
" Alhamdulillah ya Allah.. Hikss.." Bara menangis tersedu-sedu di kala melihat dan mendengar suara tangisan anak mereka yang pertama.
Bayi mungil berkulit putih kemerahan itu berjenis kelamin perempuan. Tangisannya bagaikan sapaan kebahagiaan bagi Sasa dan Bara. Tak hanya mereka, dari luar ruangan pun seluruh keluarga dapaf mendengarkan suara tangisan bayi mungil tersebut.
" Alhamdulillah, " puji syukur seluruh keluarga.
Mami Shella dan Daddy Roy pun berpelukan. Fadil dan Leo juga ikut berpelukan, kemudian dengan cepat mereka melepaskan pelukannya dan bergidik geli. Vina sudah ikut menangis terharu di dalam pelukan Vano, dan juga Zein.
" Alhamdulillah Mas." Vina mencium pipi Zein yang berada di dalam gendongan Vano.
" Zein punya adik lagi, adik dari Bunda Sasa dan Daddy Bara." Ujar Vina berbicara dengan Zein.
Zein pun mengoceh dengan memanggil adik-adik yang berkhas kan suara anak-anak. Zein juga bertepuk tangan, seolah ia mengerti dan juga ikut bahagia.
Anggun membungkus bayi perempuan mungil itu dengan kain bedong, dan meletakkannya di dada Sasa.
Tangis sang bayi berhenti saat kulit wajahnya mengenai kulit dada Sasa, dan mencari sesuatu sumber yang akan membuatnya bertahan hidup dengan gizi yang sangat tinggi.
Bara meraih bayi mungil tersebut, dan terdengar kembali lah suara tangis sang bayi.
" Jangan panik Mas." Tegur Anggun di saat melihat Bara kelimpungan.
Perlahan, Bara menundukkan kepalanya, dan mulai mengazani bayi mungil tersebut, hingga tangis sang Bayi perlahan berhenti, dan menikmati lantunan suara azan yang di azani oleh sang Daddy.
Bayi mungil itu sudah kembali beralih ke tangan perawat untuk di bersihkan. Bara tetap setia menemani Sasa yang masih dalam penanganan terakhir. Bara meringis saat melihat Anggun menjahit bagian 'itu ' Sasa yang yang di guntingnya tadi.
" Tenang aja Mas, cuma 5 jahitan kok. Entar juga bakal kembali ke bentuk semula lagi."
Bara mengelus kepala Sasa. " Sakit?" Tanya Bara lembut.
" Dikit Mas, Aww.." Sasa kembali meringis saat merasakan tarikan dari benang jahit tersebut.
Tak butuh waktu lama, Anggun sudah terlatih dengan hal tersebut. Setelah Sasa siap, dan ruangan sudah di bersihkan, Anggun mempersilahkan seluruh keluarga masuk.
Bayi mungil tersebut pun di kembalikan ke Bara, dan Bara kembali mengazani sang putri.
" Siapa namanya Bar?" tanya Mami Shella.
" Bismillahirrahmanirrahim, Raysa Prayoga Bahari."
" Alhamdulillah, nama yang cantik." Ujar semua nya.
Vina ingin menggendong Raysa, namun Mami Shella menghalangi.
" Mami dulu dong, selakh Oma nya."
Vina pun mengalah, Bara memberikan Taysa kedalam pelukan sang Mami.
" Raysa, cucu Mami yang cantik. Mirip banget sama kamu Bar." Mami Shella mencium wajah bayi mungil tersebut.
Vina juga ikut mencium, dan memeluk Mami Shella beserta Raysa.
Dada Sasa menghangat di saat melihat anaknya mendapatkan rasa kasih sayang yang begitu luar biasa. Sasa berharap, agar nasib anaknya tak seperti ya, dan selalu berlimpah kasih sayang. Mata Sasa pun mulai berkabut, dan perlahan bulir bening jatuh membasahi pipinya.
" Sayang.."
__ADS_1
Bara menghapus air mata yang terjatuh itu.
" Makasih Mas, udah cintai aku sebegini besar. Sehingga anak ku juga mendapatkan cinta yang sungguh luar biasa. Aku berharap, agr anak-anak ku selalu hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang."
" Tentu, karena kamu adalah ibu yang hebat. Dan kamu akan selalu bersama kami, bersama ku, sampai kita memiliki cucu kita." Bara mengecup kening Sasa.
Pemandangan yang indah, semua terharu melihatnya. Perjalanan cinta yang memiliki perjuangan yang berat, hingga akhirnya mereka mampu melewati itu semua dengan sabar. Yaa, dengan kesabaran dan juga doa, Sasa dan Bara melalui semua cobaan tersebut.
Raysa kembali menangis, dan sepertinyania haus. Bara dengan lembut membantu Sasa untuk menyusui. Sebelumnya Bara juga membantu Sasa untuk memijit payudara Sasa, agar ASI nya keluar dengan lancar.
Terlihat Raysa menyusu dengan lahap, dan ASI Sasa pun juga terbilang langsung deras.
" Nanti di tukar-tukar ya Sa, nyusuinya. Kasih sebelah kanan, terus jangan lupa kasih yang di sebelah kiri. Kalo masih netes-netes, entar peras aja, bisa di bawa di saat kamu pergi-pergi."
" Iya Mi."
.
.
Sudah dua hari Sasa berada di rumah sakit, tak ada keluhan apapun. Sasa pun di perbolehkan pulang. Sebenarnya Sasa cukup satu hari aja di rumah sakit, tapi Bara memaksa untuk menginap sehari lagi, agar memastikan jika Sasa dan Bayi benar-benar sehat.
Suasana rumah Mami Shella sudah ramai sebelum kepulangan Sasa. Kesya dan Vina mendekar kamar Bara dan Sasa, untuk menyambut kedatangan mereka.
" Ini cantik Mbak, "
" Ini aja.."
" Aku udah beli yang pink mbak, gambar kuda poni kesukaan Qila."
Terjadilah perdebatan antara Vina dan Kesya, yang ingin mendekor box bayi dengan peralatan yang mereka beli. Vano dan Arka hanya menggelengkan kepalanya, belum lagi dengan Ara yang heboh dan sebentat-sebentat berlari ke kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya.
" Tidur aja Ra." Ujar Kesya.
" Pingin dekat bang Jodi terus.." Ujar Ara dengan lemas.
Semenjak kehamilan Ara, Jodi lebih sering mengambil izin, karena Ara yang tak bisa jauh darinya. Bahkan Ara selalu memakai pakaian yang sudah Jodi kenakan.
Jodi terlihat sangat perhatian dengan Ara, Jodi dengan lembut memicit kening Ara, yang terasa pusing.
Suara Deru mobil membuat semuanya bergegas berdiri dan menghampiri. Seperti aturan Mami Shella, tidak ada balon yang memiliki tingkat ketinggian gampang meledak dengan sendirinya.
" Selamat datang Mbak Ku.. dan Raysa keponakan aunty.." Ujar Kesya dan Vina berbarengan.
Mata Sasa sampai berkaca-kaca terharu mendapat sambutan hangat seperti ini. Belum lagi Fadil dan Puput juga ikut datang menyambut kepulangan mereka. Dan di susul dengan Gilang dan Mili.
Tante Rosa sudah menyiapkan SOP buntut untuk Sasa. Dan juga ada onde-onde dari daun katuk. Kesya juga menyiapkan susu almond untuk Sasa. Vina tak mau kalah, Vina juga memberikan ngemilan dari kacang almond untuk Sasa nikmati sambil menonton tv dan menyusui.
Fadil membelikan boneka besar untuk Sasa. Ingat, untuk Sasa, bukan Raysa.
" Aneh banget, seharusnya kan untuk Raysa " Ujar Kesya yang di angguki oleh Vina.
" Boneka beruang ini, untuk Sasa. Karena Sasa sudah aku anggap sebagai adik ku."
Sasa semakin di buat terharu dengan ungkapan Fadil. Air mata Sasa pun kembali terjatuh. Fadil mendekat dan ingin memeluk Sasa.
__ADS_1
" Mau apa Lo?" Bara menahan Fadil.
" Peluk adik gue lah."
" kagak boleh, bukan muhrim."
" Ya kalo muhrim, Sasa udah aku nikahi kali.."
" Binik dua dong." sambut Arka.
" Yaa, kalo disetujui.."
" Ooh, jadi mau kawin lagi gitu? iyaa.. hemm?" Puput langsung mencubit pinggang Fadil, dan menghujaninya dengan pukulan.
" Aduuhh, sakit. aduk.. yank, aku becanda.."
" Becanda..becanda.. tapi kalo dpaat izin, bakal kawin lagi gitu?"
" Ya kalo kamu izinin. aww..sakit yank." Fadil kembali mendapatkan pukulan dari Puput.
Semua orang hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
" Love you mungil." Bisik Bara di saat orang lain tengah melihat Fadil dan Puput.
" Love you to."
Bara langsung saja mencium bibir Sasa, dan **********.
" Waaah, pantang ada kesempatan langsung nyambar aja Mas Bara." Ujar Ara yang melihat adegan itu.
Bara dan Sasa langsung melepaskan ciumannya. Sasa sudah tersenyum kikuk dengan wajah memerah, sedangkan Bara memasang wajah cool, seolah tak terjadi apapun.
" Dasar raja mesum." Gerutu Kesya, Vina, Mami Shella, dan Tante Rosa.
Mili tersenyum dan terkejut saat melihat Fatih sudah berada di dekat Mami Shella yang tengah menggendong Raysa.
" Mami, Awa uyang adek nya." (mami, bawa pulang adek nya), ungkap Fatih.
" Ehh.."
Selamat yaa bagi yang udah menjawab dengan benar..
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1