Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 40


__ADS_3

Maaf ya, kalo visual Fatih gak sesuai ekspektasi para readers 🤭🤭. Readers boleh kok menyesuaikan dengan ekspetasi masing-masing ya Visualnya. Di sini emang aku mau buat, kalo Farhan lebih tampan dari Fatih. Dan wajah Fatih itu emang nyebelin, makanya aku kasih Kim woobin di sini. Ah ya, satu lagi, Rambut Fatih bukan keriting 🙈, tapi ikal. Ikal itu lurus tapi sedikit bergelombang. begitu lah kira-kira.


Jadi, buat para readers yang gak suka sama visual yang aku kasih. Gak papa kok, yang penting kalian masih sayang dan cinta sama Fatih. 🤗🤗🤗😘😘😘


***


Raysa tertidur dengan memeluk lututnya Sepanjang malam di atas sofa, ia bertanya kepada dirinya, kenapa ia merasakan nyeri di hati nya, Padahal ia tak mencintai Fatih. Apa karena Raysa kesal kerena sudah bersusah payah dan repot-repot membuat bubur, ternyata Fatih sudah memakan bubur dari orang lain? Ya, mungkin karena itu. Itu lah alasannya kenapa Raysa kecewa.


Pagi hari nya, Raysa terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal. Karena tidurnya yang tak nyaman.


"Huuuf, berendam air hangat sebentar gak papa kali yaa."


Raysa pun bangkit dan menuju kamar mandi. Ia mengisi bathup dengan air hangat. Rayaa melepas semua bajunya dan masuk kedalam bathup.


Fikiran Raysa kembali ke kejadian tadi malam. Di mana Tissa berada di dalam apartemen Fatih dan merawatnya.


"Apa mereka punya hubungan lain ya, selain sahabat? gak mungkin kan salah satu di antara mereka gak ada yang suka?" Gumam Raysa bertanya kepada dirinya sendiri.


"Hah, biarlah. Toh bukan urusan aku juga."


Raysa menutup matanya, merilekskan dirinya agar tubuhnya bisa kembali segar. Namun, detik selanjutnya mata Raysa terbuka.


"Masak apa ya buat Fatih? Hmm, mending aku masak di apartemen dia aja. Dari pada keduluan sama Kak Tissa." Raysa aternswyum, kemudian kembali menutup matanya.


"Eh, emang kenapa kalo kak Tissa bawa sarapan untuk Fatih? Gak ada yang salah juga kan dengan itu? hah, ya sudah lah." Ujar Raysa yang kembali membuka matanya.


*


"Lo serius gue nyuruh gue ke apartemen Lo lagi pagi ini?"


"Iya, gue serius. lagian kalo emang yang kayak Lo bilang, jika Layca cinta sama gue, maka gue mau dia merasakannya saat diri nya cemburu."


"Ngadi-ngadi Lo, entar kalo Raysa slbeneran salah paham gimana?"


"Salah paham atau gak nya dia. Kalo emang Allah dah katakan jika Layca jodoh gue, maka layca akan tetap menjadi jodoh gue. Apapun yang terjadi."


"Hah, serah Lo deh. Jadi Lo mau gue bawain apa?"


"Roti aja, lagian gue yakin kalau layca pasti masakin gue bubur atau sejenisnya lah."


"Oke deh, gue mandi dulu ya."


"Jangan lama."


"Iya bawel, lagian Lo tau gue sering lembur. Malah bangunin gue pagi-pagi gini."


"Gak solat subuh Lo?"


"Solat lah, lagian gue tidurnya tadi habis subuh."


"Sorry deh, dah ganggu tidur Lo."


"it's oke lah. yang penting 40%"

__ADS_1


"Iya, dasar perhitungan."


"Gak perhitungan gak cepet kaya gue. Ha..ha..ha.."


Fatih menggelengkan kepalanya, mendengar tawa Tissa yang terdengar sangat bahagia.


"Ya udah, Lo mandi sana. Bau nya sampai ke sini tau gak."


Fatih pun memutuskan panggilannya setelah Tissa mengatakan 'Ya'.


"Hah, kita-kira Layca lagi ngapain ya?" Gumam Fatih, dan tak berapa lama bel apartemen Fatih berbunyi.


"Siapa yang datang pagi-pagi?" Monolog Fatih.


Fatih pun membiakkan pintu saat mengetahui jika yang datang adalah Raysa. Fatih mojtanya dari cctv yang ada di pintu.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Raysa.


"Udah mendingan, kamu kok tumben pagi-pagi udah ke sini?"


"Iya, aku masak di sini aja."


"Kenapa di sini? dapur kamu kenapa?"


"Kalo aku masak di rumah, ntar kelamaan kamu sarapannya. Jadi biar cepat, ya udah aku masak di sini aja." Alasan Raysa yang masih tak ingin mengakui sesuatu yang bergejolak di dalam hati nya.


"Aku tunggu di situ gak papa ya, masih pusing." Ujar Fatih sambil menunjuk kearah sofa yang ada di depan TV.


"Iya .."


Ya, bukan peran dalam kata artian mereka pacaran, namun seolah-olah ada sesuatu di antara persahabatan mereka. Begitulah Fatih ingin membuat Raysa untuk berfikir.


Raysa pun mulai menyiapkan segalanya dan memasak makanan yang simple. Yaitu omelet spesial. Tak berapa lama pintu bel pun berbunyi, Fatih berjalan menuju pintu untuk membukanya, dan Raysa memperhatikan itu dari dapur.


"Tara ... Lo belum sarapan kan? Gue sengaja pagi-pagi bawain kamu lontong loh." Ujar Tissa sambil menunjukkan kantong plastik yang ada di tangannya.


Tissa masuk dengan senyum mengembang, kemudian ia terlihat gugup saat melihat ada Raysa di dapur.


"Eh, eng... Maaf, aku gak tau kalo kamu udah masak untuk Fatih." Ujar Tissa merasa gak enak.


"Lo gak bilang mau ke sini." Ujar Fatih sambil berjalan mengikuti Tissa ke dapur.


Tissa rasanya ingin memutar bola matanya jika tak ada Raysa yang saat ini memandang kearah nya. Atau pun setidaknya menggeplak kepala Fatih.


"Sebagai sahabat yang baik, di saat sahabatnya sedang sakit, sudah sewajarnya dong aku perhatian sama Lo." Ujar Tissa sambil meletakkan plastik berisikan dua bungkus lontong di atas meja.


"Eng, Raysa, maaf ya. Aku cuma beli dua. Habisnya aku gak tau kamu di sini." Ujar Tissa merasa bersalah kepada Raysa.


"Gak papa kok Kak, lagian aku udah masak omelet." Ujar Raysa sambil membawa dua piring omelet yang sudah di hiasnya dengan sayuran ke atas meja makan.


Tissa hanya tersenyum, kemudian dia melirik kearah Fatih yang hanya diam menatap ponselnya. Entah apa yang sedang di lakukan pria itu dengan ponselnya, yang jelas Tissa tahu bahwa Fatih sedang menghindar dari tatapan kekecewaan Raysa.


Tissa pun perlahan mengambil dua piring, dan meletakkan setiap bungkusan lontong di atas piring.

__ADS_1


Tissa dan Raysa saling melirik kemudian mereka menatap kearah Fatih. Penasaran piring siapa yang akan di tarik oleh Fatih. Sebenarnya Tissa gak akan kecewa jika Fatih menarik piring pemberian Raysa, karena itu yang Tissa harapkan. Namun siapa sangka, jika Fatih menarik piring yang Tissa berikan.


Dengan diam Fatih membuka bungkus lontong, menuangkan kuahnya dan mengaduknya. Raysa terlihat sangat kecewa, sehingga Raysa menundukkan wajahnya sambil memotong kecil omelet yang ada di piringnya.


Tissa tak tega melihatnya, sebagai perempuan, itu pasti sangat menyakitkan, namun mau bagaimana lagi, saat ini Fatih sahabatnya sedang mode keras kepala.


"Di mana beli lontongnya? enak." Ujar Fatih tanpa melihat kearah Tissa.


"Di dekat apartemen Lo, yang dekat jual bubur itu."


"Udah ada yang jual lontong di situ?"


Rasa nya Tissa ingin berteriak kepada Fatih, untuk mengatakan 'Udah lama kali tu lontong nengger di situ. Dan Lo sering beli nya.' Namun itu hanya bisa Tissa lakukan di dalam hati.


"gak tau juga, kayak nya udah lama."


"Oh, maklum aku gak pernah beli di situ. Biasanya kan aku selalu beli lontong yang di dekat apartemen kamu." Ujar Fatih yang kali ini melihat kearah Tissa.


Tissa udah melototkan matanya, namun Fatih masih terlihat santai. Kemudian ia alihkan pandangan ya kepada Raysa yang sedari tadi hanya memotong omeletnya dan baru memasukkannya sesuap kedalam mulut.


"Kamu kenapa Ca? kok cuma di potong kecil-kecil aja?" Tanya Fatih.


"Hah? oh, eng ... biar enak makannya."


"Iya, makan yang banyak, kamu tu kurus banget. Lihat Tissa, padat dan berisi."


Tissa langsung melayangkan tatapan menyalang kepada Fatih. Rasanya Tissa benar-benar ingin mengobok-obok mulut Fatih dengan sendok yang ada di tangannya.


Raysa hanya tersenyum dan kembali menyuapkan potongan omelet dalam ukuran besar.


Fatih sengaja memesan lontong karena itu tidak akan membuatnya kenyang. Setelah lontongnya habis, Fatih menarik piring omelet yang Raysa buat. Fatih pun mulai memakannya.


Raysa dan Tissa sama-sama memandang kearah Fatih. Raysa menyunggingkan senyumnya di saat Fatih memasukan potongan omelet kedalam mulutnya.


"Besok-besok Lo bawa lontongnya Dua buat gue. Tau sendiri gue makannya banyak." Ujar Fatih yang sudah pastinya di tujukan untuk Tissa.


Tissa sudah menggerutu di dalam hati, bukannya Fatih yang memesan satu bungkus untuk dirinya? Dasar pria patah hati. Kesal Tissa dan memasukkan satu sendok penuh kedalam mulutnya, sehingga membuatnya tersedak.


uhukk...uhukk...uhukk...


Fatih berdiri dan menyodorkan air untuk Tissa, kemudian mengelus punggung Tissa dengan lembut.


"Makannya pelan-pelan" Ujar Fatih masih dengan mengelus punggung Tissa.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2