Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 114 " Maldives"


__ADS_3

" Baju bekas kamu pakai masih ada di kamar kan? belum kamu cuci?"


" Iyaa Mi. ada 3 daster di kamar yang belum di cuci."


" Ya udah, baju itu perlu nanti, jadi nanti kalo Zein rewel karena rindu kamu, Bisa di pake bajunya."


" Bisa gitu ya Mi?"


" Bisa dong, aroma tubuh kamu kan nempel di baju itu. " Mami Shella membantu Sasa dalam mempacking barang. " Udah semua?"


" Udah kayaknya Mi."


" Jam berapa berangkatnya?"


" Jam 1 Mi."


" Masih ada 4 jam lagi, Ya udah, kamu istrirahat aja dulu yaa.. Mami mau siapain makan siang."


" Sa bantu Mi.".


" Yukk lah.."


Setelah selesai makan siang bersama, Daddy Roy dan Mami shella pun mengantar Bara dan Sasa ke bandara. Sebelumnya Sasa berpamit dulu dengan zein.


" Bunda pergi dulu yaa, Zein jangan rewel ya.."


Tangis Zein semakin menjadi, seolah tau jika akan berpisah dengan sang Bunda.


" Zein gak boleh rewel yaa.. Hikks.. Bunda cuma sebentar kok.." Sasa terus menciumi pipi Zein yang terus menangis dan memeluk lehernya kuat.


" Zein sama Papi yaa.." Vano mencoba meraih Zein, namun Zein semakin memperkuat pegangannya di leher Sasa.


" Udah, Mas ikut antar aja ke Bandara, biar Zein tertidur di mobil dengan mbak Sa" Ujar Vina yang ikut menangis melihat Zein seakan tak ingin berpisah dengan Sasa.


" Ya udah kalo gitu, Mas pergi yaa.."


Dan akhirnya, Vano pun ikut mengantar Sasa dan Bara ke bandara, karena Zein yang gak ingin lepas dari Sasa.


" Zein udah tidur?" Tanya Bara.


" Udah Mas, semoga gak kebangun nanti yaa.."


Bara mengusap bahu Sasa, karena air mata Sasa sedari tadi mengalir terus, merasa tak tega meninggalkan Zein.


" Nda.. Nda..huaa.." Zein kembali menangis saat Sasa memindahkan Zein ke gendongan Vano.


" Zein Sama Papi yaa.. "


" Nda... huaa..Nda..." Tangan Zein mencoba meraih Sasa, namun Bara menahan tubuh Sasa agar tidak mendekat lagi dengan Zein.


" Udah di panggil, yukk.."


" Tapi Mas, Zein.. hikss.."


" Udah, gak pa-pa, ada Mami. Masuk gih, dah di panggil tu."


Dengan terpaksa akhirnya Sasa ikut masuk dengan air mata yang terus mengalir. Bara juga merasa tidak tega melihat Sasa yang menangis sesenggukan.


" Mau di batalin?" Tanya Bara.


Sasa mendongakkan kepalanya, melihat wajah sang suami yang tersenyum tipis. Rasanya ingin mengatakan iya, tapi mengingat bagaimana Bara sangat antusias dengan keberangkatan mereka, Sasa juga menjadi tidak tega.


" Gak Mas.. hikss.."


" Ya udah, jangan nangis lagi dong. Ntar dikira orang Mas nyulik kamu lagi.."


Sasa memaksa tersenyum dengan lelucon sang suami.


Setelah drama kepergian Sasa dan Bara, akhirnya mereka pun sampai ke Tempat di mana banyak di katakan orang, dunia nya pengantin Baru.


" Gimana? kamu suka?"


Keindahan laut biru yang berpadu hijau, serta terlihatnya ikan yang sedang berenang, bahkan dasar lautan yang ditumbuhi terumbu karang pun membuat mood Sasa kembali segar.


" Banget Mas, cantik.. Aku suka.."


Tidak hanya itu, Sasa juga terperangah dan terpesona dengan kamar yang akan mereka tempati, di mana dalam beberapa hari mereka akan tinggal di atas permukaan laut.


" Mas, ini indah sekali.."


" Aku senang jika kamu bahagia."


" Makasih Mas.." Sasa memeluk tubuh Bara.

__ADS_1


" Uhh, kamu membangunkan Tiger yang sedang tertidur sayang." bisik Bara sensual.


Sasa melepaskan pelukannya, wajahnya sudah merona karena perkataan Bara.


" Aku mandi dulu yaa, gerah.." Sasa dengan cepat berlari ke arah kamar mandi.


" Mungill.., kamu mancing aku?"


" Gaak Mas.." Sasa sudah terkikik di dalam kamar mandi.


Setidaknya, Sasa tidak lagi sedih karena mengingat Zein.


Bara memesan makanan untuk di antarkan kedalam resort nya. Bara menatap meja yang sudah terhidang makanan yang terlihat lezat.


" Semoga kamu suka mungil.." Gumam Bara.


Cekleekk..


Pintu kamar mandi terbuka, dan menampilkan Sasa yang masih menggunakan handuk kimono.


" Wangi banget Mas, jadi lapar.."


" Ayoo... Sini.." Bara menuntun Sasa untuk duduk di atas beanbag. " Kamu mau makan yang mana?"


Sasa melihat semua menu Yang ada di meja. Ada spageti, Daging Barbeque, dan Nasi briyani. "Eem, mie aja deh mas."


Bara sengaja memesan makanan yang menurutnya akan di sukai oleh Sasa, karena Bara tau, jika Sasa kurang suka makanan luar negeri. Katanya gak cocok dengan lidahnya yang selalu mencicipi sambal terasi.


Bara terkekeh. " Ini spageti namanya sayang."


" Spa apa?"


" Spageti."


Sasa mengulang apa yang di sebutkan Bara. Sasa menyendokkan spageti kedalam mulutnya.


" Emm, enak Mas.."


" Syukur deh kamu suka. "


Sasa memakan makanannya dengan lahap.


" Eemm, kenyang banget aku Mas." Ujar Sasa sambil mengelus perutnya yang sudah mengeras karena kekenyangan. Bagaimana tidak, Sasa juga ikut mencicipi nasi briyani yang dimakan oleh Bara, dan juga memakan daging yang sudah di potong-potong oleh Bara. Serta desert yang juga di sediakan di sana.


" Dasar tukang tidur.." Bara mengecup kening Sasa, kemudian beranjak ke kamar mandi. Bara perlu membersihkan dirinya juga, setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan.


" Iyaa Mi, kami udah sampai. "


" Sasa gimana? Masih nangis?"


Terdengar suara Mami Shella dari sebrang panggilan, karena Bara melakukan video call.


" Tadi dipesawat masih nangis sih, tapi ini udah enggak kok. malahan dia sedang tidur. Tuh.. lihat.."


" waahh, nyenyak banget tidurnya.. Pindahin ke tempat tidur Bar. Jangan lupa bajunya di ganti."


" Iya Mi.. Oh ya, Zein gimana?"


" Zein, yaa begitulah.. Masih rewel. Namanya juga baru di tinggal Bundanya."


" Iyaa Mi, "


" Ya udah, kalian nikmati aja bulan madunya yaa.. Jangan fikirin kami di sini. Fokus aja dengan buat adek di sana."


Bara tersenyum Malu dengan wajah yang langsung merona, " Iya Mi.."


" Ya udah kalo gitu, salam buat Sasa. Assalamualaikum."


" Walaikumsalam."


Bara menyimpan kembali ponselnya, dan mendekati Sasa yang tertidur di beanbag setelah makan tadi, masih menggunakan handuk kimono nya. Bara mengecup kening Sasa, dan membopong tubuh mungil sang istri.


Sasa sama sekali tidak terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Bara. Seperti saat ini, Bara memakaikan baju tidur kepada Sasa, namun Sasa terlihat tidur dengan nyenyak.


Tergoda?


Tentu Bara tergoda, apalagi melihat bukit kembar yang kenyal itu menantang dirinya. Tapi Bara bisa apa? Dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Sasa, karena akan Bara pastikan, jika mereka akan melakukan itu besok, seharian, sepuas Bara, dan sesuka Bara.


Di Rumah Vano, Zein sudah sangat rewel dan menyebut-nyebut nama Bunda nya. Ini sudah tengah malam, tapi Zein masih saja rewel dan menangis.


" Nda...Nda..Hua..Nda..." Sambil menunjuk kearah rumah Mami Shella.


Vina sudah menangis karena melihat Zein yang terus menyebut nama Bunda nya.

__ADS_1


" Tidur di tempat Mami aja yuukk Mas .. hikss.."


" Iyaa, mungkin di sana Zein bakal tenang."


Vina dan Vano pun membereskan beberapa pakaian Zein dan Naya, untuk di bawa ke rumah Mami Shella.


" Zein rewel?" Tanya Mami Shella saat membuka pintu dan melihat Vina sudah menangis.


" Iya Mi, hiks.. rindu sama Bundanya.."


" Oooh, terus kamu kok nangis?"


" Sedih Mi, hikks.. Aku Mami nya, Tapi Zein lebih menyayangi Mbak Sasa.. hikss.."


" Namanya juga anak-anak, terkadang ada chemistry yang memang di rasakan seorang anak. Seperti Kesya dulu, lebih sayang Daddy dari pada Ayahnya."


" Iya Mi.. Hikss.."


Mami Shella memberikan bantal yang selalu Sasa pakai kepada Zein. Mereka akan tidur di kamar Bara dan Sasa, agar Zein bisa sedikit tenang. Dan lihatlah, mata Zein langsung satu saat kepalanya mendarat di bantal yang selalu Sasa pakai.


" Udah tidur dia, ya udah, kalian tidur juga.."


" Iya Mi.." Vina pun naik keatas tempat tidur, di mana ada Zein dan Naya. Sedangkan Vano, membentang kasur yang biasanya di gunakan Bara jika kamar mereka penuh dengan bayi-bayi mungil itu.


.


.


Bara terbangun saat merasakan tempat tidurnya goyang.


" Mungil.."


" Mas, maaf ya bangunin kamu.." Sasa langsung bergegas turun dari tempat tidur.


" Kamu kenapa?"


" mules Mas.." Teriak Sasa sambil berlari menuju kamar mandi.


Bara pun bangun, dan menunggu Sasa selesai dengan pembuangannya. Bara menyandarkan dirinya di beanbag, dan memandang lautan yang berkilau karena pantulan bulan.


" Mas.."


Bara tersadar dari pemandangan yang menenangkan itu.


" sini sayang.."


Sasa pun duduk di sebelah Bara, dan menyandarkan kepalanya di dada Bara.


" Pemandangannya indah yaa Mas."


" Iya, suasananya juga terasa tenang kan.?"


" Heeum.."


Hening, tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar helaan napas, gemericik air laut, dan angin yang bertiup.


" Mungil.."


" Hemm?" Sasa mendongakkan wajahnya.


Bara menahan dagu Sasa, dan mengecuo Bibir Sasa. Sasa pun membalas ciuman Bara. Ciuman yang awalnya pelan pun menjadi menggebu dan saling menuntut. Bara mengangkat tubuh Sasa dan memindahkannya di atas pangkuannya.


Sasa duduk dengan mengangkangi Bara, dan bibir mereka yang masih saling terpaut.


" Euunghh" Lenguhan tipis keluar dari mulut Sasa, karena lidah Bara menerobos masuk kedalam mulutnya, mengabses semua yang ada di dalam sana. serta memijit benda kenyal di dalam mulut Sasa dengan lidahnya.


" Masshh... Ah.." Sasa terkesiap saat Bara melepaskan setiap kancing baju tidur yang Sasa gunakan, hingga menampilkan bukit kembar yang tak tertutup itu.


Bara pun melahap bukit kenyal seperti jeli itu. Melahapnya dengan rakus, takut jika ada orang lain yang akan mengambilnya. Bara juga meninggalkan beberapa bercak merah keunguan di sana, membuat Sasa semakin frustasi dengan permainan Bara yang mulai liat. Belum lagi tangan Bara yang sudah menyentuh miliknya di bawah sana.


Malam ini, kamar mereka pun di penuhi dengan suara desahan yang saling bersahutan. Di tambah gemericik air laut yang semakin membuat gairah menjadi menggebu. Bara benar-benar melepaskan hasratnya yang tertunda. Tidak hanya sekali, Bara melakukannya hingga berkali-kali, dengan gaya yang berbeda-beda. Hingga akhirnya Sasa terjatuh lemas di atas dada Bara.


Bara menghapus keringat yang membasahi kening Sasa, dan mengecupnya dengan sayang.


" Makasih mungil.."


Senyum Sasa pun melengkung, merasa sangat di hargai oleh Bara, karena setiap mereka melakukan itu, Bara selalu saja mengucapkan terima kasih, dan pujian-pujian jika dirinya sangat puas dengan apa yang Sasa berikan. Suatu penghargaan Bagi Sasa.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2