
Bagaimana Bara dan Sasa bisa betah hanya berada di dalam resort seharian dan semalaman, jika pemandangannya sangat indah dan memukau, yang jarang sekali mereka lihat di Jakarta.
Bara yang sedang berenang di kolam mini yang ada di resort, menikmati kesegaran air kolam dengan aroma laut yang menyegarkan.
" Mas.." Sasa yang baru saja selesai mandi, langsung menghampiri sang suami. Sasa baru saja menjadi partner push up Bara. Sasa duduk di sofa rotan yang ada di pinggir kolam.
" Mau berenang bareng?"
" aku gak bisa berenang Mas."
" Ada aku, sini.."
" Enggak ah, nanti aku kelelep gimana?"
" Ayoo laah.. Sini.."
Sasa pun mendekat, dan duduk di tepi kolam.
" Buka bajunya sayang."
" malu ah, ntar ada yang... Masshh..." Sasa terpekik saat Bara menarik dirinya masuk kedalam kolam.
" Ayoo.." Bara menyuruh Sasa naik keatas punggungnya. Sasa pun menurut, dan Sasa merasa terapung diatas air saat Bara mulai berenang.
" Dingiinn banget Mas.."
" Ntar juga bakal hanget kok.."
" Oh yaa??, gimana caranya?"
" Ada deh.. Ayoo.."
Bara mengajari Sasa berenang. Dengan Sasa memegang tangannya, dan terkadang berpindah ke pinggang Sasa.
" Capek juga ya Mas berenang, gak sanggup napas aku."
Bara terkekeh. " Ntar aku kasih napas buatan deh.."
" Yee, itu sih maunya kamu Mas.."
" tapi Kamu suka kan?"
" Yaa.. gitu deh.." Sasa menjawabnya dengan malu-malu.
Cup..
Sasa melototkan matanya saat Bara mengecup bibirnya.
" Mas... kalo ada yang liat gimana?"
" Paling malaikat yang liat, tapi supaya setan gak liat, baca Bismillah dulu.."
" Bismillahirrahmanirrahim."
Bara langsung menempelkan bibirnya, dan mengalungkan tangan Sasa kelehernya. Dengan gerakan yang sudah terlatih, Bara melepaskan penghalang di tubuh mereka. Membiarkan potongan kain itu mengabung dan berenang dengan mengikuti arah angin. Karena sipemilik potongan kain itu, sedang melajukan ritual bercocok tanam di air.
Sudah tiga hari Bara dan Sasa di Maldives. Sesekali mereka melakukan video call kepada Mami Shella dan juga Vina. Intinya, jika Bara dan Sasa yang tidak menghubungi mereka, maka Mami Shella dan Vina pun tidak berani membuat panggilan kepada Bara, karena takut mengganggu bulan madu mereka.
" Zeiin.. " Sasa mengigau menyebut nama Zein, tidur Sasa pun terlihat gelisah, dan keringat pun bercucuran di dahinya.
" Mungill.." Bara membangunkan Sasa dari tidurnya.
" Zeiin... " Sasa tersentak dari tidurnya..
" Kamu kenapa sayang?" Bara membelai rambut Sasa.
" Zein mas... Zein.. hikss.."
Di rumah Mami Shella, Vano, Vina, Tante Rosa, Om Nazar, Om Bram Dan Tante Mega sudah heboh, karena anak-anak mereka menangis tak henti-henti sedari siang hingga malam. Terus memanggil-manggil bunda nya. Bahkan tubuh Zein sudah Demam.
" Gimana ni Mi?" Tanya Vina panik sambil menggendong Naya yang juga ikut rewel, karena tidurnya terganggu dengan tangisan Kayla, Zein, dan Anggel.
" Ya ampun, Mami kok sampai lupa sih.." Mami Shella pun berlari ke kamar Bara dan Sasa, mencari daster bekas pakai milik Sasa.
" Nih, Vano kamu pakai."
__ADS_1
" Niih Ros.."
Mami Shella membagikan daster bekas pakai milik Sasa.
" Vano pakai Mi?"
" Iyaa lah, udah cepetan pakai.."
" dek, kamu aja yang pakai. Masa Mas pakai daster sih.."
" Ya ampun Mas, demi anak juga. Ini Naya juga rewel. Kamu kan gak ada ASI-nya, jadi gimana mau kasih ***** coba."
Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan terpaksa Vano memakai daster bekas pakai milik Sasa. Begitupun dengan Rosa, yang langsung memakai daster bekas pakai milik Sasa.
" Nih Meg."
" Gak muat Shel, Badan aku bongsor dan berlemak gini,"
Tak berapa lama Leo datang membawa oleh-oleh dari orang tua Anggun, yang mana datang untuk menanti kelahiran cucu mereka.
" Assalamualaikum.."
" pas banget, sini Lee."
" kenapa Mi?"
" Pakai nih.."
" Buat apa?"
" Udah cepat pakai.."
" Apa nih?"
Mata Leo langsung menangkap sosok Vano yang mengenakan daster, sambil menggendong Zein.
" Bwaahahaha...." Leo tertawa terbahak-bahak, melihat penampilan Vano yang sangat lucu, mana daster yang dikenakannya sangat ketat di tubuhnya, hingga membentuk dada bidang berotot milik Vano.
" Gak ada baju Mas?"
" Diem kamu.." Ujar Vano sambil melototkan matanya.
Leo membuka kain yang diberikan oleh sang Mami. Leo bergidik ngeri saat melihat kain tersebut adalah sebuah daster, Leo fikir tadinya itu adalah kemeja santai seperti yang ada di Bali-bali.
" Mami gak salah?" Ujar Leo sambil menatap daster yang berada di tangannya.
" Gak Lee, demi adik kamu ini. Daster itu kekecilan dengan Mami. Kalo kamu masih muat. Udah sana pake."
Dengan terpaksa Leo memakai daster tersebut. Vano sudah tertawa terbahak-bahak, namun Vina memukul bahu Vano karena membuat Zein yang hampir tertidur, kembali menangis karena tawa sang Papi.
" Anggel sama Mas sini.." Leo pun menggendong adik kecilnya itu.
Tangis ketiga bayi yang sedang merindukan Sasa pun akhirnya mereda, dan tertidur lelap.
" Udah, tidurin di kamar mereka aja."
Vano pun meletakkan Zein di kasur milik Sasa dan Bara, begitupun dengan Leo dan Tante Rosa.
" Huff... segitu pengaruhnya nih daster." Ujar Leo.
" Jelas lah, Ini daster yang udah pernah di pakai sama Sasa. Jadi aroma tubuh Sasa masih nempel di situ.."
" hah? Yang bener Tante?" Leo bergidik geli.. Ini pertama kalinya dia memakai pakaian bekas milik orang lain. Bahkan milik Vano saja Leo enggan memakainya. Efek kehidupan yang terlalu higienis.
Dengan terburu-buru Leo membuka dasternya, dan menumpang mandi.
" segitunya..?"
" gitu lah Leo, Pakai punya Vano aja enggak mau dia."
Mami Shella tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Kreeekk...
Mami Shella, Tante Mega, dan Tante Rosa menoleh kearah Vano, yang mana baru saja mendaratkan bokongnya di sofa kamar Bara dan Sasa.
" Robek Mi.."
__ADS_1
Vano langsung menutup bagian yang robek, karena menampilkan pakaian dalamnya.
Mami Shella, Tante Mega, dan Tante Rosa pun terkikik melihat tingkah Vano yang sangat menggemaskan.
Di Maldives, Bara sedang menenangkan Sasa.
" udah yaa.. kalo masih nangis, gak jadi nih aku video call Mami.."
" hikks.. Iya Mas.." Sasa mengapus air matanya.
Jika di Maldives sore, maka di Jakarta sudah malam. Bara pun membuat panggilan video dengan Mami Shella.
" Assalamualaikum.."
" Mi.. Hiks.. "
" Loh, kenapa sayang?"
" Zein Mana Mi? Kabar Zein gimana?"
Mami Shella tersenyum. Mami Shella menunjukkan Zein, anggel, dan Kayla yang tengah tertidur lelap.
" mereka kangen kamu.."
" hikkss.. Sa kangen mereka juga..Hiikss..."
" udah, kamu jangan nangis ya. Happy-happy aja di sana.."
" iya Mi.."
" Ya udah kalo gitu, Mami matiin ya, takut mereka bangun lagi.. terus nangis lagi.."
" iya Mi.."
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam"
" Udah?" Tanya Bara sambil mengelus rambut Sasa.
" Udah Mas.."
" ya udah, sekarang mandi yaa, biar kita jalan-jalan2"
" Ke mana?"
" Ada deh.. Yukk..."
Sasa pun membersihkan dirinya, begitupun dengan Bara. Karena Bara ingin mengajak Sasa keliling pulau, agar fikiran dan mood Sasa kembali, setelah menangis karena merindukan Zein dan yang lainnya.

" Ngapain Mungil?" Bara memeluk Sasa dari belakang yang sedang mengoles selai di roti.
" Mas mau? Aku lapar.."
" Suapin?"
" Nih.." Sasa memberikan potongan roti tersebut kedepan mulut Bara.
" pakai ini suapinnya."
Cup..
" iih, dasar mesum.. nanti gak jadi jalan-jalannya lagi.."
" Ayo lah mungil.."
Sasa memasukkan setengah rotinkedalam mulutnya, dan setengah lagi membiarkan Bara memakannya, sambil menciumi bibir nya.
" Lezaat.." ujar Bara dengan mulut yang penuh.
" Dasar beruang madu ku yang mesuumm dan menggemaskan.." Ujar Sasa sambil menggelitik dagu Bara.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Salam SaBar... (Sasa & Bara )