Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 86 " hasil visum"


__ADS_3

" Kamu??"


" Maaf.. "


Bara membenarkan kimono Sasa, kemudian dia memeluk Sasa dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sasa.


" Mungiillllll" Geram Bara.


Sasa menepuk-nepuk punggung Bara.


" Bukan mau aku loh Mas. Emang udah jadwal tamu aku datang." ujar Sasa sambil tersenyum.


Bara merelai pelukannya. " Senang banget kayaknya kamu."


Dengan cepat Sasa menyembunyikan senyum yang tadi merekah dengan mengulum bibirnya dan menggeleng dengan cepat.


" Masih ada cara lain sayang" Bisik Bara parau tepat di depan Bibir Sasa.


" Aampp"


Sasa terkejut saat Bara menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


" Mas, aku udah mandi loh.."


" Belum mandi sama aku.."


" Mass.. "


Bara menghidupkan shower dan membasahi diri mereka. Bara membungkam bibir Sasa, dan memimpin permainannya. Sasa hanya mengikuti alur yang di ciptakan oleh Bara. Menikmati rasa sensasi yang baru pertama kali Sasa rasakan. Ciuman Bara semakin agresif, hingga lidah Bara menyusup kedalam mulut Sasa, dan mengabsen semua yang ada di dalam sana.


Baju kimono yang Sasa pakai pun sudah basah. Dalam sekali gerakan dada Sasa langsung terekspos, dan tanpa membuang waktu Bara mendaratkan ciumannya kembali di bibir Sasa, perlahan turun ke leher, memberikan rasa geli sedikit sakit, dan membuat jantung Sasa semakin berdegup kencang dan meninggalkan bekas merah keunguan di sana. Tangan Bara membuka kaitan bra Sasa, dan menampilkan gunung kembar di sana. Sasa menaikkan kedua tangannya menyilang untuk menutupi dadanya yang sudah tak tertutupi saat Bara menatap lapar kearah aset kembarnya.


Bara menurunkan tangan Sasa dan menggantikan tangannya untuk Menutupi payudara Sasa. Sasa meremang mendapatkan sentuhan dari hangatnya telapak tangan Bara. Bara kembali menciumi bibir Sasa. Tangannya perlahan meremas lembut payud**a Sasa.


" Eeummkk"


Bara menundukkan wajahnya, dan menciumi dada Sasa. Mengulum sesuatu berwarna coklat kemerahan di sana, dan memainkannya. Suara desahan pun keluar dari mulut Sasa. Rasa geli bercampur nikmat di sana. Sasa meremas rambut Bara, yang terasa sensual bagi Bara, membuat gairah Bara semakin berkobar. Bara membuka kemeja yang di kenakannya, dan menampilkan dada bidang serta perut kotak-kotaknya. Otot lengan yang kekar dan bisep, membuat tubuh Bara semakin seksi. Tapi Sasa tidak melihat itu, karena Sasa sedari tadi menutup matanya merasakan sensasi yang baru pertama kali di rasakannya.


Bara menurunkan celananya, sekalian dengan ****** ********. Menampilkan sesuatu yang langsung mengacung tegak berdiri menantang.


" Bantu aku mengeluarkannya." Bisik Bara serak.


Perlahan mata Sasa terbuka, tidak mengerti apa yang di maksudkan Bara. Sasa menatap wajah Bara, dan melihat tubuh Bara yang sudah bertelanjang dada. Sasa menelan ludahnya kasar, jantungnya bertambah berdetak semakin cepat. Bara menuntun tangan Sasa menyentuh sesuatu yang berada di bawah sana.


Sasa terkesiap dan menarik kembali tangannya. Geli.. Itu yang Sasa rasakan Pertama kali. Sasa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


" Aku mohon.." Bisik Bara parau.


" A-aku.. Aku malu.."


" Aku suami mu sekarang mungil."


Sasa menatap mata Bara. Terlihat sayu dan sendu seakan merasakan sesuatu yang menyakitkan dan tersiksa.


" Aku mohon.."


Sasa perlahan menganggukkan kepalanya. Bara kembali menuntun tangan Sasa untuk memegang miliknya. Memaju mundurkan tangan Sasa sesuai ritme. Desahan demi desahan keluar dari mulut Sasa dan Bara. Tangan Bara yang lain meremas gunung kembar milik Sasa, dan terkadang digantikan oleh mulut Bara. Hingga akhirnya Bara mendapatkan pelepasannya.


Kepala Bara terjatuh di bahu Sasa. Bara memeluk tubuh Sasa.


" Terima kasih mungil.."


" Hmm"


"Ayoo kita mandi, sebelum dia kembali bangun." Bara menunjuk miliknya dengan menggunakan matanya.


Sasa mengikuti arah pandangan Bara. Terkejut, karena milik Bara tidak sebesar dan sekeras tadi. Apa memang seperti itu? ajaib banget. Fikir Sasa.


Mereka mandi, dengan Sasa yang masih memakai ****** *****.


" Aku duluan ya mungil, jangan lama-lama" Bara mendaratkan ciumannya di kening Sasa saat dirinya telah selesai dan meninggalkan Sasa yang masih memerlukan waktu di kamar mandi.


Sasa keluar dari kamar mandi, dan mendapati Bara yang sudah berbaring sambil menatap ponselnya.


" Mas belum tidur?"


" Tunggu kamu.."


Sasa naik ke atas tempat tidur, mensejajarkan duduknya yang bersandar di kepala ranjang, seperti yang Bara lakukan.


Bara meraih sesuatu di atas laci nakas, dan memberikannya kepada Sasa.


" Apa ini?" Sasa menatap amplop putih yang di berikan oleh Bara.


" Buka saja"


Sasa perlahan membuka amplop putih yang tidak ada tulisannya itu. Di dalam sana terdapat sebuah surat keterangan dari rumah sakit. Mata Sasa berjalan bergerak membaca setiap huruf dan kata di sana. Sasa membuka mulutnya dan menutupnya dengan tangannya. Matanya berkaca-kaca saat membaca isi surat tersebut.


" Mass aku.. hikss.."


" Iyaa, kamu masih virgin. Kamu suci mungil. Hasil visum yang di pengadilan adalah bohong. Nando juga mengatakan jika dia merasa bukan melakukan hal itu dengan kamu. Semua itu jebakan mungil. Kamu di jebak, agar kamu menjauh dan pergi dari aku. "

__ADS_1


" Mass... Hiikss.."


" Makanya mungil, berita itu di tonton, jangan drama Korea aja yang kamu tontonin." Bara menarik tubuh Sasa dan memeluknya.


" Aku.. hikss.."


" Kamu takut kalo semua itu memang benar? makanya kamu memilih pergi?"


Sasa menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, mari kita selesaikan dan perjelas semuanya sekarang."


Bara menceritakan siapa yang sudah menjebak Sasa dan Nando. Sasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah di ceritakan oleh Bara.


" Lalu, di mana Mbak Lia?"


" Dia di rumah sakit jiwa. Tapi dalam pengawasan ketat polisi"


" Rumah sakit jiwa?"


" Hmm, dia pantas mendapatkannya. " Bara semakin memeluk tubuh Sasa.


"Mas, apa Mbak Lia akan sembuh?"


" Entah lah. Sebaiknya kita tidur. "


Bara menuntun Sasa untuk berbaring. Dengan beralaskan lengan Bara yang menjadi bantal Sasa.


Bara sudah terlelap dalam tidurnya sambil memeluk tubuh mungil Sasa. Sasa masih memikirkan tentang Lia. Bagaimana bisa wanita seanggun dan berpendidikan seperti itu bisa melakukan hal sekeji ini demi kata cemburu. Sasa mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Bara yang tertidur dengan tenang seperti bayi.


Sasa tersenyum, siapa sangka jika dirinya saat ini sudah berstatus sebagai istri Bara. Sasa mencubit lengannya untuk membuktikan bahwa semua ini bukanlah mimpi.


" Aww, sakit" Rintih Sasa pelan agar tidak membangunkan Bara.


Di tatapnya wajah Bara. Tangan Sasa terangkat mengukir meraba alis Bara yang tebal dan terlihat hampir menyatu. Tiba-tiba saja fikirannya kembali terbayang dengan betapa besar dan panjangnya milik Bara.


Sasa menggigit bibirnya kuat. 'Ya ampunn, besar gitu gimana masuknya? Bisa bonyok punya gue.. aduuh.. bayanginya aja gue gak sanggup, gimana ngelakuin nya nanti? Bisa-bisa pingsan gue.. Aduuh.. kok bisa besar gitu yaa.. emangnya muat masuk kedalam?? Oohh , pasti sakit banget itu.. Aduuhh gimana nii??" Fikiran Sasa melayang entah kemana, tanpa Sasa sadari dirinya tidak tidur malam ini karena membayangkan milik Bara yang besar dan panjang, yang akan memasuki miliknya.


"Mampus deh gue"


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2