Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 116


__ADS_3

Raysa dan Fatih sudah kembali ke Bandung, begitu pun dengan Tissa dan Farhan yang tengah berbulan maldu ke maldives.


Fatih benar-benar menjaga Raysa dengan ekstra, bahkan Fatih sampai berbicara kepada atasan Raysa untuk tak memberikan pekerjaan lapangan yang berat kepada Raysa. Mengetahui siapa Fatih, atasan Raysa pun mengangguk setuju dan mengikuti perintah.


"Sayang, Kamu mau ngapain? biar aku aja," ujar Fatih saat Raysa ingin membuat sarapan untuk mereka.


"Aku pingin masak, Aku rindu untuk membuatkan Kamu sarapn, Bang," rengek Raysa.


"Iya, tapi Kamu kan lagi hamil, Aku gak mau Kamu kecapean, Layca."


Seharusnya Raysa senang diperhatikan oleh Fatih seperti ini, namun Raysa malah merasakan sedih. Raysa ingin sekali memasak untuk sang suami tercinta. Mata Raysa pun berkabut karena merasa sedih.


"Layca, kamu kenapa?' tanya Fatih panik, karena Raysa mulai mewek.


"Hikks ... Aku pingin masak untuk Abang, huaaa ....."


Dalam seketika, Raysa pun menangis histeris karena Fatih melarangnya memasak. Fatih pun bergeas membuka aprounnya dan langsung memeluk sang istri.


"Maafin Aku, aku hanya gak mau kamu kelelahan aja,"


"Aku pingin masak untuk abang, hiks ..."


Fatih pun merasa bingung, ia meraih ponselnya dan menghubungi sang Mami dan Bunda.


"Mi, Bun, maaf ganggu. Fatih mau tanya, Layca boleh masak gak saat dalam keadaan hamil trimester pertama?" tanya Fatih pada sambungan video call.


"Boleh kok, asal Raysa dalam keadaan sehat aja, dalam artian gak lagi sakit ataupun demam. Tapi Kamu jangan suruh Raysa masak untuk satu apartemen, pastinya Raysa akan kelelahan," ujar Mami Mili yang mana disambut tawa oleh sang besan.


Fatih pun bernapas lega, setelah berkonsultasi kepada Mami Mili dan juga Bunda Sasa, Fatih pun memberikan izin untuk Raysa memasak, dengan catatan Fatih juga ikut membantu didapur, dan Raysa tak boleh mencuci perkakas yang telah mereka gunakan.


"Masakan Kamu memang luar biasa, benar-benar mirip dengan masakan Bunda," puji Fatih yang mana membuat Sang istri tersenyum dengan wajah yang merona.


Setelah sarapan, Fatih mengantarkan Raysa kekantor polisi, tak lupa Fatih mengingatkan Rasya kembali untuk tak terlalu kelelahan dalam bekerja. Fatih pun melajukan mobilnya setelah bercipika-cipiki dengan Raysa.


*


"Hari ini kita bertugas kelapangan. Raysa, Kamu nanti menunggu dimobil saja ya," ujar atasannya.


"Siap, Pak."

__ADS_1


Mereka pun memasuki mobil pratoli dan menuju lokasi. Semua teman-teman Raysa memerika lapangan, yang mana sedang terjadi kasus penculikan anak, dan sipelakunya berhasil ditemukan.


Raysa yang sedang berdiri tak jauh dari mobil patroli pun, melihat para teman-temannya mengejar seseorang, bahkan sudah menembakkan tembakan keatas untuk memberi peringatan. Posisi Raysa yang paling dekat dengan sipelaku pun membuat Raysa refleks mengejar sipelaku hingga tertangkap.


"Sa, Kamu gak papa kan?" tanya Nanda yang merasa khawatir karena Raysa berlari dengan kencang dan juga memberikan perlawanan kepada sipelaku yang melawan untuk ditangkap.


"Aku gak papa kok,"


Baru saja Raysa melangkah satu langkah, tiba-tiba Raysa merasakan perutnya keram dan sakit.


"Akkhh ..." rintih Raysa sambil memegangi perutnya.


"Sa, Kamu gak papa?"


"Sa--kiit..." rintih Raysa dengan lemah.


Nanda pun langsung merasa panik saat melihat celana coklat Raysa basah. Sudah bisa Nanda duga, jika itu adalah darah yang mengalir. Salah satu teman mereka pun langsung menggedong Raysa dan membawa lari raysa masuk kedalam mobil patroli yang lainnya. Raysa langsung dilarikan kerumah sakit dengan keadaan sudah tak sadarkan diri.


*


"Halo ..." Fatiih menerima panggilan masuk dari Nanda.


Tanpa berfikir panjang, Fatih langsung meriah kunci mobilnya dan berlari dari meetingnya yang sedang berlangsung tanpa sepatah kata pun.


Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jantung Fatih berdebar dengan cepat, bahkan sebagian tubuhnya sudah bergetar dengan hebat. Namun Fatih tetap berusaha untuk fokus agar ia bisa selamat sampai tujuan.


Sesampainya Fatih dirumah sakit, Fatih langsung disambut dengan Nanda yang sudah bercucuran air mata, ada momol juga disana yang ikut menemani Nanda dan Raysa. Yang pertama Fatih lakukan adalah menemui sang istri tercinta.


"Layca, sayang, hikks ..." Fatih mengelus perut Raysa yang masih datar.


*


"Tih, makan dulu," ujar Momol sembari memberikan satu bungkus nasi kepada fatih.


"Gue gak lapar,"


"Lo harus makan, kalo Lo sakit, siapa yang bakal jagain Raysa?" ujar Momol masih mencoba memaksa Fatih.


"Aku gak lapar, Lo denagr gak sih?"

__ADS_1


"Lo emang gak lapar, tapi Lo harus makan. Lo mau ikut terbaring karena sakit? dan membiarkan Raysa menghadapi ini sendirian?" bentak Momol kepada Fatih.


Fatih pun terdiam, akhirnya ia meraih nasi yang diberikan oleh Momol, membuka bungkusnya dan memaksa nasi beserta lauk pauknya itu untuk masuk kedalam mulutnya. Tanpa mengunyah dengan benar, Fatih menghabiskan nasi tersebut hingga tak bersisa, Momol punbernapas lega, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan dari siang Fatih belum memakan apapun.


"Layca, bangun dong Sayang," ujar Fatih sambil menciumi punggung tangan Raysa.


*


Bunda Sasa, Mami Mili, Oma Shella, Opa Roy, Daddy Bara dan juga Papi Gilang pun sampai ke Bandung. Tadi Nanda yang menghubungi orang tua Raysa dan juga Fatih. Jangan ditanya bagaimana dengan Fatih, sedetikpun Fatih tak ingin meninggalkan Raysa, bahkan panggilan yang masuk tak diterima oleh Fatih.


"kenapa Ica sampai bisa seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya Daddy Bara kepada Nanda.


Nanda pun menceritakan apa yang terjadi tadi. Atasan mereka sudah memperingatkan Raysa untuk tak ikut terjun kelapangan, Raysa ditugaskan untuk menunggu dimobil Pratoli. Namun, tersangka malah berlari kearah Raysa, sehingga membuat Raysa reflek mengejar dan menangkap pelaku tersebut.


"Maafin Nanda, hiks..." uajr Nanda kepada Daddy Bara.


Daddy Bara mengusap bahu Nanda dengan lembut, "Bukan salah Kamu, ini memang sudah suratan takdir yang harus Raysa jalani."


*


"Fatih," panggil Mami Mili kepada sang anak saat sudah masuk kedalam kamar inap Raysa.


"Mi," Fatih langsung berlari kedalam pelukan sang Mami. Fatih tak sanggup lagi membendung air matanya, fatih pun menangis didalam pelukan sang Mami.


"Kamu yang sabar ya, Sayang.."


"Layca Mi, hiks... Layca .. hikks...."


"Ssstt, kamu harus kuat, jika Kamu lemah, maka Raysa juga akan merasa lemah. Kamu harus menjadi orang yang bisa dijadikan sandaran bagi Raysa, disaat ia susah, sedih, dan senang. Kamu harus kuat, Fatih. Anak Mami harus Kuat," ujar Mami Mili sambil mengusap punggungsang putra.


BUnda Sasa menghampiri brankar Raysa, dimana raysa terbaring lemah dengan wajah yang pucat. "Sayang, Kamu harus kuat," lirih Bunda Sasa sambil menggenggam tangan sang putri.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.


Jangan lupa like and komen.


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA

__ADS_1


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2