Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 25 " cup cup"


__ADS_3

Sasa perlahan mengangkat kepalanya, dan melihat wajah Bara, betapa terkejutnya Sasa saat melihat bibir Bara yang sudah mengalir darah segar. Sasa mengambil tisu dan menghapus darah yang berada di bibir Bara. Bara terkejut dengan perlakuan Sasa, dia sendiri sudah tidak bisa merasakan darah yang mengalir dari bibirnya, akibat bibirnya yang terasa kebas.


Bara memperhatikan wajah Sasa yang masih sesenggukan sesekali. Asal Bara tau saja, ini adalah ciuman pertama Sasa, dan Bara dengan kurang ajarnya mengambilnya seolah-olah seperti merebut permen dari orang lain. Preman sih preman, tapi harga diri Sasa sebagai perempuan yang tidak gampang di sentuh oleh pria mana pun tetap di jaganya selama ini. Gara-gara Bara api sialan, seenaknya saja mencium bibirnya.


" Maaf" Lirih Sasa dengan masih sesenggukan.


" Kamu gak salah, aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf." Ujar Bara lembut sambil memegang kedua pipi Sasa.


Ada rasa menusuk di hati Sasa, saat Bara meminta maaf kepada nya. Entahlah, Sasa juga tidak tau kenapa rasanya sakit saat Bara meminta maaf.


" Maaf, Karena memaksa mencium mu. Tapi sungguh, aku tidak meminta maaf karena telah mencium mu, tapi aku meminta maaf karena telah membuat tangan mu terluka. Maaf kan aku. Dan ini,"


Cup.. cup.. Bara mengecup kedua mata Sasa. "Maaf karena telah membuat kamu menangis".


Sasa tidak tau apa yang di rasakannya saat ini. Yang jelas, rasanya Sasa ingin sekali berlari dan menjauh dari Bara. Sasa tidak sanggup menghadapi Bara saat ini. Bara, si Perwira tampan, telah mencuri ciuman pertamanya. Dasar Bara api sialan.


Bara kembali melajukan mobilnya setelah Sasa tenang. Sasa mengompres matanya yang terlihat bengkak dengan minuman kaleng soda dingin yang di beli oleh Bara tadi.


" Apa masih terlihat bengkak?" Sasa melihat matanya di kaca spion tengah.


Bara meraih wajah Sasa, dan melihat matanya. Mata mereka bertemu, namun Sasa dengan cepat memutuskan pandangannya.


" Sudah tidak. Kita turun sekarang?"


Sasa menganggukkan kepalanya. Terlihat Kesya dan Arka sudah menunggu kedatangan Sasa. Terlihat juga Kesya mengernyitkan keningnya saat mengetahui Sasa datang bersama Bara.


"Mbak, maaf ya lama" Ujar Sasa yang sudah berdiri di depan Kesya dan Arka.


" Kamu kok bisa dengan Mas Bara" Tanya Kesya.


" Oh itu__"


" Key, selamat ya atas kehamilan kamu, Semoga sehat selalu" Potong Bara dan memeluk Kesya.


" Makasih ya Mas"

__ADS_1


" Selamat ya Ar"


" Makasih Mas"


" Sa, nanti malam kamu datang kan? aku suruh Bang Jodi jemput kamu ya?"


" Biar bareng Mas aja, kan sekalian Mas antar pulang, trus bisa sekalian ke rumah kamu" potong Bara sebelum Sasa menjawab pertanyaan Kesya.


Sasa hanya bisa menggaruk alisnya yang tidak gatal, kenapa si Bara api ini mengambil keputusan sendiri tanpa meminta izinnya? Dan kenapa semua pertanyaan yang di tujukan olehnya, dia yang jawab? Apa dia sudah menjadi juru bicara dirinya? Suka-suka dia aja lah.


" Bibir Mas kenapa?" Tanya Kesya saat menyadari jika bibir Bara bengkak dan seperti habis berdarah.


" Ooh, itu tadi, di jalan ada kucing nyebrang gak liat kiri kanan, jadi pas rem mendadak tergigit deh." Ujar Bara sambil melirik kearah Sasa, sedangkan yang dilirik sudah memang tampang tidak berdosa.


" Ya udah, masuk dulu yuk" Ajak Kesya.


" Emm, kami balik aja ya, lagian Mas mau pulang dulu, mau mandi. Sekalian nanti kan singgah ke rumah Sasa lagi" tolak Bara halus.


" Emm, Mbak Lia gimana? gak di ajak?" Tanya Kesya yanh terdengar sangat hati-hati.


Kesya melirik kearah suaminya, " Ya udah, makasih ya Mas udah temenin Sasa. Makasih ya Sa. Hati di jalan ya Mas" Kesya meraih bungkusan yang ada di tangan Sasa.


Sebenarnya Sasa ingin membawa masuk bungkusan itu, namun si Bara api sialan ini malah mengajaknya pulang. Dasar Beruang sialan.


Sasa dan Bara pun pamit untuk pulang dan bersiap. Diperjalanan, tidak ada percakapan kembali, mereka sama-sama diam dengan fikirannya masing-masing. Hingga Sasa merasakan kantuk yang teramat sangat, dan perlahan Sasa menutup matanya.


Mobil yang di kendarai Sasa sudah tiba di apartemen sasa. Bara sengaja tidak membangun kan Sasa, karena terlihat dari wajah Sasa yang sangat letih. Bara memandang wajah wanita yang tertidur di sebelah. Bara membenarkan rambut Sasa yang menutupi wajahnya.


" Kamu bukan tipe ku, tapi kenapa saat pertama kali melihat mu, aku merasakan sesuatu yang berbeda? selama ini aku sudah mencoba dekat dengan wanita lain, tapi aku tidak bisa melupakan Lia, tapi kenapa melihat kejutekanmu membuat aku gemas dengan tingkah mu. Awalnya aku fikir hanya seru saja jika menggoda mu, tapi aku salah, aku malah mendapatkan kenyamanan dari mu. Hah, kau tau, 13 tahun aku mencintai Lia, dari awal aku jatuh cinta, tidak pernah ada wanita yang bisa membuat aku terpana selain dirinya, hingga perjuanganku tidak sia-sia. Dan akhirnya aku bisa bertunangan dengannya 4 tahun terakhir ini. Tapi setiap aku melamarnya, dia selalu menolak ku, ku fikir mungkin dia masih ingin fokus dengan karirnya, ternyata aku salah, ada pria lain di hatinya, dan aku? aku hanya pengisi kekosongannya selama ini. Kau tau, aku masih mencintainya walaupun aku tau jika dia bersama pria lain di belakangku, Terlalu sering aku memergokinya, dan tidak terhitung lagi berapa banyak rasa sakit yang aku rasakan. Tapi aku tetap masih mencintainya. Sampai aku bertemu dengan mu. Sa, bisakah kamu mencintai ku?"


Sayangnya ungkapan perasaan Bara sama sekali tidak di dengar oleh Sasa. Bara hanya mampu memandang wajah tenang Sasa saat tidur. Benar-benar tenang bagaikan bayi.


Sasa mengerutkan keningnya, kemudian perlahan matanya terbuka. Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya, dan betapa terkejutnya Sasa saat mendapati dirinya sudha berada di dalam kamarnya. Seingatnya dia tertidur di mobil Bara. Ah, mengingat si Bara, kemanalah Bara Api sialan itu? Apa dia yang menggendong Sasa. Hah, ya jelas dia lah, masa gundoruwo.


Sasa turun dari tempat tidurnya, dan menuju kamar mandi. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, dan menampilkan Bara yang bertelanjang dada, dengan bagian bawahnya tertutup handuk.

__ADS_1


" AAAAAA" Teriak keduanya.


Bara menutupi bagian atasnya dengan tangan menyilang. Sedangkan Sasa sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan berbalik badan.


" Apa yang Lo lakuin?" Teriak Sasa.


" Kamu mau ngintip aku?"


" Dasar Bara api sialan, siapa yang menyuruh mu memakai kamar mandi di kamar ku?"


" Dasar pelit, aku hanya meminjam kamar mandi mu"


" Apa? Lalu bagaimana dengan sabun, sampho, dan itu.." Sasa mengarahkan tangannya kearah bagain bawah Bara. walaupun Sasa tidak tidak berhadapan dengan Bara, namun jari telunjuk Sasa tepat menunjuk kearah Bara junior.


" Itu, siapa yang menyuruhmu memakainya"


Bara melihat kearah yang di tunjuk Sasa. Bara menyeringai jahil.


" Jika aku tidak memakainya, mungkin kamu sudah melihat senjata ku"


Sasa menggeram, " Dasar Mesum."


Perlahan Bara mendekatkan dirinya ke Sasa, dan sedikit menundukkan tubuh nya.


" Kamu mau aku mesumin?"


Sasa yang merasakan merinding di buku kuduknya, dan refleks membalikkan tubuhnya menghadap Bara.


Cup..


Pipi Sasa mengenai Bibir Bara, dan itu membuat geraka refleks Sasa menolak tubuh Bara, namun tangan Bara cepat menarik Sasa hingga mereka jatuh berdua, dengan Sasa berada di atas Bara, dan.....


**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2