
Akhrinya Raysa memilih untuk memasak di daurnya sendiri. Ia takut jika dapur milik Fatih tak selengkap di dapurnya. Beruntungnya hari ini hari Minggu, jadi Raysa tak berangkat kerja.
"Masak apa ya?"
Raysa tetiba bingung ingin memasak apa untuk Fatih. Sambil memandangi isi kulkasnya, Raysa akhirnya memilih masak sop ayam. Dengan cekatan Raysa mencuci dan motong sayur. Sehingga masakan tersebut pun selesai dan siap di hidangkan.
"Suruh Fatih ke sini aja kali ya?"
Raysa meraih ponselnya, kemudian ia mendial nomor Fatih. Terdengar nada sambung, namun Fatih belum juga mengangkat panggilannya. Raysa menghela napasnya, kemudian ia kembali mendial nomor tersebut. Nihil, Fatih tak mengangkat panggilannya.
"Tidur nya kaya kebo kali ya ... "
Raysa pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi apartemen Fatih. Tanpa menekan Bel, Raysa langsung memasukkan password nya. Raysa tersenyum di kala Fatih benar-benar membuat password nya dengan tanggal lahirnya.
Ceklek ...
Mata Raysa membola di saat melihat Fatih sedang fokus dengan sketsanya. Bahkan Fatih tidak menyadari kedatangannya. Segitu seriuskah Fatih?
Raysa berjalan mendekat, kemudian ia langsung meraih pensil yang Fatih pegang sehingga Fatih terkejut dan menatap sang perebut pensilnya dengan tajam. Ketika tatapan mata Fatih bertemu dengan tatapan mata Raysa yang juga menatapnya tajam, Fatih langsung merubah ekspresinya menjadi teduh.
"Aku kirain siapa tadi."
Raysa mengerutkan keningnya, apakah Fatih mengharapkan orang lain? Atau selain dirinya ada orang lain yang mengetahui password Aparatemen Fatih? Jangan-jangan!!!
"Hei, kok melamu"
Raysa berdecak. "Kamu disuruh istirahat kok malah kerja?"
"Aku baru aja memulainya."
"Ponsel kamu mana?"
"Ponsel? oh, di kamar kayak nya."
"Pantes aja di telponin gak di angkat."
"Kamu telponin aku? kenapa?"
"Aku udah masak untuk makan siang."
"Benarkah? waah ... calon istri idaman banget deh ..."
Raysa memutar bola matanya.
"Terus, mana?" Fatih melihat kearah tangan Raysa yang tak membawa apapun . Dan di meja makannya juga masih terlihat kosong dan polos.
"Di apartemen aku, tadi nya mau masak di sini. Takut kamu gak lengkap bumbu dapurnya."
Fatih terkekeh, " Tau aja. yuk lah, kebetulan aku udah Laper banget."
Fatih berdiri dan menggenggam tangan Raysa dengan lembut. Entah kenapa, Raysa seolah tak bisa melepaskan genggaman tangan Fatih yang sangat tiba-tiba itu. Raysa menurut dan mengikuti langkah Fatih.
*
"Lumayan ..." Ujar Fatih saat mencicipi sop buatan Raysa.
Raysa mencebikkan bibirnya. Dia sudah berusaha payah masak, namun hanya mendapatkan komentar lumayan?
Fatih tau jika Raysa kecewa dengan komentar, Fatih pun melanjutkan ucapannya.
"Lumayan, belum jadi istri udah di masakin sop saat sakit. Mudah-mudahan aja bisa makan kayak gini setiap hari nya." Fatih tersenyum menatap wajah Raysa yang terlihat kesal kepadanya.
Raysa tak ingin berdebat, akhirnya ia ikut menikmati hidangan yang dirinya masak. Namun Raysa risih saat melihat Fatih kesusahan makan dengan tangan kirinya. Memang sih, Fatih itu kidal, terbiasa dengan menggunakan tangan kiri nya, namun untuk makan, Fatih selalu di ajari dengan Mami Mili untuk tetap menggunakan tangan kanan nya. Sehingga untuk memegang sendok dan menyuapkannya, Fatih terlihat sulit. Orang yang tak mengenal Fatih, tak akan percaya jika Fatih ini Kidal.
Raysa meletakkan sendoknya, ia berdiri dan beralih menarik kursi di sebelah Fatih. Ia mengambil sendok yang sedang di pegang oleh Fatih. Fatih awalnya terkejut, namun ia tersenyum di saat Raysa mengaduk nasinya dan menyodorkannya ke depan mulut Fatih. Tentu saja Fatih dengan senang hati membuka mulutnya dengan lebar. Jika begini, Fatih rela terus-terusan terluka jika mendapatkan perhatian dari Raysa.
"Tambah boleh?" Tanya Fatih dengan senyum yang lebar.
"Hmm ..." Raysa hanya bergumam, namun dalam hati ia sudah bersorak senang karena masakannya habis sepiring oleh Fatih, bahkan Fatih sampai meminta nambah.
Dengan telaten Raysa mengambil nasi dan menambahkan kuah sop, daging ayam, jagung, kentang, dan wortel kedalam piring. Raysa kemudian tersenyum, mengingat Farhan mungkin juga akan menyukai masakannya. Sepertinya tak ada salahnya jika Raysa mengirimkan sarapan besok untuk Farhan.
"Aaaa ..." Kata Fatih mengambil atensi Raysa kembali.
Raysa pun dengan telaten dan lembut menyuapi Fatih. Semua ini hanya karena merasa bersalah saja, tak lebih. Karena dirinya juga kan Fatih terluka. Mungkin jika Fatih tak menyelamatkannya, Raysa yang akan terluka.
Fatih sudah menghabiskan dua piring nasi dengan bantuan Raysa. Sekarang gantian Fatih yang menemani Raysa untuk makan. Fatih sedari tadi tak lepas memandang wajah Raysa yang sedang menikmati makan siang nya.
"Besok kamu bawa mobil aku aja ke kantornya. Aku bisa naik ojek kok." Ujar Fatih memecah keheningan.
"Gak papa, aku bisa naik ojek."
"Yakin naik ojek dengan seragam polisi?"
__ADS_1
"Kenapa emangnya?"
"Ya gak kenapa-napa."
Raysa terlihat berfikir, sebenarnya gak da salahnya ia naik ojek dengan menggunakan seragam polisi, tapi entah kenapa mendengar ucapan Fatih, Raysa merasa kurang nyaman saja.
"Ya udah, aku antar kamu ke kantor dulu, baru aku ke kantor." Ujar Raysa mengusulkan.
"Aku berangkat jam 9, Ntar yang ada kamu telat apel."
Alasan Fatih aja, padahal Fatih berangkat jam 8, mungkin Fatih akan meminta jemput dengan Rara, sekretarisnya. Atau Fatih benar-benar akan naik ojek jika Rara sedang sibuk.
Raysa sudah selesai dengan makannya. Ia bangkit dan membereskan meja makannya.
"Aku bantu .."
"Gak usah, kamu istirahat aja sana. Ini biar aku semua yang kerjai."
Fatih menurut, ia memilih duduk di sofa dan menghidupkan Tv. Fatih memilih menonton berita bisnis, ia harus tau apa yang terjadi di dunia bisnis. Pasalnya Fatih tak hanya memegang perusahan Papi Gilang, namun Fatih juga membantu di perusahaan Mami Mili. Berat emang jadi Fatih, namun ia harus siap menjalaninya. Karena kedua adik kembarnya masih duduk di bangku SMA. Sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir. Dan di situlah Fatih akan mulai membimbing kedua adiknya itu.
Raysa sudah selesai mencuci piring, ia melihat Fatih sedang menonton berita. Wajahnya sangat serius menatap ke layar datar itu.
Raysa menbawakan potongan buah apel dan pir. Beserta jus mangga kesukaan dirinya dan Fatih.
"Makasih." Ujar Fatih saat Raysa meletakkan gelas berisi jus itu di hadapan Fatih.
Fatih langsung menyentuh gelas tersebut dan menyesapnya sedikit. Kemudian ia letakkan kembali di atas meja. Raysa ikut menatao kelayar TV, ia sebenarnya tidak tertarik dengan dunia bisnis. Tak seperti Febrian yang sangat antusias untuk menjadi seorang pebisnis hebat. Bahkan ushaa Sabar Ekspres saja sudah mulai Febri yang mengambil handel sedikit demi sedikit, sembari dirinya sekolah.
Terdengar helaan napas Raysa, Fatih langsung menoleh dan tersenyum.
"Bosan?"
"Hmm ..."
"Mau ganti yang lain?"
"Boleh, "
"Fatih pun menghidupkan siaran TV nasional. Di sana tampillah sebuah film kartun berbentuk kotak dan berwarna kuning.
"Itu aja." Ujar Raysa.
Fatih pun mengikuti kemauan Raysa.
"Ca, kamu tau gak persamaan Aku dan plankton.? Tanya Fatih di tengah-tengah keasyikan Raysa menonton film.
"Kami sama-sama pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang paling berarti di dalam hidup. Bedanya, Plankton menggunakan cara licik. Tapi aku, selalu memberikan cinta ku kepada kamu, sampai kamu menyadari betapa besarnya cintaku kepada kamu."
Hening,
Fatih menatap dalam ke mata Raysa, begitu pun sebaliknya. Detik-detik jarum jam pun terdengar, beserta dengan deru napas mereka yang pelan. Raysa menyelam kedalam mata Fatih, mencoba merasakan cinta yang Fatih katakan besar itu. Raysa penasaran, seberapa besar cinta Fatih kepadanya. Jika emang Fatih benar-benat mencintainya, kenapa saat liburan di Villa, Fatih malah meninggalkannya setelah mengantarkannya kerumah sakit? Lalu Fatih menghilang tanpa memberikan kabar. Bahkan Fatih tak menjenguknya sama sekali. Apa itu yang di katakan Fatih benar-benar mencintainya? bukannya jika kita mencintai seseorang, maka kita takut kehilangan dia?
Suara ponsel Raysa mengalihkan atensi mereka berdua. Raysa mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Tertera nama Bunda Sasa di sana.
"Assalamualaikum, Bun."
" ......"
"Alhamdulillah .."
" ....."
"Iya Bun, Ica baru aja selesai makan siang."
" ......."
"Iya Bun, Salam juga buat Oma dan Opa.Salam buat semuanya ya, Bun."
"....."
"Walaikumsalam."
Raysa kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Bunda udah sampai?"
"Iya, Bunda kirim salam buat kamu." Ujar Raysa . 'Sekalian dia suruh aku masakin buat kamu selagi kamu masih di sini.' Tambah Raysa di dalam hati.
Fatih hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia merogoh kantongnya, mencari sesuatu di sana.
"Cari apa?" Tanya Raysa yang melihat Fatih krasak krusuk.
"Ponsel ku."
__ADS_1
"Bukannya kamu gak bawa ya?"
"Oh ya ... ya .. lupa aku. Ya udah, aku balik dulu ya .. Takut ada yang hubungi." Fatih pun berdiri.
"Gak di habisi Jus nya?"
"Oh ya, lupa."
Fatih kembali duduk, dan menghabiskan jusnya dalam satu kali tegukan.
"Alhamdulillah, sedap bener dah. Semoga kalo udah nikah begini terus yaa ... Amiin.." Ujar Fatih sambil mengusap wajahnya.
Raysa hanya memutar bola matanya malas. Sepertinya ia harus bersabar dan menahan telinganya untuk mendengar ucapan itu setiap harinya.
"Aku balik ya," Fatih kembali berdiri, dan saat di depan Raysa, Fatih mengacak rambut Raysa.
"Makasih makan siangnya. Masakan kamu enak kok. Persis maskan Bunda."
"Hmm .. Sama-sama."
Mendapatkan pujian dari Fatih, Raysa seakan semakin percaya diri membawakan bekal besok pagi untuk Farhan.
*
Fatih masih fokus dengan pekerjaannya. Tadi saat ia pulang, kebetulan sekali ponselnya berdering dan menampilkan nama Tissa. Tissa bilang, jika Andini ingin mengajaknya makan malam, sekalian Andini ingin memberikan beberapa tambahan contoh bangunan yang di inginkan nya. Sebenarnya bisa saja besok bertemu di kantor, namun Andini harus berangkat pagi-pagi sekali ke Singapura untuk perjalanan bisnis.
Fatih merenggangkan otot lehernya yang pegal. Tangannya yang sakit membuat Fatih sedikit kesusahan dalam bergerak dengan leluasa. Fatih menoleh dan melihat sudah pukul 6, sebentar lagi akan masuk waktu magrib. Fatih sepetinya harus bersiap-siap. Jika tidak, si Tissa cerewet itu akan menggerutu jika dirinya lama.
Setelah sholat magrib, ponsel Fatih kembali berdering, Ia melihat nama Tissa di sana.
"Halo."
" ......"
"Oke, bentaran ya, gue baru siap solat."
"......"
Setelah mendengar balasan dari Tissa, Fatih pun meletakkan kembali ponselnya, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih simple. Kali ini Fatih hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans nya. Namun, tidak seperti biasanya menggunakan sepatu kets, kalo ini Fatih menggunakan sandal, biar lebih enak aja makainya, berhubung tangannya sedang sakit. Bahkan, rambut ikalnya tak di ikat seperti biasa. Fatih hanya menggunakan bando untuk membuat rambut depannya menurut ke belakang.
Fatih pun keluar dari apartemen, karena Tissa sudah menunggu di lobi. Pantang bagi si Tissa masuk ke apartemen laki-laki. Maka dari itu ia lebih suka menjemput Fatih di Lobi. Begitupun dengan Fatih, ia tidak suka membawa masuk wanita ke apartemen nya, kecuali Rara. Itu karena ada berkas penting yang harus di antarnya. Dan juga, Fatih tak mengizinkan Rara untuk masuk kedalam, hanya sampai di depan pintu apartemen nya.
Katakanlah, jika Raysa wanita pertama yang masuk ke apartemen nya, selain Mami Mili dan kedua adik kembarnya pastinya.
Fatih membuka pintu mobil Tissa yang memang sudah berada di depan lobi.
"Wow, nape tu tangan?"
"Biasa, sakit manja." Ujar Fatih sambil terkekeh.
Jangan salahkan Fatih, jika dirinya tak tahu Raysa sudah masak untuk makan malam mereka. karena Raysa sendiri tak mengatakan apapun kepadanya.
"Patah? atau terkilir?"
"Cuma retak doang. Semingguan juga bakal sembuh."
Tissa menganggukan kepalanya, kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Fatih merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Sedari tadi Fatih merasa gerah dan seakan meriang. Rasa-rasa Fatih mau demam deh.
"Napa Lo?" Tanya Tissa yang melihat Fatih sedari tadi berdehem seolah ingin batuk namun tak batuk.
"Gak tau, kayak gak enak aja gitu badan gue tiba-tiba."
"Mau balik aja? ntar gue yang jelasin dengan Andini."
"Gak usah, gue gak papa kok." Fatih meraih air mineral yang ada di dalam mobil Tissa. Memang Tissa selalu menyediakan air mineral baru di dalam mobilnya. hanya untuk berjaga-jaga jika dirinya haus di tengah macet.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Tissa dan Fatih pun sampai di sebuah restoran mewah. Dan di sana, Andini sudah memesan tempat untuk mereka. Fatih dan Tissa pun menghampiri andini yang sudah duluan sampai.
"Lama nunggunya An?" Tanya Tissa.
"Enggak kok." Andini tersenyum manis di kala melihat penampilan Fatih yang sangat unik dan semakin menarik jiwa kewanitaannya.
Tissa menggeleng pelan, alasan lainnya Andini ingin bertemu dengan Fatih untuk makan malam adalah, karena Andini yang terus saja terbayang oleh wajah Fatih, dan meminta Tissa sebagai sahabatnya untuk mendekatkan dirinya dengan Fatih. Tissa awalnya menolak, karena Tissa tau jika Fatih hanya mencintai wanita bernama Raysa. Namun, Andini memaksanya dan mengatakan jika hanya sebatas makan malam. Mana tau jodoh, gitu katanya. Tissa menganggukkan kepala nya tanda setuju, mau gimana lagi. Toh gak da yang di rugikan juga kan?
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....