
Sasa manatap seragam polisi milik Bara, yang memang pernah di ambilnya diam-diam dari mobil Bara. Seragam cadangan yang memang sering Bara sediakan di dalam mobilnya.
" Aku rindu kamu Mas."
" Kalo rindu, kenapa gak kamu samperin?"
Suara wanita paruh baya yang masih terdengar lembut di telinga menarik perhatian Sasa.
" Buk.."
Buk Mala, Pemilik panti jompo di mana Sasa bersembunyi selama ini. Buk Mala pun duduk di pinggir tempat tidur di sebalah Sasa. Di genggamnya tangan Sasa.
" Kalo kamu lari, semua masalah gak akan selesai. Toh dia gak pernah mempersalahkan tentang kesucian kamu"
" Tapi buk, Kehadiran Sasa di sana membuat kehidupan Mas Bara mendapatkan sial."
" Itu hanya cobaan yang di berikan Tuhan. Jika perjalanan cinta kamu dan Bara berjalan mulus, kalian tidak akan pernah merasakan takut kehilangan." Buk Mala menjeda ucapannya, di genggamnya tangan Sasa, membawa Sasa menatap wajahnya.
" Kamu sayang Bara?"
Sasa menganggukkan kepalanya.
" Kalo kamu sayang, kamu datangi dia, kembalilah kepadanya."
" Sasa belum siap Buk.. hikss.. Sasa takut.. Hikss... Sasa pengecut.. Lebih baik Sasa menghadapi sepuluh preman berbadan kekar dari pada harus merasakan sakit melihat Mas Bara, Mami Shella, dan Daddy Roy harus di permalukan karena Sasa. Hiikss.."
" Cinta kamu begitu besar untuk Bara dan keluarganya, begitupun sebaliknya. Sekarang ibu tanya, apa sekarang keadaan Bara baik-baik saja setelah kepergian kamu?"
Sasa menggelengkan kepalanya. " Sasa gak tau buk.."
" Apa yang kamu rasakan jika kamu berada di posisi Bara?"
" Sakiit.. hikss.."
" Begitupun dengan Bara, dia akan merasakan sakit karena kehilangan kamu."
Sasa menatap lurus kearah seragam Bara. Jika dia merindui Bara, maka dia akan menggantung seragam Bara di sangkutan baju yang lengket di dinding.
Apa kalian tau? Sasa melatih dirinya sendiri untuk menghilangkan traumanya. Dia mengikuti semua saran dokter saat dirinya menjalani terapi. Dan dalam waktu satu bulan, Sasa berhasil menatap seragam polisi tanpa menggunakan kaca mata hitamnya.
Rindu Sasa sudah tidak bisa terbendung. Sasa ingin melihat Bara, Mami Shella, Daddy Roy, dan Kesya. Walaupun hanya dari jauh. Sasa bersiap dan akan pergi menuju Jakarta. Pastinya dengan penyamaran yang akan membuat Bara tidak mengenalinya. Semoga saja.
__ADS_1
" Buk, Sasa pergi yaa.."
" Mau kemana?. Bertemu Bara?"
Sasa menggelengkan kepalanya. " Sasa cuma ingin melihat keadaannya. Hanya dari jauh."
" Ooh, Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan yaa.."
" Iyaa Buk, Sasa pergi yaa.. Assalamualaikum" Sasa mencium punggung tangan Buk Mala.
" Walaikumsalam."
Di sepanjang perjalanan, Sasa merasakan perasaannya tidak enak. Di pertengahan Jalan, seluruh penumpang di pindahkan ke mobil lain yang berselisihan dengan mobil yang ditumpangi Sasa. Karena mobil yang tadinya di tumpangi Sasa tiba-tiba saja mogok.
Bruukkk...
Kecelakaan pun tidak terelakkan, seluruh penumpang di larikan kerumah sakit terdekat dan terbesar di Jakarta.
Kesya terus melafazkan doa. Kontraksi yang disarankannya mulai terasa sangat menyakitkan. Arka sudah menyiapkan semua perlengkapan Kesya dan Babynya. Kesya mengatur napasnya sambil melafazkan nama Allah. Dan membacakan Ayat yang di bacakan oleh nabi Yunus saat meminta pertolongan kepada Allah SWT saat berada dalam perut ikan Paus. Mami Shella sampai terharu melihat Kesya yang menahan rasa sakitnya dengan meminta perlindungan dengan Allah SWT. Kesya juga terlihat sangat sabar menahan rasa sakitnya.
" Kita berangkat sekarang? Semua perlengkapannya sudah di masukkan kedalam mobil kan?" Tanya Daddy Roy.
" Sudah Daddy"
Kesya duduk di tengah, di antara Mami Shella dan Arka. Bara yang membawa mobil, sedangkan Daddy Roy duduk di kursi penumpang bagian depan.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena tidak ingin membuat Kesya mendapatkan goncangan kuat. Sesampainya di rumah sakit, Anggun dan para tim perawatnya sudah berada di depan lobi. Kesya langsung di bawa masuk keruang tindakan bersalin.
Mami Laura, Papi Farel, Bram, dan Leo sudah menyusul ke rumah sakit. Vina, Vano dan Mega menyusul nanti, berhubung jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari.
" Masih bukaan 4, kita tunggu ya" Ujar Anggun kepada Kesya, Arka, dan Mami Shella.
Mami Shella ingin menemani sang putri bungsunya, Begitu pun dengan Arka. Berkali-kali Kesya merasakan kontraksi, namun Kesya menahannya agar tidak membuat Arka dan Mami Shella panik.
Mami Laura dan Papi Farel juga sudah menyusul ke rumah sakit saat Daddy Roy memberikan kabar kepada besannya itu.
Daddy Roy sudah berusaha menghubungi Ayah Nazar. Namun ponsel Ayah Nazar dan Mama Rosa berada di luar jangkauan.
" Belum bisa di hubungi Dad?" Tanya Bara.
" Belum, gak biasanya mereka seperti ini" Daddy Roy terus menghubungi Ayah Nazar.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Bara sudah menelpon Andi untuk mnegatakan jika dirinya terlambat datang. Bara pun melangkahkan kakinya membeli Bubur untuk semua orang.
Di ruangan lain, Sasa adalah salah satu dari korban kecelakaan mobil tadi. Sasa yang mendapatkan luka ringan meminta izin untuk membeli pembalut.
Sasa menghentikan langkahnya saat melihat sesosok tubuh tegap yang di rindukannya.
" Mas Bara??" Dengan cepat Sasa bersembunyi di pilar rumah sakit, agar tidak terlihat oleh Bara.
Perlahan Sasa mengikuti Bara, rasa rindunya semakin membesar dan air matanya tidak sanggup di cegah untuk tak jatuh.
" Kamu kenapa seperti tak terurus begitu Mas? Apa sebegitu menyakitkannya kehilangan aku? Maafin aku Mas, Maafin aku.. Hikss.."
Sasa berbalik sebelum Bara mendapati keberadaannya.
" Sasa!!" Teriak Bara.
Tubuh Sasa langsung menegang, dengan cepat Sasa menghilangkan jejaknya. Sasa melihat ada seorang wanita yang juga menggunakan jaket berbahan jeans seperti dirinya. Sasa mendekati wanita itu. Sasa menghilang di balik tembok setelah merasa Bara tidak mampu mengejarnya.
" Sasa" Bara memegang bahu wanita yang menggunakan jaket berbahan jeans, namun sayangnya wanita yang Bara liat itu bukanlah Sasa. Bara harus kembali menghela napasnya lelah.
" Maaf Mbak, Saya kira tunangan saya"
" Iya, gak pa-pa Mas"
Bara mengusap wajah nya kasar, Sampai saat ini, kabar tentang keberadaan Sasa pun belum juga di temukannya. Bara kembali ke penjual bubur dan membayar bubur yang di belinya.
Semua itu Sasa lihat dengan meremas bajunya, seolah-olah meremas hatinya yang sakit.
" Maaf Mas.. Hikss.. Maaf.." Sasa kembali ke IGD, sebelum Bara menemukannya lagi. Sasa membeli Masker untuk menutupi wajahnya.
" Kamu kenapa?" Tanya Daddy Roy yang melihat wajah Bara seakan sendu.
" Gak Pa-pa Dad " Bara mencoba menampilkan senyumnya.
Bara masih kefikiran dengan wanita yang di lihatnya sebagai Sasa. Bara sangat yakin, Jika itu adalah Sasa. Bara sangat yakin sekali.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)