tissa.”
Tissa memeluk sang Mama, tanpa mereka sadari, jika Farhan sedari tadi terus memperhatikan mereka. Farhan sangat merindukan wanita yang sedang memeluk wanita cantik paruh baya itu. Farhan ingat saat dirinya megejar Tissa ke Paris.
Paris, dua bulan lalu.
“Mbak, ini mau di taruh di mana?”
“Tolong letakkan di sana ya.”
__ADS_1
“Nona Tissa, bisakah kamu menolong ku?” seorang wanita berpas Indo mendatangi Raysa dengan terburu-buru dan mengincar Tissa dengan meminta pertolongan.
“Ya, apa itu Nona Daila”
“Bisakah kamu melukis di cafe ku? Aku mohon, seorang pelukis yang sudah ku bayar telah melarikan diri dan membawa semua uang yang telah aku bayarkan. Tiga hari lagi adalah pembukaan cafe ku. Maukah kamu menolong ku? Hanya melukis di dinding, aku mohon,” ujar wanita itu sambil memelas.
Semenjak berada di Paris, Daila yang selalu membantunya. Daila ini adalah tunangan dari Tn. Paul Benzema.
Pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan Tissa.
“Baiklah, kapan aku bisa mulai bekerja”
“Ini referensi gambar yang aku punya. Tapi jika kamu punya imajinasi lain dan ingin membuatnya dalam sebuah
karya, aku akan sangat bahagia sekali.”
Tissa mengambil beberapa lembar foto yang di ulurkan oleh Daila. “Baiklah, aku akan mengerjakannya malam ini
juga.”
“terima kasih Tissa, terima kasih. Kamu memang penyelamat ku.”
Dan, disinilah Tissa. Di sebuah Cafee yang terlihat sangat berkelas. Tentu saja, pemiliknya adalah seorang
tunagan yang sangat berkuasa di Paris. Seorang pelayan menyambut kedatangan Tissa dan menunjukkan di mana Tissa akan menuangkan karya-karya berkelasnya.
Tissa memandang dinding putih bersih yang masih kosong. “Baiklah, mari kita mulai.”
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA.
Salam Rindu dari FARHAN n TISSA
__ADS_1