
'Fatih, aku rindu.'
Raysa memandangi isi pesan tersebut dan kembali menghapusnya. Namun, saat Raysa ingin menghapus, pesan tersebut tak sebagai terkirim kepada Fatih, dan membuat Raysa membelalakkan matanya.
"Mampus gue..."
Saat Raysa ingin menghapus pesan terkirim tersebut, saat itu juga Raysa melihat centang dua yang berwarna abu-abu itu berubah menjadi warna biru.
"Aduuhh.. gimana ni?"
Raysa yang panik pun langsung kembali mengirim pesan kepada Fatih.
*
Cling ..
Fatih menatap ponselnya dan langsung melihat notif pesona dari Raysa. Fatih mengembangkan senyumnya di kala membaca isi pesan tersebut. Fatih dengan cepat membuka aplikasi pesan tersebut. Namun, saat Fatih ingin membalas pesan singkat tersebut. Pesan dari Raysa kembali masuk, yang mana membuat hatinya selama tersayat sembilu. Fatih menatap isi pesan tersebut dengan hati yang bergemuruh.
Layca❤️ : Aku Rindu Kak Farhan. Tapi aku malu mengatakannya.
Kraaakkk ...
Apa kalian mendengar itu? Itu adalah suara hati Fatih yang belum sembuh dan harus kembali retak.
"Bang, kok melamun?" Tanya Steva dengan menyenggol lengannya.
Fatih menoleh, ia meletakkan kembali ponselnya dengan keadaan layar yang menghadap ke atas meja.
"Iya, An, menurut kamu kita pesan yang mana?" Fatih pun mencoba mengalihkan fikirannya dari pesan singkat yang dikirimkan oleh Raysa.
Tanpa Fatih tau, Raysa di seberang sana memandang ponselnya dengan tangan bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
"Apa hanya di baca? apa dia tak ingin membalasnya? atau? apa aku kembali menyakiti hati nya? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? kenapa ini sangat sakit sekali? hikss..." Monolog nya dengan mata berkaca-kaca.
*
Fatih menghubungi Tissa, untuk mengambil paper bag milik Raysa.
"Gue di rumah sakit, Lo ke sini aja boleh? Gue gak tega ninggalin Mama. Adik gue masih sekolah soalnya, dan dia harus pergi les sepulang sekolah." Jelas Tissa dari sambungan telponnya.
Tissa pun memberi tahu di mana rumah sakit tempat Mama nya di rawat. Fatih mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan sedang. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus keluarga Moza, Fatih pun masuk tanpa tersenyum dengan menenteng parcel buah untuk Mama nya Tissa, yang mana membuat wajahnya terlihat tak bersahabat.
"Assalamualaikum." Fatih membuka pintu putih itu secara perlahan.
"Eh, nak Fatih. Ayo masuk."
Fatih pun melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruang inap tersebut. Fatih meletakkan parcel buah di atas meja.
"Apa kabar Tante." Sapa Fatih ramah sambil mencium punggung tangan Tante Mira
"Alhamdulillah, udah enakan. Kamu gimana? Kok Tante lihat sepertinya kamu agak kurusan ya."
Fatih terkekeh, "Banyak kerjaan Tante, jadi sering lembur."
"Hah, sama aja kamu dengan Tissa. Lagian ya, Tante heran, emangnya pelukis itu kerja nya sampai larut malam ya?"
"Itu karena seorang pelukis harus menyelesaikan lukisannya Ma." Jawab Tissa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ck, Mama gak tau. Habisnya kamu diam-diam menjalani bakat kamu. Padahal Mama selalu dukung apa yang kamu lakukan."
Tissa terkekeh, kemudian ia duduk di samping tempat tidur sang Mama. Mereka pun berbincang tentang perihal Tissa yang akan menggelar pamerannya sekalian meresmikan galery nya.
__ADS_1
Fatih pamit undur diri karena sudah saat. ya Tante Mira untuk beristirahat. Tissa pun mengantarkan Fatih keluar hingga menuju parkiran mobil. Namun, saat di lorong rumah sakit, Tissa dan Fatih menoleh kepada suara lembut yang menyapa Fatih.
"Fatih?"
"Oh, hai An."
Wanita bersuara lembut itu adalah Anggel. Anggel melihat wanita yang berdiei di sebuah Fatih dengan tatapan bertanya. Tak pernah Anggel melihat Fatih dekat dengan seorang wanita selain dirinya, Quin, Kayla, dan Raysa.
"Oh, kenalin. Ini temen aku. Tissa."
"Hai, Tissa.." Sapa Tissa ramah sambil mengulurkan tangannya.
Anggel pun tak kalah ramah dan mengulurkan tangannya untuk menyambut ukuran tangan Tissa.
"Anggel."
"Anggel ini dokter kandungan di sini. Kalo kamu hamil, bisa periksa sama Nona cantik bak malaikat ini." Seru Fatih.
Tissa melirik Fatih dengan kesal, sedangkan Fatih hanya terkekeh melihat ekspresi Tissa. Anggel yang melihat itu pun merasa Ange, sebenarnya ada hubungan Apa Tissa dan Fatih?
Fatih dan Tissa pun undur diri setelah mengobrol sebentar dengan Anggel, kebetulan juga Anggel harus menerima pasiennya.
"Nih." Tissa memberikan paper bag yang lumayan besar kepada Fatih.
"Mobil teng bawa kayu." Ujar Fatih
"Misa-misa."
"Apaan tuh?" Tanya Fatih.
"Sami-sami, Sama-sama." Jelas Tissa.
*
Sudah seminggu Fatih tak memberi kabar kepada Raysa, dan Raysa juga sudah beberapa kali mengirimkan pesan namun tak di baca oleh Fatih. Fatih memang sengaja mengabaikan pesan tersebut atas saran dari dokter Faisal. Anggel pun juga melakukan terapi demi menghilangkan rasa cinta nya kepada Lana.
Fatih menghidupkan kembali batang rokok yang entah keberapa kali nya di hisap oleh nya. Sehingga Veer dan Lana yang baru saja tiba di atap gedung mendesah melihat sahabat sekaligus saudara nya itu sangat merana. Mereka juga tahu jika Fatih mendatangi seorang psikiater untuk menghilangkan rasa obsesinya kepada Raysa.
"Cukup, itu akan membuat paru-paru mu menangis." Ujar Veer sambil mengambil batang rokok yang ada di bibir Fatih.
Fatih terkekeh, kemudian ia mengambil minuman soda nya dan menyesapnya. Veer dan Lana mendesah lega bahwa setidaknya Fatih tidak meminum minuman haram. Bisa berabe jika Fatih meminum minuman haram itu, tak hanya Fatih, melainkan Veer dan Lana bakal mendapatkan hukuman dari para Papa dan Papi.
Yupss, mereka adalah paket lengkap, jika satu saja yang membuat salah, maka mereka semua akan mendapatkan imbasnya. Walaupun salah satu dari mereka tak mengetahui apa kesalahan yang di perbuat nya. Ini hukuman atas solidaritas yang di berikan oleh Papa Arka dan di sepakati oleh Papi Gilang, Papi Vano, dan juga Papa Fadil.
"Gue dengar Quin mau di jodohi?" Ujar Fatih menatap Veer dan Lana.
"Lo serius?" Tanya Lana, kemudian beralih ke menatap Veer. "Lo kok gak bilang ke gue?"
Veer mendesah, "Belum pasti, kakek ingin melihat Quin menikah."
"Gue bakal lamar dia." Ujar Lana dengan mantap.
Fatih sedikit kesal mendengarnya, karena Fatih tau bahwa Lana juga mencintai Anggel, begitu pun sebaliknya. Apa susahnya sih hanya mencintai satu wanita saja?. Kesal Fatih
"Gue yakin Lo bakal di tolak untuk kesekian kali nya." Ujar Veer.
"Gue rasa Quin gak akan menolak gue Ki ini." Lana menyeringai, "Karena gue yakin banget, Quin lebih milih gue dari pada orang asing."
"Kita lihat saja ... dan nanti nya Lo jangan menyesal di akhrinya." Ujar Fatih dengan nada yang terdengar kesal sambil meraih minuman soda nya dan meneguknya hingga habis.
*
__ADS_1
Kepulangan Kayla dan Zein suatu berita yang menggembirakan bagi Quin dan Anggel. Termasuk Fatih tentu nya. Karena Fatih juga dekat dengan Anggel. Seringnya Fatih datang ke rumah Oma Shella hanya untuk bermain dengan Raysa kecil, Fatih juga bersahabat baik dengan Kayla. bahkan mereka juga sering melakukan komunikasi dengan bertukar pesan.
Fatih mengendarai motor sport nya menuju rumah Opa Nazar. Setelah Sampai di rumah Opa Nazar, Fatih turun dari motor sport nya dan masuk kedalam pagar, tanpa Fatih sadari jika ada tatapan elang yang sedang menatapnya dengan tajam.
Tok ... tok .. tok..
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam." Teriak Kayla dari dalam rumah.
Kayla pun membuka pintu dan mendapatkan Fatih sudah berdiri dengan senyum nya yang selalu mengembang.
"Fatih .." Seru nya dan langsung memeluk Fatih.
Fatih membuat gerakan memutar sambil memeluk dan menggendon Kayla.
"Waah, gak nyangka jika aunty kecil ku sudah tumbuh sangat cantik." Ujar Fatih yang mana membuat Kayla kesal.
Kayla mencebikkan bibirnya, Kayla sangat membenci di panggil Aunty oleh para sahabatnya itu, pasalnya karena mereka seumuran.
"Jalan-jalan yukk.."
"Kemana? hari ini aku ada wawancara untuk mengajar musik."
"Gampang, aku temenin."
"Ya udah, aku mandi dulu ya."
"Oke, aku ke tempat bunda Ya. Kangen."
Setelah berpamitan dengan Oma Rosa, Fatih pun berjalan menuju rumah Bunda Sasa.
"Woy bro." Tegur Zein dari pagar besi nya.
Fatih menghentikan langkahnya, kemudian ia menoleh.
"Ngapain Lo di situ? kayak di penjara aja. Gak kenal gue sama Lo." Ujar Fatih dan melanjutkan langkahnya menuju rumah Bunda Sasa.
Zein geram dan langsung mengejar Fatih.
"Ngapain Lo ke tempat Kayla?" ujar Zein sambil merangkul Fatih yang lebih tinggi sedikit dari nya.
"Rindu." jawab Fatih sambil membuka pagar rumah bunda Sasa.
Fatih mengucapkan salam dan kemudian di sambut oleh Oma Shella.
"Pas banget, Bunda tadi masak botok." Ujar Oma Shella dan mempersilahkan cucu-cucunya itu masuk kedalam rumah.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1