Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 56 " Aku bukan Dilan"


__ADS_3

Kita hanya bisa merencanakan, tapi Tuhan lah yang menentukan. Seperti hari ini, rencana untuk bermain di pinggir pantai sambil berjalan dan bergandengan tangan pun harus di urungkan. Cuaca yang tadinya terik, tiba-tiba saja berubah mendung dan di sertai hujan yang sangat lebat.


Bara dan Sasa hanya menatap ke laut lepas yang sedang di hujani oleh ribuan tetesan air.


" Dingin?" Tanya Bara saat melihat Sasa memeluk dirinya dan sesekali mengusap-ngusap lengannya.


Mereka memang belum sampai di tempat tujuan, di mana resto pinggir pantai yang terkenal dengan makanan seafood nya yang lezat. Mereka terpaksa berhenti di pinggir jalan, dan kebetulan sekali ada pondok kecil di sana, yang terlihat tua tapi masih bisa untuk mereka berlindung.


" Heuem, Jaket yang aku pakai tipis. Kan tadi cuacanya panas banget"


Bara membuka jaketnya, dan menyelimuti tubuh mungil Sasa.


" Kalo Dilan enggan memberikan jaketnya kepada milea, karena dia takut sakit dan tidak bisa menjaga milea. Maka Beruang Madu mu ini akan memberikan jaketnya untuk menghangatkan tubuh orang yang di cintai nya. Karena Beruang madu mu ini tidak ingin membiarkan cintanya sakit. "


Bluusss...


Wajah Sasa langsung merona mendengar gombalan dari Bara.


" Beruang madu mu ini banyak cara untuk menghangatkan tubuhnya. Yaitu dengan cara seperti " Bara memeluk tubuh mungil Sasa.


" Iih, itu mah Mas nya aja modus, mau meluk-meluk"


Jangan di tanyakan lagi wajah Sasa, sudah menahan senyumnya dan pipinya yang sudah merona.


" Tapi kamu suka kan?"


Sasa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Bara. Sasa juga membalas memeluk tubuh Bara.


" Hah, coba udah halal. Kan enak"


" Enak kenapa?" Sasa mendongakkan wajahnya.


Cup.


"Masss"


" Bisa seperti itu, dan bisa lebih dari itu" Bara mempererat pelukannya.


Sasa tersenyum dalam pelukan Bara.


" Hujannya sepertinya awet ya"


" Kamu lapar?"


" Heuem"


Bara melepaskan pelukannya, dan membuka bungkusan plastik yang bertulisan nama supermarket yang sudah menjamur.


Bara membuka bungkusan roti sobek dan membuka tutup botol air mineral. Di berikan nya kepada Sasa.


" Untung tadi sempat mampir ke supermarket ya Mas"


" Iya.. Tapi coba kalo kita naik mobil, udah makan seafood kita."


" Tapi gak bisa dapat momen seperti ini Mas"


" Iya juga sih." Bara menatap intens ke arah Sasa. " Kamu sengaja ya minta naik motor bisa peluk Mas seharian, terus kalo ada momen seperti ini, bisa semakin deket-deket gitu sama Mas?"


Byuurr..


Sasa menyemburkan air yang di minumnya.


" Iihh, apaan sih. Mana ada aku gitu Mas" Sasa sudah mengalihkan wajahnya sambil membersihkan sisa air yang menetes di dagu nya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang di katakan Bara tidak sepenuh nya salah. Sasa pernah menonton film, dan mereka kencan menggunakan motor. Jadi Sasa ingin merasakan jalan jauh bersama sang pujaan hati dengan menggunakan motor, sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Gak salah kan Sasa?.


" Kok jadi malu-malu gitu sih. Gemesin tau gak" Bara semakin gencar untuk menggoda Sasa.


" Udah deh, jangan diterusin lagi."


" Ngaku dulu, kalo kamu sengaja kan minta naik motor biar bisa peluk-peluk aku"


" Iyaa deh iyaa... Aku sengaja minta naik motor biar bisa meluk-meluk kamu. Puas??"


" Bangeet."


Sudah 2 jam Sasa dan Bara berteduh di pondok pinggir jalan, yang menyuguhkan pemandangan laut. Tapi hujan seakan masih terus ingin membasahi bumi.


" Mas, Di jok motornyan kira-kira ada mantel gak?"


" Gak tau juga sih mungil, bentar yaa aku cek"


Bara pun membuka jok motor, dan mendapati mantel jas hujan.


" Ada mungil, tapi cuma satu. "


" Gak pa-pa, Mas pake aja. Tapi di balik gini pake nya. Jadi aku ntar kebagian." Sasa memakaikan baju mantel dengan kancingnya yang menghadap ke punggung Bara.


" Gimana caranya kamu kebagian mungil?"


" Udah, tenang aja. Pokoknya aku kebagian. Walaupun dikit."


Bara naik ke atas Motor, dan di susul oleh Sasa. Sasa melingkarkan tangannya di perut Bara. Sasa merapatkan tubuhnya ke punggung Bara. Darah Bara langsung berdesir saat merasakan gundukan gunung kembar. Tadinya Sasa memeluknya, tetapi tubuh mereka tidak serapat ini. Dagu Sasa di tompangkan ke bahu kekar Bara. Bara tersenyum lebar.


" Jadi begini caranya?"


" Heum."


" Hmm.."


" Pegangan yang erat yaa"


Sasa mempererat lingkaran tangannya di perut Bara. Dan Bara pun melajukan kecepatan motornya. Untungnya hujan tidak selebar tadi. Hanya gerimis yang masih membasahi.


15 menit mereka sampai di resto yang Bara maksud. Sasa turun dan langsung berlari ke tempat teduh karena tiba-tiba saja hujan kembali lebat.


Pelayan resto langsung menghampiri Bara dan memayungi Bara. Bara sudah berada di sebelah Sasa, dan mereka masuk kedalam resto dengan arahan sang pelayan hotel.


Sasa kesal, karena pelayan yang mencatat pesanan mereka menatap Bara seakan ingin memakannya.


Cantik sih memang, apa Bara akan tergoda jika pelayan tersebut mencoba merayunya?. Sasa ingin menguji Bara.


" Mas, pelayan tadi cantik ya?"


" Hem? Oh, Iyaa.."


Sasa merasa hatinya mulai memanas.


" Kamu gak tertarik?"


" Gak, kenapa?"


Rasa panas yang tadi Sasa rasakan, perlahan mulai mendingin.


" Masa sih gak tertarik?. Lihat deh, tubuh ya tinggi, langsung, putih. Rambutnya panjang dan juga bagus. Yakin Mas gak tertarik?"


Bara melihat kearah pelayan tadi, hingga pelayan yang juga sedang memperhatikan Bara langsung tersenyum lebar dan melambai manja. Bara memang tidak membalas senyuman pelayan tersebut, tapi hati Sasa yang tadinya mulai dingin, kembali merasa terbakar dan memanas.

__ADS_1


" Cantik, tapi hati Mas gak bergetar buat dia. Jadi kenapa Mas harus tertarik?"


" Masa sih?"


" Iya sayang ku, mungil ku"


" Eemm, emangnya Mas saat pertama kali liat aku. Gimana?" Sasa tiba-tiba saja penasaran dengan pertemuan pertama mereka saat di cafe cake milik Kesya.


" Saat itu, aku melihat kamu hampir tertabrak oleh becak di Greenday cafe"


Sasa langsung memutar memorinya, kapan dia mampirnke Greenday cafe dan di trabak oleh becak. Sasa berOo ria saat mengingat kejadian itu. Tapi seingatnya dia tidak bertemu dengan Bara.


" Trus? Kita kan gak ketemu?"


" Kamu mungkin gak sadar dengan keberadaan aku. Tapi saat kamu tersenyum, dan aku mengira kamu tersenyum ke arah aku. Aku berasa jantungku berdetak sangat cepat dan tak karuan. Saat itu kamu berjalan kearah aku, dan aku sudah memutuskan, jika kamu mengajak kenalan, maka aku akan mengajak kamu berkencan. Tapi aku salah, kamu tidak tersenyum dengan aku, tapi kepada orang yang duduk di belakang ku"


" Ahhh, saat itu aku bertemu dengan Tono. Preman yang mencari tahu siapa yang mengikuti Puput"


" Di situlah aku pertama kali langsung jatuh hati sama kamu. Lalu saat aku ingin mengajak kamu kenalan, kamu sudah pergi."


" Dasar playboy"


" Bukan gitu mungil, Aku awalnya hanya penasaran kenapa jantungku berdetak saat melihat senyum manis kamu. Awalnya aku hanya ingin memastikan, apa perasaan itu hanya perasaan kagum, atau Memang hati ku bergetar dan tertarik karena mu."


Sasa masih setia mendengarkan cerita Bara.


" Lalu saat di tengah jalan, aku melihat kamu sedang menolonh seorang nenek, dan aku semakin kagum dengan kamu. Hingga aku melihat kamu di toko Kesya. Sebagai karyawan Kesya, di situ aku merasa bahwa kamu memang di takdirkan untuk aku"


" Tapi kamu masih berstatus Tunangan Lia" Ujar Sasa sendu.


" Aku pindah ke Jakarta karena aku ingin mengakhiri hubungan ku dengan Lia. Dan aku rasa, Allah menjawab semua doa ku dengan mempertemukan aku dengan kamu."


Sasa menatap kedalam mata Bara, mencari kebenaran dan kesungguhan di sana.


" Kamu tau, saat aku membawa kamu ke kantor polisi, hati aku merasa sakit karena melihat kamu histeris seperti itu " Bara semakin mempererat genggamannya di tangan Sasa.


" Sebelumnya aku sudah berjanji, akan membuat wajah mu hanya selalu di hiasi senyuman. Tapi aku malah membuat trauma kamu kembali" Ujar Bara sendu.


Sasa mengelus punggung tangan Bara yang masih menggenggam tangannya erat.


" Maafin aku, tapi aku berjanji, akan selalu melindungi mu. Dan tidak akan pernah membuat mata ini mengeluarkan air matanya" Bara menghapus air mata yang baru saja terjatuh di pipi Sasa.


" Aku mencintai mu Mungil. Sangat.. "


" Aku juga."


Bara mengecup tangan Sasa lama. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi iri karena perlakuan Bara yang sangat menyentuh..


" Mas, Udah.. Aku malu di liatin"


" Biarin aja mungil. Biar semua orang tua, jika kamu hanya milik aku, dan aku hanya milik kamu"


Sasa tersenyum malu mendengar penuturan Bara. Ah.. Beruang Madunya ini, selain menyebalkan, ternyata sangat romantis. Melayang adek Bang..


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..


salam SaBar ( Sasa Bara)

__ADS_1


__ADS_2