
"Kak, sudah dulu ya ... Aku sudah selesai memasak ya. aku mau antar ke tempat Fatih dulu."
"oh, iya .... salam buat Fatih ya."
"Iya."
Raysa pun memutuskan panggilan nya. Raysa menyiapkan bubur dan sebuah sop-sop-an (berisi sayur-sayuran seperti wortel, kentang, bunga kol, dan brokoli, kuah bening yang di beri kaldu ayam). Raysa juga menuangkan jus mangga yang ada di dalam kulkas nya. Setelah siap, Raysa dengan tersenyum keluar apartemen nya dengan membawa nampan dan menuju Apartemen Fatih.
Tanpa menekan bel, Raysa langsung memasukkan password dan membuka pintu nya.
Raysa membeku saat melihat seorang wanita yang raysa ketahui berstatus sebagai sahabat Fatih. Dia adalah Tissa.
"Raysa, ayo masuk. Fatih sedang tidur. Aku baru saja mengkompres tubuhnya."
Raysa mengalihkan pandangannya kepada Fatih. Ia melihat pakaian Fatih sudah berganti, dan juga, pakaian yang tadi Fatih kenakan berada di atas meja dengan sudah terlipat rapi. Apa mungkin Tissa? Raysa menarik napasnya, dan mencoba tersenyum kepada Tissa.
"Maaf, aku hanya mengantarkan bubirnuntuk Fatih."
Tissa merasa tak enak, pasalnya Fatih Baru saja menghabiskan bubur yang di bawanya. Raysa mendekat kearah Tissa dan Fatih, Raysa meletakkan nampan tersebut ke atas meja, namun ia melihat satu mangkuk kotor yang sepertinya bekas bubur ayam. Raysa tersenyum kecut, ia menggigit bibir bagian dalamnya, menahan sesuatu yang ia sendiri tak tahu kenapa. Raysa tak tahu kenapa rasanya saat ini ia ingin menangis sambil memukul dada nya yang terasa sakit.
Melihat ekspresi Raysa yang tiba-tiba membeku dan menatap kearah piring kotor tersebut, Tissa semakin menjadi tak enak.
"Eeng, maaf . Tadi aku membawakan bubur untuk Fatih. Aku tak tau jika kamu akan memasakkan bubur untuknya, dan aku memaksa Fatih untuk memakannya hingga habis. Maafkan aku."
Raysa mencoba tersenyum, namun wajahnya terasa kaku.
"Tak apa, eng, kalo begitu aku harus kembali ke apartemen ku. Aku merasa sangat lelah sekali."
"Baiklah, beristirahat lah. Aku akan menjaga Fatih dengan baik." Ujar Tissa sambil tersenyum ramah.
Raysa membalas senyuman Tissa dengan kaki. Matanya kemudian beralih kepada Fatih yang tertidur dengan napas yang sedikit memburu. Mungkin karena suhu tubuh yang panas, membuat nya bernapas seperti itu. Bukan kah jika kita sedang sakit akan bernapas seperti itu.
Raysa kembali mengalihkan pandangannya kepada Tissa. Ia kembali tersenyim dan pamit.
Ceklek ..
Tissa memandang pintu yang tertutup itu. Kemudian Tissa mengalihkan pandangannya kepada Fatih dengan jengkel.
"Layca mu sudah pergi, bangun laah. Dan makan bubur yang dia masak untuk mu." Titah Tissa dan kemudian Fatih membuka matanya.
Fatih menghela napasnya sebelum ia mendudukkan dirinya. Fatih menatap kearah bubur yang di bawakan oleh Raysa. Sedangkan Tissa mengambil bubur yang dengan cepat dia sembunyikan tadi di bawah meja, masih berada di dalam plastik.
"Makanlah, agar Lo bisa punya tenaga untuk menghadapi kenyataan."
Tissa meraih bubur yang ada di dalam sterofoem, dan menuangkannya kedalam mangkok kotor bekas bubur tadi. Kemudian Tissa melirik kearah Fatih. Dasar pria licik, cinta tapi menyakiti.
1 jam sebelum Raysa datang dan membawakan bubur.
Fatih meraih ponselnya saat mendengar pintu tertutup. Itu tanda nya Raysa sudah keluar dari apartemen nya.
Terdengar nada sambung dari seberang panggilan, hingga suara wanita menjawab panggilan tersebut.
"Gue butuh bantuan Lo. Kali ini, akting Lo harus benar-benar berbakat." Ujar Fatih kepada wanita yang ada di seberang panggilan.
__ADS_1
"Suara lo kenapa? Lo sakit?"
"Lo dengerin gue, dan ikuti aja apa yang gue perintah, jika tidak, gue gak mau bantu Lo saat pembukaan pameran nanti."
Ya, wanita itu adalah Tissa, sahabat Fatih.
"Waah, main ngancam nih. Oke, apa yang ingin Lo minta sama gue?"
Fatih pun mengatakan apa yang ingin dia katakan. Fatih menyuruh Tissa membawa satu bungkus bubur ayam ke apartemen nya, segera. kemudian Fatih memberikan nomor apartemen nya dan juga berada di lantai berapa. Ini untuk pertama kalinya Tissa datang ke apartemen Fatih. Biasa nya Tissa akan menunggu di lobi. Karena Fatih memang melarang seorang wanita untuk masuk ke apartemen nya, kecuali Raysa.
Tissa dengan segera mencari bubur ayam, kemudian ia bergegas menuju apartemen Fatih. Setelah berada di lantai 7 dan tepat di depan pintu apartemen Fatih, Tissa menekan bel, dan tak berapa lama pintu terbuka dengan menampilkan Fatih yang terlibat pucat.
"Kenapa Lo? Sakit?" Tanya Tissa dengan khawatir. Tissa memegang kening Fatih, terasa sangat panas.
"Waah, goreng telor di kening lo bisa Matang ini." gurau nya sambil mengikuti Fatih dari belakang.
"Lo ambil mangkok dan sendok, juga isi air seperempat gelas aja." Titah Fatih yang sudah mendudukkan dirinya.
Tissa mengerutkan keningnya, namun ia mengikuti perintah Fatih. Tissa kembali ke ruang tv sambil membawa satu mangkok bersih, sendok, dan juga seperempat gelas air yang Fatih perintahkan.
"Mau buat apa Lo?" Tanya Tissa bingung saat melihat Fatih menuang sesendok bubur dan mengajaknya di sana, seolah Fatih telah menghabiskan satu mangkok bubur.
Fatih juga menarik beberapa lembar tisu dan meremasnya seolah tisu tersebut bekas pakai. meletakkannya di atas meja dekat gelas yang berisikan seperempat air. Fatih menyimpan bubur yang masih berada di dalam sterofom tersebut dan meletakkannya di bawah meja.
Tissa baru sadar, jika di atas meja juga sudah ada baskom berisi air dan juga handuk kecil.
"Dengar, saat layca datang, Lo harus akting buat baru aja bawa gue bubur dan buat nyiapin gue. Lo juga yang udah ganti baju gue dan Lo yang kompres gue."
"Waaah, gila Lo. Kalo dia curiga gimana?"
"Hah, terus, gue dapat apa nih kalo layca Lo sampai percaya sama gue?"
"Gue bakal kasih diskon 30% buat galeri Lo."
"Serius?"
"Iya,."
Terdengar suara seseorang sedang memasuka. passwordnya, Fatih dengan cepat berbaring dan meletakkan handuk kecil yang sudah di perannya di kening.
"Ingat, akting Lo harus bagus." Ujar Fatih sebeum Raysa masuk kedalam rumah nya.
*
Tissa yang hendak mengaduk bubur, kemudian mengurungkan niatnya saat mengingat apa yang ingin di tanyakan oleh tadi saat belum Raysa masuk.
"Lo sama Layca masih diem-dieman?" Tanya Tissa dengan menatap Fatih yang tengah menikmati bubur buatan Raysa.
"Iya, gue belum siap buat liat muka dia. Hati gue masih sakit " Ujar Fatih setelah menelan buburnya.
"Hati sakit, tapi malah balik nyakiti."
"Dia gak cinta sama gue, mana mungkin dia bakal sakit." Ujar Fatih sedikit ragu.
__ADS_1
"Dia aja yang belum sadar, tapi gue rasa, dengan cara bikin dia cemburu mungkin bisa menumbuhkan rasa cinta itu."
"Maksudnya?"
"Ya Lo buat dia cemburu. Lo buat seolah-olah Lo udah move on dari dia."
"Sama siapa?"
"Terserah Lo, kan banyak kenalan cewek Lo."
"Kenalan cewek banyak, tapi yang bisa dipercaya cuma satu." Fatih menatap kearah Tissa, sehingga membuat Tissa tersedak.
"Gak, gak mau gue. Takut pamali gue." Ujar Tissa sambil menggelengkan kepalanya."
"Gue kasih diskon 40%."
Tissa sepertinya tergoda dengan tawaran Fatih. Sudut bibir Tissa pun naik sedikit keatas.
"Beneran yaa, 40."
"Iyaa, tapi dengan syarat, Lo buatin satu lukisan untuk gue."
"Oke, gak masalah. dua atau tiga lukisan pun bakal gue kasih gratis."
"Baiklah, nanti gue minta 10 lukisan sama Lo, dan di kasih gratis."
Tissa mencebikkan bibirnya, sehingga membuat Fatih tertawa.
Di apartemen nya, Raysa meneteskan air mata nya lagi.
"Kamu kenapa Ca? kenapa cengeng?" Tanya nya kepada diri sendiri.
hai, aku Fatih. maaf baru muncul .😘😘 salam cinta semua buat reader ❤️❤️❤️
Dasar Fatih genit, udah cantik gini masih liat yang lain, awas aja kalo berani berpaling. by. Raysa
NB: Pamali \= kualat.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....