Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F 13


__ADS_3

"Mungil ..."


Sudah hampir satu jam Daddy Bara merayu Bunda Sasa, namun Bunda Sasa semakin merajuk dengan Daddy Bara.


"Maaf, aku kan cuma becanda ..." Daddy Bara menyentuh bahu Bunda Sasa.


" Gak usah pegang-pegang bisa gak? gerah tau ..."


Daddy Bara langsung menyeringai licik,


"Aku tau loh cara supaya gak gerah lagi ..."


Bunda Sasa sudah siap dengan pergerakan melarikan diri, namun ternyata pergerakan Daddy Bara lebih cepat dari Bunda Sasa.


"Mas ..." Pekik Bunda Sasa saat setelah tubuhnya berada di dalam gendongan Daddy Bara.


"Biar gak gerah lagi ..." Daddy Bara membawa Bunda Sasa kedalam kamar mandi.


Untungnya Fatih sudah menambahkan kamar mandi di dalam kamar tamu. Yaa walaupun kecil, tapi setidaknya jika mandi tidak perlu ke kamar mandi yang ada di dapur.


"Mash ... Akh ..." Bunda Sasa sudah Mendes**h di kala Daddy Bara mengecup leher jenjang Bunda Sasa, dan meninggalkan jejak di sana. Bahkan tangan Daddy Bara tak diam sedari, sehingga pakaian yang dikenakan Bunda Sasa entah melayang ke mana.


*


"Laper banget ..." Gumam Raysa dan melihat apa yang da di dalam kulkas.


"Wow, lengkap juga di isinya."


Raysa mengambil buah pir kesukaannya, kemudian ia langsung menggigit buah tersebut. Raysa yakin, jika Fatih sudah mencuci buah itu sebelum di masukkan nya kedalam lemari pendingin.


"Bunda sama Daddy ngapain yaa?"


Raysa menoleh kearah kamar tamu, kemudian ia melangkahkan kaki nya menuju kamar di mana Daddy dan Bunda nya berada.


Baru saja Raysa mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, namun suara aneh dan membuat Raysa merinding terdengar sangat jelas.


"Akhh ... Mungil ... Akh ... Eemnhh ... Akh ..."


"Ahh ...Masshh ..."


Terdengar suara sahut menyahut dari dalam kamar tersebut. Dengan cepat Raysa menjauh dengan bergidik geli.


"Iih, Daddy Sama Bunda gak liat tempat apa? Lagian, baru juga sampai udah gitu-gitu aja." Raysa menggerutu tak jelas.


Tiba-tiba saja Raysa sangat bosan, ianmeraih ponselnya dan membuat panggilan kepada Fatih.


*


"Kenapa? Masam banget tuh wajah." Fatih membiarkan Raysa masuk dan menyelonong ke ruang TV.


Raysa mendudukkan tubuhnya di sofa. Kemudian mata nya bergerak kesana-kesini seolah mencari seseorang.


"Di kamar dia, lagi tidur."


Terlihat Raysa membulatkan bibirnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? kok gak istirahat?"


"Huff ... " Raysa hanya menghembuskan napasnya kasar, sehingga pipinya menggembung.


Karena tak mendengar jawaban dari Raysa, Fatih pun kembali fokus kepada pekerjaannya yang sudah mendekati deadline.


Raysa mengalihkan perhatiannya kepada Fatih, jika melihat Fatih sedang fokus seperti ini, maka Fatih akan terlihat sangat tampan. Dan gak akan ada yang menyangka jika Fatih ini orang yang usil dan mudah bergaul.


Raysa juga memperhatikan sketsa yang tengah Fatih buat.


"Gedung apaan?"


"Rumah sakit"


Lihat lah, padahal Raysa bertanya dengan suara pelan, namun Fatih mampu mendengarnya.


"Aku nonton ya ... Gak ganggu kan?"


"Hmm ... Asal jangan terlalu besar volumenya."


Raysa mencebikkan bibirnya, kemudian ia meraih ponselnya dan meraih headset milijk Fatih yang berada di meja nakas.


Raysa pun mulai menonton di ponselnya, padahal Raysa ingin menonton di TV besar milik Fatih. Kamarnya saja tak sebesar itu TV nya.


Tak tau saja Raysa, jika Daddy Bara mengancam Fatih untuk tidak mengisi dengan barang mewah. Daddy Bara mau mengajarkan Raysa, jika mendapatkan sesuatu yang di inginkan itu harus dengan usaha dan kerja keras.


Fatih menolehkan kepalanya di saat mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir Raysa.


Fatih tersenyum, kemudian ia bangkit dan mengambil selimut di dalam kamarnya. Fatih selimuti Raysa agar bentuk tubuhnya tak terlalu kentara. Fatih melepaskan headset dan mematikan film yang sedang di tonton oleh Raysa.


*


Tak ada jawaban dari Fatih, ia hanya menoleh dan kembali fokus pada pekerjaannya. Farhan pun tak ingin mengambil pusing, ia berjalan kedapur dan meraih air mineral di dalam botol.


Farhan berjalan mendekati Fatih, dan duduk bersebrangan dengan Fatih, di mana jarak mereka hanya terhalang oleh meja.


"Bangunan apa?"


"Rumah sakit"


"Rumah sakit apa?"


"Ayah, Bunda, dan si buah hati."


"Wow, proyek besar itu ... Menatap deh ..."


Fatih hanya tersenyum tanpa repot-repot menolehkan kepala nya kepada Farhan.


Hening, tak ada suara selain dengkuran halus milik Raysa.


"Tumben banget tidurnya mendengkur?" Lirih Farhan yang masih di dengar oleh Fatih. "Tapi lucu, gemesin."


Fatih memutar bola matanya. Tak berapa lama ponsel Fatih berdering dan menampilkan nama Daddy Bara.


"Assalamualaikum, Dad."

__ADS_1


" ......"


"Iya, tidur dia nih ..."


"....."


"Gak tau sih Dad, tadi Fatih tanya kenapa, dia malah gak jawab."


"...."


"Iya, Fatih antar sekarang."


Fatih meletakkan kembali ponselnya di saat Daddy Bara sudah memutuskan panggilannya. Dengan perlahan Fatih membopong tubuh Raysa dengan pelan. Ia tak ingin Raysa terbangun. Namun, biasanya Raysa memang jarang terbaring jika Fatih yang menggendongnya, tapi jika Zein atau Veer, bahkan Ibra yang menggendongnya di saat Raysa tertidur, maka Raysa akan langsung terbangun. Hanya dirinya dan Daddy Bara lah yang mampu membuat Raysa tetap tertidur lelap.


"Mau ke mana?" Tanya Farhan saat melihat Fatih sudah menggendong Raysa.


"Daddy suruh bawa pulang Ica."


Farhan pun membantu membukakan pintu untuk Raysa. Berhubung apartemen Raysa dan Fatih bersebelahan, jadi tak butuh waktu lama Fatih menggendong tubuh Raysa, karena mereka sudah tiba hanya beberapa langkah saja.


Farhan menekan bel, sehingga Daddy Bara membukakan pintu. Fatih masuk dengan Raysa yang masih di dalam gendongannya.


"Bawa masuk ke kamarnya aja Fat."


Fatih mengangguk dan membawa Raysa kedalam kamarnya. Setelah memastikan Raysa tertidur dengan lelap, Fatih pun keluar. Sesampainya di ruang TV, Fatih tanpa sengaja melihat tanda keunguan di tulang selangka Daddy Bara. Fatih menganggukan kepalanya, sekarang ia paham kenapa Raysa sampai kabur ke apartemen nya. Ternyata ia malas mendengarkan suara-suara asing namun sangat ingin Fatih dengar dari bibir Raysa.


"Bunda Masak apa?" Tanya Fatih mengalihkan fikiran kotornya.


"Masak capcai aja deh, sama ikan sambalado, biar cepat."


Seketika Fatih seakan ingin mengeluarkan liurnya, walaupun makanan nya sangat sederhana, namun atas nama masakan Bunda Sasa selalu tetap paling enak. Walaupun masakan Mami Mili enak, namun tak seenak Bunda Sasa.


"Mau Fatih Bantu, Bun?"


"Gak usah, Bunda bisa sendiri ..."


Fatih pun ikut bergabung bersama Farhan dan Daddy Bara yang sedang menonton bola.


"Goolll ..." Teriak Daddy Bara dan membuat Farhan kecewa.


*


Raysa terbangun dan menyadari jika dirinya sudah berada disebuah kamar. Seingatnya Raysa sedang menonton film di apartemen Fatih. Raysa mengedarkan pandangannya, kemudian ia bernapas lega ketika mendapati jika kamar tersebut adalah kamar miliknya.


"Huuff ... syukurlah ... "


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2