
"Mbak, emangnya sakit ya saat pertama kali.” Tanya Raysa dengan malu-malu.
“Pertama kali apa nih?” Goda Quin.
“Emm, itu lah Mbak, pertama kali di tembusin.”
“Duuh, kasih tau gak yaa, tapi masih ada anak kecil di sini, gimana dong?” Quin melirik ke arah Desi.
“Mbak, aku udah gede, bentar lagi juga nyusul kok, tapi itu kalo di lamar cepat sama si Jo.” sambar Desi sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
Sontak saja semua tertawa mendengar kekesalan Desi yang mana Jo masih sibuk dengan pendidikannya dari pada membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
“Kamu sih, kurang aduhai. Coba deh bikin Jo kepanasan, biar cepat-cepat di lamarnya.”saran Anggel.
“Gimana caranya Kak?”
“Selingkuh.”
“Yaah, bahaya banget sih sarannya, Mbak? Kalo Jo nya malah kabur gimana?”
“Ya gak selingkuh beneran juga kali. Terkadang ya, cowok itu perlu di pancing. Coba deh nanti saat pesta Raysa, kalo ada cowok yang ngajakin Kamu ngobrol, Kamu ladenin aja. Liat reaksi Jo gimana.”
“Gitu ya Mbak?”
“Ya dong.”
“Terus, yang aku tanya tadi gimana, Mbak?” tanya Raysa lagi.
“Yang mana? Yang tembus menembus?”
“Iya ...”
“Tergantung permainan Fatih-nya gimana dong. Bisa bikin Kamu kesakitan semalaman, atau melayang setelah sakit.”
“Duuh, gimana itu Mbak melayang setelah sakit?”
Quin dan Anggel pun saling melirik.
“Ada deh ... Rahasia perusahaan,” ujar Quin dan Anggel bersamaan.
Raysa pun mengerucutkan bibirnya karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
“Sstt ...” Kayla meringis di saat baby nya menendang dengan kuat di dalam sana.
“Kenapa Kak?”
“Gak papa, biasalah, nendang-nendang baby nya.”
“Asal jangan brojol aja, Kay,” ujar Quin dengan nada yang khawatir.
*
Raysa sudah bersiap untuk tidur. Sedari tadi Raysa memang sudah di wanti-wanti untuk tidur cepat oleh seluruh keluarga.
Ceklek ...
Raysa menoleh dan ternyata Bunda Sasa yang masuk kedalam kamarnya.
“Bunda boleh masuk?”
“Tentu, kemari Bun.”
Bunda Sasa pun mendekat dan duduk di sebelah Raysa. Di pandanginya wajah sang putri yang polos tanpa alas bedak apapaun. Semua ingatan tentang Raysa kembali muncul bagaikan video yang sedang di putar. Hingga tanpa sadar pun Bunda Sasa menjatuhkan air matanya.
“Ah, maaf.”
__ADS_1
Raysa menghapus air mata Bunda Sasa yang mengalir di pipi nya.
“Bunda kenapa nangis?”
Bunda Saas membelai lembut pipi Raysa. “Bunda gak nyangk, aja kalo gadis kecil Bunda udah dewasa. Besok udah mau jadi istri orang. Bunda bersyukur banget, karena Bunda masih di beri kehidupan sama yang maha kuasa untuk melihat pernikahan kamu dengan orang yang tepat.”
Mata Raysa ikut berkaca-kaca mendengar ucapan Bunda Sasa.
“Kamu tahu, saat Bunda menikah dulu, tak ada satu orang pun keluarga Bunda yang ada bersama Bunda. Bunda hanya di dampingi oleh Almarhum Eyang kamu di kampung. Saat itu Bunda berdoa, agar Bunda di beri umur yang panjang agar bisa mendampingi anak-anak Bunda di saat mereka menikah. Bunda berharap, tak hanya bisa melihat pernikahan kamu, tetapi juga bisa melihat pernikahan Ibra, Febri, dan Rayyan.”
“Bunda, hiks ... Bunda harus tetap sehat. Bunda harus lihat anak-anak Ica nanti. Bunda harus tetap sehat. Hikks ...” Raysa memeluk sang Bunda dengan sayang.
Pintu kamar kembali terbuka dan menampilkan Daddy Bara.
“Loh, Bunda udah duluan di sini.”
Raysa dan Bunda Sasa pun merelai pelukannya. “Daddy cariin Bunda?”
“Loh, kenapa dua bidadari Daddy nangis?”
“Gak nangis kok, cuma kelilipan aja.”
Daddy Bara menghampiri dua bidadarinya dan memeluknya dengan sayang. “Daddy sayang Bunda dan Ica.” Daddy Bara mendaratkan kecupan di pucuk kepala Bunda Sasa dan Raysa.
“Kita tidur yuk,” ajak Daddy Bara.
“Bunda mau tidur sama Ica.”
“Daddy juga tidur di sini. Makanya Daddy ajakin tidur biar Ica nya fresh besok dan terlihat cantik.”
Raysa tersenyum dan memeluk Daddy Bara.
“Daddy yang terbaik.”
“Kamu yang tercantik, setelah Bunda pastinya.”
merengkuh kedua tubuh bidadari yang sangat di cintainya itu. Daddy Bara mendaratkan kecupan di kening Raysa dan menyanyikan sebuah lagu untuk mengantarkan tidur sang putri.
Daddy Bara memandangi wajah Raysa yang sudah tertidur lelap di dalam pelukannya. Sayup-sayup Bunda Sasa mendengar isak tangis yang tertahan. Bunda Sasa bangkit dan melihat jika Daddy Bara telah menangis sesenggukan sambil menggigit punggung tanganya.
“Mas.” Bunda Sasa menyentuh lengan Daddy Bara.
Daddy Bara pun semakin memeluk tubuh Raysa denagn erat, sehingga membuat Raysa kembali terbangun karena merasa terjepit.
“Daddy?” lirihnya.
Raysa pun ikut menangsi karena melihat Daddy Bara dan Bunda Sasa menangis.
“Daddy sangat menyayangi Kamu. Kamu harta paling berharga yang Daddy miliki. Nasehat Daddy, jadilah istri yang berbakti kepada suami, dengar apa kata suami, jangan melawan, turuti semua perintahnya. Daddy percaya, Fatih pasti akan membahagiakan kamu. Hiks ... Ah, dari awal Daddy udah filling kalo Fatih yang bakal menculik
kamu dari Daddy.”
“Hikks, Mas jangan nangis lagi. Ica ikutan nagis tu. Besok kalo matanya bengkak gimana? Hiks ....”
“Bunda juga, kenapa ikut nnagis?”
“Bunda sedih.”
“Daddy juga.”
Hingga akhirnya mereka pun menangis entah berapa lama.
“Gara-gara Mas tuh, mata Ica jadi sembab.” Kesal Bunda Sasa.
Daddy Bara terkekeh pelan. “Iya Maaf.”
__ADS_1
Bunda Sasa turun dari tempat tidur. “Mau ke mana, Mungil?”
“Mau ambil timun buat kompres mata Ica. Gak lucu kan mata pengantin wanitanya sembab. Entar di kira terpaksa lagi nikah sama Fatih.”
Daddy Bara pun menganggukkan kepalanya. “Sekalian sama coklat hangat ya.”
“Iya Mas.”
Sepeninggalan Bunda Sasa, Daddy Bara kembali mengecup kening Raysa dan membelai rambutnya dengan lembut. Dalam hati Daddy Bara berdoa agar pernikahan Raysa dan Fatih adalah pernikahan pertama dan terakhir, hingga maut memisahkan mereka, dan semoga Raysa bahagia bersama Fatih. Tak ada doa lain selain kebahagiaan sang putri. Ya, ssetiap orang tua selalu mendoakan kebahagiaan anak-anak tercinta mereka.
*
Hari ini adalah hari yang paling menegangkan dalam hidup Fatih. Hari ini, Fatih akan membuka lembaran barunya bersama Raysa. Gadis yang di cintainya sedari kecil. Siapa yang sangka jika akhirnya Fatih bisa membawa pulang Raysa kerumahnya. Seperti permintaannya kepada sang Mami sewaktu melihat Raysa pertama kalinya. Dan permintaan itu mungkin sudah di aminkan oleh malaikat yang sedang menjaga Raysa bayi.
Pintu kamar Fatih terbuka, Mami Mili muncul dari sana sambil melebarkan senyumnya. Perlahan, Mami Mili berjalan dan mendekati Fatih.
“Mi.”
Mami Mili merapikan baju pengantin untuk akad nikah yang sedang Fatih kenakan.
“Anak Mami udah besar.” Satu titik air mata jatuh ke pipi mulus Mami Mili.
Fatih mengusap lembut pipi Mami Mili. “Makasih Mi, udah mempertahankan Fatih dulu, makasih udah membesarkan Fatih dengan cinta, Makasih juga untuk semua doa-doa Mami untuk Fatih. Fatih sayang banget sama Mami.” Fatih mendaratkan kecupan di kening Mami Mili.
“Ingat pesan Mami, jagan pernah kamu menyakiti perasaan Raysa. Ridho nya istri, juga jalan surga untuk kamu. Bukan karena surga kamu masih di bawah telapak kaki Mami, tapi, surga kamu juga ada di ridhonya istri.”
“Iya Mi, Fatih janji gak akan menyakiti Layca. Tegur Fatih, di saat Fatih mulai salah jalur.”
“Tentu, bahkan Mami akan menghukum kamu jika berani menyakiti Ica.”
*
Rombongan Fatih sudah berada di dekat rumah Oma Mega. Fatih turun dari mobilnya dengan di payungi oleh payung pengantin menuju rumah Raysa. Fatih terlihat tampan dengan baju adat Minang. Dengan gagah Fatih
melangkahkan kakinya dan terssenyum canggup kepada semua orang yang melihatnya.
Fatih duduk di tempat yang sudah di persiapkan untuk melangsungkan akad nikah. Daddy Bara juga sudah berada di sana dengan gagahnya. Fatih menarik napasnya panjang dan dengan perlahan menghembuskannya.
“Bagaimana? Apa sudah siap para saksi?” tanya pak penghulu.
Kedua saksi pun menganggukkan kepalanya, akad nikah pun segera di mulai. Raysa masih berada di dalam kamar, tidak di kasih keluar sebelum akad nikah berlangsung. Fatih merasakan tangannya dingin, begitu pun dengan Daddy Bara. Tangan kokoh kedua pria tersebut pun saat ini sudah saling berjabat. Semua para tamu undangan pun menutup mulut mereka untuk mendengarkan ijab dan qabul berlangsung.
Dengan suara lantang Daddy Bara mengucapkan ijab-nya untuk menikahkan sang putri dengan pria yang sangat di cintai anaknya. Dan, dengan suara tak kalah lantangnya Fatih juga mengucap Qabul hingga suaranya terdengar menggelegar hingga sampai ke rumah Oma Shella hanya dengan satu tarikan nafas tanpa ada kesalahan sedikit pun.
“Saya terima nikah dan kawinnya Raysa Parayoga Bahari anak kandung bapak untuk saya dengan mahar tersebut di bayar tunai.”
“SAAAHHHHH ....”
Kata Sah pun saling bersahutan yang di awali oleh saksi dan di sambung oleh para tamu undangan hingga keluar rumah.
“Alhamdulillah ...”
Raysa yang berada di dalam kamar pun menitikan air matanya saat mendenagr ijab dan qabul yang terdengar lantang tersebut. Quin dan Anggel membawa Raysa menuju ke sang suami. Fatih menolehkan kepalanya di saat terdenagr bisik-bisik dari orang sekitarnya.
“Masya Allah Layca, kamu cantik banget, sayang. Aku makin klepek-klepek sama kamu.”
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA.
Salam Rindu dari FARHAN n TISSA
__ADS_1
Ah ya, nanti bakal ada part Tissa dan Farhan ya, d tunggu yaa, gimana perjuangan Farhan untuk meyakinkan Tissa.