Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 41


__ADS_3

uhukk...uhukk...uhukk...


Fatih berdiri dan menyodorkan air untuk Tissa, kemudian mengelus punggung Tissa dengan lembut.


"Makannya pelan-pelan" Ujar Fatih masih dengan mengelus punggung Tissa.


Tissa melirik kearah Raysa, terlihat jika Raysa sedang menahan rasa cemburu. Hah, sebegitu susah kah mengungkapkan sebuah perasaan?


"Gue udah gak papa, duduk lah lagi, dan habiskan makanannya."


Fatih menurut, dan kemudian kembali melanjutkan makannya dengan lahap. Raysa sesekali melirik kearah Fatih, entah apa yang di fikirkan oleh wanita itu.


"Sa, biar aku aja yang cuci. Sebaiknya kamu bersiap." Ujar Tissa sambil tersenyum.


"Gak papa kak, aku udah biasa."


"Biarin Tissa aja Ca, sebaiknya kamu bersiap. Kamu apel pagi kan hari ini?"


Raysa menoleh, kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Maaf ya kak, merepotkan." Lirih Raysa.


"Gak masalah." Ujar Tissa sambil tersenyum.


"Ca, " Panggil Fatih.


Entah mengapa Raysa tak suka mendengar Fatih memanggnya dengan sebutan 'Ca', padahal biasanya Fatih akan memanggilnya dengan sebutan 'Layca'.


"Ya ." Raysa berbalik dan menatap Fatih yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu bawa saja mobil aku. Lagian aku hari ini gak kerja."


Raysa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Fatih.


Ceklek ..


Pintu tertutup dengan Fatih yang masih menatap kosong kearah pintu itu.


"Ck ... ck ... Ck ... Kenapa cinta begitu menyiksa dan semenyakitkan ini? Tuhan, semoga aku tak merasakan rasa sakit seperti yang di alami oleh sahabat baik ku ini." Ujar Tissa yang sudah berdiri di samping Fatih.


Fatih menoleh kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Jadi katakan, siapa pria itu?" Tanya Fatih yang sudah penasaran."


"Gue tidak akan mengatakannya, yang jelas dia sangat tampan dan berwibawa. Gue menyukai nya pada pandangan pertama."


"Baiklah, katakan apa inisialnya, setidaknya gue tidak selalu menyebutkan nama pria itu dengan sebutan 'pria itu' terus-terusan."


"Okey, tapi Lo jangan ketawa dan kegedean."


"Baiklah .."


Tissa menatap Fatih, kemudian ia menghela napasnya. "Baiklah, panggil dia dengan Mr. F."


Perlahan Fatih menatap keatas Tissa dengan tatapan tak bisa di baca.


"Ck, sudah gue bilang jangan berfikiran yang macam-macam. Di dunia ini bukan cuma Lo yang namanya berawal dari huruf F. Bisa saja Farah, Fabo, Faisal, dan masih banyak lainnya."


"Jadi namanya Faisal?" tebak Fatih.


Tissa mendelik dan mencebikkan bibirnya. "Gue gak bakal bilang."


"Terserah, yang penting saran gue jangan terlalu tinggi bermimpi, karena akan sangat sakit saat lo terjatuh."

__ADS_1


"Gue akan ingat itu. Oke, tugas gue udah selesai. Gue balik ya, belum mandi."


"Pantas bauk."


"Dasar manusia nyebelin, Lo yang nyuruh gue datang pagi-pagi dengan terburu-buru, dan sekarang Lo bilang gue bauk?" Kesal Tissa.


"Udah sana pergi, gue mau istirahat."


"Iskaah ... manusia nyebeelliinn.." Kesal Tissa, kemudian ia membuka pintu dan membantingnya dengan kasar.


Tissa tidak marah, hanya saja mereka memang seperti ini. Berdebat tak jelas dan saling mengejek. Namun, mereka tetap bersahabat dengan baik.


Tissa menunggu lift yang seakan lama sekali terbukanya. Hingga Tissa mendengar suara Raysa menyapanya.


"Kak Tissa pulang sekarang?"


Tissa menoleh. " Iya, aku harus menyelesaikan beberapa lukisan ku."


"Kakak pelukis?"


"Iya, "


Raysa tersenyum, senyum yang sangat manis. Tak terlihat wajah jutek nya seperti saat di apartemen Fatih tadi.


'Pantes aja Fatih tergila-gila banget, senyumnya aja udah bikin gue hampir kena diabetes.' Batin. Tissa.


Ting ....


Pintu lift terbuka, Raysa dan Tissa masuk kedalam lift bersamaan. Tak ada percakapan di antara mereka berdua, namun Tissa tau, jika Raysa sedari tadi memperhatikan dirinya dari balik pantulan pintu besi itu.


Ting ...


Pintu lift terbuka dan mereka keluar secara bersama.


"Iya, hati-hati kak."


Tissa memperhatikan Raysa, Tissa tersenyum di saat Raysa memasuki baseman. Itu tandanya Raysa membawa mobil Fatih. Benar-benar wanita penurut.


*


Fatih duduk di dekat jendela, menatap hujan yang turun dengan lebatnya. Fatih mendesah, ini sungguh berat dan menyakitkan. Melihat wajah sedih Raysa tadi pagi membuat Fatih tak tega melanjutkan permainan.


Ponsel Fatih berdering, Fatih menoleh dan melihat siapa yang menelponnya.


"Lana?" Gumamnya.


Fatih pun menggeser tombol hijau tersebut.


"Assalamualaikum."


"walaikumsalam, Fat Lo pulang ya segera ke sini."


"Kenapa?"


"Veer, dia udah nikah."


"Apa? serius Lo?" Fatih sampai menegakkan tubuhnya untuk Sakin terkejut mendengar berita.


Selama ini setau Fatih, Veer tak pernah dekat dengan wanita mana pun. Bagaimana ia bisa menikah dengan tiba-tiba? apa jangan-jangan?


"Udah, besok Lo balik ke sini. Karena lusa kita akan berkenalan dengan istri nya."


"Lo serius udah nikah? atau mau nikah?"

__ADS_1


"Males gue jelasin nya di telpon. Pulang aja deh Lo. Dan Lo bakal terkejut siapa yang menjadi istri Veer "


Baru saja Fatih ingin membuka mulut, Lana sudah memutuskan panggilan telponnya secara sepihak.


"Dasar ulat bulu." Geram Fatih.


Fatih memainkan jari nya di layar pipih itu untuk mencari nama Quin. Terdengar nada sambung, hingga suara lembut Quin pun memberi salam.


"Quin, beneran Veer udah nikah?


*


Fatih menunggu kepulangan Raysa di lobi. Malam ini ia ingin membeli oleh-oleh untuk kedua adik kembarnya, dan juga hadiah untuk pernikahan Veer dan seorang wanita yang masih di rahasiakan statusnya.


"Layca." Panggil Fatih saat melihat Raysa berjalan hampir melewatinya.


"Fatih, kamu di sini? Di sini anginnya kencang, kenapa di sini?"


"Aku bosan di kamar, jadi aku tunggu kamu di sini."


Seolah ada sesuatu yang meledak di hati Raysa, ia pun tersenyum senyuman yang biasanya Raysa berikan kepada Farhan.


"Oh ya, kamu capek gak? temani aku beli oleh-oleh mau?"


"Untuk siapa?" Tanya Raysa, saat ini mereka sudah berjalan menuju kearah lift.


"Untuk Si kembar."


"Boleh, sekalian aku mau beliin mereka hadiah. Udah lama juga gak beliin mereka hadiah." Ujar Raysa tersenyum mengingat kedua adik kenbar Fatih yang sangat dia sayangi.


"Aku tunggu di apartemen kamu boleh?" Tanya Fatih.


" Iya..."


Raysa membuka pintu apartemen, kemudian ia membiarkan Fatih masuk dan duduk di sofa. sedangkan Raysa membersihkan dirinya dan berganti pakaian.


Raysa keluar kamarnya dan melihat Fatih sangat asyik bermain game, hingga tak menyadari Raysa sudah berada di sampingnya.


Saat Raysa melihat ponsel Fatih, Raysa tak sengaja melihat pop up pesan yang masuk di ponsel Fatih, yang mana Fatih sempat membacanya sekilas. Pesan dari Tissa yang mengatakan jika mereka akan berangkat ke Jakarta besok jam 9.


Raysa pun berdehem untuk menyadarkan Fatih akan keberadaannya.


"Eh, kamu udah siap?"


"Hmm, seru banget mainnya? Sampek gak sadar aku di sini." Ujar Raysa yang terdengar sepeeti sedang merajuk.


Fatih terkekeh, ia berdiri kemudian mengacak rambut Raysa.


"Yuukk..."


"Iiih, rambut aku kan udah rapi, kok di kusuti sih?" Raysa menggerutu kesal, namun ia juga tersenyum karena merasa Fatih nya sudah kembali.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2