
Raysa, Bunda Sasa, Daddy Bara, dan Fatih berjalan bersama menuju lift.
Cling ...
Sebuah pesan kembali masuk kedalam ponsel Fatih. Fatih meraih ponselnya dan membaca pesan tersebut.
Tissa : Titip lontong ya ... Laper banget nih.
Me : Iya bawel ...
Tanpa Fatih sadari, Jika Raysa melirik kearah ponsel Fatih.
'Cih, sok manja banget minta di beliin lontong.' Batin Raysa yang entah kenapa merasa kesal.
Fatih mengantar Bunda Sasa, Daddy Bara, dan Raysa sampai kemobil Daddy Bara.
"Semangat Layca ..." Ujar Fatih sambil mengepalkan tangannya dan meninju ke udara.
Raysa mencebikkan bibirnya dan memutar bola mata nya. Entahlah, Raysa merasa malas mendengar suara Fatih saat ini.
"Hati-hati Daddy nyetir nya."
Daddy Bara mengangguk dan memberikan jempolnya. Fatih melambaikan tangannya saat mobil Daddy Bara mulai melaju meninggalkan Fatih.
Fatih bergegas menuju mobilnya, ia benar-benar terpaksa menjemput Tissa. Karena Klien yang akan di jumpai oleh Fatih adalah teman dari Tissa, dan ini termasuk salah satu proyek besar yang harus Fatih raih demi menunjang karirnya agar semakin melejit.
Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat hampir sampai di apartemen Tissa, Fatih membeli lontong di pinggir jalan sesuai dengan pesanan Tissa, sahabat perempuannya.
*
"Maaf ya ngerepotin." Ujar Tissa saat mobil Fatih sudah berhenti di hadapannya.
"Yoi ... Demi proyek besar, kalo gak, males banget jemput Lo."
Tissa mencibir sambil meniru dengan gerakan bibir ucapan Fatih.
"Lontong gue mana?"
Fatih memberikan satu kantong plastik yang berisi satu bungkus lontong.
"Pake telor?"
"Habis, pake pergedel."
Tissa membuka bungkusan tersebut dan menyalinnya kedalam mangkok plastik yang di bawanya.
"Tu mangkok jangan lupa ntar Lo turunin." Ujar Fatih dengan kesal.
"Iya ... Iya ... Kalo gue lupa, ya tolong Lo ingatin."
Fatih memutar bola matanya malas. Bukan sekali dua kali Tissa meninggalkan mangkok kotornya di dalam mobil, bahkan pernah sampai berhari-hari dan Fatih baru menyadari jika masih ada mangkok kotor di dalam mobilnya. Pantas saja Fatih merasa jika mobilnya tercium bau tak sedap.
"Lo udah makan?"
"Udah dong, calon mertua masakin nasi goreng. Mantap dah ..."
"Iya deh Iya, yang pujaan hatinya berada di Bandung." Goda Tissa.
"Gue doain supaya perjuangan Lo mendapatkan cintanya Raysa terwujud. Amin.." Ujar Tissa tulus.
Fatih juga ikut mengamini di dalam hati. Tak berapa lama mobil yang di kendarai Fatih pun tiba di sebuah perusahaan yang cukup besar.
Fatih dan Tissa pun turun secara bersamaan, mereka berjalan beriringan menuju lobi kantor percetakan buku tersebut. Tissa melapor kepada resepsionis, bahwa mereka sudah memiliki janji dengan Andini, pemilik perusahaan ini, sekaligus teman Tissa pada saat mereka duduk di bangku SD.
Resepsionis yang bernama Intan, tertulis di name tag nya tersebut pun mengantarkan Fatih dan Tissa menuju ruangan bos besarnya.
Tissa memperkenalkan Fatih kepada Andini. Andini awalnya ragu dengan Fatih, karena penampilan Fatih yang sangat tidak terlihat profesional. Hanya menggunakan kemeja lengan panjang yang sudah di gulung hingga siku, dengan dua kancing teratasnya terbuka dan menampilka. kaos pas body miliknya yang berwarna putih. Dan menggunakan celana jeans serta sepatu Kets. Tidak terlihat seperti pemilik sebuah perusahaan arsitektur. Fatih lebih terlihat sebagai anak magang yang ingin mencoba peruntungan.
Andini merasa terkesan dengan penjelasan dan gambaran singkat yang Fatih berikan. Pemikirannya tentang Fatih seketika langsung membuyar. Ternyata penampilan tak menentukan bakat seseorang.
Fatih dan Andini pun berjabat tangan, setelah mereka menandatangi kontrak tersebut.
__ADS_1
"Lo pulang sendiri gak papa kan? Gue mau ngobrol sama temen gue."
"Udah gue duga dari awal, pasti ada udang di balik batu Lo minta ikut."
Tissa tertawa, kemudian ia mengantarkan Fatih hingga lift. Tissa pun kembali keruangan Andini, sedangkan Fatih kembali menuju Kantornya.
*
Sesampainya dinkamtor polisi, dimana Raysa akan ditugaskan. Raysa terkejut saat mendapatkan papan Bunga ucapan selamat yang besar dan indah. Siapa lagi pengirimnya jika bukan Fatih.
Raysa di sambut dengan upacara penyambutan. Daddy Bara dan Bunda Sasa juga ikut dalam upacara tersebut. Tidak hanya ada Raysa, tetapi ada beberapa polwan dan polisi yang ikut menjadi anggota baru di kantor ini. Namun, tetap saja Raysa yang pangkatnya paling tinggi di antara mereka.
Buket bunga pun di berikan kepada kelima anggota baru kantor polisi tersebut. Tepuk tangan pun terdengar memenuhi halaman lapangan yang tak seberapa luas itu. Setelah acara penyambutan, mereka pun melajukan acara sesi foto bersama.
"Mas dulu gitu juga?"
"Iya ..."
Tiba-tiba Bunda Sasa teringat akan mantannya Daddy Bara. "Jadi Mas sering pacaran dong di kantor."
"Ya gak lah, beda kantor kami." Jawab Daddy Bara. Daddy Bara merengkuh bahu Bunda Sasa.
"Dua hari ini kok cemburuan banget sih?"
"Gak tau, kesal aja kalo ingat di mana tempat ini adalah tempat Mas sama Mbak Lia menjalin kasih."
"Masa lalu itu, lagian tumben banget kamu ungkit-ungkit, biasanya juga gak pernah ungkit-ungkit."
"Iih, di bilangin gak tau .." Rajuk Bunda Sasa.
"Jangan gitu sayang, bibir kamu gemesin tau kalo gitu. Jangan nanti aku khilaf dan cium kamu di sini." Bisik Daddy Bara.
Bunda Sasa mencebikkan bibirnya dan mengikuti perut Daddy Bara. Bunda Sasa dan Daddy Bara langsung tersenyum di kala sang putri menghampiri mereka, dan melupakan perdebatan kecil mereka yang manis.
Raysa mengajak Daddy Bara dan Bunda Sasa masuk kedalam, pastinya setelah memperkenalkan kedua orang tuanya. Dan betapa terkejutnya atasan Raysa saat mengetahui jika Raysa adalah anak dari seorang yang berpengaruh di Jakarta.
Raysa menggandeng tangan Buda Sasa saat memasuki ruangannya. Bahkan saat di dalam ruangannya pun Raysa mendapatkan berbagai macam buket bunga. Raysa menatap bunga yang ada di atas meja. Bunga yang menjadi pusat perhatiannya, karena berbeda dari bunga yang lainnya. Bunga Ranunculus yang sangat indah.
Raysa meraih bunga tersebut dan mencium aromanya. Tanpa membaca siapa pengirimnya pun Raysa tahu, jika itu adalah ulah Fatih.
Fokus Raysa berpindah kepada Bunga matahari yang berada di sudut ruangan. Siapapun pasti tahu arti dari bunga matahari. Kesetiaan dan kepatuhan, serta Kegembiraan dan keceriaan.
Fatih mengirimkan Bunga matahari sebagai penyemangat bagi Raysa. Karena bekerja di kantor barunya dan dengan orang-orang baru. Raysa juga membaca kartu ucapan yang ada di bunga tersebut.
"Siapa yang kirim bunga-bunga ini?" Tanya Bunda Sasa.
"Fatih Bun."
"Romantis banget sih Fatih, gak nyangka bisa bikin ruangan kamu udah seperti kebun bunga." Ledek Daddy Bara.
"Ica gak ucapin makasih sama Fatih?"
Raysa menggeleng pelan. 'Buat apa ngucapin makasih, lagian pasti Fatih juga ngasih bunga kayak gini ke perempuan yang bernama Tissa. Sekalian sama lontongnya.' batin Raysa.
'Ah, ngapain ingat-ingat dia, yang ada makin kesal aja.'
Mata Raysa melihat ke satu buket bunga mawar merah, yang mana kartu pengirimnya berbeda dari bunga-bunga yang lain. Raysa tersenyum di kala membaca siapa pengirim bunga tersebut.
Yups, pengirimnya adalah Farhan.
Raysa menimbang, bunga mana yang akan ia letakkan di dalam vas bunga yang ada di dalam ruangannya.
Setelah menimbang dan berfikir sejenak, akhirnya Raysa memilih bunga dari pemberian Fatih. Raysa meletakkan Bunga Ranunculus kedalm Vas bunga yang akan di letakkan di atas meja nya.
"Bunga nya cantik .." Puji Bunda Sasa ketika melihat Raysa memindahkan bunga tersebut kedalam Vas bunga.
"Iya Bun, lucu aja bunganya. Lain dari yang lain."
"Bunga mawarnya unik ya Mas." Ujar Bunda Sasa kepada Daddy Bara.
__ADS_1
"Itu bukan bunga mawar sayang. Gimana sih, suka tanam bunga tapi masih gak tau nama-nama bunga."
"Bunga yang aku tanamkan rata-rata mawar, anggrek, dan melati Mas. Lagian kamu juga gak pernah kasih aku bunga kayak gini."
"Loh .. loh ... enak aja bilang aku gak kasih bunga. Ada ya mungil, ada ...."
"Iya, cuma bunga mawar. Aku sering liatnya tau."
"Ya udah entar aku kasih kamu buket bunga Kamboja."
"Kamu ngarep aku cepat mati Mas?" Kesal Bunda Sasa dengan berkacak pinggang.
"He .. he ... He ... canda mungil, canda .." Daddy Bara langsung memeluk pujaan hati nya itu.
Raysa melihat pemandangan yang selalu membuatnya iri. Ia berharap, jika pasangan hidupnya akan selalu romantis dan humoris seperti Daddy Bara.
Tapi mengingat sifat Farhan yang kaku dan cool, gak mungkin banget kan bisa jadi pria humoris? Eh, tapi gak ada yang gak mungkin jika sudah menyangkut atas nama cinta. Buktinya Papi Vano yang pendiam aja, sekarang lebih humoris. Berarti masih ada kemungkinan jika Farhan akan berubah.
Raysa tersenyum kala membayangkan dirinya dan Farhan menikah dan membangun rumah tangga.
Hah, tak sabar rasanya mendengar Farhan mengatakan cinta kepadanya. walaupun tanpa sepatah kata cinta dari mulut Farhan ataupun Raysa, tapi mereka seolah mengerti jika mereka saling mencintai, tanpa ucapan itu harus terungkap.
*
Senyum Raysa sedari tadi tak luntur. Apalagi saat kedatangan Farhan ke kantornya dan mengajak dirinya beserta Bunda Sasa dan Daddy Bara makan siang bersama.
"Fatih jadi kemari?" Tanya Bunda Sasa kepada Farhan.
"Jadi Tante, tadi Farhan udah suruh Fatih buat nyusul ke sini."
Seketika Raysa mengerjapkan matanya saat mendengar nama Fatih di sebut-sebut oleh Bunda Sasa dan Farhan.
'Ngapain juga dia ikut makan siang di sini. Bikin rusak mood aja.' Batin Raysa dan menatap menu makanan tanpa berselera lagi.
*
Pelayan mencatat pesanan makanan Farhan, Raysa, Bunda Sasa, dan Daddy Bara. Farhan juga sudah menanyakan kepada Fatih, apa yang Fatih inginkan. Farhan pun juga memesankan makanan Fatih juga.
"Untuk siapa itu kak?" Tanya Raysa saat merasa pesanan mereka lebih.
"Fatih."
"Kan belum datang orangnya, lagian belum tentu juga dia datang." Ujar Raysa. 'Ataupun dia lagi makan siang bersama perempuan bernama Tissa itu.' Lanjut Raysa di dalam hati.
"Fatih pasti datang. Udah, jangan terlu benci, entar jadi berpaling ke dia lagi."
"Ihh ... ogah banget." Raysa bergidik geli, membayangkan jika dirinya bersama Fatih menikah saja Raysa sudah sakit kepala.
Bisa-bisa setiap menit, setiap jam, bahkan setiap hari mereka terus saja berdebat. Mendebatkan sesuatu hal yang sangat tidak penting dan banyak membuang energi dan fikiran.
"Hayoo, lagi mikirn Fatih ya .." Goda Farhan kepada Raysa.
"Gak ah, ngapain juga mikirin dia. Capek-capekin fikiran tau gak."
Farhan tersenyum mendengar ucapan Raysa yang terdengar kesal untuk Fatih. Namun, tak menutup kemungkinan jika suatu saat Raysa jatuh hati kepada Fatih karena rasa bencinya yang terlalu besar itu berubah menjadi cinta.
Farhan sepertinya harus gerak cepat untuk melamar Raysa, tapi Raysa baru saja bekerja, tidak mungkin Raysa langsung menikah. Sebaiknya Farhan menunggu waktu yang tepat dan senggang. Lagipula saat ini Farhan juga lagi banyak kerjaan, takutnya tak sempat memperhatikan persiapan lamarannya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1